NovelToon NovelToon
Zee Dan Kamera Tua

Zee Dan Kamera Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Mengubah Takdir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: _SyahLaaila

Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.

Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.

Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.

Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22.

Zee menarik napas panjang setelah semua pembicaraan selesai. Dia menatap para pekerja yang kini berdiri rapi di hadapannya, wajah-wajah mereka penuh harap sekaligus semangat baru.

"Baik, kalau begitu kita mulai hari ini," ucap Zee dengan suara tenang namun tegas.

Dia kemudian menoleh pada Pak Ali. "Pak Ali, tolong antar mereka ke belakang rumah saya. Kita akan mulai pekerjaan dari sana."

Pak Ali mengangguk hormat. "Baik, Nona Zee."

Satu per satu para pekerja mulai bergerak mengikuti Pak Ali. Langkah mereka terdengar serempak, sedikit gugup namun penuh tekad. Bagi sebagian dari mereka, ini bukan sekedar pekerjaan... ini adalah kesempatan untuk memperbaiki hidup.

Sebelum mereka benar-benar mulai bekerja, Zee kembali angkat bicara. "Saya ingin kalian bekerja dengan jujur dan sungguh-sungguh. Untuk kebutuhan kalian, saya sudah siapkan semuanya," ujarnya.

Para pekerja saling pandang, sedikit penasaran.

"Kalian akan mendapatkan makan pagi, makan siang, dan juga minum teh di sore hari," lanjut Zee.

Ucapan itu seketika membuat suasana berubah. Wajah-wajah lelah yang tadi tampak cemas kini mulai berbinar. Beberapa bahkan tak bisa menyembunyikan rasa syukur mereka.

"Terima kasih, Nona." ucap salah satu dari mereka dengan suara bergetar.

Zee hanya tersenyum tipis. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi, namun sorot matanya menunjukkan ketulusan.

Setelah semuanya benar-benar beres dan para pekerja mulai sibuk di area belakang rumah, Zee berdiri sendiri di halaman. Angin siang berhembus pelan, membawa aroma tanah yang masih segar.

Ting!

Sebuah suara notifikasi terdengar. Zee sedikit terkejut, Dia segera mengalihkan pandangannya ke ponselnya.

*Notifikasi AetherShop*

*Selamat Anda mendapatkan hadiah, atas kontribusi Anda dalam membantu Desa Pesisir dan warga di sekitar Anda.*

Mata Zee melebar perlahan saat membaca lebih lanjut.

*Hadiah: Perkebunan dan Peternakan

*Perkebunan buah-buahan

*Perkebunan sayur

*Kebun tanaman obat-obatan

*Budidaya berbagai jenis ikan

*Peternakan sapi, ayam, domba, kambing, kuda, bebek, dan kelinci.

Zee pun terdiam dalam beberapa detik, "Ini... serius?" gumamnya dengan mata berbinar.

Angin kembali berhembus, seolah ikut menjadi saksi momen itu.

Zee menatap layar tersebut dengan perasaan campur aduk. Terkejut, sekaligus haru.

Sebuah perkebunan lengkap, peternakan besar, dan semua itu di berikan cuman karena Dia membantu Desa Pesisir dan warga Desa disekitar tempat tinggalnya.

Senyum tipis perlahan muncul di bibirnya. "Kalau begitu, ini bukan hanya tentang membantu Desa saja, tapi dapat membangun sesuatu yang lebih besar lagi." bisiknya pelan.

Matanya langsung menatap jauh ke arah lahan di belakang rumahnya, tempat para pekerja yang mulai membuka lahan.

Dan hari itu... bukan hanya awal dari pekerjaan baru. Melainkan awal dari sebuah perubahan besar yang belum pernah Dia bayangkan sebelumnya.

Bunyi mesin senso kayu, suara parang dan mesin rumput beradu dengan semak belukar mulai memenuhi udara.

Ranting-ranting kering patah satu per satu. Rumput liar yang selama ini tumbuh tak terurus kini mulai di tebas sampai bersih.

Di belakang rumah Zee. Tepat di luar pagar, lahan yang sebelumnya tampak sunyi perlahan berubah menjadi hidup.

Para pekerja bergerak dengan penuh semangat.

"Kita mulai dari sisi sini dulu!" seru salah satu pria sambil mengangkat parangnya.

"Iya, bersihkan dulu semaknya, nanti baru kita ratakan tanahnya!" sahut yang lain.

Keringat mulai membasahi dahi mereka, namun tak ada satu pun yang mengeluh. Justru sebaliknya, semangat mereka semakin terlihat jelas di setiap ayunan tangan.

Bagi mereka, pekerjaan ini bukan sekedar membersihkan lahan. Tapi ini adalah harapan dan awal untuk perubahan mereka.

Pak Ali berdiri tak jauh dari mereka, mengawasi dengan seksama. Sesekali Dia ikut membantu, tangannya yang sudah terbiasa bekerja di kebun bergerak cetakan menebas semak-semak tebal.

"Jangan terlalu dalam menebangnya! Sisakan sedikit untuk jadi penahan tanah!" ujarnya mengingatkan.

"Iya Pak!" jawab pada pekerja hampir bersamaan.

Di sisi lain, beberapa pekerja mulai mengumpulkan ranting dan kayu-kayu kering. Mereka menumpuknya di satu tempat, bersiap untuk di bakar atau dimanfaatkan nanti.

Sementara itu, yang lain mulai mencangkul tanah yang sudah di bersihkan.

Duk... duk... duk...

Suara cangkul menghantam tanah terdengar ritmis, seperti irama kerja yang menyatu dengan alam.

Tanah yang keras perlahan mulai gembur, membuka jalan untuk sesuatu yang akan tumbuh di masa depan.

"Sudah lama saya tidak bekerja dengan semangat seperti ini..." gumam seorang pria paru baya sambil mengusap keringatnya.

"Benar, rasanya beda. Seperti kita sedang membangun sesuatu milik kita sendiri," sahut temennya. Ucapan itu membuat beberapa orang lainnya tersenyum.

Tanpa mereka sadari, kebersamaan mulai tumbuh di antara mereka.

Tak ada lagi rasa canggung, jarak, yang ada hanyalah kerja keras dan tujuan yang sama.

Di kejauhan. Zee berdiri memperhatikan semuanya.

Dia tidak ikut turun tangan, namun matanya tak lepas dari setiap gerakan para pekerja. Dari cara mereka bekerja, dari tawa kecil yang sesekali terdengar, hingga dari semangat yang membara.

angin sore berhembus lembut, menggerakkan ujung rambutnya.

Zee menyilangkan tangannya di depan dada, dengan senyum tipisnya.

"Cepat sekali mereka beradaptasi..."

Matanya kemudian beralih ke hamparan lahan yang mulai terlihat berbeda. Semak belukar yang tadinya lebat kini mulai berkurang.

Meski masih jauh dari sempurna... Namun perubahan itu sudah terlihat. Dan itu cukup untuk membuat hati Zee merasa puasa.

Tak lama kemudian..."Air! Bawa air ke sini" teriak salah satu pekerja.

Beberapa orang segera berlari mengambil air. Mereka saling membantu tanpa diminta. Ada yang menuangkan, membagikan dan ada pula yang sekedar menyeka wajah dengan lega.

Tawa kecil kembali terdengar. Suasana yang tadinya penuh kerja keras kini terasa lebih hangat.

Zee mengamati semua itu dalam diam. Dalam hatinya, Dia tahu... apa yang sedang Dia bangun bukan perkebunan. Melainkan sesuatu yang lebih besar dari itu, yaitu sebuah kehidupan baru bagi semua orang.

Di bawa langit yang perlahan berubah jingga, suara kerja keras itu terus berlanjut. Menjadi saksi awal dari sebuah masa depan yang perlahan mulai terbentuk.

Matahari mulai naik semakin tinggi, sinarnya terasa lebih terik dari sebelumnya. Bayangan pepohonan perlahan memendek, menandakan waktu terus berjalan.

Di belakang rumah Zee, suara kerja masih terdengar, meski kini mulai diselingi napas yang lebih berat.

Keringat mengalir di pelipis para pekerja. Gerakan mereka tidak secepat satu jam yang lalu, namun semangat mereka masih ada, masih menyala, meski tubuh mulai terasa lelah.

Zee yang berdiri tak jauh dari sana, langsung melirik waktu. "Sebentar lagi, waktunya makan." gumamnya pelan.

Dia mengambil ponsel dari saku celananya, membuka aplikasi AetherShop. Jemarinya bergerak cepat memilih menu makanan yang sederhana namun cukup mengenyangkan.

Nasi putih hangat, daging sapi kecap, sayur tumis segar dan air putih dingin di botol. Semua itu terlihat sederhana, namun Zee tahu semua yang berasal dari AetherShop semua tidak biasa.

Setelah memastikan jumlah pesanan sesuai dengan jumlah pekerja, Dia memilih opsi pengiriman menggunakan kurir jasa biasa. Zee sengaja menggunakannya agar tidak menimbulkan kecurigaan.

*Pesanan dikonfirmasi.

Beberapa menit berlalu, suara mesin kendaraan tiba-tiba terdengar dari arah depan. Sebuah mobil box putih berhenti tak jauh dari area belakang rumah.

Seolah waktu sudah diatur dengan sempurna. para pekerja pun juga mulai menghentikan aktivitas mereka.

"Sepertinya sudah waktunya istirahat..." ujar salah satu dari mereka sambil meregangkan bahu.

"Pas sekali..." sahut yang lain.

Zee melangkah mendekat saat kurir turun dari mobil.

"Pesanan atas nama Nona Zee?" tanya kurir itu sopan.

"Iya benar," jawab Zee singkat.

Beberapa kotak makanan diturunkan dengan rapi. Setelah semuanya diterima, kurir itu pun segera pamit dan pergi, meninggalkan suasana yang kini mulai dipenuhi aroma makanan.

Aroma daging kecap yang manis gurih perlahan menyebar di udara.

Perut-perut kini mulai ikut berbunyi. Zee menoleh ke arah para pekerja.

"Sebelum makan, silahkan cuci tangan dulu di tempat yang sudah saya sediakan," ucapnya dengan tenang.

Dia menunjuk ke arah sudut, di mana ember air bersih dan sabun telah disiapkan sebelumnya.

Para pekerja mengangguk. "Iya Nona!"

Mereka pun berjalan ke sana, bergantian mencuci tangan. Air mengalir, membasuh debu dan kotoran dari kerja keras mereka dari sejak pagi.

Setelah itu, mereka mulai berbaris dengan tertib. Zee berdiri di dekat kotak makanan, "satu per satu, silahkan antre," ujarnya.

Tak ada yang berebut dan mendorong. Mereka dengan sabar menunggu giliran menerima jatah masing-masing dengan wajah penuh rasa syukur.

"Terima kasih Nona..." ucap salah satu pria saat menerima makanannya.

Zee hanya mengangguk kecil.

Tak lama kemudian, mereka semua duduk di tempat masing-masing. Ada yang duduk di atas batang kayu, ada yang langsung di tanah dengan beralaskan kain, dan ada pula yang bersandar di dekat pagar.

Saat kotak makanan dibuka, uap hangat dan harum makanan langsung mengepul.

Nasi putih yang pulen, daging sapi kecap yang tampak mengilap dengan kuah kentalnya, dan sayur tumis yang masih segar.

"Wah... ada daging nya..." gumam salah satu pekerja dengan mata berbinar.

Tanpa menunggu lama, mereka mulai makan. Suara sendok dan kunyah terdengar di sana-sini.

Namun perlahan... seketika ada sesuatu yang terasa berbeda dan aneh. Rasa lelah yang tadi mereka rasakan perlahan menghilang.

Tenaga yang tadi sempat hilang, mulai kembali, punggung yang terasa berat, kini terasa lebih ringan.

Beberapa dari mereka bahkan saling berpandangan. "Entah kenapa, rasa badanku jadi segar lagi..." bisik seseorang.

"Iya... padahal tadi capek banget."

Tapi tidak ada yang benar-benar memikirkannya terlalu jauh. Bagi mereka, itu mungkin karena mereka makan dan istirahat yang cukup.

Mereka tidak tahu saja, bahwa makanan yang mereka makan itu bukan sekedar mengatasi lapar dan pengisi perut. Melainkan ada sumber energi yang diam-diam mengembalikan stamina mereka.

Di kejauhan, Zee memperhatikan semuanya dengan tenang. Senyum tipis terukir di wajahnya.

"Efeknya langsung terasa." ucapnya pelan.

Dia lalu mengalihkan pandangannya ke langit yang mulai menunjukkan siang penuh. Dengan tenaga yang kembali pulih, Zee tahu satu hal pasti.

Setelah makan siang ini, pekerjaan mereka akan berjalan jauh lebih cepat dari yang di bayangan siapapun.

1
Ida Kurniasari
Doble up thorr
Ida Kurniasari
Doble up thor
Ida Kurniasari
Doble up dong thorr😍
keyza formoza
lanjut thoorr
Ida Kurniasari
sangat sangat menarik thor
SyahLaaila: siap kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
bagus banget thorr,lanjutt up😍
Ida Kurniasari
😍
Chen Nadari
The best Thorr
SyahLaaila: makasih kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
baru bab satu aja udah deg degan thor,ceritamu bikin penasaran
Musdalifa Ifa
menguji kesabaran
Andira Rahmawati
mau nabung dulu biar puas entar bacanya👍👍💪💪💪
Andira Rahmawati
trusss semangat💪💪💪 lanjuttt
Andira Rahmawati
lama amattt jadi penasaran...
Andira Rahmawati
hadir thorr
Twis G
semangat author 🌹🌹🌹
Narina
lanjut thor semakin penasaran 😍😍
Narina
cerita nya seru thor lanjut 🌷🌷🌷
SyahLaaila: siap kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!