NovelToon NovelToon
PENGANTIN ARWAH

PENGANTIN ARWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lilack Sunrise

Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan masa lalu

Kirana menatap Li Wei tanpa berkedip, seolah jika dia mengalihkan pandangan satu detik saja, sosok itu akan hilang atau lebih buruk, berubah menjadi sesuatu yang tidak ingin dia kenali. Ada tarikan halus di dalam dadanya, seperti benang yang ditarik perlahan dari tempat yang terlalu dalam. Tidak sakit. Belum. Tapi cukup untuk membuat napasnya terasa tidak utuh.

“Aku pernah… ninggalin kamu?” suaranya tipis, hampir retak sebelum selesai.

Li Wei tidak langsung menjawab. Matanya tetap pada Kirana, tenang seperti permukaan air yang tidak menunjukkan apa pun yang ada di bawahnya. Lalu, sangat pelan, dia menggeleng.

“Kamu nggak pergi,” katanya. “Kamu yang bikin aku tetap.”

Kalimat itu jatuh tanpa nada menyalahkan. Justru itu yang membuatnya menghantam lebih keras.

Kirana mengernyit, langkahnya goyah setengah inci ke belakang. “Aku nggak ngerti.”

Li Wei mengangguk kecil, seolah itu wajar. Seolah kebingungan itu adalah bagian dari proses yang sudah dia tunggu lama.

“Lihat lagi.”

Tangannya terangkat sedikit tidak menyentuh, tidak memaksa hanya mengarah ke sisi ruangan.

Salah satu lampion bergetar.

Cahaya di sekitarnya meredup.

Dan ruangan itu berubah lagi.

Bukan menghilang.

Tapi… mundur.

Seperti lapisan yang disingkap.

Kirana tidak sempat bereaksi saat ruang di depannya terlipat menjadi fragmen lain lebih jelas, lebih utuh dari sebelumnya.

Dia melihat dirinya.

Bukan yang di kantor.

Bukan yang tadi.

Yang ini berbeda.

Pakaiannya berat, rambutnya tersusun rapi dengan hiasan yang tidak dia kenali tapi terasa familiar di kulit kepalanya. Tangannya gemetar, tapi bukan karena takut lebih karena menahan sesuatu yang tidak bisa dia lepaskan.

Di depannya Li Wei.

Lebih muda.

Lebih hidup.

Dan masih… manusia.

“Aku cuma mau kamu janji.”

Suara Kirana terdengar di fragmen itu lebih tajam, lebih penuh tuntutan.

Li Wei tidak langsung menjawab. Tatapannya lembut, tapi ada kehati-hatian di sana.

“Aku di sini,” katanya pelan. “Aku nggak ke mana-mana.”

“Tapi kamu bisa.”

Cepat. Hampir memotong.

Kirana di dalam fragmen itu melangkah mendekat. Terlalu dekat.

“Semua orang bisa pergi,” lanjutnya, napasnya tidak stabil. “Kamu juga.”

Li Wei terdiam.

Bukan karena tidak punya jawaban.

Tapi karena dia memilih tidak melawan.

Kirana melihat tangannya sendiri di dalam fragmen menggenggam sesuatu.

Cincin itu.

Kilau peraknya redup di bawah cahaya lampion.

“Aku cuma butuh ini,” katanya pelan, tapi nadanya tidak lagi meminta. “Biar kamu selalu ada .”

Ada jeda.

Panjang.

Terlalu panjang.

Li Wei menatap cincin itu, lalu kembali ke wajah Kirana.

Tidak ada penolakan.

Tidak ada ketakutan.

Hanya penerimaan yang terlalu tenang untuk situasi itu.

“Kalau itu yang bikin kamu tenang,” katanya akhirnya.

Dan di detik itu

sesuatu di dalam Kirana yang sekarang… runtuh sedikit.

Fragmen itu tidak berhenti.

Dia berlanjut.

Cincin dipakaikan.

Udara berubah.

Lampion berayun tanpa angin.

Dan senyum di wajah Kirana yang dulu tidak terasa hangat.

Lebih seperti lega yang dipaksakan.

Lalu

gelap.

Fragmen itu pecah.

Kirana tersentak mundur satu langkah.

Napasnya berat sekarang. Tidak teratur. Tangannya gemetar saat dia menatap Li Wei yang berdiri di hadapannya, dalam diam yang sama.

“Itu…” suaranya hilang sebelum selesai.

Dia tahu.

Tanpa perlu dijelaskan.

Li Wei tidak bergerak.

“Bukan cincinnya,” katanya pelan. “Yang bikin aku ada.”

Kirana menatapnya, matanya mulai berkilat oleh sesuatu yang belum jatuh.

“Terus apa?”

Li Wei terdiam sejenak.

Lalu

“Kamu.”

Satu kata.

Sederhana.

Tapi membawa sesuatu yang terlalu besar untuk ditahan.

Dan di detik itu

Kirana akhirnya mengerti sesuatu yang lebih menakutkan dari semua yang dia lihat sejauh ini.

Bukan tentang roh.

Bukan tentang masa lalu.

Tapi tentang dirinya sendiri.

Bahwa yang dia lakukan dulu…

berhasil.

Dan konsekuensinya…

REIKARNASI

Sulit melepaskan ,sulit terbebas

Dari terikat oleh karma berubah jadi kehilangan kendali karma.

Jika bertemu di kehidupan ini pasti ada hutang yang tertinggal.

^^^Jika kehidupan lalu tak berhutang di kehidupan ini tidak akan bertemu.^^^

Ujung jarinya masih bergerak samar, seperti menyimpan ingatan yang belum sempat hilang. Kirana membuka matanya perlahan, dan dunia di sekelilingnya terasa sedikit berbeda bukan berubah sepenuhnya, tapi bergeser. Seolah batas antara yang tadi dia lihat dan yang sekarang dia pijak mulai menipis, tidak lagi terpisah dengan jelas.

Dia menarik napas, tapi udara yang masuk terasa lebih hangat dari sebelumnya.

“Kenapa…” suaranya nyaris tidak terdengar, “…kenangan itu beda?”

Li Wei tidak langsung menjawab.

Kirana bisa merasakannya kehadirannya di belakang, tenang seperti sebelumnya, tapi ada sesuatu yang berubah. Bukan pada sikapnya. Lebih pada jarak yang tidak lagi terasa jauh.

“Itu bukan kenangan yang kamu tolak,” jawabnya akhirnya.

Kirana menoleh perlahan.

Tatapan mereka bertemu lagi.

Tidak ada bayangan. Tidak ada distorsi.

Hanya dua orang yang berdiri di ruang yang tidak sepenuhnya nyata, tapi terasa lebih jujur dari apa pun yang pernah dia kenal.

“Yang kamu buang…” lanjut Li Wei, suaranya rendah, “bukan momen itu.”

Kirana menelan pelan.

Dia tahu ke mana arah pembicaraan ini berjalan.

“Yang aku buang…” ulangnya, hampir seperti memastikan, “…perasaannya?”

Li Wei tidak mengangguk.

Tidak juga menyangkal.

Tapi diamnya cukup jelas.

Kirana mengalihkan pandangan. Tangannya perlahan menggenggam ujung lengan bajunya sendiri, seolah butuh sesuatu untuk menahan getaran halus yang mulai naik dari dalam.

“Kalau itu yang paling nyata,” katanya pelan, “kenapa aku harus buang?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Tapi jawabannya tidak.

Sunyi turun cukup lama.

Bukan karena Li Wei tidak tahu harus berkata apa.

Tapi karena beberapa jawaban… tidak bisa langsung diberikan tanpa merusak sesuatu yang sedang terbentuk.

“Kamu nggak buang karena itu salah,” katanya akhirnya.

Kirana menatapnya lagi.

“Aku buang karena aku takut,” potongnya cepat.

Li Wei memperhatikannya.

Lebih lama dari sebelumnya.

“Bukan takut kehilangan,” lanjut Kirana, suaranya mulai bergetar tipis, “…tapi takut jadi aku yang di sana.”

Dia tidak perlu menunjuk.

Keduanya tahu maksudnya.

Versi dirinya di fragmen tadi.

Yang mencengkeram terlalu kuat.

Yang tidak tahu kapan harus berhenti.

Yang tidak tahu bagaimana mencintai tanpa menahan.

Dan untuk pertama kalinya

tidak ada penyangkalan.

Hanya pengakuan yang datang tanpa diminta.

Li Wei tidak bergerak.

Tapi ada sesuatu di matanya sekarang.

Bukan kejutan.

Bukan juga penilaian.

Lebih seperti… kelegaan kecil.

“Sekarang kamu mulai inget,” katanya pelan.

Kirana tertawa kecil.

Pendek.

Kosong.

“Kalau ini inget…” dia menggeleng pelan, “…kenapa rasanya kayak baru pertama kali jujur?”

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka.

Dan untuk sesaat

tidak ada yang mencoba menjawab.

Karena mungkin… itu memang bukan pertanyaan yang butuh jawaban.

Kirana menarik napas lagi.

Lebih dalam kali ini.

Lalu dia melangkah satu langkah mendekat.

Tidak banyak.

Hanya cukup untuk memperkecil jarak yang tadi terasa aman.

Sekarang

tidak lagi.

“Kalau aku ingat semuanya…” suaranya lebih stabil sekarang, meski masih pelan, “…apa aku bakal jadi kayak dulu lagi?”

Li Wei menatapnya.

Tidak langsung menjawab.

Ada jeda yang terasa seperti keputusan.

Lalu

“Kamu nggak pernah berhenti jadi itu.”

Jawaban itu datang tenang.

Tanpa drama.

Tanpa tekanan.

Tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam Kirana bergeser lagi.

“Bedanya,” lanjutnya, “kamu sekarang punya pilihan buat mengerti… bukan cuma merasakan.”

Kirana terdiam.

Kalimat itu tidak langsung menenangkan.

Tapi juga tidak menakutkan.

Lebih seperti membuka sesuatu yang selama ini dia hindari.

Perlahan.......

Tanpa memaksa......

Angin tipis kembali lewat di ruang itu meski tidak jelas dari mana datangnya. Lampion di kejauhan bergoyang sedikit, seolah ruang itu masih membawa sisa-sisa dari fragmen tadi.

Kirana menatap Li Wei.

Lebih lama.

Mencoba melihat bukan hanya siapa dia sekarang

tapi siapa dia dulu.

Dan kenapa semua ini terasa… terlalu dalam untuk dianggap kebetulan.

“Waktu itu…” dia berhenti sebentar, memilih kata, “…kamu tahu?”

Li Wei tidak mengalihkan pandangan.

“Tahu apa?”

Kirana menarik napas pelan.

“Kalau aku bakal… nyakitin kamu.”

Sunyi.

Lebih berat dari sebelumnya.

Li Wei akhirnya bergerak.

Satu langkah.

Mendekat.

Sekarang jarak mereka hampir tidak ada.

Cukup dekat sampai Kirana bisa melihat detail kecil yang tadi terlewat garis halus di sudut matanya, cara napasnya naik turun perlahan, dan sesuatu di tatapannya yang tidak berubah sejak awal.

“Aku tahu kamu takut,” katanya pelan.

Bukan jawaban yang Kirana harapkan.

Tapi mungkin… yang dia butuhkan.

“Bukan itu,” Kirana menggeleng, lebih cepat sekarang, “aku tanya kamu tahu aku bakal”

“Aku tahu.”

Kali ini Li Wei memotong.

Lembut.

Tapi tegas.

Kirana berhenti.

Kata-kata berikutnya tidak jadi keluar.

“Dan kamu ada.”

“Iya.”

Tidak ada jeda.

Tidak ada ragu.

Kirana menatapnya.

Lebih lama.

Mencari sesuatu penyesalan, kemarahan, setidaknya sedikit luka yang masih terbuka.

Tapi yang dia temukan…

hanya ketenangan yang tidak masuk akal.

Dan itu justru yang paling menyakitkan.

“Kenapa?” suaranya hampir pecah sekarang.

Li Wei tidak langsung menjawab.

Tangannya bergerak sedikit.

Berhenti di antara mereka.

Tidak menyentuh.

Tapi cukup dekat untuk terasa.

“Karena waktu itu,” katanya pelan, “aku pikir… kamu bakal berhenti.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi membawa sesuatu yang lebih berat dari semua yang sudah dia dengar.

Harapan.

Yang tidak terpenuhi.

Kirana menunduk sedikit.

Dadanya terasa penuh sekarang.

Terlalu penuh.

Seolah semua yang dia buang dulu… mulai kembali di waktu yang bersamaan.

“Aku nggak berhenti,” bisiknya.

Li Wei menggeleng kecil.

“Sekarang kamu berhenti.”

Kirana mengangkat wajahnya lagi.

Dan untuk pertama kalinya

ada sesuatu yang berbeda di antara mereka.

Bukan sekadar kenangan.

Bukan sekadar rasa bersalah.

Tapi kemungkinan.

Yang rapuh.

Yang tidak pasti.

Tapi ada.

Tangannya bergerak pelan.

Lebih sadar sekarang.

Lebih hati-hati.

Dan kali ini

dia yang mendekatkan jarak itu.

Jari-jarinya menyentuh tangan Li Wei.

Pelan.

Ragu di awal.

Seolah menunggu sesuatu menolak.

Tapi tidak ada.

Hangat.

Nyata.

Dan tidak hilang.

Napas Kirana tertahan.

Matanya tidak lepas dari titik di mana mereka bersentuhan.

Seolah itu bukti pertama.

bahwa semua ini bukan hanya bayangan.

Li Wei tidak menarik tangannya.

Tidak juga menggenggam.

Dia hanya membiarkan.

Seperti dulu.

Tapi kali ini

Kirana yang tidak melepaskan.

Dan di ruang yang tidak punya waktu itu

untuk sesaat

tidak ada masa lalu.

Tidak ada masa depan.

Hanya dua makhluk ciptaan yang maha agung yang akhirnya berhenti lari.

Meski keduanya tahu

ini bukan akhir dari apa pun.

Justru awal dari sesuatu yang tidak bisa lagi dihindari.

1
Dania
semangat tor
byyyycaaaa
keren,lanjutkan thorr
no more dreams
bagusssssss
Na Er
bagus
byyyycaaaa
lanjut dong thor
CIngakuu🦁: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!