Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.
Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.
Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 — Anak yang Dipilih
Ruangan kecil itu terasa semakin sesak.
Udara dingin menusuk paru-paru.
Dan Naresha hanya bisa menatap Arven dengan jantung berdetak kacau.
“Karena sejak kecil… kamu sudah dipilih jadi penerus berikutnya.”
Ucapan Pak Damar menggantung menyeramkan di udara.
Arven membeku.
Wajah cowok itu perlahan kehilangan warna.
Dan itu cukup membuat Naresha sadar…
Ini bukan pertama kalinya Arven mendengar hal seperti itu.
“Ven…” bisik Naresha pelan.
Namun Arven tidak menjawab.
Tatapannya kosong.
Seolah sesuatu dari masa lalu kembali menghantam pikirannya.
Pak Damar memperhatikan reaksi itu sambil tersenyum tipis.
“Kamu pasti sadar kan?” katanya pelan. “Semakin besar, kemampuanmu semakin kuat.”
Sunyi.
“Kamu bisa melihat mereka.”
“Bisa mendengar mereka.”
“Dan mereka juga bisa melihatmu.”
Naresha mulai merinding.
Pak Damar melangkah lebih dekat.
“Karena Penjaga memilihmu.”
“DIEM.”
Suara Arven tiba-tiba terdengar dingin.
Untuk pertama kalinya Naresha melihat cowok itu benar-benar marah.
Tatapannya tajam.
Rahangnya menegang keras.
Pak Damar justru terkekeh kecil.
“Kamu marah karena takut.”
“Gue ga percaya omongan Bapak.”
“Padahal kamu tahu itu benar.”
Deg.
Arven langsung mengepalkan tangannya.
Naresha bisa melihat jemari cowok itu gemetar pelan.
Dan itu membuat dadanya ikut terasa sesak.
“Ven…” panggil Naresha lagi pelan.
Arven akhirnya menoleh.
Tatapannya terlihat kacau.
Untuk pertama kalinya…
Cowok itu terlihat benar-benar kehilangan arah.
“Ayo pergi dari sini,” bisik Naresha.
Namun sebelum mereka bergerak—
Brakkk!
Pintu ruangan tertutup sendiri lagi.
Lampu berkedip liar.
Dan suara bisikan memenuhi ruangan.
“Pengganti…”
“Pengganti…”
“Pengganti…”
Naresha langsung menutup telinganya.
“Kepala gue sakit…”
Pak Damar berdiri tenang di tengah ruangan seolah tidak terganggu sama sekali.
“Penjaga sudah bangun,” katanya lirih. “Dan dia akan terus meminta pengikat baru.”
Evelyn mendadak menjerit.
“JANGAN PERCAYA DIA!”
Tubuh hantu perempuan itu dipenuhi bayangan hitam yang bergerak seperti tangan.
Seolah ada sesuatu yang sedang menariknya.
“Aku ga dipilih…” tangis Evelyn. “Aku dipaksa…”
Deg.
Naresha langsung menatap Pak Damar.
Pria itu akhirnya kehilangan senyumnya.
Tatapannya berubah dingin.
“Sudah cukup, Evelyn.”
“Aku takut…” suara Evelyn retak. “Aku cuma mau hidup…”
Dan mendengar itu…
Untuk pertama kalinya Naresha merasa benar-benar kasihan pada hantu itu.
Evelyn bukan monster.
Dia korban.
“Bapak emang bunuh dia,” bisik Naresha pelan.
Pak Damar tidak langsung menjawab.
Namun diamnya sudah cukup menjelaskan semuanya.
Arven langsung bergerak maju.
“Lo psikopat.”
Pak Damar menatap Arven tanpa emosi.
“Kalau tidak ada tumbal, sekolah ini akan memakan jauh lebih banyak korban.”
“Itu bukan alasan buat bunuh orang!”
“Dan kamu pikir dunia ini selalu punya pilihan baik?”
Sunyi.
Ruangan terasa semakin gelap.
Bayangan hitam mulai bergerak di dinding.
Seperti sesuatu sedang mendekat.
Pak Damar perlahan mengalihkan pandangannya ke Naresha.
Tatapannya membuat bulu kuduk Naresha berdiri.
“Awalnya aku kira Evelyn cukup.”
Deg.
“Tapi ternyata…” suara pria itu melembut, “Penjaga tertarik sama kamu.”
Tubuh Naresha langsung dingin.
“Hah?”
Pak Damar tersenyum tipis.
“Sudah lama aku ga lihat seseorang yang bisa dilihat langsung oleh arwah.”
Naresha refleks mundur.
Arven langsung berdiri di depannya.
“Jangan sentuh dia.”
Pak Damar menghela napas kecil.
“Kamu masih belum mengerti ya.”
Tatapannya kini tajam ke arah Arven.
“Kalau bukan dia…”
Suasana mendadak sunyi.
“Berarti kamu.”
Deg.
Ruangan langsung bergetar keras.
Brakkk!
Dinding retak.
Lampu pecah total.
Dan dari lorong luar—
Terdengar suara langkah berat mendekat.
Tok.
Tok.
Tok.
Namun kali ini jauh lebih besar.
Lebih berat.
Seolah sesuatu raksasa sedang berjalan perlahan menuju mereka.
Evelyn langsung menjerit ketakutan.
“DIA DATANG!”
Naresha menahan napas.
Sementara Pak Damar justru tersenyum kecil.
“Penjaga sudah memilih.”