NovelToon NovelToon
Cintaku Bersemi Di Desa

Cintaku Bersemi Di Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Susanti 31

Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.

Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.

"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.

"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."

"Matamu, Mbak!"

Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.

Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salting

"Apa mungkin Jani merindukan saya?" Ikhram senyum-senyum sendiri memandangi ponselnya. Bagaimana tidak, ia mendapatkan beberapa panggilan tidak terjawab dari istrinya.

Tidak salah bukan geer untuk kesenangan dirinya?

Ia melajukan motor merah putihnya meninggalkan dinas pendidikan. Meski urusannya tidak berjalan lancar, setidaknya ada istri cantik yang menunggunya di rumah.

Jalanan aspal setengah berlubang tidak menghalangi perjalanan Ikhram. Tanjakan banyak bebatuan sudah biasa ia lewati. Beginilah jauhnya pedesaan ia tinggali dari jalan raya. Melewati dua desa dan beberapa dusun.

Ikhram sempat bertanya-tanya, kemana pemerintah setempat sehingga tidak berniat untuk memperbaiki jalan di desa masing-masing. Apa mungkin mereka tinggal di kota atau jalan raya? Sehingga tidak melihat kacaunya jalanan pedesaan? Apalagi saat musim hujan.

Menempuh kurang lebih setengah jam, ia tiba di toko ibunya. Toko sepi, hanya ada karyawan yang sibuk menyetok barang atau melayani pembeli singgahan.

"Jani mana Bu?" tanya Ikhram menyalami ibunya. Setelah panggilan tidak terjawab, dia mendapatkan pesan bahwa Rinjani akan jalan-jalan ke toko.

"Tidurki di dalam, capeki kapan itu istrimu."

"Kok?" Kening Ikhram mengerut.

"Banyak barang datang tadi terus ada karyawan izin jadi na bantu ibu susun barang kodong."

"Masuka pale dulu Bu."

Ikhram melewati meja kasir untuk memasuki ruangan di mana ibu dan ayahnya tinggal jika malas pulang ke rumah. Terlebih jalan raya sedikit lebih dekat dibandingkan tempat tinggal mereka.

Sudut bibir Ikhram membentuk setengah lingkaran melihat Rinjani meringkuk di sofa memeluk guling. Jika diam seperti ini kecantikan Rinjani bertambah. Jangan tanyakan jika sudah mengamuk, melebihi sumala.

Ikhram mengambil kipas kecil di dalam laci, berlutut dan mengarahkan anginnya pada Rinjani. Ia merasa kipas di dalam ruangan itu kurang sebab Ikhram melihat keringat di kening.

"Semoga semuanya cepat teratasi agar saya nggak menghambat kepergianmu ke jakarta," gumam Ikhram.

"Ikhram?" Rinjani bergumam tanpa membuka matanya. "Saya punya bukti," lanjutnya dan menarik tangan Ikhram yang memegang kipas angin.

Posisi yang semula berjongkok kini berlutut dan hidungnya hampir menyentuh hidung Rinjani sebab hilang keseimbangan.

Ikhram menahan napas, terlebih napas hangat Rinjani menguasai area lehernya. Ia memejamkan mata.

"Kendalikan dirimu Ikhram, istrimu mudah mengamuk," batinnya.

Ia menarik tangannya cepat hendak menghindar, tetapi kedatangan ibunya malah membuat dia melakukan hal ceroboh. Niat hati bersembunyi, malah bibirnya menyentuh bibir pink milik Rinjani.

Mata Ikhram terpejam, tetapi tidak dengan Rinjani. Kelopak mata wanita itu terbuka dan melotot.

"Ikhram!" Mendorong Ikhram sangat kuat.

"Ma-maaf saya nggak sengaja. Tadi saya itu-anu lagi ...." Sungguh Ikhram kehabisan kata-kata.

Beruntung ibunya sudah berlalu, entah apa yang membuat ibunya memasuki ruangan tidak terlalu luas tersebut.

"Mau es krim?" tawar Ikhram.

Rinjani hanya diam saja dengan posisi duduk dan mengerjapkan mata pelan. Sikap itu Ikhram artikan sebagai bentuk kemarahan. Ia berlalu untuk mengambil es krim. Salah satu senjata paling ampuh untuk meredam emosi atau tangisan Rinjani, itu 20 tahun yang lalu. Entah sekarang.

Tanpa sadar Ikhram tersenyum tipis di depan lemari es krim. Menyentuh bibirnya, sensasi ciuman tidak sengaja itu masih terasa sampai saat ini.

"Pak Ikhram mau makan es krim?" tanya karyawan.

"Iya." Menormalkan ekpresinya.

Ikhram mengambil varian rasa coklat hendak membawakan ke ruang istirahat tetapi Rinjani sudah duduk di area kasir. Masih diam dan tatapan kosong.

"Biar lebih segar."

Rinjani meraihnya. "Kamu nyium saya tadi?"

Pertanyan itu mengundang perhatian kasir, pelanggang dan dua karyawan lainnya.

Telingan Ikhram langsung memerah, dia tidak tahu bahwa Rinjaninya sekarang kadang bicara tanpa difilter dan lihat tempat.

"Lupakan saja." Rinjani mengibaskan tangannya. Menikmati es krim pemberian Ikhram sembari fokus pada laptop. Tadi dia sedang mengerjakan desain ketika barang mertuanya datang.

Berkali-kali Rinjani berusaha fokus, tetapi pikirannya masih tertuju pada kejadian tadi. Dia yakin itu mimpi, tapi kenapa bibirnya merasakan hal seperti nyata?

Dia diam-diam melirik Ikhram yang sibuk di lorong rak. Mengelengkan kepala cepat.

"Nggak mungkin Ikhram melakukannya," gumam Rinjani.

"Kenapaki kak? Butuhki obat?" tanya sang kasir.

"Nggak, hanya sedikit pusing dengan pekerjaan. Sepertinya saya harus pulang." Rinjani mematikan laptop dan bersiap untuk pulang.

"Mauki pulang Nak?"

"Iya Bu, sudah sore."

"Ikhram mau pulang istrimu eh. Pulang maki juga Nak," panggil bu Tika.

"Iye Bu." Ikhram yang tadi sok sibuk karena salah tingkah segera menghampiri ibu dan istrinya.

"Tunggu sebentar nah."

Bu Tika mengelilingi beberapa rak untuk mengambil cemilan. Tadi dia sudah menawarkan berulang kali tetapi tidak satu pun Rinjani ambil.

Padahal semalam saat Ikhram mampir, putranya itu mengatakan membeli cemilan titipan Rinjani.

"Bawa pulang untuk istrimu." Bu Tika mengulum senyum, apalagi mengingat momen tadi yang membuat keduanya canggung.

.

.

.

Untungnya Jani cuma anggap mimpi😅

1
Teh Yen
nah loh mel selain tidak setia atasan mulutmu Tidka d jaga pula hihii 😁 Suami yah Mel suami atasanmu itu bukan sepupunya ingat itu
Teh Yen
kan kan Jani jd bodoh Karena adrian.yg terus gangguin dia huuh untung aj kmr zira nyelamatin kamu Jani huft
Teh Yen
kenapa kamu berpikir pendek Jani huuh 😤 sebenarnya apa yg membuat kamu putus asa apakah ancaman Adrian
Maria Kibtiyah
lanjut
sryharty
hayooo semangat para calon nenek dan kakek,,
sryharty
setia banget ko yah
Rista Awwalina
lah..pintar tp polos 🤣
sryharty
Aisssss janiiii
sryharty
ya Allah yg sabar ya ka,,padahal ceritanya bagus
jangan end di tengah jalan ya ka,,,

noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
Rohmi Yatun
semangat thor.. ceritanya bagus kok..
lanjut sampe end ya thor🙏
Rohmi Yatun: siaappp👍
total 2 replies
Maria Kibtiyah
akhirnya si jani sadar juga
sryharty
ayo iklan tanyakan dulu Jani hamil berapa Minggu
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
Teh Yen
ikram.pasti datang terlepas dari perkataan Jani kemarin padanya ,,,.kamu Tidka sendiri Jani andai kamuu cerita kegelisahan mu pada ikram suamimu semuanya pasti akan baik baik saja
Teh Yen
Jani kenapaki.jahat.kali.sama Ikram hmmm???
Bucinnya Nunu ☆•,•☆: Cie udah mulai ngerti bahasa makassar😅
total 1 replies
Arsyad Algifari.
ga mau komen karena Jani dan iklan berpisah 😪😪😪
sryharty
pasti datang wong iklan wes kecintaan banget sama jani🤭🤣
sryharty
coba cek darah hamilnya udah berapa Minggu,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,
Maria Kibtiyah
hadehhh ruwet bgt hidup si jani mangkanya jngn dp duluan
Rista Awwalina
brati bukan cinta sejati, ikhlaskan saja.
sryharty
udah ikram biarkan Jani sama keputisannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!