Bai Ren, transmigrator dari Bumi, dipindahkan ke dalam dunia novel beladiri yang penuh dengan para kultivator.
Di dunia yang asing namun familiar itu, Bai Ren diberikan misi untuk membangun sekte terkuat dengan cara membual.
[Ding!!]
[Hadiah penyelesaian tiba!]
[Satu bualan Anda akan dikonversi menjadi kenyataan!]
Apa yang akan kamu lakukan jika bualanmu menjadi kenyataan?
Tentu saja, aku akan semakin rajin membual!
Semakin banyak membual, semakin kuat jadinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fat Kitten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Merekrut murid (10)
Dalam sekejap, Bai Ren telah berpindah dari tribun ke tengah arena, menginterupsi duel yang tengah berlangsung.
Tidak ada satu pun yang mengantisipasi jika ada seseorang yang akan menerobos masuk ke arena.
Tidak, kecepatan Bai Ren lah yang terlalu tidak masuk akal, sehingga orang-orang baru menyadarinya ketika ia sudah berada di tengah arena.
Sementara itu, Bai Ren, yang saat ini menjadi pusat perhatian, menahan postur tenangnya meski hatinya bergejolak.
[Wah! Luar biasa, Host!]
[Kamu berhasil menguasai Void Light Step dengan sempurna di percobaan pertamamu!]
Apa yang dikatakan sistem itu benar.
Bai Ren, yang telah berulang kali memvisualisasikan teknik itu di alam batinnya, berhasil mengeksekusi teknik itu dengan sempurna di dunia nyata.
Bai Ren tidak menyangka jika berlatih dalam pikiran rupanya bisa memberikan efek langsung di dunia nyata.
Namun saat ini, Bai Ren menekan segala jenis pikiran di dalam kepalanya, dan fokus pada apa yang ada di depannya.
Apa yang sedang mengarah padanya adalah sebuah teknik pedang misterius yang baru pertama kali dilihatnya.
Bai Ren mengaktifkan Divine Eye untuk menilai teknik pedang tersebut.
"Huh? Hanya segini?"
Bai Ren terkejut.
Teknik pedang yang tampak mematikan itu, ternyata menyimpan banyak kelemahan di dalamnya.
Aliran qi yang menyelimuti proyeksi pedang tersebut terlalu menyebar.
Bisa dibilang, teknik itu hanya mengandung kemewahan, sebuah pertunjukkan untuk menghibur mata dengan efek visual yang besar nan memukau.
Dari segi ketajaman, teknik ini sangat kurang dan mudah dipatahkan jika kau cukup berpengalaman dalam duel pedang.
Bai Ren merasa malu karena ia telah bersikap ceroboh hanya karena teknik anak-anak seperti ini.
Setelah mengetahui kelemahan teknik tersebut, Bai Ren meluruskan lengan kanannya.
Di sana, sebuah aura tipis berbentuk pedang muncul dan menyelimuti telapak tangannya.
Hanya dengan lambaian sederhana, aura tipis hampir tak kasat mata itu melayang membelah teknik yang dikeluarkan Zhang Chun.
Teknik yang megah tersebut hancur begitu saja.
Namun, pertunjukkan tidak cukup sampai di situ.
Aura itu terus bergerak menuju Zhang Chun dengan kecepatan konstan.
Merasa bahaya mengancam calon muridnya, kali ini giliran Jian Xin yang turun ke arena dan menepis serangan Bai Ren yang tampak sederhana namun mematikan.
Kali ini, dua orang yang bukan peserta saling berdiri berhadap-hadapan di arena, tidak ada yang tahu apakah ini akan menjadi pertarungan di antara keduanya atau tidak.
Lan Hua yang menyaksikan itu, kali ini memutuskan langsung ikut campur menengahi mereka, tak ingin kejadian di pintu masuk tadi terulang kembali.
"Maafkan aku jika ini tidak sopan, tapi mengapa Tuan Bai Ren mengganggu duel antara generasi muda ini?"
Bai Ren tidak menanggapi pertanyaan itu.
Pikirannya masih memproses pertukaran serangan yang terjadi barusan.
'Terlalu lemah!'
'Aku bisa menghancurkan teknik Zhang Chun karena statistik dasarku saat ini sudah setara dengan Martial Spirit bintang tiga.'
'Tapi serangan itu bisa dinetralkan dengan mudah oleh Jian Xin!'
'Perjalananku masih panjang!'
Satu hal yang tidak diketahui Bai Ren adalah, Jian Xin pun merasakan pukulan balik saat ia menepis serangannya.
'Teknik itu...'
'Meskipun itu hanya mengandung kekuatan setingkat Martial Spirit bintang tiga, tapi...'
'Tanganku tidak bisa berhenti bergetar seolah-olah teknik itu merembes masuk ke dalam tulang dan darahku!'
Jian Xin memegangi lengan kanannya yang ia pakai untuk menepis serangan Bai Ren di balik pinggangnya, berusaha menutupinya.
'Teknik itu seharusnya adalah tingkat tinggi jika bukan Supreme.'
'Bisa mengompres teknik setingkat itu dan menekannya hingga hanya memiliki kekuatan setara Martial Spirit bintang tiga.....'
'Kemampuan kontrol qi orang ini berada di tingkat yang mengerikan! Bahkan aku sendiri pun harus mengakuinya!'
Kesalahpahaman terjadi.
Jian Xin yang tidak mengetahui jika itu adalah kekuatan penuh Bai Ren, hanya diam dan waspada, takut jika emosi Bai Ren meledak di sini.
Bai Ren yang merasa tak berdaya saat berhadapan dengan seorang Martial Spirit bintang enam sejati, memilih bersikap hati-hati saat menghadapi Jian Xin dan Lan Hua.
"Kau, coba lihat kondisi tubuh pemuda di belakangku ini."
Lan Hua yang mendengar itu segera memeriksa tubuh Jiang Diyi.
"Mustahil..."
Lan Hua yang tidak menyadarinya sebelumnya, merasa simpati dan juga kesal terhadap panitia pertandingan.
Ia tidak menyangka jika turnamen ini telah diatur sedemikian rupa demi bisa menonjolkan Zhang Chun, putra Tuan kota.
Memasangkan seorang tanpa core dengan Martial Spirit bintang dua akhir sama saja dengan percobaan pembunuhan.
Sekarang Lan Hua mengerti mengapa Bai Ren mengintervensi duel ini, karena jika ia tidak melakukannya, maka Jiang Diyi akan tewas di bawah serangan Zhang Chun.
Dan karena tidak ada satu pun yang mengetahui jika Jiang Diyi hanyalah pemuda tanpa core, maka orang-orang akan menganggap itu adalah ketidaksengajaan dan mereka akan berfokus pada kekuatan Zhang Chun yang terlalu kuat hingga musuhnya tak mampu melawan dan tewas begitu saja.
Lan Hua yang memahami semua itu, menundukkan kepalanya meskipun itu bukan kesalahannya.
"Aku mewakili Tuan kota, meminta maaf yang sesungguhnya atas insiden ini, Tuan Bai Ren."
Bai Ren merasa puas saat melihat sikap Lan hua.
Ia lalu memalingkan wajahnya pada Jiang Diyi, pemuda yang berdiri di belakangnya.
Yang mengejutkannya adalah, ekspresi Jiang Diyi begitu tenang seolah nyawanya sama sekali tidak terancam sebelumnya.
Ketenangan ini, benar-benar tampak seperti orang yang berpengalaman dalam duel hidup dan mati.
Bai Ren sangat menyukai itu.
Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Lan Hua, Jian Xin, dan berhenti pada Tuan kota.
"Karena kejadiannya sudah seperti ini... Jadi tidak masalah kan jika aku mengambil orang ini sebagai muridku dan mengabaikan urutannya?"
Semua perwakilan sekte hendak bersorak dan memaki Bai Ren yang mencoba mencuri start. Namun saat mereka menyadari jika orang yang ingin diambil murid adalah lawan dari Zhang Chun, yang sama sekali tidak menarik bagi mereka, mereka pun memilih diam dan menunggu keputusan Tuan kota.
Tuan kota yang telah diberi wejangan untuk tidak memprovokasi Bai Ren, tanpa sedikit pun rasa ragu segera menyetujui permintaan Bai Ren.
Hanya Jiang Diyi yang menunjukkan rasa enggan.