NovelToon NovelToon
PREMAN MASUK PESANTREN

PREMAN MASUK PESANTREN

Status: tamat
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
​Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
​Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
​Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Cahaya di Atas Puing Angkara

Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur, namun langit di atas kediaman Wijaya tampak berwarna merah darah yang tidak wajar. Faris Arjuna terbangun dari sujud terakhirnya di sepertiga malam. Ia merasakan getaran batin yang sangat hebat; pagar gaib yang dipasang oleh Raden Jayanegara semalam telah robek oleh serangan ribuan jin kiriman Ki Ageng Blorong.

BRAAAKKKK!

(Suara pintu gerbang depan kediaman yang jebol dihantam kekuatan tak kasat mata).

"Dikmas Faris! Mereka datang! Ribuan orang berbaju hitam mengepung kita dari segala penjuru!" teriak Arjuna Hidayat sambil berlari masuk ke paviliun Faris. Wajahnya penuh keringat, namun matanya memancarkan keberanian seorang ksatria.

Faris Arjuna berdiri dengan tenang. Ia mengenakan jubah kebesarannya yang berwarna hitam pekat dengan ikat pinggang kain putih. "Sabar, Kangmas Arjuna. Biarkan mereka masuk ke halaman. Kita selesaikan semuanya di sini agar tanah ini menjadi saksi hancurnya angkara murka."

VROOOOOMMMMM... CIEEEETTTTT!

(Suara puluhan mobil musuh yang mengerem mendadak di halaman luas kediaman Wijaya).

Ratusan orang turun dengan membawa senjata tajam dan azimat yang memancarkan aura hitam pekat. Di barisan paling depan, berdiri Ki Banaspati yang luka-lukanya semalam tampaknya sudah diobati dengan ilmu hitam. Ia tertawa sesumbar, merasa di atas angin karena membawa pasukan yang lebih besar.

"Faris Arjuna! Keluar kau! Hari ini sejarah Trah Wijaya akan kami hapus dari muka bumi!" teriak Ki Banaspati dengan suara yang parau.

Faris melangkah keluar dari teras pendopo. Di sampingnya, para kerabat muda langsung membentuk barisan pelindung. "Kakang Faris, perintah Kakang adalah komando bagi kami!" seru mereka serempak, memanggil Faris dengan sebutan Kakang yang penuh rasa hormat.

Faris hanya menatap dingin ke arah kerumunan itu. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan energi dari kidung Tauhid yang ia lantunkan semalam. "Ki Banaspati... Sampeyan mrene nggowo pati, opo nggowo rugi? Yen kowe ora gelem mbalik, mulo jagad sing bakal nggiles kowe!"

(Ki Banaspati... Anda ke sini membawa mati, atau membawa rugi? Jika kamu tidak mau kembali, maka dunia yang akan menggilasmu!)

"Halah! Banyak bicara kau, Bocah!" Ki Banaspati menghentakkan tongkatnya ke tanah.

DHEEEEEMMMMM!

(Suara tanah yang bergetar hebat mengeluarkan asap hitam berbentuk ular-ular berbisa yang merayap cepat ke arah Faris).

Faris tidak bergeming. Ia hanya menghentakkan kaki kanannya sekali ke lantai marmer pendopo.

BLAAAMMMMM!

(Suara dentuman batin yang memancarkan gelombang cahaya emas dari telapak kaki Faris, menghancurkan ular-ular asap itu seketika).

CRAAAAASSSSS...

(Suara asap hitam yang menguap menjadi debu saat terkena cahaya emas Faris).

"Maju kalian semua! Habisi mereka!" perintah Ki Banaspati. Pasukan hitam itu mulai merangsek maju dengan teriakan liar.

HIAAAAATTTTT!

TRANGGG... TENG... TRANGGG!

(Suara pedang dan tombak yang beradu di halaman. Para pengawal Trah Wijaya bertempur dengan gagah berani di bawah komando Raden Jayanegara).

Melihat pasukannya mulai terdesak oleh ilmu batin para pengawal Wijaya, Ki Banaspati mencoba menyerang Faris secara langsung dengan ajian gelapnya. Namun, sebelum ia sampai di depan Faris, Arjuna Hidayat sudah menghadangnya dengan serangan fisik yang sangat cepat.

DUAAKKK! BUGGG! BUKKK!

(Suara pukulan bertubi-tubi dari Arjuna Hidayat yang mengenai dada Ki Banaspati).

"Minggir, Hidayat! Aku hanya urusan dengan adikmu!" teriak Ki Banaspati sambil mengeluarkan keris saktinya.

Faris Arjuna berjalan maju perlahan. Setiap langkahnya membuat para penyerang di sekitarnya terpental tanpa disentuh. Faris kini berdiri tepat di depan Ki Banaspati yang sedang terdesak oleh Arjuna Hidayat.

"Kangmas Arjuna, biar Dikmas yang menyelesaikan ini. Lidah ini sudah terlalu gatal ingin mengucapkan kebenaran terakhir untuknya," ucap Faris dengan nada yang sangat rendah namun mematikan.

Faris menatap Ki Banaspati tepat di matanya. Ia merapalkan mantra pamungkas yang ia dapatkan saat bertemu Guru Sejati di dalam dirinya.

"Sopo sing dholim bakal nampa paukumaning Gusti... LAA ILAAHA ILLALLOH! SIRNO!"

(Siapa yang dholim akan menerima hukuman Tuhan... Tiada Tuhan selain Allah! SIRNA!)

JLEEEERRRRRRRR!

(Suara petir yang sangat besar menyambar tepat di atas pendopo, namun anehnya hanya mengenai tubuh Ki Banaspati dan para pemimpin pasukan hitam tersebut).

AAARRRRGGGHHHH!!!

(Suara teriakan kesakitan yang memilukan dari para pengikut Ki Ageng Blorong saat energi hitam mereka dicabut paksa oleh alam).

Seketika, halaman yang tadi riuh dengan pertempuran menjadi sunyi. Ratusan orang musuh tersungkur lemas, azimat mereka hancur berkeping-keping, dan senjata mereka meleleh secara misterius. Faris Arjuna berdiri tegak di tengah medan laga, jubahnya sedikit berkibar tertiup angin fajar.

"Luar biasa, Dikmas... Kau tidak hanya menghancurkan fisiknya, tapi kau sudah mengunci mati ilmu hitam mereka selamanya," ucap Raden Jayanegara sambil menyeka darah di pedangnya.

Para kerabat muda bersorak kegirangan. "Hidup Kakang Faris! Hidup Trah Wijaya!"

Faris menatap langit yang kini mulai membiru cerah. "Aja bungah dhisik, Dek. Iki lagi pambuka. Ki Ageng Blorong mesthi lagi ngumpulne kekuwatan sing luwih gedhe ing padepokanne. Kita kudu waspada."

(Jangan bangga dulu, Dek. Ini baru pembukaan. Ki Ageng Blorong pasti sedang mengumpulkan kekuatan yang lebih besar di padepokannya. Kita harus waspada.)

Arjuna Hidayat merangkul adiknya yang kini tampak seperti sosok raja di masa lalu. "Kita akan bersamamu sampai akhir, Dikmas. Apapun yang terjadi, bendera Wijaya tidak akan pernah turun."

Di kejauhan, terdengar suara burung-burung berkicau menyambut kemenangan kecil itu. Namun di batin Faris, ia tahu bahwa perang yang sesungguhnya baru saja akan dimulai saat matahari mencapai puncaknya nanti

Asap sisa pertempuran masih mengepul tipis di halaman kediaman Wijaya. Meskipun musuh sudah kocar-kacir, aura negatif sisa ilmu hitam Ki Banaspati masih terasa menyesakkan dada. Faris Arjuna melangkah ke tengah halaman yang berantakan, di mana tanahnya tampak menghitam bekas sambaran petir batin tadi.

SREEESSSS...

(Suara langkah kaki Faris yang menggesek debu dan kerikil di halaman).

Faris berhenti tepat di titik pusat serangan. Ia tidak memanggil ajudan, melainkan berjongkok dan menyentuh tanah dengan telapak tangan kanannya. Ia memejamkan mata, merapalkan doa pembersihan agar tanah leluhur ini tidak ternoda oleh dendam.

"Bumi suci, balio dadi suci. Sing reged sirno, sing olo ilang..."

(Bumi suci, kembalilah menjadi suci. Yang kotor sirna, yang buruk hilang...)

WHUUUUUUUUNGGG...

(Suara dengungan frekuensi rendah yang keluar dari dalam tanah, diikuti oleh cahaya putih lembut yang merambat dari telapak tangan Faris ke seluruh penjuru halaman).

KREEEEK...

(Suara retakan tanah yang perlahan menutup kembali secara ajaib).

Seketika, bau amis bangkai dan aroma dupa hitam menghilang, berganti dengan wangi melati yang sangat segar. Para kerabat muda yang tadi sempat lemas kini merasa tenaga mereka pulih kembali secara mendadak. Mereka berkumpul melingkar, menatap sosok yang mereka panggil Kakang itu dengan penuh takjub.

"Kakang Faris, apakah ini berarti kita sudah menang mutlak?" tanya salah satu pemuda dengan nafas yang masih memburu.

Faris berdiri perlahan, membetulkan posisi ikat pinggang putihnya. Ia menatap ke arah Arjuna Hidayat dan Raden Jayanegara yang berdiri di sisi panggung pendopo. "Menang iku dudu yen kowe wis mateni musuhmu, Dek. Menang iku yen kowe wis iso mateni nesumu dewe."

(Menang itu bukan kalau kamu sudah membunuh musuhmu, Dek. Menang itu kalau kamu sudah bisa membunuh amarahmu sendiri.)

PROK... PROK... PROK...

(Suara tepuk tangan tunggal dari Eyang Wijaya yang keluar dari dalam rumah, wajahnya berseri-seri penuh kebanggaan).

"Dikmas Faris benar. Jangan biarkan kebencian Ki Ageng Blorong pindah ke dalam hati kalian. Kita berjuang bukan untuk menghancurkan, tapi untuk menata kembali tatanan yang rusak," tegas Arjuna Hidayat menambahi pesan adiknya.

Faris Arjuna kemudian mengangkat kedua tangannya ke arah para pengikutnya. Suaranya kini terdengar sangat hangat namun berwibawa, menutup babak pertempuran fajar ini dengan sebuah sumpah sakti.

"Sedulur kabeh... Wiwit detik iki, ojo wedi karo bayangan. Angger batinmu bener, alam bakal dadi tamengmu. Perjuangan isih dowo, nanging fajar iki wis dadi saksi yen cahyo ora bakal kalah karo peteng!"

(Saudara semua... Mulai detik ini, jangan takut pada bayangan. Selama batinmu benar, alam akan menjadi perisaimu. Perjuangan masih panjang, tapi fajar ini sudah jadi saksi bahwa cahaya tidak akan kalah oleh kegelapan!)

HUWAAAAAA...!!!

(Suara sorakan serempak dari seluruh penghuni kediaman Wijaya yang menggetarkan langit pagi, membangkitkan semangat yang sempat redup).

Faris Arjuna berjalan masuk kembali ke dalam kediaman, meninggalkan halaman yang kini telah kembali suci. Ia tahu, di balik cakrawala, Ki Ageng Blorong sedang merencanakan sesuatu yang lebih gelap, namun Faris tidak lagi gentar. Ia sudah menemukan Guru Sejati, dan lisan pahitnya sudah menjadi hukum semesta yang tak terbantahkan.

1
T28J
hadiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!