Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Konfrontasi Tiga Arah & Amarah Calix yang Membakar
"Lepaskan tangan kotor milikmu itu dari tubuh istriku sebelum aku membuat tangan itu patah selamanya."
Suara berat Calix yang sedingin es menyapu lobi hotel, membuat suasana seketika terasa mencekam. Naren tersentak. Ia menatap pria matang berjas mahal di hadapannya, lalu beralih menatap Mireya dengan mata yang dipenuhi luka mendalam. Cengkeramannya pada lengan Mireya perlahan terlepas, jatuh tak berdaya di sisi tubuhnya.
"I-Istri...?" Naren terbata, suaranya parau menahan sesak yang tiba-tiba menghantam dadanya. Ia menggelengkan kepala, menatap Mireya tak percaya. "Reya... apa yang dikatakan pria ini? Kamu sudah menikah? Kenapa... kenapa secepat ini?"
Mireya tidak sanggup menjawab. Ia hanya bisa menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang kini dibanjiri air mata yang kian deras. Bahunya berguncang hebat. Di satu sisi, hatinya hancur melihat Naren yang begitu tulus mencarinya hingga ke kota. Di sisi lain, ia tahu betul betapa kejamnya Calix jika ada yang berani mengusik miliknya—sekalipun kepemilikan itu hanya sebatas kertas kontrak rahim.
Calix melangkah lambat, mendekati Mireya. Setiap ketukan pantofelnya di atas lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan Mireya. Pria itu dengan protektif menarik pinggang Mireya, merapatkan tubuh gadis itu ke dadanya, mempertegas dominasi dan haknya atas Mireya di depan pemuda berseragam sopir tersebut.
"Siapa bajingan ini, Mireya?" tanya Calix, nadanya datar namun sarat akan ancaman maut. Matanya mengunci iris mata Mireya yang basah, mengabaikan keberadaan Naren seolah pemuda itu tak lebih dari sebutir debu.
"Dia... dia bukan siapa-siapa, Calix," cicit Mireya dengan suara serak, mencoba melindungi Naren dari murka sang miliarder. "Kumohon, ayo kita pergi dari sini. Jangan buat keributan."
"Bukan siapa-siapa?" Naren menyela, suaranya naik satu oktav karena emosi yang meluap. Langkah kakinya maju, mencoba merebut Mireya kembali, namun Doni dengan sigap menghadang dada Naren dengan lengan kekarnya. "Reya! Aku ini pacarmu! Kita bahkan belum sempat bicara sejak Papa Ardan menjemputmu paksa! Bagaimana bisa kamu bilang aku bukan siapa-siapa?!"
Mendengar kata 'pacar', rahang Calix mengeras seketika. Sorot matanya yang semula dingin kini berkilat dipenuhi amarah yang membakar. Ia menatap Naren dengan tatapan merendahkan yang teramat nyata.
"Pacar?" Calix mendengus sinis, sebuah tawa pendek yang kejam lolos dari bibirnya. "Rupanya tikus desa yang tertinggal. Dengar, Anak Muda. Gadis yang sedang kamu tangisi ini sudah menandatangani dokumen sah sebagai milikku. Tubuhnya, rahimnya, dan seluruh hidupnya selama satu tahun ke depan adalah hak mutlakku karena aku sudah membayar hutang keluarganya senilai lima puluh miliar."
Naren terpaku di tempatnya, wajahnya mendadak pias, seolah seluruh darahnya disedot habis. "Membayar... lima puluh miliar? Rahim?" Naren menatap Mireya dengan pandangan yang kian hancur. "Reya... jadi rumor di desa itu benar? Kamu... kamu menjual dirimu pada pria tua ini demi uang?"
"Cukup, Naren! Pergilah!" jerit Mireya akhirnya, memecah keputusasaannya. Ia tidak tahan lagi dicap sebagai wanita pemuja uang oleh pria yang dicintainya, meski kenyataannya ia memang terikat kontrak itu demi Aiden. "Pergilah ke desa, jaga Nenek! Jangan cari aku lagi di kota ini! Kehidupan kita sudah berbeda!"
"Tapi aku mencintaimu, Reya!" Naren berteriak, air matanya kini ikut luruh, membasahi seragam sopirnya yang tampak kontras dengan kemewahan di sekitar mereka. "Aku bekerja keras di sini untuk menjemputmu!"
"Doni," panggil Calix pendek, suaranya kembali datar namun dinginnya mematikan. "Urus tikus ini. Pastikan dia dipecat dari hotel ini hari ini juga, dan pastikan tidak ada satu pun perusahaan atau jasa transportasi di kota ini yang sudi mempekerjakannya lagi."
"Baik, Tuan Besar," jawab Doni tegas, langsung mencengkeram lengan Naren dengan kuat untuk menyeretnya menjauh.
"Tidak! Calix, jangan! Kumohon jangan lakukan itu pada Naren!" Mireya memohon secara histeris, mencengkeram kemeja Calix dengan kedua tangannya yang gemetar. "Dia tidak salah apa-apa! Aku yang salah! Hukum aku saja, tapi jangan hancurkan pekerjaannya!"
Naren yang diseret paksa terus berteriak, "Reya! Aku akan menyelamatkanmu! Aku tidak peduli dengan uang pria itu! Reya—!" Suara Naren perlahan menjauh dan menghilang di balik pintu koridor servis, meninggalkan Mireya yang jatuh berlutut di atas marmer dingin lobi hotel, menangis sejadi-jadinya dengan dada yang terasa remuk.
Calix menunduk, menatap Mireya yang bersimpuh di kakinya dengan tatapan tanpa ampun. Amarahnya karena fakta bahwa Mireya pernah memiliki pria lain benar-benar telah membakar habis sisa kesabarannya malam ini. Tanpa sepatah kata pun, Calix mencengkeram lengan atas Mireya dengan kasar, memaksanya berdiri tegak kembali.
"Masuk ke mobil," perintah Calix dingin, suaranya bergetar menahan amarah yang siap meledak.
"Kamu kejam, Calix... Kamu monster tidak punya hati," rintih Mireya di sela tangisnya saat Calix mendorongnya masuk ke dalam kursi belakang Rolls-Royce yang gelap.
Calix ikut masuk, membanting pintu mobil dengan keras hingga menimbulkan dentuman yang menggema. Mobil mewah itu segera melesat membelah jalanan kota yang mulai gelap, meninggalkan hotel dengan atmosfer yang masih terasa mencekam di dalam kabin.
Selama perjalanan, tidak ada suara selain isak tangis Mireya yang tertahan. Calix duduk bersedekap dada di sampingnya, memandang lurus ke depan dengan rahang yang mengatup rapat. Hawa di dalam mobil terasa begitu panas dan menekan, membuat Mireya bahkan tidak berani untuk menoleh sekilas pun.
Begitu mobil sampai di pelataran mansion, Calix langsung menarik pergelangan tangan Mireya tanpa membiarkan gadis itu melangkah sendiri. Ia menyeret Mireya menyusuri tangga melingkar, menuju kamar utama mereka di lantai atas. Beberapa pelayan yang berpapasan langsung menundukkan kepala dengan takut melihat gurat amarah di wajah sang majikan.
Brak!
Calix menghempaskan tubuh Mireya ke atas ranjang king-size setelah menutup pintu kamar dengan tendangan keras. Mireya meringis, menahan rasa sakit pada pinggangnya yang terbentur kasur empuk. Ia segera bergerak mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang, menatap Calix dengan mata bulat yang dipenuhi ketakutan.
"Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali untuk tidak membawa masa lalumu ke dalam rumah ini, Mireya," geram Calix, menanggalkan jasnya dengan kasar dan melemparkannya ke lantai. Ia mulai membuka kancing kemejanya satu per satu sambil melangkah mendekati ranjang.
"Aku tidak pernah berniat membawanya! Pertemuan tadi murni ketidaksengajaan!" bela Mireya, suaranya serak karena terlalu banyak menangis. "Naren hanya masa laluku yang belum sempat kuselesaikan karena Papa dan Mama memaksaku ikut ke kota!"
"Masa lalu?!" Calix merangkak naik ke atas ranjang, mengurung tubuh Mireya di bawah kungkungannya. Sepasang matanya yang gelap menatap lurus ke dalam iris mata Mireya dengan intensitas yang mengerikan. "Masa lalu yang sampai membuatmu menangis histeris di kakiku demi melindunginya? Dengar, Mireya. Selama rahimmu belum menghasilkan anakku, kamu adalah milikku. Jiwamu, tubuhmu, dan pikiranmu tidak boleh sedetik pun memikirkan pria lain!"
"Kamu egois, Calix! Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang! Kamu sendiri yang mengatakannya!" teriak Mireya, mencoba menepis tangan Calix yang mulai mencengkeram dagunya dengan erat.
"Ya, dan karena aku sudah membayar lima puluh miliar untuk rahim itu, maka aku berhak memastikan tidak ada satu pun bayangan pria lain yang mengotori pikiran wanita yang sedang mengandung anakku," bisik Calix serak, wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Mireya. Aroma alkohol dan amarah perpaduan kayu cendana dari tubuh Calix menjajah seluruh kesadaran Mireya.
"Lepas... hiks... perih, Calix..." rintih Mireya saat merasakan cengkeraman Calix di dagunya kian mengencang, sementara tangan pria itu yang lain mulai bergerak merayap naik menyibak gaunnya tanpa kelembutan sama sekali.
"Menangislah sesukamu, Mireya. Sebut nama pacar desamu itu sesukamu di dalam hatimu," geram Calix rendah, suaranya pecah menjadi bisikan gairah yang gelap dan berbahaya tepat di depan bibir Mireya yang bergetar. "Karena malam ini, aku akan memastikan tubuhmu mengingat dengan sangat jelas, siapa pria yang sesungguhnya memiliki hak mutlak atas dirimu."
Sebelum Mireya sempat mengeluarkan jeritan protesnya lagi, Calix sudah membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman yang kasar, dalam, dan penuh tuntutan yang membakar habis seluruh sisa kekuatan pertahanan Mireya malam itu.
semangat terus ya Thor...