NovelToon NovelToon
Akhirnya Menemukan Mu

Akhirnya Menemukan Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Call Me Nunna_Re

Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Lorong menuju dapur terasa lebih panjang dari biasanya.

Laura melangkah pelan, telapak kakinya hampir tak bersuara di atas lantai dingin. Tenggorokannya terasa kering setelah mengulum batang Haikal yang cukup besar dan berhasil membuat mulutnya terasa kebas. Tak seperti milik mantan pacarnya yaitu Kevin yang ukuranya hanya rata-rata. Ia mengusap lehernya dengan punggung tangan keringat tipis masih tertinggal, bukan semata karena udara, melainkan karena sisa adrenalin yang belum sepenuhnya reda.

"Tenang Laura", batinnya.

"Jangan tinggalkan jejak."

Lampu dapur menyala.

Laura berhenti sejenak.

Ratna berdiri di dekat meja, sedang merapikan gelas. Padahal Laura fikir jika Ratna sudah tertidur. Namun sejak Laura masuk, gerakan Ratna melambat lalu berhenti sama sekali.

Tatapan itu terangkat. Tajam. Meneliti. Ratna memicingkan matanya menatap Laura.

Seperti mata yang sedang menghitung.

Laura menangkapnya, namun tidak menghindar. Ia justru berjalan ke kulkas, mengambil gelas, menuang air dingin dengan tangan yang stabil. Setiap geraknya terukur. Tidak tergesa. Tidak gugup.

Ratna menyilangkan tangan di depan dada.

“Kamu dari mana? Saya pikir kamu sudah tidur.” tanyanya akhirnya.

Nada suaranya datar, tapi ada tekanan di baliknya seperti pisau yang belum dikeluarkan dari sarung.

Laura meneguk air sekali, lalu menaruh gelas. Ia menoleh, menatap Ratna dengan ekspresi netral.

“Dari luar.”

Ratna mengangkat alis. “Luar?”

“Halaman belakang,” jawab Laura ringan.

Ratna melangkah satu langkah mendekat. “Jam segini? Ngapain kamu di sana sendirian. Nungguin genderuwo?”

Laura tersenyum tipis. “Saya susah tidur kalau badan tidak capek.”

Ratna menyipitkan mata. “Rumah ini sejuk. Tapi kenapa kamu berkeringat.”

Laura menunduk sebentar, seolah baru menyadari kondisinya sendiri.

“Saya habis Olahraga memang begitu, Bu.”

Ratna tertawa kecil, bukan tawa ramah. “Olahraga apa yang membuat wajah memerah seperti itu?olahraga panas?”

Laura mengangkat pandangan. Tatapan mereka bertemu.

“Kardio ringan,” jawab Laura tenang. “Lari kecil. Mengatur napas.”

Ratna tidak langsung menjawab. Ia memutari Laura pelan, seolah ingin menangkap sesuatu yang tersembunyi di balik bahasa tubuh gadis itu.

“Kamu tahu,” kata Ratna akhirnya, “orang yang terlalu banyak alasan biasanya sedang menyembunyikan sesuatu.”

Laura tetap berdiri di tempatnya. Bahunya rileks. Tidak defensif.

“Dan orang yang terlalu banyak bertanya,” balas Laura lembut, “biasanya lupa pada batas nya.”

Ratna berhenti tepat di depan Laura.

“Jangan kurang ajar ya kamu sama saya,” katanya dingin. “Saya hanya mengingatkan. Apa salahnya, saya lebih tua dari kamu.”

“Mengingatkan tentang apa, Bu? Ibu bukan mengingatkan, tapi ibu berkata sarkas, seolah-olah ibu menuduh saya melakukan hal yang ada dalam pikiran ibu. Ingat umur Bu, gak baik negatif thinking sama orang.” ujar Laura.

Tentang siapa yang berhak berbicara di rumah ini.

Ratna menghela napas, lalu berkata lebih pelan namun lebih tajam.

“Tentang posisi saya disini.”

Laura tersenyum. “Posisi saya jelas. Saya pembantu.”

“Pembantu tidak masuk kamar majikan malam-malam,” kata Ratna cepat.

Senyum Laura tidak memudar. “Saya tidak bilang saya masuk kamar Pak Haikal.”

Ratna terdiam.

Kesunyian itu menebal.

“Kamu pintar bermain kata rupanya. Pantas saja Nyonya mencurigai kamu,” gumam Ratna.

Laura melangkah satu langkah mendekat perlahan, santai, tanpa ancaman fisik. Namun jarak itu cukup untuk mengubah dinamika.

“Bu Ratna,” katanya lembut, “kalau Ibu ingin menuduh, pastikan ada bukti. Bukan dugaan dan pikiran kotor ibu saja.”

Ratna mendengus. “Perempuan sepertimu biasanya licik. Saya sudah paham dan sudah banyak menemukan wanita seperti kamu di dalam hidup saya. Jadi gak usah sok suci di depan saya.”

Laura mengangguk kecil. “Biasanya.”

Ratna menatapnya tajam. “Jangan pernah berpikir bisa merusak rumah tangga majikan kamu sendiri demi harta dan hidup enak. Karena hidup seorang pelakor gak akan pernah bahagia di atas penderitaan istri sah.”

Laura menahan senyum, bukan karena takut, tapi karena kata-kata itu terlalu mudah dibaca.

“Bu Ratna,” ucapnya pelan, “Hidup seorang pelakor, seperti yang Ibu sebutkan, memang sering tidak bahagia.”

Ratna tampak puas. “Akhirnya kamu paham juga apa maksud saya.Baguslah!”

“Tapi,” lanjut Laura, nadanya berubah dingin, presisi, “kebahagiaan rumah tangga juga tidak ditentukan oleh siapa yang datang terakhir. Karena yang pertama dan sah belum tentu bisa memberikan kebahagiaan dan apa yang dimau oleh suaminya. Siapa tau saja apa yang di butuhkan pak Haikal ada dalam diri saya. Bukan salah saya kan Bu?”

Ratna mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

Laura mendekat satu langkah lagi. Kini jarak mereka hanya sejengkal. Laura menatap mata Ratna tanpa berkedip.

“Maksud saya,” katanya lirih namun jelas, “keretakan tidak diciptakan oleh orang luar. Keretakan sudah ada, orang luar hanya kebetulan lewat dan menyadarinya.”

Ratna tercekat.

“Dan satu hal lagi,” tambah Laura. “Ibu terlalu sibuk mengawasi saya. Apa ibu gak capek?”

Ratna menegakkan bahu. “Itu tugas saya.”

Laura menggeleng perlahan. “Bukan.”

Ratna membeku.

“Tugas Ibu di rumah ini,” lanjut Laura, “membersihkan, mengatur, dan melapor jika perlu”

Ia mencondongkan badan sedikit cukup untuk membuat Ratna mendengar jelas.

“Bukan menjadi detektif swasta,” ucap Laura dingin, “apalagi mata-mata.”

Ratna terbelalak.

“Kamu—”

Laura mengangkat tangan, menghentikan kalimat Ratna sebelum selesai.

“Kalau Ibu ingin menyenangkan atasan Ibu,” kata Laura tenang, “lakukan dengan cerdas. Jangan ceroboh dan terlalu jelas, sehingga saya yang bodoh ini bisa membaca pergerakan ibu.

Ratna menelan ludah. “ sejak kapan kamu tahu terlalu banyak.”

Laura tersenyum, senyum kecil, penuh kendali. “Saya hanya tahu apa yang perlu saya tahu.”

Ia berbalik, berjalan menuju pintu dapur.

“Selamat malam, Bu Ratna. Semoga ibu mimpi indah seperti saya malam ini.”

Tanpa menunggu jawaban, Laura melangkah pergi.

Setelah Laura pergi,Ratna masih berdiri di tempat yang sama. Tangannya mengepal perlahan, dia tahu.

Kesadaran itu menghantam keras. Bukan sekadar tahu bahwa Ratna mengawasinya tapi tahu siapa yang mengirim Ratna, untuk apa, dan sampai sejauh mana pengawasan itu berjalan.

Ratna menghembuskan napas panjang.

“Gadis sialan…” gumamnya.

Namun jauh di dalam hatinya, ada rasa lain yang lebih berbahaya dari marah,

Gelisah. Karena untuk pertama kalinya sejak ia datang ke rumah ini, Ratna merasa bukan dirinya yang memegang kendali.

Di Kamar Laura, Laura menutup pintu kamarnya perlahan. Ia bersandar sejenak, menarik napas dalam. Lalu tersenyum, bukan senyum puas, melainkan senyum seorang perencana yang baru saja mengonfirmasi satu hal penting. Ratna sudah bermain terlalu cepat.

Ia duduk di tepi ranjang, merapikan rambutnya dengan gerakan santai.

“Langkahmu terbaca,” gumamnya pelan.

Laura tahu satu prinsip sederhana, pengawasan yang terburu-buru selalu membuat pengawasnya lengah.

Dan Ratna dengan segala senioritas dan restu dari atas baru saja menunjukkan celah terbesarnya. Laura menatap cermin. Di balik pantulan itu, matanya tenang. Tajam. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada ragu.

“Permainan baru saja dimulai,” bisiknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!