NovelToon NovelToon
S2 Menikahi Mantan, Selamanya

S2 Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perpisahan di Ambang Bukit

Matahari pagi baru saja menyembul dari balik barisan pohon pinus, membiarkan cahaya keemasannya menembus kaca-kaca besar ruang tengah The Dendra Foundation. Udara perbukitan yang masih sangat segar membawa aroma embun dan kayu basah ke dalam bangunan, menciptakan suasana yang damai namun sedikit melankolis pagi itu.

Isaac menuntun Luna menuruni tangga kayu dengan sangat hati-hati. Satu tangannya melingkar protektif di pinggang istrinya, sementara tangan lainnya memastikan Luna berpijak dengan benar di setiap anak tangga. Luna, yang mengenakan maternity dress berwarna biru muda, tampak jauh lebih segar dibandingkan beberapa hari lalu, meski matanya menyiratkan sedikit berat hati karena harus meninggalkan rumah yang ia cintai.

Di lantai bawah, keriuhan pagi yang biasanya pecah seketika mereda begitu sosok sepasang suami istri itu terlihat. Anak-anak panti yang baru saja menyelesaikan sarapan mereka—beberapa masih memegang buku pelajaran dan ada pula yang sedang merapikan rak sepatu—segera berkumpul di ruang tengah tanpa perlu dipanggil. Mereka seolah sudah mengerti bahwa pagi ini adalah pagi yang berbeda.

"Duduklah di sini bersama Ibu Sari, Sayang. Aku akan mengambil barang-barang kita di atas," bisik Isaac lembut setelah memastikan Luna duduk dengan nyaman di atas karpet bulu yang empuk, bergabung dengan Ibu Sari dan para pengasuh lainnya yang sudah duduk bersila menunggu.

Isaac segera berbalik dan melangkah lebar menaiki tangga. Di atas, ia sudah disambut oleh Pak Reyhan dan Pak Arvino, dua pria kepercayaan yang selama ini bertugas sebagai supir dan penjaga keamanan panti.

"Pagi, Pak Isaac. Biar kami yang bawa koper-koper besarnya," ujar Pak Reyhan sigap.

"Terima kasih, Pak. Tolong bawa yang dua ini dulu, saya akan bawa tas jinjing dan koper kecil milik Luna," sahut Isaac.

Ketiga pria itu mulai sibuk memindahkan barang-barang dari lantai dua menuju bagasi mobil SUV hitam milik Isaac. Mobil itu memang dirancang untuk medan perbukitan dan memiliki ruang kabin yang luas, namun karena Isaac membawa tiga koper ukuran jumbo serta beberapa tas tambahan berisi kebutuhan medis Luna, bagasi belakang tidak sanggup menampung semuanya.

"Wah, penuh sekali ya, Pak," gumam Pak Arvino sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat melihat koper terakhir tidak bisa masuk.

Isaac mengamati ruang dalam mobilnya sejenak. "Tekuk saja kursi baris ketiga, Pak Arvino. Kita tidak membawa penumpang lain hari ini, jadi jadikan area belakang sebagai ruang bagasi tambahan. Pastikan ikatannya kuat agar tidak bergeser saat kita melewati tikungan tajam di bawah nanti."

Sembari Pak Reyhan dan Pak Arvino menata barang, Isaac menarik kedua pria itu sedikit menjauh dari kerumunan anak-anak. Raut wajahnya berubah menjadi sangat serius, namun tetap teduh.

"Pak Reyhan, Pak Arvino," panggil Isaac. "Selama saya dan Luna tidak ada di sini untuk beberapa bulan ke depan, saya menitipkan panti ini sepenuhnya kepada kalian dan Ibu Sari. Tetaplah setia pada pekerjaan kalian seperti biasanya. Kejujuran adalah hal utama yang saya pegang di yayasan ini."

"Tentu, Pak Isaac. Jangan khawatirkan kami," jawab Pak Reyhan mantap.

"Satu hal lagi," tambah Isaac, matanya menatap tajam ke arah anak-anak yang sedang berbincang dengan Luna di dalam. "Jika anak-anak melakukan kesalahan—dan mereka pasti akan melakukannya karena mereka sedang tumbuh—jangan ragu untuk menegur. Ajarkan mereka disiplin. Tapi, saya minta tolong... jangan gunakan nada tinggi atau kekerasan verbal. Gunakan cara yang tegas tapi mendidik. Saya ingin mereka merasa panti ini adalah rumah yang aman, bukan barak militer."

Pak Arvino mengangguk paham. "Kami mengerti, Pak. Kami akan menjaga mereka seperti anak-anak kami sendiri."

Sementara itu, di dalam ruang tengah, suasana terasa jauh lebih emosional. Luna dikelilingi oleh empat belas pasang mata yang penuh rasa rindu sebelum perpisahan itu benar-benar terjadi. Sari duduk tepat di samping Luna, memegangi ujung lengan baju Luna dengan erat.

"Kak Luna, di kota nanti... apakah Kakak akan lupa pada kami karena ada adik bayi?" tanya Bumi dengan suara yang sedikit bergetar.

Luna segera merangkul bahu Bumi, menariknya mendekat. "Bumi, dengar Kakak. Tidak ada satu pun hal di dunia ini yang bisa membuat Kakak lupa pada kalian. Kalian adalah anak-anak Kakak yang pertama. Adik bayi di sini justru akan sangat senang kalau tahu dia punya empat belas kakak laki-laki dan perempuan yang hebat seperti kalian."

"Tapi Kakak akan lama di sana," gumam Bimo sembari menunduk.

"Hanya sementara, Sayang. Sampai adik bayi cukup kuat untuk menghirup udara dingin perbukitan kita," jelas Luna lembut. "Kalian harus janji pada Kakak satu hal. Selama Kakak di kota, kalian harus rajin belajar dan membantu Ibu Sari. Jangan nakal, jangan membuat keributan yang bisa membuat Ibu Sari pusing, ya?"

"Kami janji, Kak!" seru mereka serentak, meski ada beberapa anak yang sudah mulai mengusap sudut mata mereka.

Ibu Sari mengusap punggung Luna, memberikan kekuatan. "Jangan khawatirkan mereka, Luna. Fokuslah pada kesehatanmu dan janinmu. Kabar kesehatanmu di kota adalah hadiah terbaik bagi kami di sini."

Isaac masuk kembali ke ruang tengah, menandakan bahwa semua persiapan telah selesai. Suasana mendadak menjadi sangat haru. Satu per satu anak-anak panti berdiri dan mengantre untuk menyalami Isaac dan memeluk Luna.

Momen itu terasa sangat panjang. Maya dan Hani menangis sesenggukan saat memeluk Luna, membuat Luna ikut meneteskan air mata. Isaac yang biasanya tampil dingin, kali ini tampak berulang kali menarik napas panjang dan mengusap pundak anak-anak laki-laki dengan penuh kasih. Ia bahkan memberikan pelukan singkat pada Bumi dan Bimo, seolah memberikan kepercayaan bahwa mereka adalah "pria" yang harus menjaga panti selama ia pergi.

"Sudah, sudah... jangan menangis terus. Nanti Kak Luna ikut sedih," ujar Isaac sembari membimbing Luna berdiri.

Setelah berpamitan dengan Ibu Sari dan para pengasuh lainnya, mereka berdua berjalan menuju mobil. Anak-anak mengikuti hingga ke teras depan, berdiri berjajar melambaikan tangan. Isaac membantu Luna masuk ke kursi penumpang depan, memasangkan sabuk pengaman, dan memastikan suhu kabin sudah pas.

Mesin SUV hitam itu menderu halus, memecah kesunyian pagi. Saat mobil perlahan mulai bergerak meninggalkan halaman panti, Luna terus melambaikan tangan melalui jendela yang terbuka hingga sosok anak-anak dan bangunan panti itu mengecil dan akhirnya menghilang di balik tikungan jalan yang rimbun oleh pohon pinus.

"Kau baik-baik saja?" tanya Isaac sembari menggenggam tangan Luna dengan satu tangan lainnya di kemudi.

Luna mengangguk, menyandarkan kepalanya di jok mobil dan menghela napas panjang. "Hanya sedikit sedih, Mas. Tapi aku tahu ini keputusan yang benar. Terima kasih sudah mengurus semuanya tadi."

"Kita akan sering pulang, Luna. Dan ingat, Rian sudah menunggu kita di kota," ujar Isaac mencoba menghibur.

Mobil terus melaju menuruni perbukitan, meninggalkan jejak kenangan di atas bukit menuju kehidupan baru yang lebih sibuk di pusat kota. Di belakang mereka, perbukitan itu tetap berdiri kokoh, menjaga janji bahwa suatu hari nanti, mereka akan kembali dengan anggota keluarga baru yang akan melengkapi kebahagiaan di The Dendra Foundation.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!