Elara Safira Nirmala hanyalah gadis yatim piatu biasa di dunia modern, ia ditinggal oleh orang tuanya sejak kecil dan dia tinggal di kos-kos an sederhana di salah satu kota. Pagi itu Elara hanya ingin pergi ke sekolahnya tetapi ada suatu yang terjadi padanya, ada sebuah tragedi membuatnya terbangun sebagai Elara Mirabel Astoria, lady terbuang dan tak berguna di kerajaan kuno, dengan kemampuan modern yang canggung dan komentar sarkastiknya Elara harus bertahan di tengah drama keluarga bangsawan, intrik politik, dan mungkin sedikit cinta yang tak terduga. Langsung baca aja yuk ceritanya daripada penasaran!!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ꧁Diajeng rini꧂, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Tiga bulan berlalu seperti hembusan angin bagi Elara, namun terasa seperti ribuan tahun bagi hukum alam yang berhasil ia obrak-abrik. Di depan pintu masuk gua yang kini sudah tidak semenakutkan dulu, sebuah kereta kuda mewah dengan lambang kerajaan bersandar dengan anggun. Kaelen berdiri di samping kereta, mengenakan jubahnya yang rapi, menatap ke arah gua dengan ekspresi antara cemas dan tidak sabar dengan hasil latihan Elara.
"Kek serius nih aku harus pergi? Nanti kalau kakek kangen sama aku gimana? Ngga ada lagi loh yang bakal ngeledek jenggot kakek mirip sapu ijuk opahnya Upil Ipil" Elara meratap sambil memegangi ujung jubah Kakek Zoff, aktingnya sudah selevel aktris pemenang Oscar yang sedang syuting adegan perpisahan tragis.
Kakek Zoff hanya berdiri tegak dengan wajah sedatar tembok gua. Matanya menatap langit-langit seolah sedang menghitung berapa detik lagi sampai telinganya merdeka dari suara cempreng Elara "Pergilah, hutan ini sudah terlalu tenang sejak kau berhenti meledakkan pohon setiap pagi"
"Kakek jahat ihhh, padahal aku udah anggap kakek kaya... kaya kakek kandungku sendiri yang suka marah-marah tapi sayang" Elara menyeka air mata imajiner di pipinya. Ia kemudian beralih ke arah Rhea dan Mina yang sudah rapi dengan perlengkapan tempur mereka "Rhea Mina, liat kan? Kakek Zoff sebenernya sedih, dia cuma gengsi aja karena takut jenggotnya basah kena air mata"
Rhea hanya berdehem canggung sementara Mina mati-matian menahan tawa melihat wajah Kakek Zoff yang sudah mulai berkedut karena kesal.
"Lady, Pangeran Kaelen sudah menunggu cukup lama" bisik Mina pelan.
"Bentar Mina, ini momen bersejarah" Elara kembali menatap Kakek Zoff lalu tiba-tiba ia berlutut dengan dramatis "Terima kasih atas segala ilmunya Kakek, berkat kakek aku ngga perlu lagi bawa linggis kemana-mana. Sekarang aku bisa bikin orang pingsan cuma pakai jentikan jari yang estetik"
Kakek Zoff menghela napas panjang, lalu tangannya bergerak cepat memukul pelan dahi Elara dengan tongkat kayunya "Sudah berhenti jadi orang aneh, ingat pesanku, sembunyikan manamu. Jangan sampai kau meledakkan Mansion Astoria di hari pertamamu sampai di sana. Dan satu lagi..." Kakek Zoff terdiam sejenak dan matanya sedikit melunak "Jangan biarkan mereka merendahkanmu lagi, kau adalah sesuatu yang tidak sanggup mereka pahami"
Elara tertegun sejenak kemudian senyum aslinya muncul "Siap Kek. Aku bakal bikin mereka semua melongo sampai lalat bisa masuk ke mulut mereka"
Kaelen mendekat menatap Elara dengan pandangan takjub. Ia merasa ada yang berbeda dari gadis di depannya ini. Elara tampak lebih tenang, lebih bersinar dan ada tekanan tak kasat mata yang membuatnya terlihat sangat berwibawa meski kelakuannya masih seperti anak ajaib.
"Ayo Elara. Semua sudah menunggumu. Dan kurasa... mansion Astoria juga perlu melihat Lady mereka yang baru" ucap Kaelen sambil mengulurkan tangannya.
Elara menyambut tangan Kaelen, lalu sebelum naik ke kereta ia berbalik dan berteriak sekali lagi ke arah gua "KEK! JANGAN LUPA MANDI! JENGGOTNYA DIKERAMASIN PAKAI SHAMPO BIAR WANGI STROBERI!"
Kakek Zoff hampir saja melempar tongkatnya kalau saja kereta itu tidak segera melaju "Pergilah bocah gila! Semoga Mansion Astoria cukup kuat menahan kegilaanmu!" gumamnya sambil tersenyum tipis menatap debu kereta yang perlahan menghilang di balik pepohonan Hutan.
___
Kereta kuda itu berguncang pelan melewati jalanan setapak hutan yang mulai terbuka. Di dalamnya suasana mendadak terasa lebih sempit dari biasanya. Elara menyandarkan kepalanya mencoba mengusir rasa kantuk setelah drama perpisahan yang menguras tenaga sementara Kaelen duduk tepat di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ada sesuatu di pipimu" suara berat Kaelen memecah kesunyian.
Belum sempat Elara meraba wajahnya Kaelen sudah condong ke depan. Wangi maskulin campuran kayu cendana dan aroma hujan dari jubah sang Pangeran mendadak menyerbu indra penciuman Elara. Jari Kaelen menyentuh kulit pipi Elara dengan sangat lembut mengusap sisa debu dari gua tadi.
Elara menahan napas. Jantungnya yang biasanya sedingin es saat sedang memvisualisasikan ledakan nuklir tiba-tiba berdegup kencang seperti mesin yang konslet, jarak mereka begitu dekat hingga Elara bisa melihat pantulan dirinya di manik mata Kaelen.
"Kau jauh lebih kalem saat diam begini Elara" gumam Kaelen pelan. Matanya terkunci pada wajah Elara seolah sedang memastikan bahwa gadis di depannya ini benar-benar nyata bukan sekadar ilusi dari sihir Hutan.
Elara mengerjapkan mata mencoba mengumpulkan kesadarannya yang hampir terbang ke awan "Kalau gombal pagi-pagi begini, nanti aku bisa tiba-tiba nyosor lo pangeran, dan satu lagi tolong ya, tarif pipi aku ini mahal, jangan pegang-pegang" celetuknya berusaha merusak suasana agar jantungnya tidak makin meledak.
Kaelen terkekeh kecil namun ia tidak menjauh. Ia justru menyelipkan jemarinya di antara jemari Elara dan menggenggamnya erat.
"Ini bukan gombal dan bukan omong kosong, ini kenyataan kalau kau lebih indah saat diam" ucap Kaelen dengan nada tulus yang sanggup membuat pertahanan Elara runtuh seketika.
Elara memalingkan wajah yang mulai memerah, menatap ke jendela kereta. "Dih pinter banget ya sekarang, belajar dari mana? Jangan-jangan pas aku latihan Pangeran diem-diem baca buku " Kumpulan Gombalan Untuk Wanita" ya?"
Kaelen hanya tersenyum tipis, tidak melepas genggamannya sedikit pun sampai kereta mereka memasuki gerbang ibu kota...
___
"Yang Mulia dia sudah keluar" lapor Oliver singkat.
Mata Xander yang biasanya sedingin es tiba-tiba berkilat terang. Ada riak kegembiraan yang meluap di dadanya, sebuah perasaan asing yang membuatnya ingin segera menyambar jubahnya dan memacu kuda ke gerbang kota "Elara? Dia sudah menyelesaikan latihannya?"
"Benar Yang Mulia, tapi..." Oliver menjeda kalimatnya sedikit ragu menatap tuannya yang tampak sudah bersiap pergi "Anda tidak bisa menemuinya sekarang. Pangeran Kaelen yang menjemputnya secara langsung. Mereka berada dalam satu kereta menuju mansion Astoria"
Seketika suasana di ruangan itu mendingin. Seringai kemenangan di wajah Xander lenyap digantikan oleh kedutan di rahangnya yang mengeras.
"Cih mengganggu saja pangeran itu" desis Xander tajam "Kenapa dia harus sok pahlawan dengan menjemputnya? Padahal aku sudah menyiapkan pengawalan rahasia"
Xander membalikkan tubuhnya membelakangi Oliver berpura-pura kembali menatap peta di meja kerja agar asistennya tidak melihat perubahan emosinya yang drastis. Setelah Oliver membungkuk hormat dan keluar dari ruangan, topeng "Pangeran Dingin" yang selama ini Xander pakai runtuh seketika.
Hanya dalam kesunyian ruangan itu Xander menunjukkan sisi yang tak pernah dilihat siapa pun. Ia melipat kedua tangannya di dada dengan sangat kencang. Pipinya menggembung penuh kekesalan dan alisnya menukik tajam ke bawah hingga wajah tampannya terlihat seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainan favoritnya.
"Satu kereta? Apa-apaan itu? Memangnya mansion Astoria kekurangan kereta kuda?" gumamnya tak puas sambil menghentakkan kakinya pelan ke lantai marmer.
Xander benar-benar cemburu setengah mati. Membayangkan Elara duduk berdekatan dengan Kaelen di ruang sempit kereta selama berjam-jam membuatnya ingin meledakkan sesuatu. Ia mengambil bantal kursi di dekatnya dan memukulnya gemas. Sang Pangeran Kedua yang ditakuti seluruh benua kini hanya bisa merutuk sendirian, merasa didahului dalam perebutan perhatian sang gadis penyihir sains.
Xander heran kenapa dia merasa sangat tidak suka mendengar bahwa Elara dijemput oleh Kaelen, bukankan Xander dan Elara hanya "rekan kerja" untuk membuat kekacauan di kerajaan? Huhh tidak ada yang tahu, hanya Xander yang tahu.....
Sosok Xander lagi ngambek😩👇
kayaknya gak bakal pilih dua2nya🤣🤣🤣