NovelToon NovelToon
Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.




Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.




Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.




Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.



Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Dua Sosok Yang Tak Sama Namun Sama Teguhnya

"Tidak harus sekarang pergi ke pesantren," kata Shafiya. "Jadwalmu padat. Dan kamu butuh istirahat." Ia menatap wajah itu--yang kini kian jelas perbedaannya.

Sagara tidak langsung menjawab.

Tatapannya tertahan pada Shafiya untuk beberapa saat.

Seolah menimbang sesuatu yang tidak diucap.

Sagara kemudian berpaling.

Botol di tangannya ditutup kembali.

Diletakkan di posisi semula.

“Tidak perlu.”

Satu kalimat pendek. Datar. Khas Sagara.

“perjalanan ini sudah dijadwal."

Dan lagi-lagi ini soal peraturan. Jadwal yang sudah ditetapkan dan tidak bisa dilanggar.

Tangannya kembali mengambil berkas.

Namun kali ini--tidak langsung dibuka.

“Saya tidak suka menunda apa yang bisa saya lakukan hari ini.”

Ucapan itu jatuh begitu saja. Datar.

Seperti kalimat biasa. Namun entah kenapa--bagi Shafiya tidak terasa biasa.

Shafiya terdiam.

Tatapannya perlahan beralih pada Sagara.

Seolah memastikan… ia tidak salah dengar.

Dan memang tidak.

Kalimat itu benar datang dari Sagara.

Shafiya diam. Membuat jeda yang tak panjang. Namun cukup untuk menarik sesuatu dari dalam ingatannya.

Kalimat yang serupa, pernah ia dengar.

Di tempat yang berbeda.

Dari seseorang yang berbeda.

Ia menarik napas pelan.

Tubuhnya bersandar perlahan pada sandaran kursi.

Ingatan itu datang. Tidak utuh. Tapi jelas.

Suaranya. Ucapannya yang tenang, dan dalam.

Laa tu’ajil ilal ghod. Maa yumkinuka an takmalahul yaum.

Jangan kau tunda sampai esok…

apa yang bisa kau lakukan hari ini.

Shafiya memejamkan mata sejenak.

Bukan karena lelah.

Tapi karena… kemiripan itu terlalu nyata untuk diabaikan.

Dua kalimat yang sama.

Dari dua orang yang tak sama

Dan datang dari dua dunia yang sama sekali berbeda.

Namun mereka seperti memiliki cara pandang yang sama.

Shafiya membuka matanya perlahan.

Sagara masih di sampingnya.

Dengan berkas di tangan.

Dengan dunia yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan.

Dan di satu sisi ingatannya--ada sosok lain.

Lebih tenang. Lebih sederhana.

Namun… sama teguhnya.

Sagara.

Dan Gus Ilzam.

Sagara menoleh. Tatapan mereka bertemu. Namun tak ada kata yang menerjemahkan arti tatapan.

Shafiya membanting pandangan ke luar. Ke arah jalanan.

Mobil melaju meninggalkan kepadatan kota perlahan. Gedung-gedung tinggi berganti deretan ruko, lalu menyusut menjadi rumah-rumah sederhana yang berdiri dengan halaman terbuka. Jalanan tak lagi dipenuhi suara klakson, hanya sesekali kendaraan melintas dengan ritme yang lebih tenang.

Di dalam mobil, percakapan sudah lama berhenti. Sagara kembali diam dengan berkas di tangannya, meski tak lagi benar-benar dibaca. Sementara Shafiya memandang keluar, mengikuti perubahan pemandangan yang terasa semakin akrab--seolah jarak yang ditempuh bukan sekadar perjalanan, tapi juga pergeseran dunia.

Semakin jauh mereka melaju, udara terasa berbeda. Lebih ringan, dan lebih hidup. Pohon-pohon rindang mulai mendominasi, dan jalan kecil yang mereka masuki membawa pada suasana yang tak lagi asing bagi Shafiya.

Ketika gerbang pesantren akhirnya terlihat, langkah waktu seakan melambat. Tempat itu tetap sama--sederhana, hangat, dan penuh kehidupan. Sangat kontras dengan dunia yang mereka tinggalkan beberapa saat lalu.

Dan di sanalah kemudian, Sagara menutup sepenuhnya berkas yang ada di tangannya.

Mobil berhenti tepat di depan gerbang.

Belum sepenuhnya berhenti saja, suasana sudah terasa berbeda.

Suara langkah kaki, sapaan yang saling bersahut, dan lantunan ayat yang mengalun dari dalam area pesantren menyambut mereka tanpa perlu dipanggil.

Pintu mobil terbuka lebih dulu dari sisi Shafiya. Ia turun.

Langkahnya pelan… tapi pasti. Tatapannya langsung tertuju ke dhalem utama--kediaman kyai Fakih, sambil mengulas senyum.

Beberapa santri yang melintas langsung menunduk hormat.

“Assalamu’alaikum, Ning Shafiya…”

Suara-suara itu datang tulus. Hangat.

Tidak dibuat-buat.

Shafiya membalas dengan senyum kecil.

“Wa’alaikumussalam…”

Di sisi lain, Sagara baru turun beberapa detik kemudian.

Gerakannya tetap tenang, dan terukur.

Namun jelas--tidak menyatu dengan ritme tempat itu.

Beberapa pasang mata sempat melirik.

Bukan karena mencurigai.

Tapi karena… apa yang mereka lihat di hadapan mereka saat ini... terasa berbeda.

Sagara berdiri sejenak.

Menatap sekeliling. Tidak lama.

Namun cukup untuk menyadari--ini bukan dunianya.

“Abi di dalam?” tanya Shafiya pelan pada salah satu santri.

“Iya, Ning. Di ruang utama.”

Shafiya mengangguk. Pandangannya berhenti pada sebuah mobil yang parkir tak jauh di samping masjid.

"Ada tamu ya?" Ia bertanya pada santri itu.

"Iya, Ning. Kyai Sholih bersama Nyai."

Jawaban itu membuat Shafiya diam, beberapa saat. Nama yang disebut adalah orang tua gus Ilzam. Dan itu yang membuat langkahnya terhenti. Sampai terasa ada seseorang yang berdiri di sampingnya.

Ia menoleh.

Sagara.

"Tidak langsung masuk?"

Shafiya mengangguk. Menarik napas pelan.

Lalu melangkah lebih dulu.

Sagara menyusul tanpa diminta.

Kini, langkah mereka berjalan dalam satu arah.

1
i_r cute
kyknya mulai ada cemburu tipis2 nih Sagara....
iqha_24
ayo dong sagara lebih peka dan lebih perhatian lagi ke shafiya
iqha_24
makin seru nii 👍
iqha_24
up lagi kak
Afsa
Komporin saja Pak Raven..aq seneng Kalo Saga cemburu😄
徐梦
🤣🤣🤣🤭
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣
iqha_24
naah kan .. Sagara ga tenang
i_r cute
nunggu part shafiya cuekin Sagara, lama banget thor.....
iqha_24
nii sagara kapan peka nya yaa
Amalia Siswati
ya syafia bersikaplah seperti cermin,memantulkan.
Amalia Siswati
plot2 seperti ini nya mohon di kurangi dech thor,1 bab kebanyakan klimaknya bukan alur cerita intinya
Najwa Aini: Dan masukan dari kakak ini akan jadi bagian pertimbanganku..🌹🌹
total 2 replies
iqha_24
ayo Gam, panas2in aja si Sagara
iqha_24
lanjut
徐梦
Weeeeh agaknya ada yg cembukur ni ciee cieeee
Ayok mas Agam pelet trus ning cantik
Masih bnyak yg nunggu jandanya😍
Najwa Aini: Agam said: Siapppp
total 1 replies
徐梦
Semoga aja ada laki2 lain yg menunggu jandamu syifa thor buat sagara uring2n dong 🤭🤭🤭🤣
Najwa Aini: uring²an yang tetap elegan ya kak..
total 1 replies
Ayuwidia
Kisahnya sukses bikin baper. Bahasanya berbobot, nggak bertele-tele. Mencerminkan kecerdasan authornya. Karakter tokoh prianya bikin para pembaca gemes-gemes tapi cinta.

Semoga Sagara & Ning Shafiya sukses menaklukan retensi dari 20 bab sampai 100 bab, aamiin.

Semangat & semoga sukses, Ning Najwa ♥️
Ayuwidia: uhuk, nggak cocok Ning disematkan untukku yang minim ilmu agama, Kak.
total 2 replies
be83
Ceritanya sangat menarik
Semoga update nya lebih sering
Najwa Aini: Terima kasih Kak..
semoga updatenya konsisten ya
total 1 replies
Amalia Siswati
buat syafia yang dingin sekarang,biar dia mikir jika kehamilannya butuh perjuangan bersama..
Najwa Aini: Trims sarannya ya Kak..
aku tampung deh. nanti ku diskusikan dgn Shafiya
total 1 replies
Yus Marni
aku dukung syafiya kabur, gak akan berubah tu si saga kalau gak dikasih pelajaran🫢🫢
Najwa Aini: Kabur kemana kak??
total 1 replies
Afsa
Kalau aq yg JD Syafa aq kabur deh biar Saga tau Rasa.Kaku banget jadi cowok,mau anak doang..pdhal waktu hami istri itu ingin di peehaitiin dan manja tau...
Najwa Aini: Nah gitu kak..dikasih paham tuh Sagara
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!