"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.
Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"
"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"
"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."
Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.
Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
Sinar matahari siang yang menyengat perlahan bergerak condong ke barat, meninggalkan bayangan panjang yang muram di antara pilar-pilar beton Fakultas Bisnis.
Di sebuah sudut lorong yang sepi dekat ruang laboratorium komputer tua yang jarang dilewati mahasiswa, Bella Moon berdiri menyandarkan punggungnya pada dinding.
Napasnya masih sedikit tidak teratur, bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena gejolak emosi dan rasa malu yang luar biasa setelah diusir secara kasar dari ruang UKS oleh kata-kata Murahan Amieyara Walker.
Namun, di balik air mata keputusasaan yang sempat dia tunjukkan di depan Maximilian tadi, otak manipulatif Bella kini telah kembali bekerja dengan dingin.
Dia merogoh ponsel dari dalam tas rajut putihnya, menatap layar digital yang menampilkan profil biodata staf pengajar universitas yang berhasil dia retas secara amatir melalui forum diskusi mahasiswa.
"Amieyara Walker," desis Bella, mengeja nama itu dengan nada suara yang bergetar oleh kebencian. "Asisten dosen Bisnis. Janda dari David Joseph. Dan... anak tertua dari keluarga Walker."
Sepasang mata biru Bella berkilat tajam. Sebagai seorang wanita yang menghabiskan masa remajanya di sirkel sosial yang penuh intrik, dia tahu betul bahwa nama belakang 'Walker' bukanlah nama yang asing di kampus ini.
Hanya butuh waktu beberapa menit bagi Bella untuk menghubungkan titik-titik informasi yang tersebar. Dia tahu persis ada mahasiswa lain di Fakultas Bisnis yang memiliki nama belakang yang sama. Cinmocha Walker.
Sebuah seringai licik perlahan terukir di bibir Bella. Dia melangkah tegas, memutar arah menuju ruang tunggu lantai tiga gedung bisnis, tempat di mana dia yakin gadis bernama Cinmocha itu sedang meratapi nasibnya setelah rumor UKS meledak hebat.
Di ruang tunggu lantai tiga yang sunyi, Caca—atau Cinmocha—sedang duduk sendirian di atas sofa kulit hitam.
Wajah cantiknya masih memerah, sisa-sisa tamparan verbal dari Emmeline Valerio di Fakultas Kedokteran tadi masih membekas, meninggalkan rasa sesak yang membakar harga dirinya. Dia merasa begitu tidak berdaya; di satu sisi dia membenci Yara karena berhasil mendekati Max, di sisi lain dia tidak memiliki kekuatan untuk melawan kesombongan klan Valerio.
Tap. Tap. Tap.
Suara ketukan sepatu hak tinggi yang berirama konstan memecah keheningan ruangan. Caca mendongak, matanya menyipit tajam saat melihat sesosok gadis berambut pirang bergelombang dengan gaun rajut putih melangkah masuk ke dalam ruangan dengan dagu yang terangkat anggun.
Itu Bella Moon.
Caca tentu saja mengenali gadis ini. Sebagai orang yang pernah menjadi pesuruh di sirkel high school dulu, Caca tahu betul bahwa Bella Moon adalah mantan kekasih legendaris Maximilian Valerio—satu-satunya wanita yang pernah mendapatkan seluruh curahan cinta murni dari seorang Valerio sebelum akhirnya hubungan mereka hancur lebur di malam kelulusan akibat skandal pengkhianatan yang menjijikkan.
Bella menghentikan langkahnya tepat di depan sofa Caca, melipat kedua tangannya di depan dada sembari melemparkan tatapan menilai yang sarat akan maksud terselubung.
"Cinmocha Walker," sapa Bella, suaranya terdengar manis namun dingin. "Adik tiri dari sang bintang kampus hari ini, Amieyara Walker. Benar begitu?"
Caca menegakkan tubuhnya, tatapan matanya mendadak berubah waspada dan pura-pura tidak mengenal. "Siapa kau? Dan apa urusanmu membawa-bawa nama wanita sialan itu di depanku?" tanya Caca ketus, meskipun di dalam hatinya dia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.
Bella terkekeh pelan, sebuah tawa renyah yang terdengar sangat palsu. Dia mengambil tempat duduk di sofa tunggal yang berhadapan langsung dengan Caca, menyilangkan kakinya dengan anggun.
"Jangan terlalu tegang, Mochi. Aku kemari bukan untuk mencari musuh. Justru sebaliknya... aku merasa kita memiliki ketertarikan yang sama terhadap satu pria yang saat ini sedang berada di dalam cengkeraman kakak tirimu."
Mendengar nama panggilan 'Mochi' keluar dari mulut Bella, rahang Caca kembali mengencang. Namun, kata-kata Bella berikutnya berhasil menahan amarahnya. "Kau... kau ingin membahas Maximilian?"
"Tepat sekali," Bella mencondongkan tubuhnya ke depan, sepasang mata birunya menatap Caca intens. "Aku tahu kau menyukai Max sejak di high school. Dan aku adalah wanita yang paling tahu luar dalamnya seorang Maximilian Valerio. Pagi ini, aku melihat dengan mata kepala kepalaku sendiri bagaimana kakakmu, Yara, mengklaim Max sebagai kekasihnya di UKS. Tapi aku tahu itu hanya sandiwara murahan. Aku butuh bantuanmu untuk mengulik semua hal tentang Yara Walker. Apa saja kelemahannya, apa saja rahasia busuknya, dan bagaimana dia bisa berakhir di apartemen Max."
Caca tertegun sejenak, namun sedetik kemudian, otak liciknya langsung menangkap peluang emas ini. Ini adalah sebuah simbiosis mutualisme yang sempurna.
Bella Moon ingin memanfaatkan dirinya untuk menghancurkan hubungan Yara dan Max, dan di sisi lain, Caca juga bisa memanfaatkan Bella sebagai pion garis depan untuk menjatuhkan Yara tanpa harus mengotori tangannya sendiri, sekaligus menghindari risiko konfrontasi langsung dengan Emmeline Valerio yang mengerikan itu.
Sebuah senyuman licik kini berganti menghiasi wajah Caca. Dia bersandar pada sandaran sofa, menatap Bella dengan pandangan yang meremehkan. "Kau ingin tahu tentang Yara? Oh, Bell... kau datang ke orang yang sangat tepat. Wanita yang kau sebut asisten dosen yang terhormat itu tidak lebih dari seonggok sampah di keluarga kami."
Caca mulai membuka mulutnya, menumpahkan seluruh informasi busuk dan rumor yang sengaja dia rancang bersama ibunya selama ini. "Yara itu adalah anak haram yang selalu menyusahkan ayahku. Dia baru saja diceraikan oleh suaminya, David Joseph, setelah satu malam pernikahan karena dia kedapatan tidak perawan, Dan Juga Di isukan berselingkuh dengan pejabat lokal. Dia itu simpanan, Bella. Wanita panggilan kelas atas yang menggunakan tubuh seksinya untuk memeras uang dari pria-pria tua di kota ini. Semalam, dia diusir dari mansion kami karena kelakuannya yang menjijikkan itu terbongkar."
Mendengar setiap untaian kalimat yang meluncur dari mulut Caca, jantung Bella Moon mendadak berdegup dengan ritme yang abnormal.
Informasi tentang status Yara sebagai 'pelacur kampus' dan 'simpanan pejabat' yang baru saja diceraikan membuat batin Bella bergejolak hebat oleh kombinasi antara rasa syok dan kecemburuan yang teramat sangat ekstrem.
Di dalam sudut hatinya yang paling dalam, Bella berteriak frustrasi, meratapi ketidakadilan takdir yang sedang dia hadapi.
Rupanya dia sama saja denganku! Wanita itu juga kotor! batin Bella berteriak histeris dengan penuh dendam.
Yara saja yang jelas-jelas seorang pelacur murahan, janda satu malam, dan simpanan tua bangka bisa kau terima dengan begitu terbuka, Max? Kau bahkan membawanya ke dalam apartemen pribadimu, memeluknya di depan umum, dan membawanya ke atas ranjangmu dengan penuh gairah! Lalu... lalu kenapa aku? Kenapa aku yang sejak dulu berstatus sebagai kekasihmu, wanita yang kau puja laksana ratu, tidak pernah sekali pun kau bawa ke atas ranjangmu untuk hal-hal yang intim?! Kau menjagaku seolah aku ini kristal suci, tapi kau justru memilih bersenang-senang dengan rongsokan kotor seperti Yara Walker! Di mana letak warasmu, Maximilian?!
Rasa hancur dan terhina membuat napas Bella sedikit tercekat. Namun, di depan Caca, dia sekuat tenaga mempertahankan wajah datarnya, meskipun kilat kegilaan di matanya tidak bisa disembunyikan sepenuhnya.
Caca yang memperhatikan perubahan ekspresi Bella tersenyum puas di dalam hati. Dia tahu, umpan yang dia tebar telah berhasil menyalut api kegilaan di dalam diri mantan kekasih Max itu.
"Jadi, Bella..." Caca menjeda kalimatnya, mengulurkan tangan kanannya di atas meja dengan gestur formal sebuah aliansi rahasia.
"Bagaimana kalau kita bekerja sama? Kau memiliki pemahaman tentang Max, dan aku memiliki semua akses informasi untuk menghancurkan Yara. Kita buat wanita itu merangkak kembali ke lumpur tempat asalnya, dan kau bisa mendapatkan kembali pangeran Valerio-mu."
Bella Moon menatap tangan Caca selama beberapa detik, sebelum akhirnya menyambut jabat tangan itu dengan remasan yang teramat sangat kuat, menyiratkan kesepakatan dua ular yang siap menyebarkan racun mematikan di koridor kampus.
"Kesepakatan yang bagus, Mochi. Mari kita mulai pertunjukannya."