NovelToon NovelToon
Sistem: Peluang 100%

Sistem: Peluang 100%

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Naik Kelas
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]

Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Makan Malam Bersama Keluarga

Bau karbol cair itu menggerogoti dinding hidungnya. Fais selalu membenci bau ini.

Rumah sakit kelas bawah tidak pernah wangi. Tempat ini murni berbau putus asa.

Dua jam lalu, ia masih menghirup karbon dari knalpot truk kontainer. Bau keringat kuli dan oli kotor yang mendominasi markas Wawan. Sekarang, udara di sekitarnya terasa steril tapi mematikan.

Langkah sepatu botnya membelah lorong bangsal. Lantai ubin putih itu kusam. Bernoda. Mengarah ke satu titik ranjang besi di sudut ruangan remang.

Ayahnya terbaring di sana.

Selang bening melilit wajahnya seperti parasit. Mengisi paru-paru tua yang sudah rusak. Mesin monitor jantung berdetak. Bunyinya lambat. Kosong. Bikin ngilu saraf telinga.

Ibunya duduk melengkung di kursi plastik sebelah ranjang.

Kepalanya menunduk. Rambutnya dipenuhi uban yang tumbuh liar. Tangannya terus mengusap pinggiran selimut. Tangan yang penuh kapalan.

Fais berhenti tepat di kaki ranjang.

Ia mengambil sesuatu di inventaris dimensinya. Jari-jarinya bersentuhan dengan logam dingin.

Jam tangan hitam itu ditarik keluar.

Fais melangkah pelan mendekati ibunya. Meraih pergelangan tangan ayahnya yang tergeletak pasrah di atas kasur tipis.

Logam hitam itu disentuhkan langsung ke atas nadi yang lemah berdenyut.

Lalu. Dunia berhenti bernapas.

Detik jam seolah terhenti di kerongkongan dunia.

Semuanya melambat ke titik nol. Irama mesin pemantau jantung merenggang menjadi dengung panjang yang menekan gendang telinganya.

Satu detik terasa diulur paksa selama berjam-jam. Fais melihat partikel debu tertahan di udara kaku. Ia bisa melihat partikel udara mati di sekitarnya. Ia melihat embun napas ayahnya membeku di balik tabung oksigen.

Waktu ditarik melar hingga nyaris robek berkeping-keping.

Cahaya biru dari logam jam tangan itu tidak meledak. Warnanya merembes kalem. Masuk menembus pori-pori. Mengalir ke dalam pembuluh darah ayahnya layaknya penawar murni. Menjalar sangat cepat ke setiap sel yang membusuk di dalam dada.

Dunia mendadak berputar kasar lagi. Ditarik kembali ke ritme aslinya.

Tarikan napas kasar menyentak keras dari dada ayahnya. Mesin monitor menjerit sekilas, lalu grafiknya melompat naik. Konstan. Stabil. Sangat rapat.

Ibunya tersentak mundur menjauhi ranjang. Menganga.

Bibir ayahnya yang pucat pasi langsung dialiri sirkulasi darah segar. Keriput di dahi dan lehernya menegang, lalu merata hilang seakan disetrika paksa dari dalam. Otot dada yang rapuh menyusut itu mengembang kokoh kembali. Rambut abu-abunya terdorong akar rambut hitam legam.

Satu kali jatah harian terserap. Selesai.

[Pemakaian harian tersisa 2/3]

Fais tidak menunggu ayahnya bicara. Ia segera bergeser pada ibunya.

Wanita itu masih mematung. Mata tuanya liar kebingungan.

Fais meraih lengan ibunya. Kulit wanita itu bergerigi, penuh guratan kelaparan masa lalu. Fais menempelkan logam jam tangan itu lagi ke nadi ibunya. Sisa jatah penyembuhan kedua dikuras.

Cahaya biru yang sama kembali merembes. Meresap ganas ke sumsum tulang yang keropos.

Fais melihat dengan matanya sendiri keajaiban paling mustahil di hadapannya. Bahu ibunya yang selalu bungkuk memikul utang mendadak tegak sempurna. Beban gravitasi itu menguap hancur.

Kerutan dalam di ujung bibirnya pudar. Kulit kasarnya mengelupas halus berjatuhan ke lantai ubin, digantikan lapisan sel baru yang sangat padat.

[Pemakaian harian tersisa: 1/3]

Mereka berdua terdiam tak berkutik di ruangan pengap itu.

Wajah tua yang hancur oleh kejamnya peradaban kota dihapus total. Dibuang dari eksistensi ruang dan waktu. Dicetak ulang menyerupai rupa mereka puluhan tahun lalu.

Tiga puluh tahunan. Mereka tampak seperti pasangan usia tiga puluhan. Vitalitas prima. Usia yang sama saat Fais baru saja diajari berjalan di atas lumpur ibu kota.

Ayahnya menunduk. Menatap kedua telapak tangannya sendiri dengan rahang mengunci rapat. Tangannya sama sekali tidak gemetar. Ia mengepalkan telapak tangannya. Kuat. Sangat kuat. Otot bisepnya menonjol menembus seragam rumah sakit.

"Fais... apa... apa yang kau lakukan?" Suara ayahnya keluar. Parau sebentar. Lalu berubah jernih bertenaga tanpa ada hambatan lendir dahak.

Fais melangkah mundur teratur. Memasukkan jam anomali itu perlahan ke dalam saku.

Ia merasakan dadanya menyempit terhimpit emosi ganjil. Rasa yang sangat asing.

Jika kekuatan padanya mampu mencetak kemustahilan seperti ini untuk mereka berdua, maka ia akan dengan senang hati menjadi iblis paling bajingan di jalanan luar sana. Sistem ini ternyata mempunyai makna konkret.

"Kemasi barang kalian berdua. Kita pulang hari ini juga."

Suara Fais mendatar tanpa riak. Menyembunyikan kepalan tangannya di dalam saku jaket yang basah oleh keringat.

***

Beberapa jam telah lewat. Piring keramik kini berdenting beradu tumpul dengan ujung sendok logam.

Udara apartemen dipenuhi uap rebusan. Bau kaldu ayam kampung menendang sensor penciuman dengan telak.

Unit apartemen ini berada selangkah menempel dari unit milik Fais sendiri. Ruangannya steril. Ubin kayunya mengilap tebal. Lampu silinder menggantung dari plafon menyiram meja makan dengan warna kuning yang menghangatkan lambung.

Suasana ini terasa tenang. Sangat tenang sampai-sampai Fais merasa salah tempat.

Jauh di bawah tanah aspal sana, anak buah Wawan sedang memaksa otot untuk memindahkan kontainer liar. Pemindai palet berteriak-teriak membaca kode barang curian. Darah kering masih menghiasi trotoar gang sempit.

Tapi di meja makan kayu oak ini? Semuanya hening mutlak. Sepi. Sepi yang mahal harganya.

Ayahnya duduk sempurna memimpin kepala meja. Posturnya menantang dunia. Kemeja kotak-kotak bekas yang biasanya menggelambir di tubuh kurusnya, kini menempel ketat mencetak bahu yang tegak.

Ibunya tertawa kecil memindahkan porsi lauk terbanyak ke piring Fais. Gerakannya lincah tiada tara. Mata wanita itu menyala terang benderang memancarkan ego kehidupan.

Fais mengunyah nasinya monoton. Menggiling serat sayur yang terasa terlalu lunak di lidahnya.

Sepi turun membungkus aktivitas sederhana mereka. Hening damai yang sudah dikubur belasan tahun lamanya.

Namun ayahnya meletakkan sendok dengan sengaja. Pelan bunyinya. Tapi sanggup memotong gelembung kenyamanan di ruangan tersebut.

"Sebenarnya kerja apa kau sekarang ini, Fais?"

Pertanyaan ayahnya mengalir sangat rapi. Tidak bernada ancaman. Sorot matanya mengawasi gerak Fais dari ujung meja seberang.

Ibunya spontan berhenti mengunyah lauk. Sendok wanita itu tertahan setengah jalan. Guratan cemas merayap turun sedikit dari kedua bola matanya. Ada rasa ingin tahu di sana. Takut dan penasaran.

Dunia anak semata wayang mereka diputar balik terlalu fatal.

Dulu, mereka sampai kesusahan hidup. Malam ini, mereka memijak apartemen gedung kelas atas berlantai pernis, tubuh mereka memutar paksa hukum biologi hingga tiga puluh tahun terbalik muda.

Suhu dingin mengikis keringat di leher Fais. Serat ayam yang ia telan menyangkut singkat.

Otaknya bereaksi mekanis. Merakit ribuan lapis kebohongan probabilitas.

Jika layar sistem dipresentasikan, mereka akan menyekapnya di panti rehabilitasi mental.

Jawaban yang diperlukan hanya ada di garis wilayah netral.

Fais mengelap sisa minyak di mulut menggunakan ibu jarinya pelan. Ia menatap telak menantang iris mata sang ayah.

"Cuma cukup beruntung dapat peluang bisnis."

Jawabannya datar dan terkalibrasi presisi penuh. Santai. Ia menyentuh gelas berisi air mineral dan menelannya seperempat bagian. Sangat santai.

Dahi ayahnya melipat sedikit. Memancing kalimat selanjutnya.

"Bisnis rantai pasok dan operasional pelabuhan," lanjut Fais menaruh gelasnya mulus. "Perputaran pasarnya sedang stabil naik. Klien partai besar menitip suplai, kebetulan posisi direksi keuangannya memegang aku penuh di kontrak asuransinya. Bayarannya sepadan."

Ayahnya menatap sorot pupil Fais berulang-ulang dari seberang. Membongkar kebohongan dasar. Tidak akan pernah menemukannya.

Napas ayahnya terbuang lepas melewati hidung. Otot pria berumur muda itu melunak rileks. Percaya atau tidak bodoh amat, sebab hasilnya adalah organ jantungnya kini berdetak gila berirama utuh. Fakta membela Fais telak.

"Jangan pernah sentuh lubang hitam yang membuat celaka, paham? Lakukan pekerjaan bersihmu saja," gumam ayahnya serius menarik pelan piring nasinya kembali mendekat.

"Hanya bongkar kargo dan dokumen logistik saja," jawab Fais menyuap kembali sesendok nasinya.

Ibunya tersenyum manis menghalau awan debu kecemasan. Tangannya menepuk singkat lengan anak prianya di samping. Kedamaian buatan ini utuh kembali tersusun rapuh. Momen kontradiksi terindah bagi penguasa hitam baru.

Lalu sistem memutuskan untuk merusak acara keluarga tersebut.

Biru terang murni.

Warna bangsat itu membakar paksa kelopak matanya tanpa ampun. Membutakan fokus di depan piring nasinya sendiri. Layar ganjil hologram muncul menjajah udara di celah obrolan makan malam.

[Fitur Baru: Sub fitur Analisis Probabilitas: Analisis Jejak]

Fais berhenti memamah. Tulang rawan berderit membeku di mulutnya.

Sementara tawa ibunya menyurut tak terdengar suaranya bagai TV mati.

[Sinkronisasi Dimulai…]

1
ghost
novel ga jelas...ga usah di baca
Ironside: Terima kasih /Joyful/, kalau boleh tahu. Apa yang perlu aku perbaiki?
total 1 replies
ghost
novel tolol
Ironside: Oke /Smile/
total 1 replies
Cecilia
up heii, udh nunggu agak lama masih 25 chapter. 200 chapter lah kakk
Ironside: Apa-apaan kamu Kak /Curse/. Aku sedang revisi /Scream/
total 2 replies
Gege
kan bisa turun di ruangan fitness apartemen, lari diatas tritmil Thor...🤣🤣
Ironside: Iya sih /Facepalm/
total 1 replies
Gege
pelit bener systemnya Thor...dimana mana ada system buat memudahkan, dan banyak cheat..hiburan harapan dalam bentuk tulisan yang mengalir ringan..🤣
Ironside: Untuk perkembangan sifat MC juga, karena pengalamannya sebatas tukang bangunan aja 😆.
total 1 replies
Cecilia
mana Insectnya kak
Ironside: Tidak ada /Scream/
total 1 replies
Yui
Akhirnya setelah 3x bulan purnama, author ini bikin nopel yang ada insectnya /Proud//Proud/
Ironside: Sembarangan /Curse//Curse//Curse/, tidak ada insect di sini /Grievance/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!