NovelToon NovelToon
Menikah Karena Patah Hati

Menikah Karena Patah Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.

Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.

Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Buatkan narasinya panjang.

"Kok pulang sendiri, dimana suamimu?" tanya nenek Alin.

"Zayyan tidak bisa mampir nek, dia langsung ke kantor di tunggu daddy nya" jawab Alin.

Nenek Alin mengangguk paham, dia tahu bahwa cucu menantunya itu memang di jadikan pewaris utama keluarga Mahendra, yang suatu saat harus menggantikan posisi di perusahaan Mahendra.

"Bagaimana dengan keluarga Zayyan? Mereka memperlakukan mu dengan baik kan?" tanya nenek Alin khawatir.

"Nenek tenang aja, mereka sangat baik kok" jawab Alin.

"Aku kesini mau ambil pakaian ku nek. Aku lupa kemarin cuma bawa tiga potong baju saja" ucap Alin sambil mengerucutkan bibirnya sebal.

Nenek Alin tersenyum geli melihat ekspresi cucunya yang tampak kesal sendiri. Kerutan di wajah tuanya semakin terlihat ketika beliau tertawa pelan sambil mengelus lengan Alin dengan penuh kasih sayang.

“Kamu itu ya, sudah jadi istri orang masih saja ceroboh,” godanya lembut.

Alin langsung memajukan bibirnya semakin dalam. “Alin panik waktu itu, nek. Semuanya mendadak. Mana Alin juga masih nggak percaya tiba-tiba sudah menikah.”

Nenek Alin terkekeh pelan. “Tapi sekarang sudah sah. Mau tidak mau kamu harus belajar jadi istri yang baik.”

Alin mengangguk kecil. Meski begitu, ada semburat malu di wajahnya ketika mengingat dirinya sekarang sudah tinggal satu rumah dengan Zayyan. Rasanya semua masih terasa asing dan cepat.

Rumah sederhana tempat Alin tumbuh itu terasa begitu sejuk di pagi itu. Aroma masakan dari dapur masih sama seperti dulu. Angin yang masuk dari jendela membuat tirai tipis bergoyang pelan. Semuanya terasa nyaman dan menenangkan bagi Alin.

“Duduk dulu sana. Nenek buatkan teh,” ucap neneknya.

“Nggak usah repot-repot nek, Alin cuma sebentar kok.”

“Sebentar-sebentar tetap harus minum.”

Tanpa menunggu jawaban, nenek Alin berjalan menuju dapur. Sementara Alin memperhatikan rumah itu perlahan. Matanya menyapu setiap sudut ruangan dengan perasaan aneh. Baru sehari meninggalkan rumah ini, tapi rasanya seperti sudah sangat lama.

Tak terasa kini statusnya benar-benar berubah.

Dulu setiap pulang kuliah dia akan langsung merebahkan tubuh di sofa itu sambil mengeluh capek kepada neneknya. Sekarang… dia sudah menjadi seorang istri.

Alin menghela napas pelan. Beberapa menit kemudian neneknya kembali membawa segelas teh hangat dan beberapa potong pisang goreng.

“Nih makan dulu.”

“Makasih nek.”

Alin mengambil satu pisang goreng lalu menggigitnya pelan. Nenek Alin duduk di sebelahnya sambil memperhatikan cucunya lekat-lekat.

“Kamu kelihatan lebih cantik sekarang.”

Alin tertawa kecil. “Ah nenek bisa aja.”

“Serius. Ada aura pengantin barunya.”

Seketika wajah Alin memerah. Dia langsung menunduk malu sambil menggigit bibir bawahnya.

“Nenek…”

“Tuh kan malu.”

Alin menggaruk tengkuknya salah tingkah. Neneknya justru semakin gemas melihat reaksi cucunya itu.

“Zayyan baik sama kamu?”

Pertanyaan itu membuat Alin terdiam sesaat. Bayangan tentang laki-laki itu langsung memenuhi pikirannya. Sikap Zayyan memang terkadang dingin dan cuek, tapi sejauh ini dia memperlakukannya dengan baik.

“Baik kok nek,” jawabnya pelan.

“Dia nggak kasar kan?”

Alin cepat menggeleng. “Nggak sama sekali.”

Nenek Alin terlihat lega mendengarnya. Sejujurnya sejak awal beliau cukup khawatir. Perbedaan status keluarga mereka terlalu jauh. Keluarga Mahendra dikenal besar dan terpandang, sedangkan mereka hanyalah keluarga sederhana.

Namun melihat Alin tampak nyaman membuat hati neneknya sedikit tenang.“Asal kamu bahagia, nenek juga ikut bahagia.”

Alin tersenyum hangat lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang nenek seperti dulu.

“Alin juga senang kok.”

Neneknya mengusap rambut Alin pelan penuh sayang.“Kalau ada apa-apa cerita sama nenek. Jangan dipendam sendiri.”

“Iya nek.”

Setelah menghabiskan teh hangatnya, Alin akhirnya berdiri.

“Alin ambil baju dulu ya.”

“Iya sana.”

Alin berjalan menuju kamarnya yang berada di ujung lorong. Saat membuka pintu kamar, langkahnya langsung terhenti sejenak.

Kamarnya masih sama persis. Boneka-boneka kecil di atas tempat tidur masih tertata rapi. Meja belajar yang dipenuhi buku juga tidak berubah. Bahkan foto dirinya bersama nenek masih terpajang di dinding.

Alin tersenyum tipis. Perlahan dia masuk lalu duduk di tepi ranjang. Ada rasa rindu yang tiba-tiba menyeruak di dadanya. Baru sekarang dia sadar kalau dirinya benar-benar sudah meninggalkan rumah ini.

Kini tempat pulangnya bukan lagi kamar sederhana itu. Melainkan rumah Zayyan.

Pikiran itu membuat jantung Alin berdebar aneh.

Dia segera membuka lemari pakaian lalu mulai memasukkan beberapa baju ke dalam tas besar. Sesekali dia memilih pakaian sambil bergumam sendiri.

“Ini aja… eh jangan deh.”

“Yang ini lucu nggak ya?”

Alin sibuk sendiri sampai tidak sadar neneknya sudah berdiri di depan pintu sambil memperhatikannya dengan senyum tipis.

“Kamu kayak orang mau pindahan.”

Alin menoleh lalu terkekeh kecil.

“Daripada nanti nggak punya baju lagi nek.”

Neneknya masuk ke kamar lalu membantu melipat pakaian cucunya.

“Di sana kamu harus belajar mandiri ya.”

“Iya nek.”

“Bangun pagi, siapin kebutuhan suami, jangan malas.”

Alin langsung memonyongkan bibirnya.

“Nenek kira Alin pemalas?”

Neneknya tertawa kecil. “Memangnya bukan?”

“Ya ampun nek…”

Suasana kamar itu dipenuhi tawa kecil mereka berdua. Hangat dan sederhana.

Namun di balik tawanya, hati Alin perlahan merasa sedih. Karena setelah hari ini, mungkin dia tidak akan sesering dulu berada di rumah ini.

Kini hidupnya telah berubah. Dan mau tidak mau, dia harus belajar menjalani kehidupan barunya bersama Zayyan.

“Alin, kemari sayang,” pinta nenek Alin sambil menepuk sisi tempat duduk di ranjangnya.

Alin yang sejak tadi masih sibuk merapikan pakaian di dalam tas langsung menoleh. “Iya nek,” jawabnya pelan.

Dia berjalan menghampiri neneknya lalu duduk di tepi ranjang dengan patuh. “Kenapa nek?” tanyanya penasaran.

Nenek Alin tidak langsung menjawab. Wanita tua itu memberikan beberapa map berwarna cokelat yang tampak cukup tebal. Tangannya yang mulai keriput menggenggam map-map itu perlahan sebelum menyerahkannya kepada Alin.

Alin mengernyit bingung.

“Apa ini nek?”

“Sekarang kamu sudah menikah,” ucap neneknya pelan namun serius, “sudah waktunya kamu mengambil semua hakmu, Alin.”

Ucapan itu membuat senyum kecil di wajah Alin perlahan memudar. Tatapannya langsung jatuh pada map-map di tangannya. Jemarinya mencengkeram pinggir map itu pelan, seolah benda tersebut terasa berat untuk disentuh.

Kamarnya mendadak terasa hening. Alin menundukkan kepalanya pelan, lalu menghela napas panjang.

“Tapi aku takut nek…” lirihnya.

Suara Alin terdengar begitu kecil. Bahkan matanya mulai terlihat berkaca-kaca.

Nenek Alin menatap cucunya penuh iba. Beliau tahu betul apa yang selama ini menjadi ketakutan terbesar Alin. Bukan soal harta, bukan soal warisan. Melainkan tentang luka lama yang belum benar-benar sembuh.

Alin masih ingat bagaimana kedua orang tuanya dulu terus bertengkar dengan keluarganya karena rebutan harta. Sampai akhirnya semuanya berakhir buruk.

Dan sekarang… dia harus kembali berhadapan dengan hal yang sama.“Aku takut nanti semuanya jadi rumit lagi,” ucap Alin lirih sambil menahan tangis. “Aku nggak mau kejadian dulu terulang lagi.”

Nenek Alin mengusap punggung tangan cucunya lembut.“Kamu tidak usah takut,” katanya pelan.

“Tapi nek—”

“Nenek yakin keluarga Mahendra akan membantumu.”

Alin terdiam.

“Nama mereka cukup berpengaruh di negara ini,” lanjut neneknya penuh keyakinan. “Kalau ada yang macam-macam, mereka tidak akan tinggal diam.”

Alin menggigit bibir bawahnya pelan. Nama keluarga Mahendra memang bukan nama sembarangan. Semua orang tahu pengaruh keluarga itu sangat besar, baik di dunia bisnis maupun pemerintahan. Dan sekarang dirinya sudah menjadi bagian dari keluarga tersebut.

Namun entah kenapa, hati Alin tetap merasa gelisah.“Apa mereka nggak akan keberatan kalau aku membawa masalah seperti ini?” tanyanya ragu.

Neneknya tersenyum tipis.“Kalau mereka benar-benar menganggapmu keluarga, mereka pasti membantu.”

Kalimat itu membuat Alin terdiam cukup lama.

Bayangan wajah Zayyan tiba-tiba muncul di kepalanya. Laki-laki itu memang terlihat dingin dan cuek, tetapi selama ini selalu bersikap baik kepadanya. Bahkan keluarga Mahendra juga menerima dirinya dengan hangat tanpa memandang statusnya.

Perlahan Alin membuka map di tangannya.

Di dalamnya terdapat beberapa dokumen penting, sertifikat, surat kepemilikan, dan beberapa berkas lama yang terlihat sudah disimpan bertahun-tahun.

Alin membaca satu per satu dengan jantung berdebar.

“Ini semua…”

“Hak milik orang tuamu,” jawab neneknya.

Mata Alin langsung membulat pelan.“Nenek selama ini menyimpannya untukmu. Nenek menunggu sampai kamu benar-benar siap.”

Alin menatap neneknya tak percaya. Tangannya mulai gemetar kecil saat memegang berkas-berkas itu.

“Tapi kenapa baru sekarang?”

“Karena dulu kamu masih sendiri. Dan nenek sudah tua, tidak memiliki kemampuan apa-apa untuk melindungimu”

Alin terdiam.

“Dan sekarang kamu sudah punya keluarga yang bisa melindungimu.”

Ucapan neneknya membuat dada Alin terasa sesak. Ada rasa hangat yang perlahan memenuhi hatinya, tetapi bersamaan dengan itu muncul juga ketakutan yang belum hilang sepenuhnya.

“Nenek…”

“Hm?”

“Kalau nanti mereka membenciku karena semua ini gimana?”

Nenek Alin tersenyum lembut lalu mengusap pipi cucunya penuh kasih sayang. “Kalau seseorang membencimu hanya karena kamu memperjuangkan hakmu sendiri, berarti mereka memang tidak pantas ada di hidupmu.”

Air mata Alin akhirnya jatuh perlahan.

Neneknya langsung menarik tubuh Alin ke dalam pelukan hangat.“Kamu sudah terlalu lama hidup mengalah, sayang,” bisiknya lirih. “Sekarang waktunya kamu belajar berdiri untuk dirimu sendiri.”

Alin memejamkan matanya. Kepalanya bersandar di pundak neneknya erat seperti anak kecil yang sedang mencari ketenangan.

Di dalam hatinya, dia tahu…Cepat atau lambat, dia memang harus menghadapi semua ini.

1
Mita Paramita
baru juga bahagia nih pengantin baru udah diganggu aja sama pelakor🤣🤣🤣 lanjut Thor 💪💪💪
Dew666
👄👄👄
Mita Paramita
so sweet zayyan & Alin 😘😘😘
lanjut Thor 💪💪💪
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Dew666
💃💃💃
Mita Paramita
so banget pasutri ini 😘
Diah Anggraini
Lanjut ya Ka
Mita Paramita
alin malu malu kucing 🤣🤣🤣
lanjut Thor 🔥🔥🔥
merry yuliana
🤣🤣🤣🤣🤣
Diah Anggraini
lanjut ya Ka
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Dew666
🪭🪭🪭
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
merry yuliana
ayo kak crqzy up
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
merry yuliana
eits bang zay kemajuan ayo bang pepet terus....crazy up banyak2 ya kak🙏💪
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
merry yuliana
crazy up ya kak👍💪🙏
Dew666
👑👑👑👑
merry yuliana
crazy up.kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!