NovelToon NovelToon
Bayang Koridor Di Utara

Bayang Koridor Di Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Romantis
Popularitas:840
Nilai: 5
Nama Author: nana_2

Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.

Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.

Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 — Pilihan yang Menyakitkan

“Jangan pergi…”

Suara Arven terdengar pelan.

Namun cukup membuat jantung Naresha terasa sesak.

Cowok itu memegang wajah Naresha dengan tangan gemetar.

Tatapannya panik.

Takut.

Naresha sadar seberapa besar Arven peduli padanya.

Simbol merah di lantai terus merambat naik ke pergelangan kaki Naresha.

Dingin.

Menusuk.

Seperti ribuan jarum kecil menusuk kulitnya bersamaan.

Naresha menahan napas.

“Aku… ga bisa ngerasain kaki…”

Arven langsung menoleh ke Pak Damar.

“Lakuin sesuatu!”

Pak Damar berdiri diam beberapa detik.

Wajahnya terlihat tegang.

“Kalau ritualnya sudah mulai…” suaranya mengecil, “ga mudah dihentikan.”

“BUKAN BERARTI GA BISA!”

Ruangan kembali bergetar keras.

Penjaga melangkah semakin dekat.

Tok.

Tok.

Tok.

Dan setiap langkahnya membuat suara bisikan makin menggila.

“Pengikat…”

“Terima dia…”

“Dia milik kami…”

Naresha memegang kepalanya kesakitan.

Sementara Evelyn berdiri tidak jauh darinya.

Wajah hantu itu dipenuhi air mata hitam.

“Aku minta maaf…” bisiknya lirih.

Deg.

Naresha langsung menatap Evelyn.

Perempuan itu terlihat begitu sedih.

Begitu hancur.

Seolah ia sudah tahu akhir dari semua ini.

“Kalau aku dulu lebih kuat…” suara Evelyn bergetar, “mungkin semua ga bakal terjadi.”

Naresha menggigit bibir bawahnya pelan.

Ia ingin marah.

Ingin menyalahkan seseorang.

Namun melihat Evelyn sekarang…

Yang ia rasakan justru kasihan.

Pak Damar perlahan mengambil buku hitam dari lantai.

Tatapannya rumit.

“Masih ada satu cara.”

Semua langsung menoleh padanya.

Arven berdiri cepat.

“Apa?”

Pak Damar menatap buku itu beberapa detik sebelum menjawab pelan,

“Harus ada seseorang yang memutus ikatan langsung dari dalam ritual.”

Deg.

“Maksudnya?”

Tatapan Pak Damar perlahan mengarah ke lingkaran merah.

“Masuk ke pusat ikatan.”

Naresha langsung merasakan hawa dingin menjalar di tubuhnya.

“Terus?”

“Orang itu harus menghancurkan buku ini… di dalam lingkaran.”

Sunyi.

Arven langsung mengerti lebih dulu.

Dan wajahnya berubah pucat.

“Kalau ritual aktif…” bisiknya pelan, “orang yang masuk ke sana bisa mati.”

Pak Damar tidak menjawab.

Namun diamnya sudah cukup.

Naresha menelan ludah pelan.

Dadanya makin sesak.

“Ada kemungkinan selamat?”

Pak Damar memejamkan mata sesaat.

“Kecil.”

Sunyi lagi.

Hanya suara bisikan dan langkah Penjaga yang terdengar sekarang.

Tok.

Tok.

Tok.

Naresha menunduk pelan.

Pikirannya kacau.

Ia takut.

Sangat takut.

Namun kalau tidak ada yang melakukan sesuatu…

Penjaga akan terus meminta korban.

Dan semua orang di sekolah itu akan bernasib sama seperti Evelyn.

Tiba-tiba—

Arven berdiri.

“Aku yang masuk.”

Deg.

Naresha langsung mengangkat kepala cepat.

“Hah?!”

Pak Damar langsung menatap Arven tajam.

“Kamu sadar apa risikonya?”

“Iya.”

“VEN JANGAN GILA!”

Arven menoleh ke Naresha.

Tatapannya lembut.

Namun penuh keputusan.

“Kalau gue ga lakuin ini…” suaranya pelan, “lo bakal jadi pengikat berikutnya.”

“Terus kenapa harus lo?!”

Arven tersenyum kecil.

Sedih.

“Karena dari awal… harusnya gue yang nyelesaiin semuanya.”

Deg.

Naresha langsung merasakan tenggorokannya sakit.

“Jangan ngomong kayak gitu…”

Namun Arven justru mengusap pelan kepala Naresha.

Gerakannya lembut.

Menenangkan.

Dan itu justru membuat Naresha semakin takut.

“Dengerin gue baik-baik,” bisik Arven pelan. “Kalau nanti sesuatu terjadi…”

“Ga.”

Naresha langsung menggeleng cepat.

“Ga usah lanjut.”

“Sha.”

“Aku bilang jangan!”

Air mata mulai menggenang di mata Naresha tanpa ia sadari.

Arven terdiam melihatnya.

Ekspresi cowok itu benar-benar runtuh.

Seolah ia juga takut.

Takut meninggalkan Naresha.

Penjaga tiba-tiba mengangkat tangannya tinggi.

Suara jeritan memenuhi ruangan.

Dan simbol merah di lantai menyala semakin terang.

Pak Damar langsung menegang.

“Cepat! Ritualnya hampir selesai!”

Arven langsung mengambil buku hitam dari tangan Pak Damar.

Lalu perlahan berjalan menuju lingkaran merah.

“VEN!”

Naresha mencoba mengejarnya.

Namun tubuhnya masih sulit bergerak karena akar hitam yang membelit kakinya.

Arven berhenti tepat di tepi lingkaran.

Lalu menoleh ke belakang.

Tatapannya bertemu dengan Naresha.

Dan di tengah ruangan gelap penuh bisikan itu…

Cowok itu tersenyum kecil.

“Maaf.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!