"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Saat tengah kebingungan, Melisa akhirnya teringat pada perkataan Mbak Ayu tadi pagi. Tanpa pikir panjang, Melisa segera melihat jam dinding. Sudah hampir pukul satu siang. Mbak Ayu pasti sudah pulang, pikirnya penuh harap.
Ia pun bergegas menuju kamar wanita paruh baya itu dan mengetuk pintunya dengan ragu.
"Permisi, Mbak..." panggilnya lirih.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Mbak Ayu muncul dengan masih mengenakan seragam kerjanya, keringat tipis tampak di pelipisnya.
"Meli? Ada apa?" tanyanya dengan nada heran.
Melisa menunduk sedikit, terlihat gugup.
"Ini, Mbak... Meli mau minta tolong. Mbak ada baju bayi bekas, nggak? Kalau ada, boleh Meli pinjam dulu?"
Mbak Ayu terdiam sejenak. Matanya menatap wajah Melisa yang tampak letih dan tegang.
"Sebentar ya, Mbak cari dulu. Siapa tahu ada baju anak Mbak yang kebawa dari kampung," ucapnya akhirnya.
Melisa mengangguk cepat dan berdiri di depan pintu, menanti dengan penuh harap. Jantungnya berdegup kencang. Tidak hanya karena butuh baju, tapi juga karena ada rasa takut kalau-kalau Mbak Ayu jadi curiga lebih dalam.
Beberapa menit kemudian, Mbak Ayu kembali dengan setumpuk kecil baju bayi yang warnanya sudah memudar.
"Ini, Mel. Cuma segini. Nggak bagus lagi sih, udah lama... tapi masih bisa dipakai," ucapnya sambil menyerahkan baju-baju itu.
Melisa menerimanya dengan senyum lega.
"Terima kasih banyak, Mbak... ini sangat membantu."
Mbak Ayu memandang Meli sejenak, lalu menepuk bahunya.
"Ya udah, sekalian Mbak bantuin mandiin bayinya, ya. Tapi abis itu kamu harus cerita. Dari mana bayi-bayi itu bisa ada sama kamu."
Melisa terdiam, lalu mengangguk pelan. Ia tahu cepat atau lambat, ia memang harus menjelaskan semuanya.
"Iya, Mbak. Meli bakal cerita semuanya..."
Tanpa banyak tanya lagi, Mbak Ayu pun ikut masuk ke kamar Melisa. Suasana kamar sempit itu langsung dipenuhi aroma bayi dan sedikit aroma susu tumpah. Kedua bayi tampak mulai mengantuk namun tetap gelisah. Melisa menghela napas.
Setelah selesai memandikan kedua bayi dengan bantuan Mbak Ayu, Melisa juga sempat keluar sebentar ke minimarket terdekat untuk membeli popok bayi. Kini, dua bayi mungil itu telah tertidur pulas di atas ranjangnya, dibalut kain bersih dan pakaian bekas pemberian Mbak Ayu. Suasana kamar yang sempit itu terasa lebih tenang, meski kelelahan masih menggantung di wajah Melisa.
Mbak Ayu duduk di tepi kasur, menatap kedua bayi yang tampak damai dalam tidur mereka.
"Nah, sekarang kamu cerita, Mel," ucapnya, suaranya tegas namun lembut. "Kenapa dua anak ini bisa sampai ada di sini? Jangan bilang ini anak kakak temen kamu lah, mosok temennya nitip bayi nggak bawa baju ganti sama sekali?"
Melisa menghela napas panjang, lalu duduk bersila di lantai, menyandarkan tubuhnya ke dinding. Ia tahu saatnya berkata jujur. Maka, ia pun menceritakan semua, dari malam sebelumnya ketika ia menemukan kedua bayi itu di dalam kotak di gang sepi, suara tangisan lirih yang memecah sunyi, sampai kejadian di kantor polisi yang memperlakukannya seolah-olah ia ibu dari anak-anak itu.
Mbak Ayu mendengarkan tanpa menyela, matanya sesekali berkaca-kaca, apalagi saat Meli menceritakan bagaimana petugas menuduh dan mempermalukannya.
"Astaghfirullah... emang dasar ya, kadang yang berseragam pun bisa nggak punya hati," gumam Mbak Ayu, nada suaranya kesal. "Orang udah jelas nolongin, kok malah dituduh. Memangnya mudah ya lahirin anak dua sekaligus tanpa orang lain tahu? Lucu aja pikirannya."
Melisa hanya tersenyum tipis, kelelahan masih tampak di wajahnya.
"Kalo saran Mbak sih, Mel," lanjutnya pelan, "kamu pikirin baik-baik. Mbak ngerti kamu kasihan sama bayi-bayi ini. Tapi kamu juga harus sadar, kamu masih kuliah, masih banyak yang harus kamu urus. Gimana kamu mau rawat dua bayi sekaligus? Mending kamu titipin mereka ke panti asuhan yang terpercaya. Di sana kan ada yang bisa rawat mereka."
Melisa terdiam. Matanya beralih ke arah bayi-bayi itu. Ada sesuatu yang menancap di hatinya sejak pertama kali ia melihat mereka—rasa iba, rasa takut, rasa ingin melindungi, semua bercampur jadi satu. Tapi benarkah ia mampu?
"Iya, Mbak... nanti Meli pikirin lagi, pelan-pelan..." jawabnya pelan.
Mbak Ayu menepuk bahu Meli pelan sebelum berdiri. "Udah ya, Mbak balik ke kamar dulu, mau rebahan bentar. Kalau butuh bantuan lagi, jangan sungkan ya."
Setelah kepergian Mbak Ayu, Melisa akhirnya membaringkan tubuhnya di lantai, tepat di bawah ranjang. Baru saja ia memejamkan mata, suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar keras.
Meli mengerjap. "Siapa lagi sih? Mbak Ayu, balik lagi?" gumamnya setengah sadar, lalu bangkit dan menuju pintu.
Begitu pintu dibuka, suara melengking khas Diana langsung membahana. "MELISAAA! Lo kemana aja?! Kenapa nggak masuk kuliah? Kita khawatir banget tau!"
Melisa langsung menyipitkan mata mendengar teriakan itu. "Pelan-pelan, Na. Jangan teriak-teriak, please..."
Di belakang Diana, Riki muncul dengan wajah tengil nya. "Ehem... kita nggak boleh masuk nih? Atau harus reservasi dulu?"
Melisa menghela napas, menahan senyum kecil. "Masuk, masuk. Tapi tolong... jangan berisik ya."
Diana langsung melangkah masuk, membuka sepatu di ambang pintu. Tapi baru dua langkah menjejak lantai kamar, matanya melebar.
"Emang kenapa sih—YA AMPUN! BAYI?! BAYI SIAPA INI?!" teriaknya nyaris histeris, menatap dua bayi mungil yang tidur di atas ranjang Melisa.
Riki pun langsung melongok dari balik punggung Diana, matanya membulat.
"Mel... jangan bilang... lo punya anak kembar diam-diam?"
Melisa langsung menepuk dahinya, pasrah.
“Ya Tuhan, tolong kuatkan aku,” gumamnya lirih sebelum akhirnya menutup pintu dan bersiap untuk menjelaskan segalanya... lagi.