Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.
Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.
Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Undangan Pulang
Beberapa hari setelahnya, tiba-tiba Safa mendapatkan pesan dari sang mama. Memintanya datang.
Setelah beberapa bulan sejak pernikahan, Safa memang enggan berurusan dengan sang mama. Namun, kali ini sang mama memintanya datang untuk membahas masalah toko barang antik peninggalan sang ayah.
Setelah menyelesaikan bab untuk malam ini Safa menutup laptopnya. Ia menatap rembulan dengan hati gundah.
Kedua tangan bertumpu di dagu, diikuti helaan nafas. "Aku pulang apa enggak, ya? Aku malas kalau harus ketemu om Hendra."
Safa menoleh. Menatap ke arah pintu. Seolah ia memiliki harapan pada orang di balik pintu itu. Namun, setelah percakapan dengan Arlan waktu itu. Mereka kambali bersikap dingin.
Perasaan dalam hatinya mulai tumbuh, namun melihat sikap sang suami yang ambigu membuatnya berhenti.
"Baiklah, aku akan pulang. Tapi ini untuk yang terakhir," ucapnya meyakinkan pada dirinya sendiri.
Ruko barang antik itu adalah satu-satunya peninggalan sang ayah. Ia akan berusaha mengambil alih dari tangan sang mama.
Uang. Itu pasti yang mamanya inginkan. Safa bangkit. Ia berjalan keluar menuju tempat sang suami.
Namun, sebelum ke tempat Arlan, ia ke dapur untuk membuat secangkir kopi.
Setelah siap ia membawanya ke ruangan sang suami. Pintu diketuk, Arlan menoleh dan memintanya masuk.
"Masuklah!" Arlan menoleh sekilas sebelum kembali memeriksa berkasnya.
Safa perlahan mendekat. Ia menyimpan cangkir itu di meja Arlan. "Masih sibuk, Mas? Perlu bantuan?" tawarnya sambil melihat isi berkas.
Arlan menghentikan tangannya. "Katakan? Apa yang kamu butuhkan?" katanya tanpa basa basi.
Safa mendengus kesal. Ia murni ingin membantu namun, perkataan Arlan seolah ia bergerak kalau ada maunya saja.
Karena kesal Safa tak menjawab. Ia keluar begitu saja dari ruangan Arlan.
"Loh, dia kenapa?" gumam Arlan lirih sambil menatap punggung Safa yang menjauh.
Melihat Safa keluar dengan bibir mengerucut, ia buru-buru menyusul. Melihat Safa duduk di depan TV dengan muka ditekuk Arlan mendekat.
"Kenapa? Kok marah?" lirihya sambil menatapnya lekat.
Safa memalingkan wajahnya. "Ya habisnya Mas Arlan tega banget langsung bilang gitu. Aku kan beneran mau bantu. Tapi Mas buat aku seolah mau bantu kalau ada maunya."
Arlan nyaris saja terbahak. Ia merebahkan dirinya di sandaran kursi sofa dengan santai.
"Kenapa kamu terus salah faham padaku, Safa?" protes Arlan. "Aku begitu karena aku tau kamu memang butuh sesuatu. Aku tidak punya maksud apa-apa."
Dengan senyum menawannya Arlan menoleh ke arah sang istri. "Aku hanya tidak ingin kamu membantuku. Karena aku tau kamu pasti lelah karena seharian sibuk di kantor, kan? Jadi jangan salah paham, oke."
"Katakan saja, kamu ada masalah apa?"
Safa terdiam. Ia baru saja salah paham dengan suaminya.
Karena malu ia mencoba menunduk menyembunyikan rona merah wajahnya. Namun, Arlan bisa tau dan hanya menggeleng pelan disusul senyuman yang nyaris tak nampak.
"Kalau orang salah, biasanya bilang apa, ya?" godanya disusul senyum jahil.
"Ma ... maaf, Mas. Aku baru saja salah paham padamu. Memang benar aku ada masalah, aku cuma gak mau mengakuinya saja," jelas Safa dengan tatapan berbinar.
Arlan memiringkan kepalanya seolah mengerti. "Katakan, Safa. Aku akan bantu sebisaku."
Safa menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian sebelum mulai berbicara.
"Ruko barang antik peninggalan almarhum Ayah ... Mama mau menjualnya, Mas," ucap Safa lirih, ada nada getar menahan tangis disuaranya.
Arlan tidak menyela, ia memberikan perhatian penuh, memberi ruang bagi Safa untuk menumpahkan segalanya.
"Selama ini Mama dan Om Hendra sudah menelantarkan toko itu. Mereka tidak pernah peduli. Tapi tiba-tiba, kemarin Mama mengirim pesan dan memintaku datang untuk membahas ruko itu. Aku tahu persis tabiat Mama, Mas. Uang ... hanya itu yang ada di pikirannya. Mereka berniat menjual satu-satunya kenangan yang aku miliki tentang Papa."
Safa mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan. Setetes air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh juga. "Aku gak rela, Mas. Toko itu dibangun Ayah dengan seluruh kerja kerasnya. Aku mau mengambil alih ruko itu dari tangan Mama."
Arlan mengangguk pelan, mulai memahami duduk perkaranya. "Lalu, apa rencana yang ada di kepalamu saat ini?"
Safa menggigit bibir bawahnya ragu. Ini adalah bagian tersulit baginya. Meminta bantuan pada Arlan, membuat harga dirinya sedikit terusik. Namun, ia tidak punya pilihan lain.
"Aku ... aku mau menebus ruko itu dari Mama. Tapi tabunganku saat ini belum cukup," Safa menatap Arlan dengan pandangan memohon.
"Boleh aku meminjam uang padamu, Mas? Tolong bantu aku pinjamkan uang untuk menebus toko Papa."
Sebelum Arlan sempat merespons, Safa buru-buru menyambung kalimatnya, seolah takut suaminya akan langsung menolak.
"Aku janji, aku pasti akan mengembalikannya! Aku akan bekerja lebih giat lagi. Kalau kelak aku sudah punya banyak uang, aku akan bayar semuanya sampai lunas. Aku ..." Safa menyeka air mata di pipinya dengan kasar, menatap Arlan dengan sorot mata penuh tekad. "... aku berjanji gak akan lagi menjadi gadis lemah yang manja, Mas. Aku akan mandiri."
Arlan tertegun sejenak. Ia menatap lekat-lekat perempuan di hadapannya ini.
Janji Safa untuk tidak lagi menjadi "gadis lemah yang manja" entah mengapa membuat sesuatu di dalam dada Arlan berdesir aneh.
Sebuah senyuman tipis, hampir tak kentara, terukir di sudut bibir Arlan. Ia mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap sisa air mata yang masih mengambang di pelupuk mata istrinya.
"Kamu tidak perlu berjanji seolah-olah sedang membuat kesepakatan bisnis denganku, Safa," ujar Arlan dengan suara berat namun menenangkan.
"Tapi, bagaimana kalau kamu tidak bisa mengembalikan uangnya. Apa kamu mau mengabdi padaku selama sisa hidupmu?" tungkas Arlan dengan nada datar.
Safa menelan salivanya. Seolah itu adalah jaminan hidupnya. Tapi bagaimana bisa ia tetap bersama. Jika iya, bukankah itu akan membuat Arlan tak bisa bersama dengan gadis pujaannya.
"Aku akan berusaha melunasinya. Bagaimana pun itu hutang, Mas."
Arlan tidak bisa lagi menahan diri. Tawa renyahnya pecah, memecah keheningan ruang tengah.
Safa mengerutkan kening, menatap suaminya dengan tatapan jengkel sekaligus bingung. Di saat ia sedang memeras emosi dan menahan tangis, pria ini justru menertawakannya?
"Lupakan, lupakan soal pinjam-meminjam itu," ujar Arlan di sela kekehannya, mencoba meredakan tawa.
"Aku cuma bercanda. Lagipula, untuk apa kamu repot-repot meminjam uang padaku? Bukannya kamu punya Black Card yang dikasih Kakek waktu pernikahan kita?"
Safa mengerjap. Otaknya mendadak nge-blank.
Arlan menyandarkan punggung ke sofa, menatap istrinya dengan binar jenaka. "Kamu itu kaya, loh, Safa. Jangan-jangan ... kamu tidak pernah memeriksa atau menggunakan kartu pemberian Kakek, ya?"
"Aku ... kaya? Black Card? Apa maksud Mas Arlan?" tanya Safa beruntun. Kerutan di dahinya semakin dalam.
Melihat ekspresi melongo istrinya, tawa Arlan kembali menggema, kali ini terdengar lebih lepas. Entah mengapa, ia merasa wanita di hadapannya ini sangat menggemaskan.
Safa itu pintar dalam studinya, tapi kenapa bisa sepolos ini dalam kehidupan nyata? Dia bahkan tidak sadar kalau dirinya adalah seorang miliarder dadakan.
Jangankan, ruko bahkan kompleks perumahan mewah bisa dibelinya.
"Mas Arlan! Gak lucu, ya!" pekik Safa, wajahnya memerah karena kesal bercampur malu. Berpikir bahwa Arlan sedang mempermainkan perasaannya, Safa langsung bangkit berdiri, berniat pergi meninggalkan ruangan.
Tap! Sraakk!
"Mau ke mana?"
Sebelum Safa sempat melangkah, tangan kekar Arlan bergerak cepat menyambar pergelangan tangannya. Sentakan kuat yang tiba-tiba itu membuat Safa kehilangan keseimbangan.
Bruk!
Safa memekik pelan saat tubuhnya limbung dan jatuh mencium dada bidang Arlan.
Suasana seketika hening. Hanya terdengar suara dengung samar dari televisi yang menyala.
Kedua manik mata mereka saling mengunci dalam jarak yang begitu dekat. Safa bisa merasakan embusan napas hangat Arlan yang memburu di pucuk hidungnya, sementara telapak tangan Arlan masih melingkar di pinggangnya, mencegah Safa untuk menjauh.
Safa terpaku, seluruh kemarahannya menguap begitu saja, tergantikan oleh debaran asing yang kian bergemuruh di dalam dadanya.