NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Mansion Mahendra malam ini menjelma menjadi istana cahaya. Ribuan lampu kecil menghiasi pepohonan di halaman depan, sementara karpet merah membentang dari gerbang hingga tangga pualam lobi utama. Ini adalah malam "Pesta Debut" bagi Adelard—setidaknya begitu yang tertulis di undangan emas yang disebar ke seluruh relasi bisnis Mahendra Group. Namun bagi Adel, ini lebih terasa seperti upacara pelabelan dirinya sebagai warga kelas dua.

Di dalam kamar paviliun, Adel menatap gaun yang dikirimkan Nyonya Siska. Gaun itu berwarna abu-abu mutiara (pearl grey). Bahannya sutra mahal, namun potongannya sangat tertutup dan sederhana, hampir terlihat seperti seragam pengiring pengantin yang tidak ingin menonjol.

"Ibu benar-benar ingin aku menjadi bayangan," gumam Adel sambil mematut diri di cermin.

Tak lama kemudian, Clarissa masuk tanpa mengetuk pintu. Ia tampak seperti dewi api dalam balutan gaun *mermaid* berwarna merah menyala dengan ribuan kristal Swarovski yang memantulkan cahaya setiap kali ia bergerak. Perhiasan zamrud melingkar di lehernya, sebuah set perhiasan warisan yang seharusnya menjadi milik putri kandung pertama.

"Oh, lihatlah si 'Anak Angkat Kesayangan'," ejek Clarissa sambil berjalan memutari Adel. "Gaun yang bagus, Adel. Sangat pas untuk seseorang yang tugasnya hanya berdiri di pojok dan tersenyum sopan. Jangan sampai kau berdiri terlalu dekat denganku di panggung nanti, ya? Aku tidak ingin kecantikanku tertutup oleh warna pucatmu itu."

Adel hanya tersenyum tenang, sebuah ketenangan yang selalu membuat Clarissa merasa terancam. "Warna merah memang cocok untukmu, Clarissa. Mencolok, berisik, dan menutupi apa yang ada di dalamnya. Tapi ingat, mutiara yang asli tidak butuh warna mencolok untuk menunjukkan harganya."

"Tutup mulutmu! Ayo keluar, Ayah dan Ibu sudah menunggu," bentak Clarissa sambil menghentakkan kakinya.

---

Saat mereka melangkah masuk ke aula utama, musik orkestra mendadak berhenti sejenak sebelum memainkan nada yang lebih megah. Tuan Mahendra, dengan setelan tuksedo hitam yang sempurna, berdiri di atas podium kecil.

"Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, terima kasih telah hadir," suara Tuan Mahendra menggema dengan wibawa. "Malam ini, selain merayakan kesuksesan kuartal pertama perusahaan, saya ingin memperkenalkan secara resmi anggota terbaru keluarga kami, Adelard Mahendra. Meskipun ia bergabung dengan kami melalui jalur adopsi, ia telah menunjukkan dedikasi yang luar biasa bagi keluarga ini."

Adel melangkah maju ke samping ayahnya. Kilatan lampu kamera (blitz) membutakan matanya sejenak. Ia bisa merasakan tatapan menilai dari para sosialita. Bisik-bisik mulai terdengar di antara denting gelas sampanye.

"Jadi itu anak angkatnya? Cantik, tapi auranya... beda ya dengan Clarissa."

"Kudengar dia dari panti asuhan. Kasihan sekali Siska harus menampungnya demi reputasi suaminya."

Nyonya Siska berdiri di sisi lain Clarissa, terus-menerus memegang tangan Clarissa dan memperkenalkannya kepada tamu-tamu VIP sebagai "Permata Mahendra". Sementara Adel dibiarkan berdiri di belakang, hanya sesekali diperkenalkan jika ada tamu yang bertanya. Siska sengaja menjauhkan Adel dari lingkaran percakapan penting, menempatkannya di antara kerabat jauh yang tidak memiliki pengaruh bisnis.

Namun, sebuah kejutan terjadi saat pintu aula terbuka dan pelayan mengumumkan kedatangan keluarga Dirgantara.

Devan Dirgantara masuk dengan gaya yang membuat seluruh ruangan seolah tertunduk. Alih-alih langsung menghampiri Clarissa, tunangannya, Devan justru berjalan lurus melewati kerumunan menuju tempat Adel berdiri.

"Selamat malam, Nona Adelard," Devan membungkuk sedikit, lalu mengambil tangan Adel dan mengecup punggung tangannya dengan hormat yang berlebihan. "Anda tampak sangat memukau malam ini. Gaun abu-abu ini... mengingatkanku pada ketenangan sebelum badai besar datang."

Tindakan Devan membuat seluruh aula sunyi. Clarissa yang sedang tertawa dengan seorang anak menteri langsung terdiam, wajahnya memerah padam karena cemburu.

"Devan! Kau sudah datang!" Nyonya Siska mencoba menyelamatkan situasi dengan menarik tangan Devan. "Ayo, Clarissa sudah menunggumu di dekat meja utama."

"Sebentar, Nyonya Siska," Devan melepaskan pegangan Siska dengan halus. "Aku ingin berdansa pertama kali malam ini dengan Adelard. Sebagai tanda sambutan bagi anggota baru keluarga Mahendra, bukankah itu sopan?"

Tanpa menunggu jawaban, Devan menarik Adel ke tengah lantai dansa. Musik mulai mengalun lembut. Adel, yang selama seminggu ini dipaksa latihan etiket dan dansa hingga kakinya berdarah, kini bergerak dengan keanggunan yang tidak terduga. Meskipun gaunnya sederhana, cara Adel membawakan diri—dengan punggung tegak dan tatapan mata yang cerdas—justru membuatnya terlihat jauh lebih berkelas daripada Clarissa yang tampak berlebihan.

"Kau sengaja melakukannya?" bisik Adel di sela-sela gerakan dansa.

"Hanya memberi mereka sedikit tontonan tentang siapa yang sebenarnya layak menjadi pusat perhatian," jawab Devan sambil mengeratkan pegangannya di pinggang Adel. "Lihatlah wajah ibumu. Dia mulai menyadari bahwa kecantikanmu tidak bisa disembunyikan bahkan oleh gaun paling suram sekalipun."

Adel melirik ke arah Nyonya Siska. Ibunya itu tampak gelisah, sementara Tuan Mahendra justru terlihat memperhatikan Adel dengan tatapan yang sulit diartikan—ada sedikit rasa bangga yang mulai muncul, mengingat analisis bisnis anonim yang ia terima kemarin malam.

Setelah dansa berakhir, Adel menjadi magnet baru di pesta itu. Beberapa kolega bisnis Tuan Mahendra mulai mendekati Adel, bukan untuk basa-basi, melainkan karena mereka terkesan dengan cara Adel menjawab pertanyaan tentang tren pasar global saat makan malam tadi.

"Tuan Mahendra, anak angkat Anda ini memiliki wawasan yang luar biasa," puji Tuan Pratama, salah satu investor terbesar mereka. "Cara dia menganalisis risiko investasi hijau tadi benar-benar mengingatkan saya pada Anda di masa muda."

Wajah Clarissa yang berdiri di dekat mereka tampak seperti akan meledak. Ia mencoba menyela, "Ah, Tuan Pratama, Adel hanya banyak membaca buku. Dia tidak benar-benar mengerti dunia nyata seperti saya yang sering diajak Ayah ke pertemuan direksi."

Tuan Pratama hanya tersenyum tipis, jelas tidak tertarik dengan komentar Clarissa yang dangkal. "Membaca adalah jendela dunia, Clarissa. Dan Adel sepertinya membuka jendela yang sangat besar."

Pesta itu berakhir dengan kegagalan bagi Clarissa. Meskipun ia adalah "bintang utama" dalam skenario Nyonya Siska, namun Adelard-lah yang menjadi topik pembicaraan di mobil-mobil mewah para tamu saat mereka pulang.

Malam itu, di koridor mansion setelah tamu terakhir pergi, Nyonya Siska mencegat Adel.

"Kau merasa hebat sekarang, Adel?" desis Siska. "Jangan pikir karena Devan membelamu dan Tuan Pratama memujimu, kau bisa menggantikan posisi Clarissa. Kau tetaplah anak angkat. Dan di rumah ini, kata-kataku adalah hukum."

Adel menatap ibunya dengan tatapan yang sudah tidak lagi mengharap kasih sayang. "Saya tidak pernah mencoba menggantikan siapa pun, Ibu. Saya hanya menunjukkan siapa saya sebenarnya. Jika itu membuat posisi Clarissa terancam, mungkin itu karena posisinya memang tidak pernah benar-benar kokoh sejak awal."

Siska hendak menampar Adel, namun ia teringat ada Tuan Mahendra di ruang sebelah. Ia hanya bisa menunjuk wajah Adel dengan gemetar. "Masuk ke paviliunmu! Dan jangan keluar sampai besok pagi!"

Adel berbalik dengan tenang. Saat ia melewati cermin besar di aula, ia melihat bayangannya sendiri—gadis berbaju abu-abu yang kini tidak lagi terlihat seperti bayangan, melainkan seperti mutiara yang mulai memancarkan cahayanya sendiri di tengah kegelapan kepalsuan keluarga Mahendra.

Di lantai atas, Clarissa sedang berteriak menghancurkan vas bunga di kamarnya, sementara Devan, dari dalam mobilnya yang meluncur pergi, menatap foto Adel di ponselnya.

"Pesta ini baru pembukaan, Adel," gumam Devan. "Besok, kita mulai meruntuhkan fondasi mereka yang sebenarnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!