"Sialan! Kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?!"
Ye Xuan adalah seorang pemuda dari Bumi yang terbangun di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana para kultivator bisa membelah lautan dengan satu tebasan pedang. Sialnya, ia menempati tubuh seorang Tuan Muda Klan Ye yang dibuang karena tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.
Tanpa energi spiritual, tanpa sistem bela diri, Ye Xuan terpaksa hidup terasing di sebuah puncak gunung terpencil. Untuk bertahan hidup, ia hanya bisa berkebun ubi, menyapu halaman, dan memancing di kolam belakang gubuknya.
Namun, yang tidak Ye Xuan sadari adalah:
Air bekas cucian ubi yang ia buang sebenarnya adalah Cairan Kehidupan Abadi yang diperebutkan para Kaisar.
Sapu lidi tua miliknya adalah Senjata Pemusnah Dao yang ditakuti seluruh iblis.
Dan ubi bakar yang ia anggap "makanan rakyat jelata" sebenarnya adalah Obat Dewa yang bisa membuat seseorang menerobos ranah dalam semalam!
Ketika para dewi sekte suci d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: TAMU YANG TIDAK DIUNDANG DAN STANDAR HIDUP DEWA
Pagi itu, Ye Xuan memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sangat "inovatif" menurut standarnya: Membangun sistem irigasi untuk kebun ubinya. Karena ia bosan menyiram manual, ia menggunakan beberapa batang bambu tua dan mengukir beberapa saluran air kecil di atasnya.
"Kalau cuma bambu biasa, airnya cepat berlumut," gumam Ye Xuan. Ia kemudian mengambil sebuah pisau dapur karatan dan mengukir beberapa pola acak yang ia ingat dari sirkuit motherboard komputer di Bumi. "Nah, dengan pola sirkuit ini, mungkin aliran airnya jadi lebih stabil. Estetika teknologi Bumi di dunia fantasi, tidak buruk juga."
Ia tidak tahu bahwa "pola sirkuit" yang ia ukir sebenarnya adalah Struktur Formasi Makro yang bisa memurnikan energi spiritual tingkat rendah menjadi Cairan Kosmik murni.
Saat itu, Lin Meier sedang membantu mengikat bambu. Ia melihat pola ukiran tersebut dan matanya hampir meledak. Itu... itu bukan sekadar formasi! Itu adalah 'Hukum Pengaturan Semesta'! Senior sedang menciptakan ekosistem dewa hanya untuk menyiram ubi?!
Namun, kedamaian itu pecah ketika langit di atas Puncak Awan Tersembunyi mendadak terbelah oleh deru mesin perang udara yang megah. Tiga kapal terbang raksasa dengan simbol Klan Ye Surgawi muncul, menutupi matahari.
Di geladak utama, berdiri seorang pemuda tampan dengan jubah emas yang sangat sombong, Ye Ba. Ia adalah sepupu Ye Xuan yang dulu ikut menendang Ye Xuan dari klan setelah orang tuanya tewas. Di sampingnya stands seorang penatua berambut putih, Penatua Gu, yang memiliki kultivasi ranah Spirit Severing.
"Jadi di sini sampah itu bersembunyi?" Ye Ba meludah ke bawah. "Klan mendengar rumor bahwa ada 'Ahli Agung' di gunung ini yang mengalahkan Sekte Bayangan Darah. Mereka takut itu adalah Ye Xuan yang mendapatkan warisan rahasia Ayahnya. Tapi lihatlah... dia tetap saja seorang petani yang bermain dengan bambu."
Penatua Gu menyipitkan mata. "Tuan Muda, jangan gegabah. Aura di gunung ini... sangat aneh."
"Aneh apanya?! Dia hanya menggunakan trik sulap untuk menipu gadis-gadis bodoh itu!" Ye Ba berteriak, suaranya dikeraskan dengan energi spiritual sehingga menggelegar sampai ke bawah. "Ye Xuan! Budak sampah! Keluar dan berlutut! Serahkan warisan Ayahmu, atau aku akan meratakan gubuk ini sekarang juga!"
Di bawah, Ye Xuan sedang memegang palu, hendak memaku bambu. Suara teriakan itu membuatnya tersentak dan jarinya hampir terpukul palu.
"Aduh! Siapa sih yang teriak-teriak pakai toa?!" Ye Xuan mendongak dengan wajah sangat kesal. Ia melihat kapal-kapal terbang raksasa itu. "Lagi-lagi tamu tidak diundang. Dan mereka memanggilku 'budak'? Apa ini rombongan debt collector klan lama itu lagi?"
Rasa takut sempat muncul, tapi rasa kesalnya lebih besar. Bayangan wajah Ye Ba yang dulu sering merundungnya muncul di ingatan.
"Nona Jian, tolong ambilkan jemuran pakaian di belakang," perintah Ye Xuan tiba-tiba.
Jian Chengyue bingung. "Jemuran, Senior? Sekarang?"
"Iya! Orang-orang di atas sana sangat berisik. Mereka membuat debu berterbangan ke jemuranku. Aku harus mengibasnya!" Ye Xuan mengambil selembar seprai putih yang baru dicuci.
Ye Xuan tidak menyadari bahwa seprai itu telah direndam dalam air sumurnya yang mengandung esensi Dao, dan saat ia mengibasnya ke udara dengan perasaan jengkel, ia sebenarnya sedang melepaskan "Tirai Penutup Langit".
Wush!
Ye Xuan mengibaskan seprai putih itu ke arah langit. Di matanya, itu hanya gerakan mengusir debu. Tapi bagi orang-orang di kapal terbang, mereka melihat selembar kain putih raksasa yang tiba-tiba menutupi seluruh cakrawala, memutus hubungan mereka dengan energi spiritual dunia.
"Apa yang terjadi?! Mesin kapal mati!" teriak awak kapal.
Kapal-kapal perang megah milik Klan Ye tiba-tiba kehilangan daya dan meluncur jatuh seperti batu yang dilempar ke sumur.
Brak! Gubrak!
Ketiga kapal itu jatuh di kaki gunung, hancur berantakan. Beruntung bagi mereka, energi di gunung itu menahan benturan sehingga mereka tidak mati, tapi mereka semua kini merangkak keluar dari reruntuhan dengan kondisi kacau balau.
Ye Ba, dengan mahkota emasnya yang miring, merangkak menuju pagar Ye Xuan dengan marah. "Kau! Kau berani menyerang kapal klan?! Kau sudah bosan hidup?!"
Ye Xuan berjalan menuju pagar, masih memegang seprai putih di pundaknya seperti handuk. Ia menatap Ye Ba dari atas pagar kayu.
"Dengar, sepupu jauh atau siapa pun kau," suara Ye Xuan terdengar sangat dingin (karena ia sebenarnya sedang menahan emosi agar tidak gemetar ketakutan). "Aku sudah keluar dari klan. Aku tidak punya warisan apa-apa. Yang kupunya hanyalah kebun ubi ini. Kalau kau datang hanya untuk merusak cucianku, lebih baik kau pergi sebelum aku benar-benar marah."
Ye Ba tertawa histeris. "Marah? Kau ingin menyerangku dengan seprai? Penatua Gu, bunuh dia!"
Penatua Gu maju, berniat melepaskan serangan penghancur jiwa. Namun, saat ia melangkah maju, kakinya menginjak saluran irigasi bambu yang baru dibuat Ye Xuan.
Seketika, Penatua Gu membeku. Ia merasakan energi dari bambu itu mengalir ke tubuhnya—bukan energi yang menyerang, melainkan energi yang "Mengkoreksi" seluruh jalur kultivasinya.
"Ini... ini mustahil..." Penatua Gu jatuh berlutut, air mata mengalir. "Selama tiga ratus tahun aku terjebak di ranah Spirit Severing karena cacat di meridianku... tapi hanya dengan menginjak air cucian ubi di bambu ini, cacatku sembuh? Rahasianya... ada di pola ukiran ini!"
Penatua Gu memandang Ye Xuan dengan ngeri yang bercampur pemujaan. Ia menyadari satu hal: Ye Xuan tidak menggunakan serangan, karena bagi Ye Xuan, Klan Ye bahkan tidak layak untuk diserang. Ye Xuan hanya sedang "Menjalani Hidup", dan standar hidup Ye Xuan sudah terlalu tinggi sehingga keberadaan orang jahat di sekitarnya secara otomatis "dibersihkan" oleh aura lingkungannya.
"Tuan Muda Ye Ba... berhentilah," bisik Penatua Gu sambil bersujud ke arah Ye Xuan. "Kita bukan datang ke rumah seorang sampah... kita baru saja menerobos masuk ke dalam Istana Dewa Tertinggi."
Ye Ba melongo. "Penatua? Apa yang kau lakukan?!"
"Diam!" Penatua Gu menekan kepala Ye Ba ke tanah. "Senior Ye Xuan sedang memberikan kita belas kasihan dengan tidak membunuh kita saat kapal kita jatuh! Lihatlah bambu itu! Pola itu adalah desain sirkuit Surga! Kita bahkan tidak pantas menjadi pupuk di ladang ubinya!"
Ye Xuan berdiri di sana, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lho? Sekarang mereka malah sujud ke bambu irigasi? Apa bambu ini ada kutukannya?
"Sudahlah, Nona Lin, tolong beri mereka masing-masing satu ubi mentah dan suruh mereka pergi," ucap Ye Xuan lemas. "Aku lelah. Berurusan dengan orang-orang gila ini lebih melelahkan daripada mencangkul."
Lin Meier tersenyum bangga. Ia mengambil beberapa ubi mentah dan melemparkannya ke arah Ye Ba dan Penatua Gu seolah melemparkan tulang ke anjing. "Ini pemberian Senior. Pergilah dan jangan pernah kembali ke Puncak suci ini!"
Ye Ba, yang kini sudah hancur mentalnya, memegang ubi mentah itu. Begitu ia mencium aromanya, seluruh kebencian di hatinya menguap, digantikan oleh rasa syukur yang aneh. Ia menyadari bahwa selama ini ia mengejar kekuasaan yang fana, sementara sepupunya yang ia buang sudah menguasai hakikat kehidupan.