Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.
Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LDCYTD
"Kak, kalau yang ini ada ukuran M-nya nggak?" tanya Hana kearah pegawai toko pakaian.
Ditengah kesibukannya promosi film dan syuting film baru. Hana masih sempat-sempatnya me-maintenance townhouse Reiga. Apalagi setelah Bu Murnia memberi laporan soal kinerja laundry yang membuat Hana mendadak evaluasi laundry. Tiga kemeja Reiga 'hancur', tak pantas lagi dipakai. Karena itu, ia sengaja mendesak Juni, menyempilkan waktu untuknya membeli ganti kemeja baru. Yang meski ujungnya jadi dipadu-padankan dengan jas serta celana yang Hana kadung pilih.
"Udah siap banget jadi Nyonya Reishard," ledek Juni.
Hana menoleh sambi memberi cengiran yang membuat Juni ingin menoyor bos-nya itu.
"Cocok nggak?" centil Hana.
Juni berdecak.
"Dih! Bisa-bisanya Pak Reiga bucin sama cewek eror begini," tukas Juni yang disambut tawa Hana.
"Udah ah, gue pipis dulu ya. Nggak apa-apa kan ditinggal sendirian?"
Hana menatap heran Juni.
"Semenjak double job, kerja sama Mas Ayang juga. Lu jadi lebih tahu SOP ya, Jun," ledek Hana.
Juni tertawa malu.
"Mas Ayang, gaji gue nggak kaleng-kaleng, Han."
Mata Hana mencuat.
"Maksud lu, gue gaji lo ngasal gituuu?"
Juni tak menimpalinya. Ia hanya mengikik sambil kabur menuju toilet.
Hana berdecak. "Dasar!" seru Hana.
"Mas, yang ini ada warna biru laut-nya nggak?"
Suara itu terdengar familiar di telinga Hana. Setelah selesai memilih dan menunggu belanjaannya dipacking. Hana mengikuti intuisinya untuk mencari sumber suara tersebut.
Benar saja!
Seperti dugaannya.
Pemilik suara itu adalah Sheila Reishard.
Mama-nya Reiga. Perempuan yang melahirkan Reiga ke dunia ini. Si pemilik cinta sejati Reiga yang sesungguhnya. Yang membuat, kesayangannya, jatuh merana sampai tidak percaya cinta. Namun jauh dalam diri Hana, ia meyakini sesuatu... Reiga yang rindu dan haus kasih sayangnya Sheila. Kasih sayang yang tak akan pernah bisa diwakilkan siapapun. Bahkan oleh dirinya.
"Tante Sheila," sapa Hana ramah.
Sheila menoleh. Kedua matanya membuka melihat orang yang menyapanya.
"Hana ya?" balas Sheila.
Hana tersenyum, mengangguk, lalu salim pada Sheila. Ibu satu anak itu terhenyak. Sara memang tidak pernah kaleng-kaleng mengajarkan tata krama pada anaknya.
"Sendirian?" tanya Sheila berharap Reiga tak di sini, memergokinya di Jakarta, bersama Hana pula.
"Iya, Tan," jawab Hana.
Sheila lega.
"Tante sendiri juga?" tanya Hana.
"Iya," jawab Sheila.
Wajah ramah Hana. "Mau lunch sama Tante nggak, Han?" tanya Sheila memberanikan diri.
Senyum tersungging di wajah Hana.
"Mau, Tan," jawab Hana.
Hana menghela napas. Pertemuan tidak sengajanya dengan Tante Sheila di Plaza Indonesia siang, waktu itu, membawa Hana pada momen mendengar cerita yang sama dengan sudut pandang yang berbeda. Dari pengakuan Tante Sheila, raut wajahnya saat bercerita, Tante Sheila jelas menyesali semua perbuatan durjananya pada Reiga maupun Om Rahardian. Ibu satu anak itu pun cukup tahu diri untuk tidak berharap putra semata wayangnya itu memaafkannya. Ia pun sama menderitanya dengan Reiga.
Niat gila itu makin menggebu dalam diri Hana.
Rencana yang mungkin akan membuat Reiga marah menjurus murka padanya nanti. Atau bisa jadi, memutuskan kisah indah Disney yang tengah mereka tulis bersama. Tentu kemungkinan yang paling akan membuat Hana merana nantinya....
Kehilangan Reiga Rahardian Reishard.
Namun tekad Hana kadung membulat. Tangisan Reiga malam itu. Luka yang diderita lelaki kesayangannya itu.
Sungguh Hana tak rela, pria itu menyimpan hal berat semacam itu dibalik senyum menawan yang selalu ditunjukkan Mas Ayang didepannya, di depan siapapun. Sesayang itu ia pada Reiga Reishard. Sampai Hana rela menanggung pahit akibatnya jika Reiga kontra pada keputusan sepihaknya ini.
Hana ingin menyembuhkan Reiga. Berharap Reiga bisa bebas tanpa hidup di antara batas yang menjauhkannya dari semua manusia yang menyayanginya. Hana mau Reiga sembuh dan percaya bahwa tidak perlu ragu mencintai dengan sepenuh jiwa. Sekalipun runtuh dan hancur pada akhirnya.
Yang dipikirkannya sampai bengong sembari duduk di sofa ruang TV townhouse, muncul dengan muka kucel baru bangun. "My sunshine baru bangun," goda Hana.
Reiga tersenyum.
"Eh masa depan aku udah datang," balas Reiga.
Ia duduk di samping kiri Hana. Tanpa ragu melingkarkan tangan kanannya pada pinggang Hana. Lalu, mendaratkan kecupan di kepala Hana.
"Ih! Belum sikat gigi udah cium-cium aku,"
protes Hana seraya menangkup muka bantalnya Reiga.
"Sembarangan! Aku udah sikat gigi tahu. Coba aja nih," ujar Reiga lalu tanpa ba bi bu lagi, memagut bibir Hana.
Si pemilik bibir terperanjat kaget.
"Reishard!" pekik Hana, refleks mendorong Reiga yang malah cengengesan.
Mereka bertatapan, saling cinta.
"Sekali lagi deh," ucap Reiga sekali lagi mencuri cium bibir Hana.
Hana mana sempat menghindarinya. Lebih tepatnya, tidak ingin menghindarinya.
"Heh!" pekik Hana.
Reiga yang selalu memandanginya penuh cinta.
Apa Hana sanggup kehilangan kemewahan ini jikalau pemimpin Reishard Corporation ini mengetahui misinya?
"Datang jam berapa? Kok nggak bangunin aku?"
"3,5 jam yang lalu. Terus langsung masak buat kamu. Sarapan sana," jawab Hana.
"Kenapa nggak bangunin aku?"
Memangnya Hana tega membangunkan Reiga?
Tubuh pria itu pasti letih sekali. Baru pulang dari New York, bukannya istirahat, malah memenuhi janjinya temenin Hana ke sana kemari. Hana juga masih punya hati dan logis sih ya.
"Takut ah, nanti yang lain ikut bangun lagi,"
ledek Hana jahil membuat Reiga terkesiap.
"Apa ini orang yang sama, yang selalu ngatain aku pervert?" ledek balik Reiga.
Hana tergelak. Tawanya pecah. Antara malu, geli, dan senang.
Reiga memandangi perempuan yang semalam melihatnya menangis sesunggukkan dengan raut wajah menyedihkan. Bagian dirinya yang belum pernah diperlihatkannya pada siapapun. Bagian dirinya, yang Reiga pikir akan membuat siapapun akan langsung meninggalkannya begitu melihatnya.
Tapi, Hana Gadis itu selalu menunjukkan reaksi hal yang berbeda. Hana bahkan memeluknya, menyemangatinya, dan memuji usaha bertahannya yang payah selama ini.
"Aku sayang kamu, Adrianne Hana," ucap Reiga meluncur begitu saja dari mulutnya.
Hana tersenyum senang.
"Aku juga sayang kamu, Reiga Reishard," balas Hana sambil mengelus pipi kanan Reiga penuh sayang.
"Hari ini mau ditemenin promo kemana, My Queen?" tanya Reiga.
Hana menatap Reiga.
"Kamu nggak usah temenin aku. Istirahat di rumah. Main sama anak-anak. Bukannya mereka minta traktir?" ujar Hana.
Reiga menciumi telapak tangan Hana yang mengelusnya.
"Ada apa nih? Apa karena hari ini, promonya ada Arnold, makanya nggak mau ditemenin?" ledek Reiga.
Hana melotot.
"Pasti dari Juni kan? Hidup aku udah nggak ada privasi semenjak kamu rekrut Juni jadi mata-mata," sindir Hana.
"Oh harus dong! Apalagi kalau udah jadi istri aku nanti, kamu pakai baju apa juga aku harus tahu," canda Reiga.
"Dih!" pekik Hana.
"Nggak sekalian dipakai kan, Pak?" sahut Hana.
Reiga tersenyum.
"Aku lebih suka bagian bantuin bukanya aja," jahil Reiga.
Wajah Hana sontak merah padam karena malu.
"Reishard!" pekiknya meski senyumnya sungguh lebar tercetak di wajah Hana.
"Kamu yang duluan ya, Han."
"Ya harusnya jangan ditanggapi, Reiiiii," gemas Hana.
"Mana mungkin aku melewatkan kesempatan menanggapi candaan pervert, Adrianne Hana," ujar Reiga.
Hana tertawa renyah.
Cantik sekali. Reiga sampai terpana dibuatnya.
"Cemburu banget ya sama yang namanya Arnold Baskara Mahendra?" ledek Hana.
"Lebih ke takut sih," jujur Reiga.
Ekspresi Hana tercengang. Tak percaya.
"Takut? Reiga Reishard takutttt???? Apa kata dunia??" ledek gadis itu.
Reiga tersenyum masam.
"Bukan takut sama Arnold. Takut sama apa yang aku lihat di masa depan tentang Arnold," aku Reiga.
"Emangnya apa yang kamu lihat?"
Reiga mendekatkan wajahnya.
"Hancurnya Reiga Reishard yang hanya jadi tamu undangan di pernikahan Adrianne Hana," jawab Reiga.
Hana terhenyak.
"Aku... Nikah Sama.... Ar-nold!?" kaget Hana.
Reiga mengangguk pelan, nyaris tak ingin.
Hana diam. Lalu, sontak beristigfhar. Ia mengetuk meja. "Astagfirullah al adzhim. Naudzubillahi min dzalik. Amit-amit jabang bayi!!"
ucap Hana bereaksi hilarius.
Reiga terkekeh.
"Kok bisa?"
"He loves you, Han. Dan hati kamu yang selama 4 tahun mendamba Arnold, jiwa kamu yang muak sama 'kecacatan' aku, mereka membawa kamu memilih Arnold," jawab Reiga.
Dadanya sesak. Ternyata menceritakan kepingan gambar yang belum tentu kejadian itu saja sudah sesakit ini. Apalagi kalau sampai terjadi?
Reiga tak bisa membayangkannya.
Hana terdiam.
Tadi Reiga bilang, Arnold sayang sama gue?
Hana berujar. Reiga terhenyak. Semudah itu memang hati manusia goyah. Tuduhnya, atas reaksi spontan Hana. Hatinya yang lemah, terasa sakit begitu saja.
"Terus Lana gimana?" tanya Hana serius dan tak sabaran.
"Ha?"
Reiga terkaget dengan pertanyaan Hana.
"Kok Lana?"
"Iya, Lana gimana, Rei!???? Emang ya si Arnold tuh brengsek banget! Kok bisa aku suka sama tuh orang selama 4 tahun!???" omel Hana.
Reiga termenung. Tak paham.
"Kamu lebih penasaran tentang Lana daripada Arnold cinta kamu, Han?" tanya Reiga ingin memastikannya.
Hana menatap Reiga.
"Bagus kalau dia cinta aku," tukas Hana.
"Maksudnya?"
Reiga bingung.
"Itu balasan setimpal buat kebodohan dia. Just let him dying in painful a rest of his life," ucap dingin Hana.
Reiga melongo lalu pecahlah tawa pria itu.
"Dih! Malah ketawa," sebal Hana.
"Karena ternyata kita secocok itu ya," ujar Reiga.
"Malaikat maut berdarah dingin," celoteh Hana.
"Eksekutor tanpa belas asih," sahut Reiga.
Mereka tertawa bersama kemudian.
Hana menatap Reiga. Bagai balita ingin bertanya.
"Apa, Sayang? Just let me hear it," ucap Reiga.
"Seberapa sering penglihatan masa depan kamu itu kejadian di dunia nyata, Rei?" tanya Hana memulai misi sintingnya.
Dan ia harus sebegitu pintarnya memperdaya Reiga agar tak membaca pikirannya. Capek juga. Tapi Hana suka tantangan. Ditambah, kemenangannya adalah terbebasnya Reiga dari pedih yang tak perlu itu. Sungguh sepadan!
"Sejauh ini sih cuma 75% ya," jawab Reiga.
"Hmm gitu," tanggap Hana.
"Kenapa emangnya?"
"Kejadian apa yang biasanya terjadi, Rei?" tanya Hana mengacuhkan pertanyaan Reiga. Pria itu merasa ada yang tak beres. Namun pikiran dan hati Hana tidak ada yang mencurigakan.
"Kejadian buruk. Yang paling aku benci," jawab Reiga.
"Oo...okay .."
"Ini ada apa sih, Han?"
"Penglihatan itu datang begitu aja atau bisa kamu kendalikan?"
"Datang begitu aja. Tapi, untuk hal-hal receh, bisa aku usahain sih. Ini kamu tanya kayak begini buat apa sih?"
"Contohnya hal receh yang kamu maksud tuh apa, Rei?" tanya Hana lagi. Tanpa menanggapi Reiga yang penasaran dengan maksud Hana.
"Prediksi hujan. Proyek goals atau nggak. Siapa yang juara piala dunia. Atau... hari ini kamu pakai warna apa di dalam sana," jawab Reiga jahil dengan senyum minta ditoyor Hana.
"Heh!" semprot Hana. "Aku serius nanya tau!!" gemas Hana.
"Aku juga dari tadi serius jawab," ucap Reiga belagak gemas seperti Hana.
"Yaudah, say it loud! emangnya aku pakai warna apa!??" tantang Hana.
Reiga bengong. Lalu, pecahlah tawanya yang sungguh lepas. Jadi gemas beneran sama Hana. "Nggak ada takutnya ya kamu! Salut aku sama Om Denis dan Tante Sara. Hebat banget didik anaknya," celoteh Reiga masih tertawa terbahak.
"Dih!"
Hana mendekatkan wajahnya kearah Reiga dengan tatapan kemenangan yang sungguh membuat Reiga makin takjub sendiri. Kok bisa dia jatuh cinta sama manusia yang antik begini modelannya? Dan konyolnya! Bagian terbaik dari mengenal Hana adalah... hidupnya yang terasa jauh... jauh... jauh... lebih nyaman dan menyenangkan.
"Nggak tahu kan!???" ejek Hana bagai anak SD.
Reiga tak terima.
"Pink..." ucap Reiga membuat ekspresi Hana berubah. Gadis itu terperanjat. "Ralat, jadi tadi pagi kamu sebenarnya mau pakai warna hitam polos tanpa renda, terus overthinking sendiri, karena sekarang lagi pakai kemeja putih kan, takut nyeplak. Kamu ganti deh pakai warna putih tanpa tali dan busa..." Hana membuka mulutnya kaget.
Kini wajah Hana merah padam.
"Tapi galau lagi nih, kayaknya warna pink lebih manis deh. Akhirnya kamu memilih warna pi ..." Hana sudah membekap mulut Reiga yang kini sudah tersenyum dibaliknya.
Kedua mata Hana memicing.
"Nggak usah sedetail itu kali! Termasuk pelecehan seksual loh yang kamu bilang tadi, Rei! CA-BUL!!" judes Hana.
Reiga terkekeh.
"Di sini ada CCTV kok, jadi kita bisa buktiin siapa duluan yang cabul di antara kita," sahut Reiga menyebalkan.
"Dih!"
Hana mendelikkan mata.
"Apa?"
Reiga meledek Hana. Kedua matanya yang memancarkan cinta, kontras dengan betapa reseknya sikap dia sekarang.
"I hate you!" seru Hana.
"Mencoba menyalahi takdir ya?"
Hana ingat. Itu adalah kalimatnya.
Mereka saling adu tatap. Reiga dengan wajah tersenyumnya. Hana dengan wajah badmood menjurus komedi-nya.
"Kamu nggak sering lihat baju cewek-cewek terus menerawang mereka pakai dalaman warna apa hari ini kan, Reishard?"
Reiga melongo.
Tanggapan Hana, sudah di luar prediksi BMKG. Tawa Reiga kembali berderai. Pria itu terbahak sambil memegangi perut. Rasanya rahangnya menjurus sakit.
"Idih! Malah ketawa! Aku serius tanya!" sebal Hana.
"Ya masa aku sekurang kerjaan itu sih, Sayang?
Lagian nggak perlu aku tebak, nggak perlu pakai penglihatan masa depan, kalau aku mau, mereka sendiri yang bakal kasih tahu aku," ucap Reiga jujur.
Hana juga tahu itu. Pasti di luar sana banyak perempuan yang bersedia melakukan dan memberikan apapun untuk seseorang seperti Reiga Reishard.
Hana memicingkan mata. Kadung malu sendiri akan kekalahannya. "Enggak. Kamu nggak kalah. Aku yang kalah," ucap Reiga membaca pikiran bete Hana.
"Aku nggak perlu belas kasihan pihak lawan debat ya," judesnya.
Hana... Hana... Astaga! Untung sayang.
"Cantik amat sih kalau judes begini," ledek Reiga.
"Nggak jelas!" sembur Hana seraya bersidekap.
"Okay, setelah pengalihan isu yang cukup memakan waktu, dan debat alot yang akhirnya aku menangkan. Sekarang kasih tahu aku, alasan sebenarnya, kenapa kamu bertanya soal penglihatan masa depan aku?"
Nah loh, Han!
Kalau jawab cuma iseng, sampai menyelam bolak-balik palung Mariana pun, Reiga tetap tidak akan percaya. Tujuan sebenarnya Hana bertanya. Untuk menggali sejauh mana kemampuan ajaib Reiga akan menjegal jalan kesuksesan misinya. Reiga tidak perlu tahu. Karena itu, ia sudah menyiapkan jawaban lainnya, jauh sebelum ia memulai debat konyol ini.
"Kira-kira film aku yang lagi tayang ini bakal dapat berapa juta penonton?"
Reiga terdiam.
Hana nyengir.
"Astagaaaaaa Adrianne Hana!!" gemas Reiga lalu kembali dengan tawa berderai miliknya.
"Apa sihhh? Itu penting tau, Rei," ujar Hana.
"Bisa aja sih aku kasih tau," ujar Reiga sudah menghentikan tawanya.
"Serius?"
"Sanggup nggak bayar biaya konsul-nya?" ledek Reiga.
Hana berdecak.
"Dih! Udah resmi jadi dukun nih sekarang?"
Reiga tergelak.
"Yang semalam serius?" tanya Hana.
"Yang mana ya?" goda Reiga.
Hana mencibir. Bibirnya merengut.
"Males ah. Bercanda mulu!" sebal Hana.
Reiga tersenyum lebar.
"Iya, ampun."
Hana menyipitkan mata menatap kearah Reiga.
"Ya serius lah. Reiga Reishard nggak pernah mengubah keputusannya. Kecuali, kalau udah berurusan dengan yang namanya Adrianne Hana. Ampun deh kalau begitu," ucap Reiga membuat tawa kecil tertahan milik Hana berderai.
Tentu maksud Reiga adalah pemaksaan Hana mencabut kiamat yang diciptakan Reiga untuk Arnold.
"Mau kapan? Aku mandi dulu ya. Baru ketemu sama Tante Sara."
"Idih! Apa sih!? Nggak segampang itu ya, Rei!"
"Terus?"
"Ayo dinner sama orangtua kamu!" ajak Hana.
Perasaan Reiga langsung tak enak.
"Papa? Ayo!" sahutnya meski ia tahu yang dimaksudkan orangtua oleh Hana bukanlah hanya Papa-nya.
"You know what i want, Reishard," ucap Hana.
Reiga memang sengaja membaca pikiran Hana.
Dan Hana pun sengaja menaruh pemikiran, desakan, dan keinginannya mengenai Sheila Reishard, berserakan agar dibaca Reiga.
"You did it in a purpose?"
Suara Reiga terdengar begitu dingin. Hana menelan ludah. Tapi ia tidak gentar karenanya.
"Aku nggak bisa, Hana," pelan suara Reiga tercekat.
Ingin marah, tapi yang didepannya ini adalah makhluk yang paling dikasihinya.
"Kamu bisa, Rei. It's just a dinner," desak Hana mulai terang-terangan.
"Then let's go to dinner with a whole family of Soediro," serang balik Reiga kekanakkan.
Hana terhenyak.
Reiga jelas mengatakannya untuk membalas Hana. Dan Hana sudah menduganya. Segila itu ia demi Reiga. Sampai tidak peduli, akan masalah pelik mendasar yang selama 9 tahun ini memisahkan Hana dari keluarga besar Ayahnya, dari Eyang Uti. Yang dulu begitu disayanginya. Idolanya.
"Ayo," jawab Hana tanpa berkedip.
Reiga ganti tertegun.
Dia memang bukan lawannya Adrianne Hana.
"Kenapa harus kayak gini sih, Han?"
"Maksudnya kayak gini?"
"You know what i mean!"
"Emangnya segitu anehnya kalau aku mau ketemu calon mertua aku sendiri?"
Hana sengaja mengatakannya begitu dramatis.
"Do you try to manipulate me?" tuduh Reiga begitu jitu.
"Iya," aku Hana.
Reiga kehilangan kata-kata.
"Cukup sampai di sini, Han. Aku nggak mau kita berantem cuma karena..."
"Dia bukan cuma, Rei. Dia mama kamu."
Tatapan mereka bertemu.
Jangan katakan itu, Hana! Please....
Tentu Hana tidak akan mendengarkan permohonan yang tercetus dalam kepala Reiga itu. Dan sekalipun Hana bisa menebaknya dari raut wajah muram Reiga. Hana tetap akan mencetuskan apa yang ada dalam kepalanya.
cinta sejati kamu," ucap "Sheila Reishard Hana melompat sendiri ke dalam kobaran api yang dibuatnya sendiri.
Reiga mendengus. "Kamu nggak tahu sakitnya, Han. Dan aku harap nggak akan pernah ada yang mengalami apa yang aku alami. Cukup aku aja," ujar Reiga dengan rahang menegang.
Hana menyentuh tangan kanan Reiga.
Memasang wajah memelas.
"Lets fix it together," ucap Hana mengingatkan Reiga akan apa yang mereka ucapkan semalam.
"I don't wanna fix this," tolak Reiga begitu dingin.
"Rei, please," mohon Hana.
Mereka bertatapan. Hana tahu, Reiga tidak akan mengabulkan pintanya.
Reiga menghela napas panjang. Ia menarik tangannya dari genggaman tangan Hana.
"Bahkan di antara dua manusia yang saling mencintai harus tetap ada tata krama dan batas yang nggak boleh dilewati, Han," ucap Reiga begitu dingin lalu beranjak dari sana. Meninggalkan Hana.
Hana yang tengah terluka atas kalimat menyakitkan dari Reiga barusan.
Hana berdecak. "Lo yang menginginkan ini semua, Han, bukan Reiga. Jadi bertanggung jawablah dan maju terus," ujar Hana dalam hatinya sendiri.
"Hai, Rei," sapa Rahardian senang menerima telepon putra semata wayangnya.
Selain karena ingin meledek Reiga perihal hilang logika.
"Papa yang suruh Hana?" tuduh Reiga galak.
"Ini apa sih!? Telepon Papa langsung tuduh nggak jelas! Memangnya Papa suruh Hana apa?" ujar Rahardian jadi ikut naik tensi.
"Ajak Mama makan malam bareng kita," jawab Reiga tercekat dengan rahang yang menegang.
Rahardian diam. Tertegun mendengarnya. Inikah awal kebenaran penglihatan masa depannya? Rahardian berharap semoga jawabannya iya.
"Tuh! Diam kan!? Berarti benar, tuduhan Reiga!"
"Sembarangan!"
"Papa nggak pernah suruh Hana ajak Mama makan malam bareng kita. Kamu cek sendiri sekarang di ingatan Papa," ujar Rahardian.
Reiga menggemeretakkan giginya. Tanpa Papa-nya suruh, sejak awal Rahardian mengangkat telepon, Reiga sudah memindai ingatan pria satu anak itu. Tidak ada yang ditemukannya. Yang berarti semua itu adalah ide originalitas Hana.
"Kenapa sih, Han?"keluh Reiga dalam diamnya.
"Enggak ada kan!?" Rahardian berdecak, setengah mengejek tuduhan putranya.
Reiga menghela napas seraya mengusap wajah.
"Nanti Reiga telepon lagi," ucapnya.
"Apa salahnya sih makan malam sama Mama?
Nggak kangen?" Rahardian akhirnya mengeluarkan pendapat yang selama ini ditahannya.
Berhubung sekarang sudah ada sekutu, calon mantu kesayangan yang terang-terangan 'mengajak' perang putra semata wayangnya itu secara terbuka dengan berani. Perang berjudul 'Maaf Reiga Untuk Sheila'. Rahardian tentu tidak ingin melewatkan momen langka ini. Saat emosi Reiga fluktuatif, tidak setenang dan stabil seperti biasanya. Persentase kemenangan perang ini di pihak mereka (Rahardian dan Hana) jauh lebih besar. Apalagi ada Hana sebagai sekutunya.
"Jangan berpikir untuk bersekongkol sama Hana ya, Pah," ucap Reiga memberi peringatan dengan jelas setelah pemikiran Papa-nya itu terucap.
"Ini menunjukkan kekompakan menantu dan mertua," ledek Rahardian.
"Nggak lucu!"
"Pertanyaan Papa nggak dijawab?"
Reiga diam.
"Papa udah tahu jawabannya," dingin Reiga.
Rahardian menghela napas, tapi bukan menyerah.
"Mau marah, tapi Papa yang mewariskan kamu sifat keras kepala kamu ini, Rei," keluh Rahardian.
"Apa yang Reiga lakukan selama ini buat Mama, bukankah itu sudah lebih dari cukup?"
Reiga menekan intonasi suaranya.
Rahardian tidak berani bilang tidak. Namun menolak bilang iya.
"Reiga minta maaf. Reiga nggak bisa kayak Papa yang begitu lapangnya memaafkan Mama. Bahkan, tetap secinta itu sama Mama sampai detik ini."
Ya.
Reiga memang bukannya tidak tahu akan hubungan diam-diam orangtuanya itu. Dari SMP.
Iya, benar! Lelaki brengsek yang dicintai Mama-nya, pergi meninggalkan Sheila dengan hutang jutaan dollar yang kemudian dilunasi oleh Rahardian saat ia masih SMP.
Iya!
Rahardian Reishard, papanya. Sebuah tindakan yang makin membuat Reiga makin benci sama yang namanya cinta. Cinta yang membuat Papa-nya nggak waras sampai bisa cinta setengah mati sama perempuan yang sudah membuang mereka seperti sampah.
Hanya saja, senyum dan bahagia Papa-nya yang terpancar kuat dan berpendar setiap habis bertemu Mama-nya, terlalu membuat Reiga tidak tega menyatakan keberatannya.
Ah, cinta memang brengsek!
Memenjara Reiga selalu dalam kekalutan dan bingung. Sekarang lawannya adalah Adrianne Hana. Perempuan yang paling dicintainya, diinginkannya.
"Kamu tahu ya?"
"Apa yang Reiga nggak tahu!?"
"Penyesalan Mama dan betapa inginnya Mama untuk bisa dekat sama kamu."
"Setelah buang Reiga seenaknya, sekarang dia mau balik lagi semudah itu!?"
"REIGA!" bentak Rahardian mengakhiri telepon mereka hari itu.
Reiga memang sudah melewati ambang batas kesopanan.
Dada Reiga sesak, bukan karena bentakan Papa-nya barusan. Tapi sebuah sudut kecil hatinya yang juga mengakui betapa keterlaluannya dia pada Mama-nya. Dan bukan pula Reiga tidak tahu, jikalau sejak dia masih SMP, Mama-nya selalu berusaha mendekat, yang tentunya akan selalu didorongnya menjauh.
Kedua matanya sudah berkaca kembali. Hari ini sial sekali untuknya. Pagi berantem sama Hana. Siang berantem sama Papa-nya. Reiga berdecak kesal. Rasanya ia ingin meninju sesuatu sekarang juga.
Siapapun yang baru datang, pasti langsung kaget melihat wajah ditekuk, muka setengah muram setengah murka, serta aura mematikan yang dipancarkan Reiga sekarang. Mulai dari yang datang pertama, Niyo, diikuti Syein dan Brandon, lanjut Zidane dan Tristan yang baru selesai praktek, dan terakhir... Rama yang harus mengantar the love of his life-nya dulu.
Mereka berkumpul di townhouse Reiga.
Tadinya sih niatnya mau jadiin Reiga bahan celaan setelah kalimat she said yes yang dikirimnya di grup. Lah tapi kok tuh anak mukanya mencekam banget. Nggak ada serunya godain gunung mau meletus.
"Si Monyet kenapa lagi?" tanya Rama.
"Berantem deh kayaknya," jawab Zidane.
"Cyila? Emang Hana udah ketemu Cyila? Terus si Reiga..."
Niyo sudah mentoyor kepala Tristan.
"Sakit, Yo!" protes dokter anak flamboyan kearah samping kanannya.
"Lu emang pantes ditoyor sih, Tan," ujar Syein di samping kirinya.
"Sini, biar gue tambahin," ucap Rama yang tanpa ba bi bu lagi langsung mentoyor Tristan.
Dengan ekspresi meledek luar biasa.
"Si Anjing, bego deh gue!" gerutu Tristan.
Mereka tertawa karenanya. "Gue juga mau dong," celetuk Brandon sudah mendekati Tristan.
"Gue hajar ya lu, Ndon!" serunya membuat tawa para pria itu kembali berderai.
Tapi tidak yang di sebelah sana. Yang tengah duduk sendirian di sofa yang ada di depan mini bar.
Rama mengambil langkah maju. Diiringi kagetnya teman-temannya. "Kalau Rama yang maju, dunia bakal gonjang-ganjing ini mah," ujar Zidane.
"Makanya jangan ditontonin aja. Jadi pas Rama kasih ide sinting, bisa kita putar balikkan ke arah yang..."
"Lebih sinting," tikung Brandon atas kalimat Syein.
Brandon cengar-cengir kearah Syein yang sudah senewen. "Berantem yuk, Ganteng," sebal Syein. Brandon terkekeh.
Mereka semua berjalan menghampiri Reiga. Menempati posisi masing-masing. Brandon di kursi mini bar bersama Tristan. Niyo di samping kanan Reiga. Zidane duduk bersama Syein di sofa, berseberangan dengan mereka. Sementara Rama memilih berdiri sambil bersandar di tiang dengan tangan bersidekap.
"Mas Ayang ada masalah apa sih?" tanya Niyo setengah meledek kearah Reiga.
Ia menepuk paha kanan sahabatnya itu.
Brandon terkekeh pelan mendengar panggilan Mas Ayang. Semua temannya melotot kearahnya, kecuali Reiga.
"Yaelah, Ndonnnnnnn," protes mereka bagai paduan suara.
"Pembukaannya udah cakep juga!" tukas Tristan.
Brandon cuma cengar-cengir.
"Nggak usah pakai pembukaan sih, langsung tanya aja. Lu berantem lagi, Rei?" Rama bertanya tanpa tendeng aling-aling.
"Buset si Rama!" takjub Syein atas ceplas-ceplosnya sepupunya itu.
Reiga menghela napas.
"Hana bilang dia mau makan malam sama nyokap gue," ujar Reiga tercekat.
Hening.
"Anjir! Si Hana keren banget!" celetuk Brandon.
"She starts it. Lu emang juara sih, Han!" Kali ini Zidane yang menyuarakannya dalam hati sambil tersenyum.
Syein dan Niyo terkekeh. Rama memasang senyum meledek.
"Ketemu lawan seimbang lu ya, Nyet!?" ledek Rama.
All of them ... tahu banget, Reiga si anti cinta sejati ini. Paling malas kalau disuruh bertemu atau menjalin komunikasi kembali dengan Tante Sheila. Mereka berenam sudah pernah mencobanya. Merekonsiliasi hubungan, berharap Reiga 'sembuh' dari trauma yang dipendamnya seorang diri itu.
Meski hasilnya selalu gagal.
"Dari muka lu sih, kayaknya Hana bukan lawan seimbang buat lu ya, Nyet," ledek Niyo dengan tawa kecil.
Reiga mendengus seraya mengusap wajahnya.
Dia memang bukan lawannya Hana. Bagaimana bisa ia melawan perempuan yang dicintainya sebesar itu?
"Terus kalian berantem karena lo pasti nggak mau ya, Rei?" tebak Tristan.
Sesuatu yang tidak perlu diiyakan Reiga. Karena sudah jelas adanya.
"Pantes nggak jadi ikut ke Jogja!" cetus Zidane yang tahu jadwal promo film Hana dari grup fan base yang masih setia diikutinya.
"Bukannya ada Arnold ikut promo hari ini yak?" Syein mulai gabung.
Saking dekatnya mereka, begitu Zidane mengeluarkan kata kunci berjudul promo, Syein langsung menangkap maksud sahabatnya itu. Sebuah maksud terselubung untuk membantu Hana memenangkan telak pertarungan persetujuan Reiga atas ide dinner sinting milik Hana.
Rama berdecak. "Terus ngapain lu masih di sini Jir!? Saat di mana, si kutu kupret itu mungkin tengah bersyukur karena lo nggak ada di samping Hana?! Rela lu, liat cewek lu ditempelin jin ifrit kayak Arnold, Rei!?"
Syein dan Zidane beradu tinju sambil
menyembunyikan senyum yang samar. Goals mereka tercapai. Sebuah pamungkas dari Rama.
Kepala Reiga langsung mendongak. Ah, sial!
Ucapan Rama jadi membuatnya kepikiran. Tatapan tajamnya beradu dengan betapa ngenye-nya Rama memancing Reiga sekarang.
Reiga mendengus. Ia berdiri dari duduknya.
"Tai lah lu, Ram!" umpatnya lalu berjalan menuju depan pintu lift.
Rama tahu Reiga akan kemana, karena itu senyumnya tersungging.
"Mau kemana lu, Nyet???" tanya Tristan.
Walau mereka bisa menebak kemana langkah Reiga akan bermuara.
"Makan gudeg Mbok Djum! Ada yang mau ikut??" jawab Reiga senewen.
Ya.
Dia memang akan terbang ke Jogja. Masa bodo deh sama prinsip dan tetek bengek lainnya.
Membayangkan Arnold senyam-senyum sama Hana, sungguh jauh lebih menyebalkan ketimbang mengiyakan ajakan dinner-nya Hana.
Dan, sekali lagi, masih iya ...
Well, memangnya Reiga bisa bilang nggak sama Adrianne Hana? RIP harga diri! Reiga sudah memutuskan untuk mengiyakan inginnya Hana untuk makan malam sama Mama-nya.
Semua sahabatnya tersenyum mendengar jawaban senewen Reiga. "Ya ikutlahhh!" jawab mereka kompak sambil cengar-cengir.
Reiga yang sedang jatuh cinta itu, bentukannya memang begini, mudah dibuat cemburu. Lucu dan imut. Syukurlah kali ini sahabat mereka itu jatuh cinta dengan perempuan yang benar.
"Budak... Budak...," cetus Niyo dengan senyum lebar meledek Reiga.
Syein dan Zidane beradu jotos kemenangan dengan cengiran lebar di wajah mereka masing-masing.
Rama memainkan alis sambil cengar-cengir, "Si Anjing! Mulut julid lu ada gunanya juga ya, Ram!" tukas Tristan sudah merangkul Rama.
Sontak mereka semua berjalan menghampiri Reiga.
"Buruannnn! Gue tinggal nih!!" seru Reiga seraya menekan tombol lift agar pintu tetap terbuka.
"Buset! Santai, Nyet!" cetus Zidane.
"Nggak bisa santai gue, gegara si Rama!" sebal Reiga.
Yang disebut namanya cuma cengar-cengir.
"Mas Ayangggggg, tungguin kali, Mas," ledek Brandon.
Mereka semua sontak tertawa terpingkal. Sementara Reiga merengut dengan muka senewen.
"Gue tampol ya lo, Ndon!" seru Reiga.
"Anjir! Galak amat budak setianya Hana," timpal Brandon.
"Sialan lu!" balas Reiga.
Tawa enam pria itu kembali terdengar begitu lepas dan riuh.