Aisyah Maharani adalah istri dari Ahmad Baihaqi.
Aisyah adalah pemilik butik dan penjahit terkenal. Karyanya sudah banyak di kenal khalayak.
Baihaqi adalah seorang dosen di salah satu Universitas Terbuka di Semarang.
Kehidupan rumah tangga mereka hangat dan romantis walaupun usia pernikahan mereka sudah lima tahun.
Selama itu pula mereka menantikan kehadiran buah hati yang tak kunjung datang.
Ujian dan cobaan silih berganti membuat mereka semakin menguatkan cinta dan iman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Humairah_bidadarisurga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚
Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.
Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.
Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....
Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.
Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...
Hidayah Hijrahku
Dahsyatnya SHOLAWAT
Angkringan Cinta
Kopi Paste
Kesucian Syahadat
Selamat Membaca ....
💚💚💚💚💚💚
Pagi ini cuaca terlihat mendung walaupun bukan berarti akan turun hujan. Seakan semesta mengetahui kegundahan hati kedua pasangan ini. Sarapan kali ini pun dilalui dengan diam, tidak ada canda tawa seperti biasanya, karena masing-masing orang memikirkan solusi yang terbaik, menyelesaikan masalah tanpa ada masalah baru.
Ibarat percikan api muncul dengan segera mencari air untuk memadamkannya, bila api itu sudah berkobar maka harus ada yang perlu dikorbankan untuk memadamkannya pun.
"Humairah... kamu terlihat pucat? Aku antar ke dokter? sudah beberapa hari ini, kamu terlihat lesu, lemas dan mudah lelah. Apa yang terjadi Humairah?" tanya Baihaqi pelan sambil mengusap punggung Aisyah dengan lembut
Usapan itu terasa nyaman di punggung belakangnya terlebih persis di belakang perut, seperti ada desiran rasa yang berbeda disana.
"Aku akan ke dokter sendiri Mas. Aku tidak akan menggangu waktumu bekerja. Ada Pak Amin yang bisa mengantarkan aku." ucap Aisyah pelan.
"Baiklah Aisyah... kalau ada sesuatu hubungi aku. Aku tidak mau menjadi yang terakhir mengetahui apa pun tentang kamu." titah Baihaqi mengingatkan Aisyah dengan lembut
Baihaqi dengan segera mencium kening Aisyah dan mengulurkan tangannya untuk di cium oleh Aisyah.
"Kabari aku Humairah... Jangan buat aku menunggu selalu kabar darimu." ucap Baihaqi dengan tegas.
"Iya Mas Bai. Aku akan mengabari kamu langsung." ucap Aisyah sedikit terkekeh.
Baihaqi pun meninggalkan pekarangan rumahnya dengan mobil kesayangannya yang di kendarai dengan pelan. Sedangkan Aisyah pun tidak menunggu lama dengan segera bertemu dengan Dokter Kandungan karena sudah janji di hari sebelumnya.
Dokter Kandungan perempuan berhijab bekerja di Rumah Sakit Ibu dan Anak. Dia adalah Ernawati, panggil dengan Dokter Erna.
"Assalamualaikum... Dokter Erna." ucap Aisyah pelan sambil membuka pintu dan masuk ke dalam ruang praktek Dokter Erna.
"Waalaikumsalam .. Aisyah... sudah lama kita tidak bertemu, ada apa? Kamu sudah hamil lagi?" tanya Dokter Erna dengan ucapan tulus dan terdengar bahagia.
"Dokter Erna, aku sudah terlambat haid, aku belum cek, aku ingin memastikan bersama kamu melalui USG." ucap Aisyah pelan.
"Baiklah pasien tersayang, silahkan merebahkan diri disana, aku persiapkan dulu peralatannya." ucap Dokter Erna dengan lembut dan sopan.
Dengan pelan dan telaten, Dokter Erna pun memeriksa kandungan Aisyah melalui USG. Dokter Erna hanya tersenyum lebar.
"Kenapa Dokter Erna? Ada yang salah? Aku tidak hamil ya?" tanya Aisyah pelan.
"Selamat Aisyah, kamu positif mengandung, diperkirakan usia janinnya sudah tujuh Minggu. Apa kamu tidak merasakan apa-apa? mengidam atau mual?" tanya Dokter Erna pelan. Kemudian keduanya bangkit dan duduk kembali di kursi untuk pasien.
"Baru kemarin aku merasakan mengidam, ingin es krim rasa kelapa ternyata setelah dibelikan aku hanya ingin wanginya saja, dan es krim harus di habiskan oleh Mas Bai." ucap Aisyah sedikit terkekeh.
"Jaga kandunganmu Aisyah. Mengingat kamu pernah keguguran, kondisi ini bisa memicu rasa trauma ataupun kandungan yang lemah.Tetao berpikiran positif dan selalu bahagia, jangan sedikitpun kamu stres dan kecapekan." ucap Dokter Erna mengingatkan.
"Baiklah, Terima kasih Dokter Erna. Aku harus pamit, ada hal penting yang harus aku selesaikan. Lain waktu aku akan berkunjung kemari." ucap Aisyah setelah mendapatkan obat dan vitamin dari Dokter Erna.
Aisyah pun meninggalkan rumah sakit dan kembali melakukan perjalanan bersama Pak Amin. Tujuannya kali ini adalah ke rumah Bu Margaretha atau Anggie.
"Kita akan kemana Bu Aisyah." tanya Pak Amin dengan sopan.
"Ke rumah Anggie Pak Amin. Masalah ini harus cepat selesai." ucap Aisyah dengan sopan dan tersenyum manis.
Hatinya sungguh bahagia mendengar kabar bahwa di perutnya saat ini ada janin yang harus Aisyah jaga dan rawat dengan baik.
Baihaqi sudah berada dalam ruangan kerjanya. Ada satu amplop di atas mejanya. Amplop berwarna putih dan tertulis nama disana untuk Bapak Ahmad Baihaqi.
Baihaqi pun membuka surat itu, awalnya raut wajahnya tampak biasa saja, lalu wajahnya memerah dan tampak kecewa dan kesal. Sedikit aura emosionalnya pun terpancar dari rahangnya yang mengeras menahan sesak di dadanya, tangannya mengepal kuat.
Mobil pun sudah berhenti tepat di depan rumah Anggie. Ada perasaan yang tidak karuan dari dalam hatinya. Rasa takut, cemas, panik, gugup dan tidak ikhlas.
"Pak Amin tunggu disini saja. Saya tidak lama." ucap Aisyah meyakinkan.
"Baik Bu Aisyah." jawab Pak Amin dengan sopan.
Aisyah membuka pintu mobil dan turun dari mobil hitamnya. Kakinya berjalan terasa berat menuju pintu pagar rumah Anggie.
"Assalamualaikum.... permisi.." ucap Aisyah pelan.
Satu orang asisten pun berlari dari arah samping dan membuka pintu pagar.
"Waalaikumsalam... " jawab asisten rumah tangga itu.
"Bu Margareth dan Anggie ada? eh... maksud saya Nastiti?" tanya Aisyah pelan dan sopan.
"Bu Margaretha sedang keluar, bila non Nastiti ada di kamarnya, mari saya antar." ucap asisten itu dengan ramah.
Aisyah berjalan tepat di belakang asisten itu. Perasaannya semakin bergemuruh, detak jantungnya pun menjadi berdetak terlalu cepat dan tidak normal.
Asisten itu menunjukkan kamar Anggie. Sejak kemarin Anggie hanya mengurung diri dan mengunci pintu kamarnya.
Kamar dengan ukiran pintu khas Jepara yang sangat cantik.
"Assalamualaikum... Anggie... Ini aku Aisyah." ucap Aisyah pelan dan lembut. Padahal hatinya terasa sakit dan perih karena kejadian buruk ini.
Di balik pintu Anggie mendegar ketukan dan ucapan salam dari Aisyah. Orang yang telah menolongnya saat semua orang menutup mata dengan keadaannya.
Tangisannya pun luruh begitu saja. Hatinya pun terasa sakit dan perih. Tapi apa yang yang bisa Anggie lakukan, ia tetap harus melakukan karena bayi yang dikandungnya memerlukan sosok Ayah.
Anggie pun mengusap sisa air mata yang masih tersisa di pipinya dengan telapak tangannya. Kedua matanya masih sembab dan terlihat sedikit bengkak.
"Waalaikumsalam... Kak Aisyah." ucap Anggie dengan suara pelan. Pintu kamarnya terbuka, terasa dingin karena AC yang dinyalakan secara maksimal, wangi ruangan yang harum dan terasa nyaman.
"Boleh aku masuk, aku membawakan makan untukmu. Katanya kamu belum makan sejak kemarin. Apa kamu tidak sayang dengan bayi yang ada dalam kandunganmu?" tanya Aisyah lembut dan mengusap perut Anggie dengan pelan.
"Masuk Kak Aisyah, silahkan duduk." ucap Anggie yang kemudian menutup pintu kamarnya dan duduk di tepian ranjang.
Aisyah masih takjub dengan keindahan kamar Anggie yang benar-benar rapih dan mewah. Aisyah pun duduk di kursi meja belajar Anggie.
"Mau aku suapi?" tanya Aisyah pelan.
Anggie pun ragu dan malu di perlakukan seperti itu oleh Aisyah. Wanita yang saat ini ada di hadapannya adalah wanita berhati mulia dan berakhlak sholehah.
Pelan Anggie pun menganggukkan kepalanya dengan pasrah, dan menerima suapan nasi dari Aisyah. Suapan demi suapan dengan sangat telaten Aisyah melakukannya berulang kali hingga nasi itu benar-benar habis.
Satu gelas air putih pun Aisyah sodorkan untuk Anggie. Lalu mengembalikan ke meja belajar, Aisyah pun tersenyum bahagia.
"Apa yang kamu pikirkan saat ini, coba kamu katakan kepadaku Anggie." tanya Aisyah dengan pelan.
"Kamu sungguh berhati mulia Kak Aisyah, tapi aku juga memerlukan sosok Ayah untuk bayi yang ku kandung ini." ucap Anggie lirih dan kemudian terisak kembali.
"Apa yang harus aku lakukan untukmu Anggie? Berbagi Suami? Aku menerimamu menjadi Maduku? Seperti itu?" tanya Aisyah dengan lembut dan pelan, dan masih terlihat tenang.
"Aku mencintai Pak Baihaqi. Aku sangat mencintainya." ucapnya keras dan jujur.
Seketika bulir kristal itu luruh begitu saja dari kedua mata Aisyah. Batinnya begitu tersentak mendengar ucapan Anggie yang begitu polos dan jujur dari dalam hatinya.
Bukti cintanya kepada Baihaqi pun tampak jelas dengan beberapa foto yang tertempel di dinding. Aisyah begitu takjub melihat pemandangan itu sekaligus hatinya terasa ngilu dan perih.
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.
Biar aku makin semangat menulisnya ...
Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.
Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.
Ditunggu ya ...
Terima Kasih ....