NovelToon NovelToon
Pengantin Paksa Sang Mafia

Pengantin Paksa Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.

Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.

Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:

Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Pertama yang Dingin

Hening.

Itu hal pertama yang Alya rasakan, saat pintu kamar tertutup di belakangnya. Suara klik dari kunci pintu terdengar begitu keras, seolah memutus satu-satunya jalan keluar yang ia miliki.

Ruangan itu luas, terlalu luas untuk disebut kamar. Lebih pantas disebut suite pribadi, dengan ranjang besar di tengah, lampu temaram berwarna keemasan, dan jendela tinggi yang memperlihatkan langit malam Jakarta.

Indah, mewah, dan dingin. Sama seperti pemiliknya.

Alya berdiri kaku di dekat pintu, tangannya masih menggenggam ujung gaun pengantin, yang belum sempat ia lepaskan.

Jantungnya berdetak cepat, tak teratur. Ini malam pertama pernikahannya, tapi tidak ada rasa bahagia. Tidak ada debaran cinta, yang ada hanya ketakutan yang menyesakkan dada.

Langkah kaki terdengar di belakangnya. Berat, tenang, dan mengintimidasi. Alya tak perlu menoleh, untuk tahu siapa itu.

Arkan.

“Apa kamu akan tetap berdiri di sana sepanjang malam?”suara pria itu begitu rendah.

Alya menelan ludah, lalu perlahan berbalik. Arkan Virello berdiri beberapa langkah darinya, jas pengantinnya masih melekat sempurna di tubuhnya.

Tatapannya tajam, seolah bisa membaca setiap pikiran yang berusaha Alya sembunyi.

“Maaf,” ucap Alya lirih, hampir tidak terdengar.

Arkan mendengus pelan, lalu berjalan melewatinya begitu saja. Ia melepas jasnya dengan santai, seolah ini hanyalah malam biasa, bukan malam pernikahan.

“Lepaskan gaunmu itu,” ucap Arkan tiba-tiba.

Alya membeku, jantungnya seperti berhenti berdetak.

“A-apa?” suaranya bergetar.

Arkan menoleh sedikit, alisnya terangkat tipis. “Kamu tidak tuli, kan?”

Nada suaranya terdengar begitu dingin, Alya menggenggam gaunnya lebih erat.

“Aku... aku bisa ganti di kamar mandi.”

Arkan tertawa kecil, bukan tawa yang hangat, melainkan seperti ejekan halus.

“Lucu sekali,” katanya. “Kamu pikir aku akan tertarik dengan tubuhmu itu?”

Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada sebuah tamparan, wajah Alya memucat. Arkan melangkah mendekat, pelan tapi pasti. Setiap langkahnya membuat Alya tanda sadar mundur, hingga punggungnya kembali menyentuh pintu.

Arkan berhenti tepat di depannya, “Alya Maheswari,” ucapnya pelan. “Dengarkan aku baik-baik.”

Tatapan mereka bertemu, dan Alya merasa seperti jatuh ke dalam jurang yang gelap.

“Pernikahan ini,” lanjut Arkan. “Bukan tentang sebuah cinta.”

Alya menggigit bibirnya, mencoba menahan sesuatu yang terasa ingin pecah di dalam dadanya.

“Ini adalah kesepakatan, yang tak lain sebuah kontrak,” ucapnya dengan sedikit menunduk. “Dan dalam kontrak ini ada peraturan.”

Napas Alya tercekat, ia hanya terdiam dan tidak mengeluarkan suara.

“Aku tidak peduli tentang perasaanmu,” kata Arkan dingin. “Dan aku tidak akan menyentuhmu, selama kamu tidak membuat masalah.”

 Harusnya Alya merasa lega, namun entah kenapa, justru ada sesuatu yang terasa hampa. Seolah dirinya tidak cukup berharga, untuk diinginkan.

“Tapi,” lanjut Arkan dengan suara rendah. “Jangan pernah melupakan satu hal.”

Tangannya terangkat, menyentuh dagu Alya dengan ringan. Tapi cukup untuk membuat tubuh gafis itu menegang.

“Sekarang, kamu sudah menjadi milikku.”

Deg.

Kalimat itu terasa berbeda, bukan hangat atau pun lembut. Tapi seakan mengekang.

Alya menatapnya, matanya mulai berkaca-kaca. “Tapi aku bukan sebuah barang.”

Arkan tersenyum tipis, dan itu lebih menakutkan daripada ekspresi dinginnya.

“Di dunia ini,” katanya pelan. “Semua memiliki seseorang yang menjadi miliknya, hanya saja kamu belum terbiasa.”

Alya menepis tangannya dengan cepat, dan itu sebuah kesalahan baginya.

Ruangan mendadak terasa lebih dingin, tatapan Arkan berubah menjadi tajam dan gelap.

Beberapa detik mereka hanya saling diam, tapi Arkan justru mundur. Ia berbalik dan berjalan santai ke arah sofa panjang, yang berada di dekat jendela.

“Tidurlah di ranjang,” katanya tanya menoleh. “Aku tidak tertarik berbagi tempat tidur denganmu.”

Alya terdiam, kali ini ia benar-benar tidak tahu harus merasa apa. Alya menatap punggung pria itu, tinggi dan tegap. Seolah dunia bisa runtuh dan dia tetap berdiri tanpa peduli. Berbeda dengan dirinya yang bahkan berdiri saja terasa sulit.

Perlahan, Alya berjalan menuju ranjang. Tangannya gemetar saat mencoba membuka resleting gaun di punggungnya. Namun berhenti di tengah, ia tak bisa menjangkaunya.

Sial.

“Aku kesulitan meraih resletingnya,” gumam Alya lirih, hampir tidak terdengar.

Alya menggigit bibirnya, ia merasa ragu untuk meminta bantuan pada Arkan. Dengan susah payah, Alya mencoba lagi. Sampai beberapa kali usahanya tetap gagal, hingga tiba-tiba Arkan berbicara.

“Berisik sekali.”

Alya menoleh, dan Arkan sudah berdiri di belakangnya.

“Aku...”

Belum sempat Alya menyelesaikan kalimatnya, Arkan sudah menarik rambutnya ke satu sisi, hingga memperlihatkan bagian belakang lehernya.

Alya membeku, napasnya tercekat saat jari dingin Arkan menyentuh punggungnya. Resleting itu perlahan diturunkan.

Detak jantung Alya semakin cepat, bukan karena sentuhan itu lembut. Justru karena terlalu dingin, seolah ia hanyalah benda mati.

Begitu resleting terbuka, Arkan langsung menjauh. Dan Alya berdiam diri beberapa detik, dengan cepat ia langsung memeluk tubuhnya sendiri.

Alya segera mengambil pakaian tidur dari lemari, lalu masuk ke kamar mandi. Air dingin mengalir dari shower, Alya berdiri di bawahnya, membiarkan air membasahi wajahnya, seakan sedang menyembunyikan air mata yang akhirnya jatuh.

Ini bukan pernikahan yang ia inginkan, ini seperti sebuah penjara.

Ketika Alya keluar, Arkan sudah duduk di sofa sambil menatap layar ponselnya. Alya naik ke ranjang tanpa bicara, ia menarik selimut. Tetapi matanya tetap terbuka, menatap kosong ke arah dinding.

“Terlalu banyak berpikir akan membuatmu lemah,” ucap Arkan tiba-tiba.

Alya memejamkan mata, “Aku sudah lemah sejak awal,” bisiknya pelan.

Ia tidak tahu, apakah Arkan mendengar atau tidak. Tapi Arkan sama sekali tidak menjawabnya.

Malam semakin larut, lampu kamar masih menyala redup.

Di ranjang, Alya akhirnya sudah terlelap, meski dengan napas tidak tenang. Sementara di sofa, Arkan masih terjaga. Matanya kini tidak lagi tertuju pada ponselnya, melainkan pada seorang gadis yang berada di atas ranjang itu.

Ada sesuatu yang berbeda, saat Arkan menatap Alya yang sedang tertidur. Sesuatu yang gelap, berbahaya, tapi bukan kebencian atau pun rasa iba. Melainkan sesuatu yang jauh lebih rumit, seperti obsesi yang perlahan mulai tumbuh.

Dan di malam pertama, yang seharusnya penuh dengan kehangatan, kini berubah menjadi malam pertama yang dingin, tapi mengikat.

Seperti sebuah rantai tak terlihat, yang suatu hari nanti akan sulit untuk diputuskan.

1
Vie
lanjut kak.... makin seru... 👍👍👍👍
Vie
lanjut kak.....
Vie
lanjut kak...makin seru..... 👍👍👍
Vie
lanjut kak.... makin seru... 👍👍👍👍
Vie
ya makanya kamu jangan keluar rumah sudah tau tidak aman kan, lebih baik dim manis didalam, daripada celaka kan...
Vie
seru juga ceritanya, gak ngebosenin, menarik..... penasaran sama lanjutanya tetap semangat kak, lanjutkan ceritanya sampai tamat.... 👍🏻👍🏻🤭👍🏻
Vie
nah itu kamu udah tahu kan alya,gak usah diperjelas lagi, daripada nanti ujung2nya berakhir bertengkar, saling menyalahkan dn saling tidak mau mengalah.... 🤭🤭🤭
checangel_
Sampai segitunya 🤧
checangel_
Jauh darimu terasa hampa, tapi membuatmu tetap berada di sampingku membuatku lega ~ Arkan said (dalam hati) 🤭
checangel_
Ada kalanya dunia harus bersuara membela keadilan itu, bukan?🤧
checangel_
Dan tak semudah itu juga untuk membalikkan kertas yang sudah bertinta /Hey/
checangel_
Yang penting bukan imannya ya Alya/Facepalm/
checangel_
Betul, apalagi kalau berpikirnya sudah sampai ke perasaan, bukan pilihan lagi yang menyapa, tapi antara keyakinan dan keraguan yang menggema 🤭
checangel_: Bisa yuk
total 2 replies
checangel_
Cieee🤭
checangel_: Kabur ah 🏃🏻‍♀️🤣
total 2 replies
Vie
kamu cemburu tau... cemburu berarti tanda cinta ada dihatimu, walaupun kamu menepis perasaan itu, tapi Kamu tidak bisa menyangkalnya. jujurlah pada hatimu sendiri arkan.... 🤭🤭🤭🤭
Vie
ya.... kamu gak salah kok.... alaminya seorang manusia hal menyukai lawan jenis adalah manusiawi karena itu berarti kamu masih memiliki hati apalagi dia istri mu sendiri, sudah seharusnya kamu jaga dia dan kamu lindungi serta bahagiakan dia.... tapi jangan biarkan perasaan itu menjadi sebuah kelemahan mu juga, tapi harus Kamu jadikan kekuatanmu dalam melindungi apa yang menjadi milikmu......
Vie
nah loh ga bisa ngomong kan.. padahal kamu udah ada sedikit rasa sama alya.... ya mungkin karena sekarang dia adalah istri mu yang sudah seharusnya kamu bertanggung jawab dan juga sudah seharusnya kamu jaga dia dan perlakuan dia seperti layaknya seorang istri....
Lovelynzeaa🌷
SEMANGAT THORR🥰🙌
Lovelynzeaa🌷
coba bikin lanjut S2 thorr gantung soalny siapa yg mau balas dendam
Lovelynzeaa🌷: okee kak, yg novel baru kakak harus bnyk" up ya kak🙏☺️
total 6 replies
Lovelynzeaa🌷
Thor ini end nya kaya end sebelah nggak trauma banget soalny😭
Leo Draven: Rahasia dong/Shy/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!