Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.
Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.
pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.
tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.
tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....
karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 17:Batas yang dijaga
_Minggu malam. Jam 11:47 malam.
Kamar kost Karawaci._
Lampu tidur biru masih menyala. Mereka berbaring di kasur single. Tidak ada jarak. Zaki memeluk Indry dari belakang, dagu menyandar di puncak kepala Indry. Aroma shampo dan kondisioner Indry sungguh wangi. Zaki merasa sangat tenang dengan aroma itu.
Hujan sudah berhenti sejak sore. Yang terdengar hanya kipas angin dan napas mereka.
Indry: “Zaki… kamu tidur nggak?”
Zaki: “Belum, Indry. Aku takut kalau tidur, besok pagi aku sadar ini cuma mimpi.”
Indry tersenyum dalam gelap. “Bukan mimpi, Zaki. Aku di sini.”
Suasana hening lagi. Tapi keheningan itu pelan-pelan berubah.
Indry bergeser sedikit, membalik badan. Wajah mereka sekarang berhadapan. Jaraknya dekat. Terlalu dekat.
Zaki menatap mata Indry. Lampu biru membuat mata Indry seperti berkaca.
Zaki: “Indry… kamu cantik.”
Indry: “Jangan gombal, Zaki. Nanti aku baper.”
Zaki: “Aku serius. Aku sudah menunggu lima belas tahun untuk bilang ini.”
Indry menelan ludah. Jantungnya berdebar.
Indry: “Zaki… aku…”
Zaki: “Iya?”
Tiba-tiba Indry mengangkat tangan, menyentuh pipi Zaki.
Zaki menahan napas. Matanya menutup sesaat.
Indry: “Kamu yakin kita… cukup sampai di sini malam ini?”
Zaki membuka mata. Tatapannya dalam. Tapi ada sesuatu yang lebih kuat dari keinginan.
Zaki: “Aku yakin, Indry. Aku ingin lebih. Aku manusia. Tapi aku lebih ingin kamu tetap utuh. Tetap Indry yang aku hormati.”
Indry: “Kalau aku yang mau?”
Zaki tersenyum pelan. “Kalau kamu yang mau, aku tetap harus jadi orang yang bilang ‘tidak’. Karena aku sayang kamu. Dan sayang itu menjaga, bukan mengambil.”
Indry memejamkan mata. Dadanya sesak. Tapi bukan karena kecewa. Karena lega.
Indry: “Kamu gila, Zaki. Kamu tahu nggak? Kalau cowok lain, mungkin sudah…”
Zaki: “Mungkin. Tapi aku bukan cowok lain. Aku Zaki yang kamu tunggu lima belas tahun..untuk berani hubungi aku lagi. aku baru tau dan faham alasan kamu ngilang. itu karna kamu gak mau bebani aku kan, gimana aku bisa ambil keuntungan dari kamu saat ini, aku pengen,dry...kamu pasti ngerasa di bawah situ, tapi aku gak akan lakuin itu sekarang ke kamu” panjang banget jawabannya Zaki.
Mereka tertawa pelan. Ketegangan pecah.
Indry: “Aneh ya. Kita pacaran, tapi obrolannya malah seperti kakak-adik.”
Zaki: “Biar. Kakak-adik yang saling jaga. Itu lebih kuat.”
*Jam 12:30 malam.
Obrolan absurd dimulai.*
Indry: “Zaki, kalau kita nikah nanti, kamu mau masak apa tiap pagi?”
Zaki: “Aku mau marut kelapa dua puluh kilo. Biar kamu nggak perlu kerja lagi.”
Indry: “Lebay. Aku suka kerja. Kalau nggak kerja aku bosan.”
Zaki: “Ya sudah, aku yang cuci piring. Kamu cukup sarapan bubur ikan buatan aku.”
Indry: “Kamu bisa masak bubur ikan?”
Zaki: “Belum. Tapi aku bisa belajar dari YouTube.”
Mereka tertawa.
Indry: “Zaki, kalau anak kita nanti nakal, siapa yang marah?”
Zaki: “Kamu. Aku yang jadi bad cop yang baik.”
Indry: “Kalau anak kita nanya ‘Papa, kenapa Papa Islam, Mama Katolik?’?”
Zaki terdiam.
Zaki: “Aku akan jawab, karena cinta Papa dan Mama tidak mengharuskan Mama berubah. Tapi cinta itu membuat Papa menghormati Mama.”
Indry terdiam. Matanya basah.
Indry: “Kamu sudah memikirkan sejauh itu ya?”
Zaki: “Setiap malam, Indry.”
*Jam 2:15 pagi. Masih obrolan ngalor-ngidul.*
Indry: “Zaki, kalau aku gemuk nanti, kamu masih sayang nggak?”
Zaki: “Sayang. Malah aku suka. Biar pelukannya empuk.”
Indry memukul pelan dada Zaki. “Gombal!”
Zaki: “Kalau kamu botak karena stres kerja BPJS, aku tetap sayang.”
Indry: “Aku nggak akan botak, Zaki!”
Zaki: “Aku bercanda. Kamu akan tetap cantik, bahkan kalau kamu bangun pagi rambut berantakan.”
Mereka tertawa sampai perut sakit.
Indry: “Zaki… aku bahagia.”
Zaki: “Aku juga, Indry. Sangat bahagia.”
*Jam 4:02 pagi. Mereka masih berpelukan.*
Indry: “Aku ngantuk, Zaki.”
Zaki: “Tidur, Indry. Aku jagain.”
Indry: “Kamu nggak tidur?”
Zaki: “Nanti. Aku mau lihat kamu tidur dulu. Biar aku yakin kamu tenang.”
Indry memejamkan mata. Zaki mencium keningnya pelan.
Zaki: “Selamat malam, sayang.”
Indry: “Selamat malam, Zaki.”
Mereka tertidur dalam pelukan. Tidak ada yang lebih. Hanya batas yang dijaga dengan cinta.
Senin pagi. Jam 6:30 pagi.*
Indry bangun duluan. Zaki masih tidur. Napasnya teratur.
Indry mengusap rambut Zaki pelan.
Zaki bangun. “Pagi, Indry.”
Indry: “Pagi, Zaki. Hari ini kamu harus balik ke Tegal.”
Zaki: “Iya. Aku sudah izin kerja sampai siang. Kereta jam 10.”
Mereka bangun. Mandi bergantian. Masak sayur dan lauk untuk sarapan terakhir.
Zaki: “Indry… terima kasih untuk dua malam ini.”
Indry: “Terima kasih sudah menjaga aku, Zaki.”
*Jam 9:45 pagi. Stasiun Karawaci.*
Hujan kecil lagi. Zaki membawa tote bag. Indry memegang tangannya.
Zaki: “Aku akan kangen kamu, Indry.”
Indry: “Aku juga, Zaki.”
Pengumuman kereta berbunyi.
Zaki menatap Indry dalam-dalam. Lalu dia mengambil tangan Indry, mencium punggung tangannya pelan.
Zaki: “Jaga diri, sayang. Aku akan datang lagi weekend depan.”
Indry mengangguk. Matanya berkaca. “Hati-hati di jalan, Zaki.”
Zaki naik kereta. Indry berdiri di peron sampai kereta melaju.
Hatinya hangat. Ciuman di tangan itu… rasanya seperti janji.
*Selasa pagi. Jam 7:00 pagi. Kost Karawaci.*
Pintu diketuk keras. Indry baru pulang kerja shift malam. Mata masih sembab.
Indry membuka pintu. Meta berdiri dengan koper kecil, rambut acak, mata menyipit.
Meta: “DRY!!! JELASIN SEKARANG!!!”
Indry: “MET! PELAN! AKU BARU PULANG KERJA!”
Meta masuk, langsung menyeret Indry ke kamar.
Meta: “DUA MALAM ZAKI NGINEP DRY! DUA MALAM! JANGAN BILANG CUMA TIDUR!”
Indry duduk di kasur. Capek. “Iya Meta. Cuma tidur.”
Meta: “TUNJUKKAN!”
Indry: “APA YANG MAU AKU TUNJUKKAN?”
Meta: “BADAN KAMU! ADA BEKAS GIGITAN DI LEHER NGGAK? ADA MEMAR? ADA… APA GITU?!”
Indry berdiri, membuka kerah daster sedikit. “Lihat, Meta. Kosong.”
Meta memeriksa leher Indry, lengan, bahu. “ANEEEH! NGGAK ADA APA-APA! ZAKI TUH NORMAL NGGAK SIH?!”
Indry tertawa. “Normal, Meta. Dia normal. Dan dia menjaga aku.”
Meta terdiam. Lalu memeluk Indry.
Meta: “Kamu beruntung, Dry. Kamu beruntung.”
Indry: “Ogah mana? Dua malam nggak pulang.”
Meta: “OGAH? DIA NGINEP DI TEMPAT TEMANNYA. KATANYA ADA TURNAMEN MOBILE LEGEND SAMPAI MINGGU MALAM. JADI… KOST KOSONG UNTUK KALIAN.”
Indry: “META! JANGAN BILANG KAMU YANG SURUH OGAH!”
Meta nyengir. “AKU TIDAK BILANG APA-APA.”
Mereka tertawa.
*Malamnya. Jam 9:12 malam. Kost Karawaci.*
Indry baru selesai makan. HP bergetar. Chat dari Zaki.
Zaki: “Sudah sampai Tegal, sayang. Capek tapi bahagia.”
Indry: “Aku juga bahagia, Zaki. Hati-hati ya.”
Zaki: “Kamu sudah makan?”
Indry: “Sudah. Goreng ikan. Bikin sendiri.”
Zaki: “Kangen masakan kamu.”
Mereka chat sampai jam 12 malam. Hal-hal kecil.
Zaki: “Kamu sudah tidur?”
Indry: “Belum. Kamu?”
Zaki: “Belum. Aku ingin dengar suara kamu.”
Indry: “Aku ngantuk, Zaki.”
Zaki: “Tidur, sayang. Besok kita chat lagi.”
Indry: “Iya. Selamat malam, Zaki.”
Zaki: “Selamat malam, Indry.”
Begitu setiap malam. Chat “sayang-sayangan”. Tidak berlebihan. Tidak vulgar. Hanya “sudah makan?”, “hati-hati di jalan”, “aku kangen”.
Indry yang biasanya dingin, sekarang sering tersenyum sendiri sambil memegang HP.
*Rabu malam. Jam 11:03 malam.*
Indry: “Zaki, aku capek kerja.”
Zaki: “Aku tahu, sayang. Istirahat ya. Jangan dipaksa.”
Indry: “Aku kangen pelukan kamu.”
Zaki: “Aku juga, Indry. Tahan ya. Weekend aku datang.”
Indry: “Janji?”
Zaki: “Janji.”
*Sabtu pagi. Jam 9:50 pagi. Stasiun Karawaci.*
Zaki turun dari kereta. Membawa tote bag kecil. Di tangan ada plastik martabak coklat.
Indry sudah menunggu. Pakai kaos krem, kepang satu.
Mereka saling pandang. Tidak ada pelukan berlebihan. Hanya senyum.
Zaki: “Pagi, sayang.”
Indry: “Pagi, Zaki.”
Mereka berjalan pulang. Kost Karawaci serasa rumah lagi.
Ogah sudah pamit akan nginep lagi. Meta sudah janji tidak akan datang.
Tiga bulan mereka akan jaga batas.
Di luar, hujan kecil turun lagi.
Di dalam, dua hati yang sudah lama menunggu akhirnya pulang.