Sepasang mata berwarna coklat tampak menyorot tajam menatap seorang laki laki yang masih berdiri memaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, seakan tatapn mata berwarna coklat itu mampu menelannya hidup hidup saat ini juga.
"apa kamu tidak ingin menjelaskan semuanya stave...?"
suara yang baru saja keluar dari laki laki tersebut terdengar seperti sebuah kilatan petir, membuat stave semakinn menundukkan kepalanya semakin dalam.
"apa yang harus aku katakan setelah kamu sudah melihat semuanya."
kepalan tangan dan tonjolan urat yang terlihat jelas saat steave memberanikan diri menatap kearah di mana tangan leon dia letakkan di atas meja, steave rasanya ingin segera menghilang dan berlari dari depan leo, dia tahu dan paham akan tabiat leon ketika marah seperti sekarang.
"jika kamu tidak ingn menjelaskan siapa dia, maka..."
Leon menghentikan ucapannya, terdengar bunyi deritan kursi yang bergeser. seketika steve memberanikan diri menatap ke arah leon, yang kini dekatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa apa ini…?
Steve membuka pintu apartemen Leon, terlihat semua masih tertata rapi. Pandangan mata Steve mengedar melihat sekitar, dapat Steve perkirakan jika Leon belum pulang.
“Sepertinya kak Leon belum pulang.” Batin Steve sambil melangkahkan kakinya menuju ke kamar setelah menutup pintu apartemen Leon.
Belum juga Steve membuka pintu kamarnya, terdengar bunyi smart door yang di tekan dari luar. Steve terdiam, dia mengamati dan melihat kearah di mana perlahan pintu terbuka. Steve tersenyum melihat Leon yang masuk, saat Steve akan menegur Leon tiba tiba dia terdiam melihat dias yang datang bersama Leon.
“ oh… hai Steve..? Kamu sudah pulang ternyata…?” Sapa dias ramah melihat ke arah steve.
“Hai kak dias, iya kak baru aja pulang.” Jawab Steve terlihat sungkan.
Sedangkan Leon yang memperhatikan Steve tampak tidak enak hati, dia seakan terlihat sednag terpergok selingkuh dengan kekasihnya.
“Kalau begitu aku masuk kamar dulu ya kak.” Pamit Steve segera membalikkan tubuhnya, dia segera membuka pintu kamarnya dna memilih masuk ke dalam.
Pandangan mata Leon masih menatap tajam ke arah Steve, Leon merasa jika Steve sedang menghindarinya.
“Sayang, mau minum…? Biar aku buatkan, kamu mandi dulu sana.” Dias mendorong pelan lengan Leon. Berharap jika Leon segera mandi, setelah itu mereka bisa membicarakan rencana pentungan kedepan.
“Oke, aku mandi dulu ya…?” Pamit Leon yang mendapat angukan dari dias.
Melihat Leon yang masuk kedalam kamar, dengan segera dias berjalan menuju ke arah dapur. Dia yang sudah sangat hapal akan minuman favorit Leon segera mengambil toples kopi dan gula di dalam kitcen set.
Sedangkan Steve yang tadinya akan mandi memilih duduk di pinggiran tempat tidur, dia menatap ke arah balkon kamarnya. Rasa sesak tiba tiba menekan dadanya, tenggorokan nya tercekat oleh rasa yang dia sendiri tidak tahu apa sebabnya.
Melihat Leon yang datang bersama dias membuat Steve merasa sakit di dalam dadanya, berulang kali Steve meraup wajahnya. Dia tidak mengerti apa yang tengah dia rasakan saat ini, Steve yang merasa bingung berulang kali mengacak rambutnya kasar.
“Ada apa dengan ku, kenapa dada ini sesak melihat kak Leon yang datang bersama kak dias. Ya Tuhan, apa yang terjadi sama gue.” Gumam Steve merasa kesal dna bingung.
Tak berbeda dengan Leon yang kini ada di dalam kamarnya, dia menghela nafasnya berulang kali. Dia berulang kali menyugar rambutnya, seakan dia merasa kesal dengan dirinya sendiri. Leon memilih berdiri di luar balkon kamar, pemandangan di luar gedung terlihat menarik bagi dirinya.
Kletak…. Terdengar suara dari arah samping, tepat di mana kamar Steve berada. Letak balkon yang berdampingan memudahkan Leon dapat mendengar apa yang terjadi di kamar Steve.
“Steve…” panggil Leon melihat ke arah balkon kamar Steve.
Leon dapat mendengar suara benda jatuh di kamar Steve, Leon yang tampak kawatir segera mengintip di mana pintu kamar Steve tampak terbuka.
“Steve… hei Steve…!! Apa yang terjadi…?!” Suara Leon terdengar begitu panik, dia masih menatap pintu kamar Steve yang terbuka.
Sedangkan Steve yang mendengar panggilan dari Leon sengaja tidak keluar ke balkon kamar, Steve tahu jika Leon saat ini masih berdiri di balkon kamarnya.
“Steve, keluar atau aku akan nekat masuk melalui balkon kamar…!!?” Seru Leon agar Steve tidka keras kepala.
Steve masih diam, rasanya dia kesal dengan Leon dan tidak ingin bicara dengan Leon saat ini.
“Steve, aku serius….!!?” Ucap Leon terdengar mengancam Steve.
Dengan terpaksa Steve segera berdiri dan berjalan mendekat ke arah balkon kamar, dia melihat jika Leon menatapnya dengan sorot mata yang sangat tajam. Ada rasa kawatir yang Steve lihat dari kedua mata Leon, dengan gugup Steve mendekati Leon.
Jarak bersekat besi satu setengah meter yang berdiri menghalangi kamar mereka, menjadikan Leon dapat melihat Steve yang menundukkan kepalanya.
“Kamu tidak apa apa Steve…? Apa ada yang luka…? Apa kamu baik baik saja…? Ya Tuhan Steve, jangan buat aku kawatir.” Ucapan Leon seakan sangat mengkawatirkan kondisi Steve.
Perlahan Steve menatap Leon, dia dapat jelas melihat Leon yang terlihat mengkawatirkan kondisinya.
“Aku baik baik saja kak, hanya tadi buku ku terjatuh dari atas meja saat aku akan membereskannya.” Jawab Steve jujur.
“Syukurlah, aku kawatir jika kami terluka. Ya sudah sehabis mandi aku akan ke kamar kamu.”
Saat Leon akan berbalik, Steve menghentikan gerakkan Leon.
“Tidak usah kak, aku mau istirahat. Tadi di kampus banyak kegiatan, jadi aku sangat capek dan ingin langsung tidur sehabis mandi.” Bohong Steve yang tak ingin berbicara dengan Leon saat ini.
“Oh… begitu, ya sudah kamu istirahat kalau gitu. Aku akan menemui dias, kamu istirahat.”
Mendengar nama dias di sebut, Steve tanpa sadar mengepalkan tangannya. Dia kesal Leon lebih mementingkan dias di banding dirinya, seakan perhatian Leon kini sudah hilang.
“Hmm…” jawab Steve segera masuk ke dalam kamar dan segera menutup pintu balkon.
Leon menatap kepergian Steve yang tiba tiba, batin leon berfikir jika Steve memang sedang lelah. Dia tidak ingin berfikir yang berlebihan dengan sikap Steve saat ini.
Di dalam kamar Steve, perlahan dia menyandarkan tubuhnya di belakang pintu balkon. Rasa sesak kembali dia rasakan, seakan hati nya sangat terluka dengan kebingungannya saat ini.
“Enggak… enggak… aku enggak boleh seperti ini, Steve lo normal… elo nggak mungkin mempunyai rasa sama sepupu lo sendiri.” Batin Steve merutuki hatinya yang tengah kacau.
Dias yang sudah menyiapkan minuman untuk Leon tersenyum menatap meja mini bar yang terlihat dua minuman berjajar rapi dengan beberapa kue di sampingnya, dias yang melihat kue lapis di dalam kulkas segera dia ambil dan sajikan di atas meja.
Suara pintu kamar yang terbuka membuat atensi dias teralihkan, dia menatap Leon yang baru saja datang, kaos polos berwarna hitam dengan celana pendek di bawah lutut berwarna putih membuat Leon terlihat sangat tampan di mata dias.
Dengan gerakkan di buat secentil mungkin dias mendekati Leon, dias mengandeng tangan Leon mesra, sekaan dias takut kehilangan Leon.
“Yuk kita duduk, itu kopi dan kue lapis sudah aku siapkan khusus buat kamu.” Ucap dias di buat semanja mungkin.
“Kue lapis…? Kamu beli…?” Tanya Leon penasaran.
“Aku lihat ada kue lapis di dalam kulkas, jadi aku potong dan sajikan buat kamu.” Dias masih memegang tangan Leon.
“Oh… itu Steve yang membelikan buat camilan kami saat sedang santai, jadi kamu melihatnya..?. Ya sudah tidak apa apa, biar nanti aku bilang sama Steve saat dia sudah bangun.”
Leon menikmati minuman yang di buat dias dengan kue lapis di sampingnya, dias yang tidak peduli dengan kue yang di beli Steve ikut menikmati kue yang rasanya manis dan enak tersebut bersama Leon.
“Tampaknya hubunganmu sama Steve sangat dekat ya…?” Tanya dias penasaran.
“Ya begitulah, kemarin waktu aku sakit beruntung Steve sudha pulang. Dan dia yang merawatku, sampai aku sembuh.” Leon tersenyum membayangkan Steve yang merawatnya.
Dias terdiam melihat reaksi dari Leon, dia merasa jika hubungan antara Leon dan Steve tampak tidak biasa.