NovelToon NovelToon
Pembalasan Seorang ART

Pembalasan Seorang ART

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Imen Firewood

"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.

Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.

Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.

"Hey!"

"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.

"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 31

Tak ... Tak ... Tak ...

Derap dari langkah yang berjalan beriringan memenuhi seluruh isi lorong. Ketika teman-teman Bianca sedang berjalan memasuki area kampus.

"Eh, Bi! Gue jadi penasaran deh ... Gimana, yaa, nasib si Anya itu? Setelah di pecat dari rumah lu ..." ujar Novi, tertawa pelan ketika dirinya sedang asik makan camilan sambil berjalan di samping Bianca.

"Iyaa, yaa? Gue juga jadi kepikiran. Kan, dia nggak punya siapa-siapa di Jakarta ini ... Gua jadi ngerasa sedih."

"Dia tinggal dimana? ... Dengan siapa? Kalau apa-apa terjadi sama dia, gimana?" oceh Wati, berbeda dengan Novi ketika untaian kalimatnya malah mencemaskan keadaan Anya.

Sontak, kalimat-kalimat yang berisik mengganggu telinga Bianca, membuatnya sekarang menjadi kesal.

Sst ... Sstt ... Ssut!

"Bisa nggak sih, nggak usah pada ribut?" ujar Bianca dengan cepat, menaikan nada suaranya sedikit agak keras. Membuat teman-temannya langsung diam seketika.

"Gue nggak perduli sekarang anak kampung itu ada dimana. Hari-hari gue tuh udah tenang, karena nggak ada lagi dia di rumah ..."

"... So, jangan ngomongin dia lagi di depan gue. Ngerti?!" bentak Bianca kepada kedua temannya. Itu bukan pertanyaan, melainkan kalimat perintah yang tidak bisa mereka lawan karena berteman dengan Bianca.

Hingga Novi dan Wati hanya bisa berdiam diri menguci mulutnya rapat-rapat sekarang. Takut membuat Bianca merasa kesal lagi.

Setelah mereka selesai melewati lorong kampus, Bianca tidak sengaja melihat Rangga yang baru saja menuruni anak tangga dari kejauhan. Bianca langsung tersenyum riang ingin menghampiri.

"Eh, Rangga?" kata Bianca kaget, senyumnya merekah seperti melihat sesuatu yang sangat ia sukai.

"Rangga! Tunggu ..." sambung Bianca, langsung pergi berlari meninggalkan teman-temannya yang lain di belakang.

"Kalau soal Rangga ... Pasti dia nggak bisa lepas," ucap Novi, seraya memperhatikan Bianca sambil terus memakan camilannya.

"Yaa ... Gitulah. Udah buruan yuk, kita ikutin. Entar Bianca marah lagi nggak ada kita, padahal ... Dia sendiri yang pergi," sambung Restu. Mereka semua, sangat paham mengenai sifat Bianca karena sudah lama berteman.

Di sisi lain.

Tepatnya di pinggir alun-alun kota. Di sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi, Anya dan Bara sedang duduk bersama di bawah rindangnya pohong di belakang mereka.

"Bu Sri baik yaa. Tidak hanya telah menolong kita, ia bahkan memberi kita uang bonus tambahan usai membantunya sampai siang ini," ungkap Anya, seraya memakan es krim dan menoleh menatap Bara di sebelahnya.

Bara tidak menjawab perkataan Anya. Karena ia, terlalu sibuk dengan urusan sendiri ketika sedang membuka es krim miliknya.

Melihat itu, Anya segera mengambil es krim Bara. Membantu membuka es krim Bara yang sangat lama ia kerjakan.

"Sini biar aku bantu!" kata Anya, sedikit merasa geram karena melihat Bara yang kesulitan membuka es krim.

Bara menatapnya, melihat Anya yang selalu saja membantunya. Bahkan dalam hal kecil seperti ini. Tapi tetap saja, ia masih tidak begitu perduli mengenal sikap dinginnya yang cuek.

Anya memberikan es krim tersebut.

"Nih! ..." kata Anya, di sambut cepat oleh tangan Bara yang mengambilnya tanpa melihat Anya, atau bahkan berterimakasih.

"Aku penasaran deh ... Kenapa orang seperti kamu, bisa bertahan di kota ini? Jelas-jelas, untuk membuka es krim, mencuci piring, atau mengurus diri kamu sendiri saja tidak bisa," kata Anya.

Anya berbicara asal tanpa melihat Bara yang sedang memperhatikannya, karena Anya sibuk bicara sambil menikmati es krim dengan pemandangan indah di depannya.

"Cih ..." sambung Bara sedikit tersenyum, melempar pandangannya dari Anya lalu ikut melihat ke depan. Memandang ramainya alu-alun kota yang di penuhi orang-orang berjalan.

"Mungkin memang benar. Apa yang semua kamu katakan tidak semuanya salah," ucap Bara, masih setia memandang alun-alun kota.

"Tapi aku tidak pernah menampar seseorang yang baru saja kutemui."

Deg!

Kalimat itu seperti sebuah sindiran bagi Anya. Walau kenyataannya memang benar. Detak jantung Anya kembali berhenti sepersekian detik.

Pandangan mereka bertemu saling tatap secara bersamaan. Dengan masing-masing masih memegang sebuah es krim.

"Eh?"

Suara Anya yang tiba-tiba saja keluar dengan sendirinya. Karena ia baru saja ingat pernah menampar Bara. Pandangan mereka masih saling bertatap.

Dan anehnya, Anya menemukan ketenangan setiap kali melihat mata Bara. Tidak ada sesuatu yang menekannya sama sekali di sana.

"Ah, maaf ... Aku tidak bermaksud—"

"Aku hanya bercanda," potong Bara, kembali membuang pandangannya melihat ke depan. Ia tersenyum puas karena telah berhasil melihat ekspresi di wajah Anya.

Sedangkan Anya, masih menatap Bara. Bingung harus merespon apa lagi di saat dirinya juga mendadak membisu seolah terhipnotis dengan kata-kata Bara barusan.

Beberapa saat kemudian, setelah mereka menghabiskan es krim. Ah, tidak. Hanya Anya yang baru saja menghabiskan es krimnya. Ia menarik tangan Bara, mengajaknya untuk berjalan-jalan.

"Ayok, ikut! ... Aku ingin melihat-lihat daerah ini," pinta Anya, langsung menarik tangan Bara tanpa persetujuannya.

"Hm?"

Membuat Bara harus sedikit menyeimbangkan es krimnya karena hampir saja terjatuh. Anya berhasil membuat Bara berdiri dan mengikutinya dari belakang.

Terik dari sinar matahari yang tadi panas, sekarang berganti menjadi suasana yang sejuk. Karena angin, mulai ikut menemani langkah mereka yang sedang berjalan-jalan di pinggir kota menikmati sore.

"Ah~ Ademnya ... Aku benar-benar senang," kata Anya, seraya menghirup dalam-dalam udara sejuk yang bertebaran di sekeliling mereka.

Bara tersenyum melihat Anya di sampingnya. Ia tidak mengira, ada wanita kuat yang bisa merasa senang di tengah kondisinya yang sulit seperti ini.

"Kenapa kamu bisa terus tersenyum?" tanya Bara, di sela-sela langkah mereka di bahu jalan.

"Padahal, untuk makan dan tidur kamu nanti malam saja ... Kamu belum tahu," sambungnya, menatap wajah cantik Anya dari atas karena berbedaan tinggi badan mereka.

Anya kembali menatap langit. Menghembuskan nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Bara.

"Entahlah ... Hanya saja, aku merasa jika terus melakukan hal baik. Kebaikan itu sendiri akan datang lagi padaku," balas Anya, kembali menunjukan senyum manisnya kepada Bara yang terus melihatnya.

Deg!

Pandangan Bara sempat terpaku. Oleh kecantikan yang Anya miliki. Hingga tidak sadar, sekarang Bara jadi merasa salah tingkah sendiri. Tidak berani menatap lama wajah Anya.

"Kamu kenapa?" tanya Anya, merasa penasaran dengan ekspresi Bara yang tiba-tiba saja berubah seperti barusan.

"Tidak apa-apa." jawab Bara dengan nada cepat. Mengalihkan perhatiannya dari Anya yang mulai merasa bingung.

Barisan pohon yang tumbuh di sepanjang jalan, menghiasi langkah mereka berdua yang tidak mempunyai tujuan.

Beberapa kali juga terlihat hembusan angin sejuk menerpa wajah mereka berdua. Membuat rambut halus Anya ikut bergerak dengan cantik kebelakang.

Bara yang setia menemani Anya, sering kali mencuri perhatiannya agar dapat melihat wajah cantik Anya.

1
falea sezi
lanjuttt
Imenfirewood: Waah, terimakasih banyak ya, kak, udah mau membaca cerita ini. Mulai sekarang, ceritanya akan update setiap hari di jam 7 pagi. Pastikan kakak udah follow biar nggak ketinggalan cerita seru dari Anya. Terimakasih~ Luv!
total 1 replies
falea sezi
kpn mereka bangkrut🤣 ngemis klo. perlu sebel q
Imenfirewood: Kamu udah baca sampai sini?
total 1 replies
falea sezi
majikan laknat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!