Kiara adalah definisi dari wanita modern yang ambisius. Cantik, cerdas, dan gila kerja. Baginya, satu-satunya hal yang lebih seksi daripada pria tampan adalah saldo rekening yang terus bertambah.
Hingga dia bertemu mengenal Kenan Xequel.
Kenan adalah seorang CEO yang sombong menyebalkan dan sialnya sangat tampan. Dia mewarisi kerajaan bisnis Xequel Group dan terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya dengan jentikan jari.
Kiara memutuskan untuk menaklukkan hati pria sialan itu berstatus bosnya, bukan karena cinta saja tapi karena dia menginginkan segalanya.. Love and Money.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momy ji ji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 29.
Robi fokus menyetir di depan. Kenan dan Kiara duduk di kursi belakang. kenan melirik Kiara yang duduk di sampingnya dengan wajah yang sedikit ditekuk, tampak masih menyimpan sisa kekesalan dari kejadian di kantor tadi.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kenan pelan.
"Masih lecet Pak." balas Kiara singkat dan penuh arti.
Robi yang sedang menyetir mendadak mengeratkan pegangannya pada kemudi. kenapa percakapan kedua orang itu selalu mengarah kesana pikirnya.
"Apa... sesakit itu?" Memastikan.
"Ya menurut Bapak? size Bapak itu gede, ya sakitlah! coba pak kenan pikirkan pakai logika sedikit." cerocos Kiara tanpa sensor.
Kenan bukannya tersinggung justru bangga dan malah tersenyum tipis melihat Kiara marah-marah dengan wajah meronanya.
Sementara itu, Robi benar-benar ingin menghilang dari muka bumi atau setidaknya menjadi tuli seketika agar tidak perlu mendengar percakapan yang sangat dewasa ini.
"Kiara, aku mau kamu menemaniku ke rumah Mom dan Dad malam ini." ucap Kenan.
"Tapi... aku ada urusan. Aku mau mengecek penthouse baruku itu." tolak Kiara.
Ia sudah punya rencana besar untuk membantu masalah keluarga Tasya. jadi kepindahannya tidak boleh ditunda. lebih cepat maka lebih hemat waktu.
"Perlu aku temani?" tawar Kenan lagi.
"Tidak usah, Tasya dan Arkan yang membantuku. Bapak pulang saja ke rumah orang tua. yang menemaniku sudah cukup banyak. lagian tidak ada yang perlu dibersihkan pasti sudah rapi semua. hanya mau tambah beberapa barang dari kontrakan lama." jelas Kiara santai.
"Baiklah kalau begitu."
Sesampainya di restoran mewah yang sudah dipesan. ketiganya duduk di meja yang sama.
Kenan memang tidak pernah membeda-bedakan Robi jika sedang makan di luar. namun atmosfer hari ini terasa lebih berat bagi sang asisten pria itu.
"Kamu tidak ingin bertanya aku pulang ke rumah untuk apa?" tanya Kenan sembari menatap Kiara yang sedang asyik membolak-balik menu.
Kiara menggeleng mantap. Ia tidak mau tahu urusan keluarga besar Xequel karena ia merasa posisinya masih belum jelas.
"Bagaimana kalau aku pulang untuk mengiyakan Mom dan Dad yang memintaku menikah?" pancing Kenan, matanya mencari reaksi di wajah Kiara.
"Itu keputusan Pak Kenan. Bapak kan sudah dewasa, masa mau nikah saja harus saya yang atur." sahut Kiara acuh tak acuh, meski tangannya sedikit gemetar saat memegang buku menunya.
"Kamu tidak bertanya aku mau menikah dengan siapa?"
"Aku sudah tahu." jawab Kiara cepat.
"Siapa?" Kenan mencondongkan tubuhnya, merasa penasaran.
"Aku. tapi kalau Bapak mau menikah dengan wanita lain ya silakan saja. tapi saya bakal berdoa setiap malam semoga pak kenan mandul permanen. Itu balasan yang setimpal kan? Bapak yang minta saya tidur loh jadi harus tanggungjawab. jangan karena saya tolak sekali bapak mau nikah dengan yang lain." ujar Kiara dengan nada mengancam yang manis.
"Kiara! Doamu ngawur sekali!" seru Kenan kaget, namun di dalam hati ia merasa gemas dengan respond Kiara.
"Makanya jangan coba-coba pacarku yang tampan." goda Kiara sambil mengedipkan satu matanya.
Mendengar kata pacar keluar dari bibir Kiara, Kenan mendadak salah tingkah. CEO yang biasanya dingin dan tidak tersentuh itu kini terlihat sibuk sendiri. Ia buru-buru mengambil seekor udang besar dari piring saji, mengupas kulitnya dengan teliti lalu meletakkannya di piring Kiara.
"Makan yang banyak. kamu butuh tenaga untuk bergerak." gumam Kenan tanpa berani menatap mata Kiara secara langsung.
Robi yang melihat bosnya bertingkah seperti remaja yang baru jatuh cinta hanya bisa menggeleng pelan.
"Pak, butuh bantuan untuk mengupas semuanya?" tawar Robi.
Kenan melirik tajam ke arah Robi. Sorot matanya seolah berkata. Kiara itu pacarku, untuk apa kamu merasa bertanggung jawab mengurusi piringnya? Robi langsung bungkam dan kembali fokus pada makanannya sendiri.
"Oh ya Pak, mungkin akhir-akhir ini aku bakal sibuk." lapor Kiara.
"Apa urusanmu?" Kenan penasaran apa urusan wanita itu selain dirinya.
"Emh... aku mau membantu temanku, Tasya. Dia ada sedikit masalah keluarga dan aku merasa perlu mendukungnya. Ayahnya selingkuh dan menghidupi gundiknya."
Kenan mendengus.
"Kenapa harus susah-susah? tinggal kasih pelajaran fisik atau finansial. mau aku kirim orang untuk membereskan ayahnya?"
"Tidak usah, terima kasih! kami sudah punya rencana sendiri. kalau ikut rencana Bapak yang sat-set itu. ayahnya tidak akan menyesal justru makin benci Tasya dan adiknya. Aku mau dia menyesal sampai ke tulang sumsum sekalipun."
"Apa rencanamu?" Kenan mulai tertarik.
"Goda gundiknya dan buat dia berselingkuh. Pria yang jatuh cinta setengah mati kalau dikhianati itu sakitnya luar biasa Pak. biar dia sadar betapa berharganya mendiang istrinya dulu."
Kenan menatap Kiara lama.
"Kamu licik juga ternyata."
"Bapak kan salah satu korbannya." Kiara terkekeh pelan.
Lagi-lagi dia tidak tersinggung, dia justru merasa Kiara menganggapnya korban spesial. padahal dia sendiri yang merangkai pemikiran itu tapi dia juga yang senyum-senyum.
Tiba-tiba pandangan Kiara teralih ke ruangan privat di sebelah mereka yang hanya dibatasi kaca transparan. Di sana Arkan dan Tasya sedang duduk berdua. ternyata mereka memilih restoran yang sama.
"Arkan?" tanya Kenan menyadari arah pandang Kiara.
"Aku merasa selera pilihnya sama dengan Pak kenan."
"Restoran ini punya kami."
"Oh begitu, pantas saja."
"Hemm." Kenan masih mengupas kulit udang untuk Kiara.
"Dengan Tasya yang kuceritakan."
"Kasihan." gumam Kenan pendek.
"Maksudnya apa?" Kiara menoleh melirik wajah Kenan.
"Arkan tidak pernah serius dengan wanita mana pun. hanya main-main lalu bosan. temanmu itu akan patah hati," ucap Kenan datar.
Kiara tersenyum penuh arti.
"Jangan gampang meremehkan kembaranku Pak."
"Kembar dari mana?" Entah kenapa Kenan menolak Kiara disamakan dengan wanita lain.
"Sifatnya! lihat saja nanti, Arkan bakal klepek-klepek dan bertekuk lutut. percaya deh sama aku."
Di ruangan sebelah, Arkan sedang tertawa lebar sambil mencoba menyuapi Tasya yang malu-malu. Tasya sesekali memukul lengan Arkan pelan karena gombalan pria itu. mereka terlihat begitu serasi dan menggemaskan.
***
Di balik kaca itu, suasana terasa sangat berbeda. Arkan sedang berusaha memotong steak milik Tasya.
"Cobain. Ini daging paling lembut dari semuanya. selembut tatapan mataku ke kamu." goda Arkan sambil menyodorkan sepotong daging.
"Bisa tidak jangan gombal? nanti steaknya malah rasanya manis gara-gara omonganmu." Tasya pipinya merah.
"Lho, kan memang tujuan aku mengajak makan siang itu untuk memaniskan harimu."
Arkan tersenyum manis.
Tasya menunduk, tersenyum kecil.
"Makasih ya. kamu... ternyata nggak seburuk yang orang-orang bilang."
"Orang bilang apa? ganteng banget? ya itu fakta." sahut Arkan.
"Bukan! katanya kamu itu playboy kelas kakap."
Arkan tertawa.
"Itu dulu. sekarang aku lagi belajar jadi kriteria yang kamu mau."
Tasya langsung tersedak air minumnya. membuat Arkan panik dan segera memberikan tisu.
"Pelan-pelan sayang!" justru membuat Tasya makin tersedak.
Melihat adegan manis itu, Kiara tersenyum puas. Ia kemudian menoleh ke arah Robi yang sejak tadi hanya diam menyimak.
"Omong-omong... Pak Robi sudah punya pacar?" tanya Kiara tiba-tiba.
Uhuk! Robi tersedak nasi, wajahnya langsung memerah menahan batuk. kenapa dia ikut-ikutan tersedak.
"Belum ada Nona." jawab Robi setelah minum air.
"Kenapa belum?"
"Tidak ada wanita yang saya sukai." jawab Robi singkat.
"Mungkin kamu mines di mata wanita Rob. jadi tidak ada yang mau mengejarmu." celetuk Kiara sengaja.
Mendengar itu, Kenan tertawa lepas. benar-benar tertawa untuk pertama kalinya Robi melihat bosnya sebahagia itu di tempat umum. Robi hanya bisa melemparkan senyum sabar. Ia tidak tahu saja, di luar sana banyak wanita yang mengantre untuk sekadar mendapat nomor teleponnya. tapi bagi Robi, tidak ada satupun yang menarik selain bekerja.
Bersambung...
tetap semangat berkarya 💪💪💪👍👍👍🥰🥰🥰
maafkan daku kak..salah ketik 🤣🤣😭