NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.

Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.

Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.

Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 Janji di Bawah Bulan

Suasana di ruang tamu masih terasa tegang, namun aroma kemarahan telah berganti menjadi sesuatu yang lain—sesuatu yang hangat dan membingungkan.

Tangan Arga masih terangkat, telapak tangannya yang besar dan hangat menopang pipi halus Kirana. Ibu jarinya terus mengusap air mata yang baru saja kering, menyisakan sensasi aneh yang membuat bulu kuduk Kirana meremang.

Mata mereka bertemu, terpaku dalam diam yang panjang. Untuk sesaat, dunia seakan berhenti berputar. Kirana bisa melihat pantulan dirinya sendiri di dalam bola mata hitam pekat milik suaminya itu. Tidak ada lagi tatapan dingin yang mengintimidasi, tidak ada lagi kesombongan yang menyakitkan. Yang ada hanyalah sebuah ketulusan yang sulit diartikan, dan mungkin... sedikit rasa bersalah yang dalam.

"Arga..." bisik Kirana pelan, suaranya masih terdengar serak dan pecah setelah menangis. "Apakah... apa yang kamu bilang tadi itu benar?"

Arga tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah itu lekat-lekat, menatap mata indah yang kini bengkak dan merah karena air mata. Hatinya terasa perih. Ia benci melihat wanita ini menangis, apalagi karena ulah orang lain.

"Ya, itu benar," jawab Arga akhirnya, suaranya rendah dan tegas. "Natasha hanyalah masa lalu. Dan hari ini adalah buktinya. Aku tidak membiarkan dia menghinamu atau meremehkan posisimu."

"Tapi kenapa dia bisa seberani itu datang ke sini? Kenapa dia merasa punya hak?" tanya Kirana lagi, rasa tidak amannya kembali muncul. "Apa selama ini dia memang bagian dari hidupmu?"

Arga menghela napas panjang, lalu perlahan menurunkan tangannya dari wajah Kirana, namun ia tidak melepaskan genggaman di pergelangan tangan wanita itu. Ia justru menariknya pelan, mengajak Kirana berjalan menuju teras belakang rumah, di mana taman yang indah dan udara malam yang sejuk bisa menenangkan pikiran mereka.

Mereka duduk bersanding di bangku kayu panjang yang ada di taman. Langit malam itu cerah, bulan purnama bersinar terang benderang, menerangi wajah mereka berdua.

"Dengar, Kirana," Arga memulai pembicaraan, matanya menatap jauh ke kolam ikan di depan mereka. "Aku tidak mau berbohong padamu. Dulu, sebelum pernikahan ini, ya... aku memang dekat dengan Natasha. Kami sering jalan bareng, dia menemani aku saat aku butuh teman untuk bersenang-senang atau sekadar minum wine."

Kirana menunduk, mendengar itu hatinya kembali terasa nyeri.

"Tapi," Arga segera menegaskan, "hubungan kami tidak pernah serumit atau seserius yang dia bayangkan. Aku tidak pernah menganggap dia sebagai calon istri, atau bahkan wanita yang akan aku bawa ke depan orang tuaku. Dia hanya... teman yang dekat, itu saja. Aku mengakui, mungkin sikapku dulu yang terlalu baik atau terlalu santai membuat dia berpikir dia punya tempat spesial di hatiku. Dan hari ini, aku sudah menegaskan semuanya."

Arga menoleh, menatap wajah profil istrinya yang teduh.

"Aku sudah usir dia. Dan aku bilang, dia tidak boleh datang lagi ke sini. Karena rumah ini adalah rumahku dan rumahmu. Tempat kita berdua. Dan tidak ada tempat bagi orang lain di sini."

Kirana mengangkat wajahnya, menatap mata Arga. "Jadi... aku tidak perlu cemburu atau takut dia akan merebutmu dariku?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja, polos dan tulus.

Arga tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat langka dan membuat wajahnya terlihat jauh lebih muda dan tampan.

"Kamu boleh cemburu, itu hakmu sebagai istri," jawab Arga pelan. "Tapi kamu tidak perlu takut. Karena tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang bisa merebut apa yang sudah menjadi hakmu secara sah dan meyakinkan. Kamu adalah Nyonya Kirana Wijaya. Istriku. Posisi itu tidak akan tergantikan."

Kata-kata itu bagaikan balsem yang menenangkan luka di hati Kirana. Beban berat yang tadi ia rasakan seketika hilang lenyap. Rasa aman itu kembali hadir, bahkan jauh lebih kuat dari sebelumnya.

"Terima kasih, Arga," ucap Kirana lirih, matanya kembali berkaca-kaca namun kali ini karena haru. "Makasih sudah membela aku. Makasih sudah jujur."

"Sekarang jangan nangis lagi ya. Wajah cantik jadi jelek lho kalau habis nangis," goda Arga sedikit, mencoba mencairkan suasana.

Kirana tersenyum kecil, menyeka sisa air matanya. "Memang ada yang bilang aku cantik?"

"Aku yang bilang," jawab Arga cepat dan mantap.

Wajah Kirana langsung memerah padam. Ia buru-buru membuang muka, menatap ke arah bunga-bunga yang bermekaran di bawah sinar bulan. Jantungnya berdegup kencang tak karuan. Pria ini... kenapa bisa semanis ini saat sedang ingin saja? Sikapnya yang berubah-ubah itu membuat Kirana dibuat pusing, tapi anehnya... ia menyukainya.

"Kirana..."

"Ya?"

"Ada satu hal lagi yang mau aku omongin sama kamu," suara Arga berubah menjadi lebih serius lagi. Ia memutar tubuhnya menghadap Kirana, lalu menangkap kedua tangan wanita itu di dalam genggamannya. Tangan Kirana yang kecil dan lembut terasa pas di dalam telapak tangan besarnya.

"Apa itu, Arga?"

"Mengenai pernikahan kita... mengenai perjanjian kita dulu," Arga berhenti sejenak, menelan ludah seolah ada sesuatu yang sulit diucapkan. "Aku tahu awalnya kita sama-sama tidak menginginkan ini. Aku juga tahu aku pernah bilang kalau ini hanyalah formalitas dan kontrak."

Kirana mengangguk pelan, mendengarkan dengan seksama.

"Tapi... melihat kamu berjuang, melihat kamu sabar, dan melihat bagaimana kamu menyayangi Mama serta menghormati aku... aku mulai berpikir ulang," lanjut Arga, tatapannya dalam menembus jiwa Kirana. "Mungkin... Tuhan tidak salah mengirimkan kamu ke dalam hidupku. Mungkin pernikahan ini bukan hukuman atau beban, tapi justru jalan yang terbaik untukku."

Kirana terpaku. Napasnya seakan tertahan di tenggorokan. Apakah dia bermimpi? Arga Wijaya, pria yang dulu sedingin es, sedang mengatakan hal-hal indah seperti ini?

"Jadi maksud Arga..."

"Maksudku, aku ingin kita mencoba. Benar-benar mencoba untuk menjadi keluarga yang sesungguhnya," kata Arga tegas. "Aku tidak mau kita hidup seperti dua orang asing lagi. Aku mau belajar mengenalmu, dan aku mau kamu juga mengenal aku yang sebenarnya. Bukan Arga yang dingin dan sombong, tapi Arga yang ingin menjadi suami yang baik buat kamu."

Air mata haru kembali menetes di pipi Kirana. Kali ini ia tidak bisa menahannya. Ini adalah saat yang paling ia tunggu-tunggu sejak hari pertama pernikahan mereka.

"Arga..." isaknya pelan. "Kamu serius? Kamu tidak merasa terpaksa kan?"

"Tidak ada paksaan sedikitpun. Ini murni keinginanku sendiri," jawab Arga lembut. Ia mengangkat tangan Kirana dan mencium punggung tangan itu dengan penuh hormat dan kasih sayang. "Maafkan aku kalau selama ini aku jahat sama kamu, sering buat kamu sedih dan takut. Mulai sekarang, aku janji akan berubah."

Di bawah sinar bulan purnama itu, di tengah keheningan malam yang indah, sebuah janji terucap. Bukan janji pernikahan yang formal dan kaku di depan pendeta, melainkan janji hati yang tulus dari dua manusia yang awalnya saling asing, kini bertekad untuk saling memiliki.

"Aku juga janji, Arga," jawab Kirana dengan suara bergetar namun penuh keyakinan. "Aku akan selalu ada buat kamu. Aku akan mencoba menjadi istri yang terbaik yang kamu butuhkan. Kita bangun semuanya dari nol ya?"

Arga tersenyum lebar, senyuman tulus yang membuat hatinya terasa begitu ringan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun.

"Iya. Kita bangun bersama."

Tanpa sadar, Arga menarik tubuh Kirana mendekat, lalu memeluk bahu wanita itu dengan hangat. Kirana tidak menolak. Ia justru membiarkan dirinya nyaman berada di dalam sela-sela lengan kekar suaminya. Kepala Kirana bersandar di dada bidang itu, mendengar detak jantung Arga yang berirama teratur dan menenangkan.

Mereka duduk seperti itu cukup lama, menikmati kedamaian malam, menikmati momen di mana tembok tinggi di antara mereka akhirnya runtuh digantikan oleh rasa percaya dan kasih sayang yang mulai tumbuh subur.

Kirana menyadari, perjalanan mereka masih panjang. Masih banyak masalah yang mungkin akan datang, masih banyak rahasia masa lalu Arga yang belum terungkap. Tapi untuk malam ini, ia merasa cukup. Ia merasa dicintai, ia merasa diinginkan.

Pernikahan yang tadinya tidak diinginkan, kini perlahan berubah menjadi anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan padanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!