Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ledakan di pinggir kota
Mobil SUV hitam itu berhenti tepat di samping Adeeva yang sedang berjalan kaki di trotoar asrama. Adeeva tidak menoleh, ia terus melangkah dengan hentakan sepatu sneakers-nya yang kini sudah kotor terkena debu jalanan. Ia tahu itu Shaheer. Aroma mesin mobil dan wibawa yang terpancar dari kendaraan itu sudah sangat ia kenali.
"Masuk, Deeva," perintah Shaheer dari balik kaca jendela yang diturunkan. Suaranya tenang, namun tak terbantah.
"Aku mau jalan saja. Biar semua orang di asrama ini lihat kalau istri Kapten Shaheer itu memang aneh dan tidak tahu aturan," sahut Adeeva tanpa menoleh.
Shaheer tidak membalas. Ia hanya menjalankan mobilnya pelan, mengikuti kecepatan langkah kaki Adeeva. Hal itu justru membuat Adeeva semakin kesal karena mereka menjadi pusat perhatian para prajurit yang sedang berjaga. Akhirnya, dengan hentakan kasar, Adeeva membuka pintu mobil dan masuk.
"Puas?" tantang Adeeva begitu duduk di samping suaminya.
Shaheer tidak menjawab. Ia malah memacu mobilnya keluar dari gerbang asrama, menjauh dari kerumunan gedung militer, menuju sebuah area perbukitan di pinggir kota yang sepi. Selama perjalanan, keheningan di dalam mobil terasa mencekik. Adeeva sudah menyiapkan mental untuk mendengar ceramah panjang tentang bagaimana ia mempermalukan Shaheer di depan Ibu Komandan.
Setelah sampai di sebuah jalan buntu yang menghadap ke lembah, Shaheer mematikan mesin.
"Keluarkan saja semuanya," ujar Shaheer pelan sembari menyandarkan punggungnya.
Adeeva menoleh dengan mata menyalang. "Apa? Mau marah? Mau bilang kalau aku bodoh karena tidak bisa baca doa bahasa Arab tadi? Mau bilang kalau aku merusak karirmu karena pakai sneakers ke acara resmi? Silakan! Aku sudah tahu aku ini beban buatmu!"
Shaheer tetap diam, menatap lurus ke depan. Diamnya pria itu justru menjadi bahan bakar bagi kemarahan Adeeva.
"Kenapa kamu diam saja?! Marahi aku, Shaheer! Bentak aku seperti Abi membentakku! Bilang kalau kamu menyesal memilihku daripada Adiba!" teriak Adeeva. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini tumpah membasahi pipinya. "Adikmu sengaja menjebakku. Dia tahu aku tidak bisa agama. Dia ingin semua orang tahu kalau aku ini sampah yang dibungkus seragam hijau!"
Adeeva memukul-mukul dasbor mobil dengan frustrasi. "Aku benci tempat ini. Aku benci seragam ini. Aku benci fakta bahwa aku harus jadi orang lain hanya supaya kamu tidak malu. Aku tidak pernah minta dipilih, Shaheer! Aku tidak pernah minta jadi tameng buat Kak Adiba!"
Shaheer masih tidak mengeluarkan satu kata pun untuk membela diri atau menuntut penjelasan. Ia hanya meraih kotak tisu di kursi belakang dan meletakkannya di pangkuan Adeeva.
"Sudah?" tanya Shaheer begitu suara tangis Adeeva mulai mereda menjadi isakan kecil.
Adeeva mengusap wajahnya kasar dengan tisu. "Kenapa kamu tidak marah? Kamu itu perwira. Harga dirimu itu segalanya, kan?"
"Harga diriku tidak akan jatuh hanya karena istriku memakai sneakers atau berdoa dengan bahasa manusia," jawab Shaheer datar namun dalam. "Aku diam bukan karena aku setuju dengan perlakuan Fathiyah. Aku diam karena aku sedang menunggumu selesai mengeluarkan racun di hatimu."
Shaheer memutar tubuhnya menghadap Adeeva. "Aku tidak pernah menuntutmu jadi Adiba. Aku juga tidak pernah memintamu jadi istri perwira teladan dalam semalam. Yang aku minta hanyalah kamu tetap di sini, di sampingku. Masalah orang-orang yang meremehkanmu, itu urusanku. Kamu tidak perlu bertarung sendirian lagi."
Adeeva tertegun. Ia menatap wajah Shaheer yang tetap tenang tanpa ada gurat kekecewaan sedikit pun. Pria ini justru terlihat lebih terluka melihat Adeeva menangis daripada melihat reputasinya dicibir orang.
"Tapi adikmu..."
"Fathiyah akan menerima konsekuensinya dariku. Dia sudah melampaui batas," potong Shaheer. Ia mengulurkan tangan, jemarinya menghapus sisa air mata di sudut mata Adeeva. "Mulai sekarang, kalau kamu tidak mau ikut pertemuan Persit, jangan ikut. Kalau kamu lebih nyaman menggambar di rumah, lakukanlah. Aku yang akan bicara pada Komandan."
Adeeva menunduk, menatap jemarinya sendiri. "Kenapa kamu baik sekali padaku? Padahal aku sudah sangat jahat dan kasar padamu sejak awal."
"Karena aku tahu, di balik duri-duri ini, ada bunga yang sedang bertahan hidup dari badai. Dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi pagarnya," ujar Shaheer.
Adeeva merasa ada sesuatu yang retak di dalam hatinya—tembok kebencian yang ia bangun selama ini perlahan mulai goyah. Ia tetap tidak suka asrama, ia tetap rindu kebebasannya, tapi untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa memiliki Shaheer di pihaknya mungkin bukan hal yang buruk.
"Pulang yuk," bisik Adeeva lirih. "Aku mau ganti baju ini. Sesak."
Shaheer tersenyum tipis—senyum tulus yang jarang ia perlihatkan. Ia menyalakan mesin mobil. "Kita mampir beli es krim dulu. Aku dengar itu cara terbaik untuk mendinginkan kepala yang panas."
Malam itu, asrama tetap sunyi seperti biasa, namun di dalam rumah nomor 12, suasana mulai terasa sedikit lebih hangat. Adeeva kembali ke meja gambarnya, sementara Shaheer duduk di ruang tamu membersihkan sangkur dinasnya. Mereka tidak banyak bicara, tapi mereka tahu, garis perang di antara mereka baru saja berganti menjadi garis gencatan senjata.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...