NovelToon NovelToon
Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Janda
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Masa-masa tenang di Pulau Dewata akhirnya harus berganti dengan kenyataan yang manis.

Bulan madu telah usai, meninggalkan kenangan tentang senja di Uluwatu dan janji untuk menuntaskan masa lalu.

Zaidan dan Sulfi kembali ke kota dengan perasaan yang jauh lebih segar, siap untuk kembali memijak bumi dan menghadapi dunia.

Namun, kepulangan mereka kali ini bukan untuk langsung berhadapan dengan berkas kasus yang rumit.

Siang ini mereka menuju ke gedung pernikahan Yuana dan Kompol Hendrawan.

Suasana gedung yang megah itu tampak sangat kontras dengan suasana ruang sidang yang biasa mereka tempati.

Karangan bunga berjajar rapi di sepanjang pintu masuk, menebarkan aroma melati yang semerbak dan menenangkan.

Zaidan tampak gagah mengenakan setelan jas berwarna gelap yang pas di tubuh tegapnya, sementara Sulfi terlihat sangat anggun dengan kebaya berwarna lembut yang senada dengan jilbabnya.

Kalung pemberian Zaidan melingkar indah di lehernya, menjadi saksi bisu kebahagiaan yang kini ia rasakan.

"Siap melihat Komandan kita jadi pengantin, Sayang?" goda Zaidan sambil menggandeng tangan Sulfi melintasi karpet merah menuju area resepsi.

Sulfi tersenyum manis, "Aku lebih tidak sabar melihat wajah grogi Kompol Hendrawan, Mas. Biasanya beliau sangat tegas, pasti hari ini sangat berbeda."

Saat mereka memasuki aula utama, pandangan mereka langsung tertuju pada pelaminan.

Di sana, Yuana tampak seperti bidadari dengan kebaya putih yang tempo hari ia ceritakan melalui telepon, bersanding dengan Kompol Hendrawan yang terlihat sangat berwibawa namun tak mampu menyembunyikan binar kebahagiaan di matanya.

Langkah kaki Zaidan dan Sulfi semakin mantap. Kehadiran mereka di pesta ini bukan hanya sebagai tamu, melainkan sebagai keluarga yang telah bersama-sama melewati badai maut.

Di gedung pernikahan ini, mereka merayakan sebuah kemenangan—bukan kemenangan dalam kasus hukum, melainkan kemenangan cinta yang berhasil bertahan di tengah kerasnya perjuangan mencari keadilan.

Suasana khidmat menyelimuti seluruh ruangan saat suara lantang Kompol Hendrawan menggema, mengucapkan kalimat kabul dengan satu tarikan napas yang mantap.

Begitu saksi meneriakkan kata "Sah!", ketegangan seketika mencair dan berubah menjadi gemuruh akad nikah dan tepuk tangan meriah dari seluruh tamu undangan yang hadir.

Sulfi yang berdiri di samping Zaidan tampak mengusap sudut matanya, merasa terharu melihat Yuana akhirnya menemukan pelabuhan hatinya.

Melihat momen bahagia itu sudah resmi, Zaidan menggandeng tangan istrinya untuk bersalaman dan foto bersama di atas pelaminan yang didekorasi dengan bunga-bunga segar.

Saat giliran mereka tiba, Zaidan menjabat tangan Kompol Hendrawan dengan sangat erat, namun matanya berkilat jahil. Inilah saatnya ledekan Zaidan keluar untuk menggoda sang atasan yang biasanya sangat kaku dan disegani di kepolisian.

"Luar biasa, Komandan. Ternyata lebih tegang menghadapi meja akad daripada menghadapi sindikat kelas kakap, ya?" bisik Zaidan sambil terkekeh pelan, membuat Kompol Hendrawan yang biasanya berwibawa itu mendadak salah tingkah dan wajahnya memerah.

Zaidan tidak berhenti di situ. Saat mereka berpose di depan kamera, ia melirik ke arah Yuana dan kembali berbisik, "Hati-hati, Yuana. Di kantor beliau memang Komandan, tapi di rumah, tetap harus laporan ke kamu sebagai 'atasan' yang sebenarnya."

Yuana hanya bisa tertawa kecil sambil menutupi mulutnya, sementara Kompol Hendrawan berdeham keras mencoba menutupi rasa malunya meski senyum lebar tetap menghiasi bibirnya.

Sulfi mencubit pelan pinggang suaminya agar berhenti menggoda pengantin baru itu, namun ia sendiri tidak bisa menahan tawa melihat interaksi jenaka tersebut.

Di atas pelaminan itu, di bawah kilatan lampu kamera, mereka mengabadikan momen persahabatan yang erat.

Sebuah foto yang tidak hanya merekam pernikahan, tapi juga kebersamaan para pejuang yang telah berhasil melewati masa-masa kelam dan kini bisa tertawa lepas merayakan kehidupan baru.

Setelah sesi foto dan ledekan jenaka di pelaminan berakhir, Zaidan dan Sulfi beralih menuju area makan prasmanan yang telah tertata rapi.

Aroma sedap dari berbagai stan makanan langsung menyergap indra penciuman mereka, membuat suasana lapar mulai terasa setelah rangkaian acara yang panjang.

Sulfi tergoda dengan iga bakar dan bakso yang tampak sangat menggiurkan di sudut ruangan. Zaidan, dengan sifat protektif dan perhatiannya, segera mengambilkan piring dan membantu istrinya mengantre.

Ia memastikan Sulfi mendapatkan potongan iga yang paling empuk dan kuah bakso yang masih panas mengepul.

"Pelan-pelan makannya, Sayang. Jangan sampai tersedak karena terlalu semangat," goda Zaidan sambil memberikan segelas air mineral.

Sulfi hanya membalas dengan senyuman lebar, menikmati setiap suapan iga bakar yang bumbunya meresap hingga ke tulang.

Rasanya begitu nikmat, seolah menambah energi setelah perjalanan jauh dari Bali.

Tak berhenti sampai di situ, selera makan Sulfi tampaknya sedang sangat baik siang ini.

Setelah itu dilanjutkan dengan siomay dan es krim sebagai hidangan penutup.

Ia mencicipi siomay bumbu kacang yang kental, lalu beralih menikmati dinginnya es krim vanila yang manis.

Zaidan yang hanya memperhatikan istrinya makan dengan lahap merasa sangat bahagia.

Melihat Sulfi memiliki nafsu makan yang besar adalah tanda bahwa pemulihan fisiknya pasca-operasi benar-benar berjalan sempurna.

"Sepertinya udara Bali dan kabar bahagia dari Yuana benar-benar membuatmu lapar, ya?" bisik Zaidan sambil menyeka sedikit sisa es krim di sudut bibir Sulfi menggunakan tisu.

Di tengah riuhnya pesta pernikahan dan denting musik yang mengalun, mereka menikmati momen sederhana itu dengan penuh syukur.

Perut yang kenyang dan hati yang tenang menjadi penutup yang manis untuk hari bersejarah bagi sahabat mereka, sekaligus menjadi tenaga baru bagi Sulfi untuk mulai memikirkan langkah selanjutnya dalam mengungkap misteri masa lalunya.

Matahari mulai condong ke barat saat resepsi pernikahan Yuana dan Kompol Hendrawan berangsur sepi.

Kerumunan tamu mulai berkurang, digantikan oleh percakapan santai di antara kerabat dekat.

Melihat Sulfi yang sudah menghabiskan es krimnya, Zaidan mengajak istrinya untuk pulang.

Ia khawatir istrinya kelelahan setelah seharian berada di keramaian pasca perjalanan jauh dari Bali.

"Ayo, Sayang. Kita pulang sekarang supaya kamu bisa istirahat. Tubuhmu masih butuh pemulihan total," bisik Zaidan sambil merangkul bahu Sulfi.

Namun, di luar dugaan, bukannya setuju untuk segera beristirahat di rumah, Sulfi justru menahan langkah suaminya saat mereka baru saja sampai di area parkir.

Ia menatap Zaidan dengan tatapan yang sulit diartikan, namun penuh keinginan.

"Mas, sebelum pulang, kita mampir sebentar ya? Sulfi mengajak makan gado-gado di warung langganan kita yang di dekat kompleks," ucapnya dengan nada manja.

Zaidan menghentikan langkahnya dan menatap Sulfi dengan kening berkerut.

Ia teringat betapa lahapnya istrinya tadi saat di gedung pernikahan.

Mulai dari iga bakar, bakso, hingga siomay dan es krim, semuanya habis tak bersisa.

"Sayang, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Zaidan cemas, ia meletakkan telapak tangannya di dahi Sulfi, memastikan istrinya tidak sedang demam atau mengalami gangguan pencernaan.

"Tadi di dalam kamu sudah makan banyak sekali, loh."

Sulfi menganggukkan kepalanya dengan cepat, meyakinkan suaminya bahwa ia merasa sangat bugar.

Ia sendiri sebenarnya merasa heran dengan kondisinya saat ini.

"Aku sehat, Mas. Benar-benar sehat. Hanya saja, entah kenapa ia masih merasa lapar," jawab Sulfi sambil memegang perutnya yang sebenarnya sudah terasa kenyang, namun lidahnya masih menginginkan rasa gurih bumbu kacang.

Zaidan tertegun sejenak, lalu sebuah senyuman penuh arti terbit di wajah tampannya.

Ia teringat doa Kompol Hendrawan di bandara tempo hari tentang "Zaidan Junior".

Apakah ini pertanda bahwa doa itu mulai dikabulkan? Tanpa banyak tanya lagi, Zaidan membukakan pintu mobil dengan penuh semangat.

"Apapun untukmu, Sayang. Gado-gado, sate, atau apapun itu, kita beli sekarang," ucap Zaidan sambil mengedipkan sebelah matanya.

Mobil pun meluncur membelah jalanan kota, membawa sejuta tanya dan harapan baru di hati Zaidan, sementara Sulfi duduk di sampingnya sambil membayangkan nikmatnya sepiring gado-gado hangat yang akan menjadi penutup hari yang luar biasa ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!