NovelToon NovelToon
Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Azura Cimory

Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bercinta Singkat

Rasa manis dari bibir Sean masih terasa lengket di mulut Christaly meskipun lidah pria itu sudah tidak lagi berada di sana. Tubuhnya juga seolah-olah berubah menjadi jeli yang lunak, yang menurut dengan sentuhan tangan Sean.

Christaly menggigit bibir bawahnya untuk menahan erangan. Jari tengah Sean sudah berada di dalam tubuhnya, menyelinap masuk melalui celah sempit di bawah pusar sana.

Dengan lembut jari itu membelai dinding kenikmatan dengan gerakan maju mundur berirama teratur.

Christaly memejamkan matanya dan menggeliat tak tahan. Sean meneruskan permainan jari tengahnya yang berada di dalam diri Christaly. Merangsang gadis itu lebih jauh.

“Uh! Emmhhh ....”

“Shhh! Tahan, Sayang. Jangan mendesah. Jangan berisik. Nanti ada yang dengar.”

Sean membungkam erangan Christaly dengan bibirnya tanpa menghentikan kegiatannya di bawah. Lidahnya dengan cepat bergumul dengan lidah Christaly yang manisnya memabukkan.

Agar bisa lebih intim, Sean kemudian menarik tubuh Christaly agar menyatu dengannya. Dia sendiri sebenarnya sudah sangat terangsang, sudah tidak sabar berada di dalam diri gadis itu. Ereksinya juga sudah mengeras sempurna.

Tapi, Sean masih berusaha menahan dirinya karena ingin agar momentum dia bercinta dengan Christaly tidak terlupakan.

Jari tengahnya yang masih berada terus membelai, hingga akhirnya dia merasakan kehangatan yang kental dan basah yang menyelimutinya.

Bersamaan dengan itu Sean pun langsung membuka jinsnya dan menarik satu kaki Christaly hingga terangkat cukup tinggi. Tanpa menunggu lebih lama lagi Sean pun langsung menarik jari tengahnya dan menggantikan peran jari itu dengan ereksinya.

Sontak, Christaly menahan menghentikan ciumannya dan menarik kepalanya ke belakang. Dia mendongak sambil memejamkan matanya erat-erat, mencoba menerima ereksi Sean di dalam dirinya yang terasa sangat penuh. Jika di bandingkan dengan Riko, jelas milik Sean jauh lebih besar dan perkasa.

“Emh ... ya, ya,” erang Christaly.

Sean mulai bergerak maju mundur, keluar masuk dari diri Christaly. “Uh! Emh ....”

Pelan tapi pasti Christaly mulai terbiasa dengan keberadaan Sean di dalam dirinya. Gesekan demi gesekan Sean membuat gairah menjadi semakin bergejolak, dinding-dinding dalam dirinya berubah panas.

Keringat pun mulai membasahi dahinya. Pinggul Christaly secara naluriah ikut bergoyang mengimbangi irama dari gerakan Sean, menambah nikmat pada keduanya.

“Uh, Sean. Cepat sedikit. Aku mendengar suara langkah kaki di luar. Pasti ada orang yang mau ke toilet,” ujar Christaly sambil terengah-engah.

“Aku tahu, Sayang.”

Sean mempercepat gerakannya, menjemput ledakan yang sudah kian mendekat. Christaly sudah berkedut, menandakan bendungan dalam dirinya akan segera jebol. Namun, di saat mereka hampir mencapai puncak kenikmatan, tiba-tiba saja terdengar ketukan di pintu.

“Hei, bisa cepat sedikit, tidak? Lama sekali sih?!” teriak orang di luar.

“Maaf, ya. Perutku sedang bermasalah, jadi aku masih lama,” sahut Christaly yang tidak mau permainannya dengan Sean tertunda.

Apalagi dia sudah hampir mencapai puncak kenikmatan. Dan di atas segalanya dia masih belum puas bercinta dengan Sean. “Silakan memakai toilet yang berada di gerbong sebelah kalau sudah tidak tahan.”

“Astaga! Kamu pikir ini toilet punya kakek moyangmu, apa?!” teriak orang di luar sambil menendang pintu. “Lima menit lagi aku akan kembali. Awas saja kalau kamu masih belum keluar. Akan aku laporkan kau ke petugas.”

“Iya, iya. Maaf banget, ya ....”

“Ayo cepat. Kita harus menyelesaikan permainan ini,” kata Sean. “Aku sudah kepalang tanggung.”

“Uh, ya. Bergeraklah lebih cepat, Sean,” sahut Christaly. Dia kemudian melingkarkan tangannya pada leher Sean, dan mendesakkan dirinya agar Sean bisa masuk lebih dalam.

Tidak hanya itu, Christaly juga ikut bergerak seirama gerakan Sean, sehingga mereka saling beradu.

“Emhhh .... uh!”

“Shhhtt! Jangan mendesah. Nanti ada yang dengar kita bisa kena malu,” bisik Christaly.

“Maaf, maaf. Habisnya aku nggak tahan. Uh!”

Sean dan Christaly terus bergerak, semakin lama semakin cepat, bertambah cepat dan lebih cepat lagi karena mereka berpacu dengan waktu.

Sebelum penumpang yang sebelumnya kembali datang, mereka harus sudah menyelesaikan permainan. Karena mereka berdua sama-sama tidak tahu apa yang menanti di Malang, dan tidak tahu apakah akan sempat bercinta atau tidak.

“Sean, aku sudah mau sampai,” gumam Christaly di tengah napasnya yang memburu. “Sedikit lagi, ayo lebih cepat.”

“Uh, aku juga,” jawab Sean. Dia menangkup pinggul Chrsitaly dengan tangannya yang bebas, lalu dia ikut mendorongnya saat Christaly dan dirinya sendiri bergerak maju ke depan.

Hasilnya, mereka bertumbukkan semakin dalam. Sensasi yang ditimbulkan benar-benar luar biasa. Di mana Sean dan Chrsitaly akhirnya mencapai puncak kenikmatan, dan meledak bersama-sama.

“Emh ... uh!”

“Ah! Akhirnya.”

Sean menarik dirinya keluar dari Christaly, dan tanpa menurunkan kaki gadis itu, dia lalu berjongkok tepat di pangkal pahanya. Dengan gerakan secepat kilat Sean langsung menghisap kenikmatan yang keluar dari sana, tidak membiarkan ada yang terbuang sia-sia.

Lidahnya yang hangat dengan sigap menyapu bersih semuanya, bahkan, sampai pada bagian dinding dalam. Christaly pun tidak bisa untuk tidak menggeliat dan mengerang.

Rasanya dia benar-benar tidak ikhlas jika permainan menyenangkan ini harus berhenti. Sebab, dia sama sekali belum merasa puas. Mereka bermain terlalu singkat, terlalu sebentar.

“Sean, bagaimana kalau kita lanjutkan permainan ini nanti kalau kita sudah sampai di Malang, di hotel tempat kita akan menginap untuk sementara waktu?” usul Christaly dengan berani dan sudah tidak lagi peduli dengan harga diri. “Em, aku masih belum puas soalnya.”

“Ide yang bagus. Kita bisa bercinta sampai puas di sana. Dan pastinya akan lebih segar serta lebih semangat lagi menyelidiki kasus,” sahut Sean langsung setuju. Sebab, dia sendiri juga sama masih belum puas bercinta dengan Christaly.

Setelah merapikan pakaian, Sean memberi instruksi kepada Chrsitaly agar dia keluar belakangan setelah dirinya. Selang beberapa lama kemudian dia baru boleh keluar.

Pada saat giliran Christaly yang keluar dari kamar mandi, benar saja dia berpapasan dengan seorang wanita paru baya. Christaly langsung tahu kalau dia adalah orang yang menggedor-gedor toilet sebelumnya.

“Huh! Lama sekali, sih?!” sembur wanita itu marah.

“Eh, iya, maaf. Saya sakit perut,” jawab Christaly sambil dia pura-pura mengelus perutnya. “Sepertinya saya salah makan sebelum naik kereta. Jadinya perut saya bermasalah.”

“Cih! Dasar pembohong! Sakit perut kau bilang tadi? Yang benar saja! Kamu pikir saya ini bodoh apa?! Saya tahu kamu habis bercinta di toilet, kan? Makanya lama!” sahut wanita itu lebih marah. Dia menatap Christaly dengan tajam dan jijik. “Lain waktu kalau mau berbohong pakai otak. Dasar amatir!”

Setelah mencurahkan kemarahannya pada Christaly wanita bertubuh kurus dan berambut tipis itu pun langsung masuk ke dalam toilet. Meninggalkan Chrsitaly yang terbengong malu.

“Astaga, bagaimana mungkin wanita itu bisa tahu? Jangan-jangan dia ....”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!