NovelToon NovelToon
Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Riko

Suasana di kontrakan Alan masih mencekam. Kris masih terisak di sudut ruangan, sementara Satria sibuk menatap ponselnya, mencoba melacak jalur yang mungkin dilewati mobil-mobil tadi. Xarena masih berdiri mematung, memegang sisa-sisa kelopak bunga lily yang kini sudah rontok di lantai.

​Tiba-tiba, sebuah sedan mewah berwarna hitam metalik melambat dan berhenti tepat di depan pintu yang rusak itu. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam yang rapi—bahkan terkesan terlalu mahal untuk jalanan desa yang berdebu—keluar dari mobil. Penampilannya sangat kontras: sepatu kulitnya yang mengkilap tampak sangat tidak cocok bersanding dengan tanah becek desa. Ia berjalan mendekat dengan langkah yang tenang, terukur, dan penuh wibawa yang mengintimidasi.

​Satria yang menyadari kehadiran orang asing itu segera berdiri di depan Xarena, melindungi wanita itu secara insting. "Siapa Anda? Urusan apa datang ke sini?"

​Pria itu tidak langsung menjawab. Ia justru berhenti tepat di ambang pintu, matanya yang tajam menyapu seisi ruangan kontrakan Alan yang berantakan dengan tatapan meremehkan. Ia kemudian menatap langsung ke arah Xarena. Aura dingin terpancar dari pria itu, seolah-olah ia adalah perpanjangan tangan dari kekejaman yang selama ini Xarena hindari.

​"Xarena," pria itu menyebut namanya dengan nada datar namun menekan. "Saya tidak punya banyak waktu untuk basa-basi dengan orang-orang kecil di desa ini."

​Xarena merasa tenggorokannya tercekat. Tatapan pria itu tajam seperti pisau yang siap menyayat. "Siapa Anda? Dan di mana Alan?"

​Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang sama sekali tidak menyentuh matanya. "Nama saya Riko. Saya adalah orang yang memastikan apa yang menjadi milik Nyonya Monique tetap berada di tempatnya."

​Ia melangkah masuk tanpa diundang, membuat Satria mundur selangkah karena tertekan oleh aura pria itu. Riko kemudian mengeluarkan sebuah amplop dari dalam jasnya dan melemparkannya ke meja kayu yang kotor.

​"Ini peringatan terakhir," ujar Riko dengan nada dingin yang membuat suasana ruangan terasa beku. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Xarena, matanya memicing tajam. "Jangan pernah coba-coba mencari Alan. Jangan pernah berpikir untuk melaporkan kejadian ini ke polisi atau mencari bantuan ke mana pun. Jika ada satu langkah saja yang kalian ambil untuk mengusik Nyonya Monique, aku akan merusak segalanya yang kalian miliki dengan satu kali sentuhan."

​Ancaman itu diucapkan dengan begitu santai, seolah-olah dia sedang membicarakan cuaca. Namun, Xarena tahu ini bukanlah gertakan kosong.

​"Kalian punya bisnis kue kering yang mulai berjalan, bukan?" Riko melirik ke arah mata Xarena di sudut ruangan. "Satu kali sentuhan saja, toko-toko yang menampung barang kalian akan bangkrut. Budhe Sum, pemilik rumah ini? Saya bisa buat dia kehilangan segalanya sebelum matahari terbenam. Dan tentu saja, anak kecil itu... Ciara."

​Napas Xarena tertahan. Mendengar nama Ciara disebut membuat seluruh keberaniannya seolah runtuh.

​"Kau berani menyentuh putriku?!" desis Xarena, meski suaranya bergetar.

​Riko tertawa kecil, suara yang terdengar sangat tidak menyenangkan. "Saya tidak perlu menyentuhnya. Saya hanya perlu memastikan dunianya tidak lagi aman. Jadi, pilihlah. Tetap diam, biarkan Alan kembali ke tempat seharusnya, atau lihat bagaimana orang-orang yang kalian sayangi hancur satu per satu karena keegoisan kalian."

​Satria yang sedari tadi menahan emosi akhirnya tidak bisa tinggal diam. "Kau pikir kau bisa mengancam kami semudah itu? Desa ini punya hukum!"

​Riko menoleh sedikit ke arah Satria, matanya menyipit dengan sorot membunuh. "Hukum? Di dunia Nyonya Monique, hukum adalah apa yang kami tulis. Kamu, anak muda, sebaiknya jaga mulutmu kalau tidak mau hidupmu berakhir lebih cepat dari kue kering yang kamu jual."

​Xarena mencengkeram tangan Satria, memberi kode agar temannya itu diam. Ia menatap Riko, matanya berkaca-kaca, bukan karena takut pada pria itu, tapi karena beban yang tiba-tiba menindih pundaknya.

​Ia memikirkan Mommy Bela yang sudah menaruh harapan besar padanya. Ia memikirkan Bi Inah yang sudah bersemangat membantu usaha mereka. Ia memikirkan Ciara, dunia kecilnya yang tidak tahu apa-apa tentang kegelapan ini. Jika ia melawan, ia bukan hanya mempertaruhkan nyawanya sendiri, tapi nyawa semua orang yang telah memberinya perlindungan selama ini.

​"Diam," bisik Xarena lirih, hampir tak terdengar.

​"Bagus," jawab Riko, terdengar puas. Ia kemudian berbalik badan dengan gerakan tenang, tidak sedikit pun merasa terancam dengan situasi itu. "Saya harap pesan ini tersampaikan dengan baik. Jangan membuat Nyonya marah lebih jauh."

​Pria itu melangkah keluar, masuk ke mobil hitamnya, dan berlalu pergi begitu saja, meninggalkan debu yang kembali memenuhi udara.

​Ruangan itu mendadak hening. Kris masih terisak pelan, Satria mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, sementara Xarena tetap diam seribu bahasa. Ia merasa seolah-olah seluruh dunianya dikunci oleh ancaman pria itu.

​"Mbak... kita nggak bisa biarin ini, kan?" Satria memecah keheningan dengan suara yang frustrasi.

​Xarena menatap toples-toples kue di atas meja. Usaha yang baru kemarin ia banggakan, kini terasa seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja. Ia memikirkan kembali sosok Alan—pria yang baru saja mencoba untuk berubah, yang baru saja meminta maaf dengan bunga lily yang kini sudah layu itu.

​"Dia melakukan ini demi kita, Satria," ucap Xarena lirih, suaranya kini terdengar kosong. "Tapi kalau aku melawan, aku justru akan menghancurkan mereka semua. Mommy Bela, Ciara, kamu, Budhe Sum, Bi Inah... semuanya ada di tanganku sekarang."

​"Jadi Mbak mau menyerah? Mau membiarkan Alan dibawa begitu saja?"

​Xarena tidak menjawab. Ia berjalan menuju sudut ruangan, tempat bunga lily itu berada. Ia menyentuh kelopaknya yang sudah layu. Ia menyadari satu hal yang pahit: cinta memang tidak selalu cukup untuk melawan iblis. Kadang, pilihan yang paling menyakitkan adalah memilih untuk diam demi keselamatan orang-orang yang dicintai.

​"Aku bukan menyerah, Sat," ujar Xarena dengan mata yang kini menatap tajam ke arah jalanan tempat mobil tadi melintas. "Aku cuma sedang menunggu waktu yang tepat. Karena kalau mereka pikir mereka bisa menghancurkanku dengan mengancam orang-orang yang kusayangi, mereka salah besar. Mereka justru memberiku alasan paling kuat untuk tidak pernah benar-benar menyerah."

​Meskipun saat ini ia memilih diam, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Xarena tahu bahwa api kemarahan itu justru makin berkobar. Ia akan melindungi keluarganya, ia akan melindungi usahanya, dan entah bagaimana caranya, ia akan menemukan cara untuk menarik Alan kembali—bukan dengan nekat, tapi dengan kecerdasan yang selama ini tidak pernah disadari oleh Monique maupun kaki tangannya.

​"Untuk saat ini," Xarena menatap Satria, "kita lanjutkan usaha kita. Kita buat usaha ini sukses, kita kumpulkan kekuatan, dan kita pastikan saat waktunya tiba, mereka tidak akan bisa menyentuh kita lagi."

​Satria menatap Xarena dengan pandangan kagum sekaligus sedih. Ia mengerti bahwa Xarena telah berubah. Dari wanita yang dulu hanya bisa menangisi kepergian Alan, kini ia telah menjadi sosok ibu yang tangguh—seorang wanita yang rela mengubur perasaannya demi menjaga benteng pertahanan orang-orang yang ia cintai. Dan di balik diamnya, Xarena diam-diam mulai menyusun rencana.

1
mama
alan ny goblok bin tololl.. mau2 nikah sm mak Lampir cm demi kekuasaan🤣..
mama
CEO terbodoh🤣,..org kaya gk mampu nyari detektif buat nyari kebenarannya nih cerita ny, gitu aj bingung😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!