NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17 : Kembali, tapi tidak sama

Sejak hari itu semuanya tak lagi sama, aku tetap menjaga kasir seperti biasa namun bedanya aku tau ada sesuatu yang lebih besar di rumah makan Dermawan, sesuatu yang tak bisa disentuh. Setiap orang memiliki sisi gelapnya masing-masing, tak ada yang benar-benar murni, dan tak ada satupun yang bisa dipercaya.

14/09

NAYA.

_

POV NAYA:

Rumah makan Dermawan buka seperti biasa, nampak ramai oleh orang-orang yang sedang mencari sarapan enak tentunya. Meja-meja tersusun rapi. Kursi ditarik masuk. Aroma masakan masih sama hangat, familiar, terasa sangat menenangkan bagi orang biasa.

Tapi tidak untukku. Aku berdiri di balik kasir. Tempat yang sama. Posisi yang sama. Senyum yang sama.

Tapi… Aku bukan orang yang sama lagi.

Saat ini semuanya tak lagi sama. Aku tetap menjaga kasir seperti biasa... Mencatat pesanan, menerima uang, sesekali menjawab pelanggan yang bertanya soal meni. Namun bedanya.. Sekarang aku tahu. Ada sesuatu yang lebih besar di rumah makan Dermawan ini. Sesuatu yang selama ini… Hanya diam. Mengawasi, dan menunggu.

Mataku pelan menyapu ruangan. Ke arah pintu dapur yang ada kebul tipis asap karna sedang memasak. Ke arah meja pojok. Ke arah lorong belakang. Ke arah tangga lantai 2. Setiap sudut yang kosong terasa hidup. Bukan dalam arti ramai. Tapi seperti… punya isi.

'Untuk apa CCTV kalau tidak bisa menangkap apa yang tidak terlihat?'

Mbak Nesya yang habis mengantarkan pesanan lewat di depanku. Senyumnya masih sama. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi sekarang aku melihatnya berbeda. Matanya... Kosong. Bukan kosong biasa. Kosong yang… menyimpan sesuatu. Dia berhenti sebentar di dekatku.

"Jangan ngelamun terus, Nay?" Bisiknya dengan suaranya yang ringan.

Aku menatapnya. Beberapa detik. Lalu menjawab pelan, "Iya, Mbak."

Dia tersenyum. Dan pergi.

Aku menunduk. Tanganku masih di atas meja kasir.Tapi jari-jariku dingin. Aku ingat semua. Tentang kontrak itu. Tentang "dipanggil". Tentang tumbal.

Seorang pelanggan datang. "Teh, bayar." Aku refleks bergerak. Menghitung. Menerima uang. Menarik struk. Memberi kembalian. Semua berjalan normal.

Terlalu normal.

Tapi saat aku menyerahkan uang itu tanganku tanpa sengaja menyentuh tangannya. Dan di detik itu, kepalaku berdengung. Sekilas sangat cepat.

Tapi jelas ada bayangan, darah, mangkok, dan seseorang yang menatap dari belakangku.

Aku langsung menarik tanganku. Nafasku terhenti.

"Teh?" pelanggan itu bingung.

Aku tersenyum kaku, "Gak apa-apa, Pak."

Aku sekarang mengerti. Ini bukan cuma tempat kerja.Ini bukan cuma rumah makan. Ini adalah, tempat yang memilih orang. Dan sekali kamu dipilih, kamu gak benar-benar bisa keluar. Mataku kembali menyapu ruangan. Semua orang sibuk. Semua terlihat normal. Tapi sekarang aku tahu... Setiap orang di sini.. Punya sisi gelapnya masing-masing.

Mbak Nesya, Abel, Zuan, Rifki, Mang Agus, terutama Rosa, dan Teh Intan.

Dan, mungkin aku sendiri.

Tak ada yang benar-benar murni. Tak ada yang benar-benar bersih. Dan rumah makan ini bukan tempat untuk orang baik. Aku menarik napas pelan. Lalu berdiri tegak di balik kasir. Menunggu. Karena aku tahu, ini baru awal. Dan cepat atau lambat.. Namaku akan dipanggil.

Siang hari pun tiba, suasana rumah makan mulai terasa sepi.

"Nay, mau makan siang gak?" Tanya Zuan yang datang menghampiriku.

"Aku enggak makan siang." Jawabku.

"Disini harus makan siang." Tegas Zuan.

Aku menggeleng, tidak mau.

Zuan dengan wajah pasrah, dan terlihat sedikit kesal pun meninggalkanku.

"Nay."

Aku menoleh kepada Mang Agus yang menghampiriku.

"Rifki udah kabur dari rumah makan gara-gara kamu katanya kabur." Jelas Mang Agus tentu saja membuatku terkejut.

"Maksudnya?"

"Rifki kabur dari rumah makan karna kamu kabur juga, aku kira kamu berhasil kabur dari rumah makan ini?" Mang Agus juga sepertinya terlihat kaget dengan kemunculanku di rumah makan.

"Gak ada yang bener-bener bisa kabur, Mang." Tegasku sekarang, terasa amarahku sudah menumpuk.

"Jadi maksud kamu Rifki gak akan berhasil kabur juga? Dia bakal balik?" Tanya Mang Agus memastikan kepadaku.

Aku tak menjawab, karna ragu juga tentang keselamatan Rifki.

"Atau dia mati?" Tanya Mang Agus lagi.

Aku menatap kedua mata Mang Agus yang begitu tajam menatap kedua mataku. Aku sama sekali tidak bisa menjawab.

"Kamu gak peduli Rifki hidup atau enggak?" Tanya Mang Agus dengan kesal.

"Aku peduli, tapi aku juga gak bisa jawab Mang." Balasku.

"Rifki itu cinta sama kamu. Dia pergi dari rumah makan ini karna ngira kalau kalian berdua bakal sama-sama bebas dari kutukan rumah makan ini." Kesal Mang Agus membuatku merasa tak percaya.

"Jadi Mang Agus nyalahin aku sekarang?" Tanyaku tidak terima.

"Aku gak nyalahin kamu, Naya. Tapi coba lihat perasaan Rifki yang tulus cinta sama kamu, dan coba kamu lebih peduli sama dia entah dimana dia berada sekarang." Tegas Mang Agus lalu meninggalkanku sendirian.

Aku terdiam. Kata-kata Mang Agus masih menggantung di kepalaku.

Rifki cinta sama aku.

Kalimat itu… anehnya bukan bikin hangat.

Tapi bikin sesak.

Aku menunduk pelan. Tanganku menggenggam meja kasir lebih erat, "Kenapa harus dirumah makan ini?"

Kenapa semua orang yang dekat denganku selalu terancam dalam bahaya? Bahkan Kak Salsa yang jauh sekarang.

Aku masih berdiri kaku, tanganku menyentuh leherku yang tiba-tiba terasa berat. Perlahan aku angkat kepala menatap ke kaca etalase.

Dan, dia lagi.

Sari.

Berdiri di belakangku dengan seragam hijau itu, rambut diikat satu. Dan luka panjang di lehernya jelas terlihat. Dia menampakkan dirinya.

"Sari…" Suaraku pelan. Aku merasa takut tapi juga mulai berharap.

Dia tidak langsung mendekat. Tidak menyentuhku. Dia hanya berdiri. Menatap.

Bibirnya bergerak pelan, "Naya.."

Aku menahan napas, ini pertama kalinya dalam hidupku aku melihat penampakan yang aku sendiri dengan sadar jika penampakan itu benar-benar berada di belakang ku.

Sari menunduk sebentar seolah mengumpulkan tenaga lalu dia angkat wajahnya lagi, "Kamu harus tahu." Suaranya serak seperti datang dari jauh.

Aku lihat sesuatu di matanya bukan marah tapi seolah memberi peringatan.

"Abel…"

Namanya langsung bikin jantungku berdegup keras.

"Abel kenapa?" Tanyaku cepat karna aku sadar betul kalau Abel, dan Rosa tidak ada dikontrakan. Hanya ada aku, dan Teh Intan. Aku tak bisa bertanya banyak kepada Teh Intan karna masih mencoba membaca situasi apa yang terjadi dihidupku sekarang.

Sari diam sebentar lalu berkata pelan, "Dia sudah jadi tumbal."

Dunia seolah berhenti. Aku membeku, "Gak.. Gak mungkin…"

Sari menggeleng pelan, luka di lehernya ikut bergerak mengerikan. Aku baru melihat jelas luka dileher sekarang.

"Dia… Menggantikan kamu."

Nafasku langsung hilang, tanganku lemas.

"Aku?" Suaraku pecah.

Sari mengangguk lagi lalu menyentuh leherku, "Kamu harusnya yang dipanggil waktu itu."

Bayangan langsung masuk ke kepalaku.

Hari itu hari dimana Abel diseret oleh Gian, dan tangis Teh Intah yang pecah.

Dan rasa dingin yang hampir menyeretku, "Tapi Abel?"

Sari menatapku lebih dalam, "Dia sudah masuk ke dalam gentong."

Air mataku jatuh tanpa bisa ditahan, "Kenapa…?"

Sari menjawab pelan, "Karena itu kamu masih hidup sekarang."

Aku menggeleng, "Ini gak masuk akal, ini gak-"

Sari mendekat sedikit tidak lagi menyentuh. Tapi cukup dekat untuk membuat udara di sekitarku terasa sangat dingin, " Dengerin aku, Naya." Suaranya lebih tegas sekarang. Lebih jelas.

"Di tempat ini selalu ada pengganti."

Aku terdiam.

"Kalau satu lepas yang lain.. Akan ditarik."

Nafasku tercekat.

"Abel sudah menggantikan kamu."

"Dan.."

"3 bulan dari sekarang.. Giliran siapa lagi yang akan menjadi tumbal?"

Tubuhku gemetar, " A-aku??"

Sari mengangguk.

"Terus aku harus gimana?!" Suaraku naik.

Sari lalu berkata pelan, "Jangan jadi yang berikutnya."

Aku terdiam.

"Dan jangan percaya."

"Siapa pun di sini."

Nafasku berat.

"T-tapi.. Kamu bantu aku kan, Sar?" Tanyaku lirih. Aku merasa Sari satu-satunya yang dapat menjadi penolongku sekarang untuk benar-benar bisa bertahan, dan lepas dari rumah makan Dermawan ini.

Sari menatapku dari kaca etalase lalu dia mengangguk pelan.

"Aku gak mau kamu mati seperti aku."

Air mataku jatuh lagi.

"Bunuh Rosa karna dia satu-satunya yang ingin kamu mati."

Aku terdiam.

"Bunuh Rosa, jadikan dia tumbal berikutnya Naya dan semua kutukan rumah makan Dermawan ini akan berakhir.." Sari berkata tegas kepadaku.

Tubuh Sari mulai memudar.

"Bunuh Rosa.."

"Dan.."

"Kau.. Akan bebas.."

Sari menghilang sepenuhnya kaca etalase kembali normal, dan aku sendirian lagi.

Tapi sekarang.. Aku tahu satu hal pasti. Aku hidup karena seseorang sudah mati menggantikanku. Dan kalau aku ingin melepas kutukan ini, aku harus membunuh Rosa seperti yang dikatakan Sari.

Aku langsung mundur, napasku memburu. Tanganku gemetar. Ini jalan keluar? Atau awal dari sesuatu yang lebih buruk? Aku menggenggam meja kasir kuat-kuat. Mataku perlahan menatap ke arah dapur.

Dan untuk pertama kalinya aku tidak merasa takut. Aku merasa siap melakukan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.

1
Sarah
Noooo! Abelllll Jangan matiiii! 🙅‍♀️😃
Sarah
Dari bahasa Sunda kah referensi kalimat dan nama tempat makannya sendiri? Atau bukan?
Sarah: Yahh... bahasa Jawa sama Sunda kayaknya emang banyak kata yang agak mirip deh. Dan kalau gak salah juga akar bahasanya sama sih. Meski tetep beda. Kalau di Sunda sih “Dhahar Kudu Wareg” itu kayak, “Makan Harus Kenyang” atau kalau konteksnya emang nama ya “Dhahar Harus Kenyang”. Meskipun di Sunda tulisan “Dhahar”-nya gak ada ‘H’-nya sih. “Dahar” aja, tapi bunyinya sama. Kalau di Jawa “Dhahar Kudu Wareg”-nya artinya apa tuh kak?
total 2 replies
Sarah
Kakaknya Naya menarik juga. Aku emang belum baca sampai jauh tapi jujur ada sedikit harapan dia bisa terlibat jugalah di cerita meskipun mungkin gak bisa bener-bener bantu tapi bisa disebut atau diceritakan lagi sih. Kayaknya dia tokoh yang potensial deh. Gimana dia yang cuek banget sama orang lain kayak gak ada ramah-ramahnya. (yang jujur agak curiga itu karena perjalanan merantau yang sulit juga. Selain entah karena mungkin itu emang sikap dasarnya.)
Mia AR-F: kk salsa mah udah tau dunia rantau sekeras apa 🥹
total 1 replies
Sarah
Maksudnya? Simak kah kak?
Mia AR-F: iya kk simak 🤭
total 1 replies
Sarah
Nama adalah doa. 😃
Sarah
Ngakak 😂
Sarah
Suasananya beneran hangat dan akrab banget yah? Biasanya kan seri horor atau thriller selalu ngasih suasana yang udah mencurigakan dan lingkungan orang-orang di sekitar yang sepi, individualis, dll. Tapi ini enggak, jadi makin serem karena yang terlihat aman ternyata ada sesuatu dibaliknya. Apalagi kalau terjadi di dunia nyata. 💀
Menarik sih, kalau ada waktu aku akan lanjut. 👍
Semangattt. 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!