NovelToon NovelToon
Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Janda / Tamat
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Malam merayap semakin sunyi di kediaman mereka yang kini dijaga ketat.

Setelah menyelesaikan makan malam dan minum vitamin sesuai petunjuk dokter, Sulfi tampak lebih tenang meski gurat kelelahan masih membekas di wajahnya.

Zaidan duduk di sampingnya, membiarkan istrinya bersandar di bahunya sambil mengusap lembut perut Sulfi yang kini menjadi pusat semesta barunya.

Suasana hangat itu sedikit berubah ketika Zaidan memperbaiki posisi duduknya.

Wajahnya kembali serius, mencerminkan tanggung jawab besar yang harus ia emban sebagai perwira sekaligus suami.

"Sayang," panggil Zaidan lembut.

"Zaidan memberitahukan kalau besok sidang Bima mulai dilaksanakan."

Sulfi tertegun sejenak. Kabar itu seperti hantaman ombak yang mengingatkannya bahwa perjuangan mereka telah mencapai puncaknya.

Besok bukan lagi sekadar interogasi di kantor polisi, melainkan panggung hukum di mana kebenaran akan diuji di hadapan hakim.

"Apakah kamu siap untuk menjadi saksi?" tanya Zaidan sambil menatap dalam ke netra istrinya.

Ada nada kekhawatiran dalam suaranya, mengingat pesan dokter agar Sulfi tidak terlalu lelah atau stres di trimester pertama ini.

Sulfi menganggukkan kepalanya dengan mantap. Tidak ada keraguan di matanya kali ini.

Ketakutan yang sempat melumpuhkannya saat penembakan di kedai bubur kemarin seolah menguap, digantikan oleh tekad baja.

"Aku siap, Mas," jawab Sulfi tegas.

"Demi keadilan untuk masa lalu, dan demi masa depan anak kita. Aku tidak ingin dia lahir di dunia di mana penjahat seperti Bima masih bisa tertawa di atas penderitaan orang lain."

Zaidan mengecup kening Sulfi lama, merasa bangga akan keberanian istrinya.

"Mas akan selalu ada di sampingmu. Di dalam ruang sidang nanti, jangan lihat ke arah Bima. Lihatlah ke arah Mas. Kita akan selesaikan ini bersama-sama."

Malam itu ditutup dengan janji sunyi. Di bawah perlindungan vitamin dan penjagaan petugas di luar rumah, Sulfi memejamkan mata, menyiapkan mental untuk menghadapi wajah iblis dari masa lalunya di kursi pesakitan esok hari.

Pagi yang menentukan itu akhirnya tiba. Sinar matahari yang masuk melalui celah jendela seolah membawa energi baru bagi penghuni rumah.

Sulfi sudah siap dengan pakaian hamilnya, ia berdiri di depan cermin.

Gaun longgar berwarna biru pastel itu tampak sangat pas, memberikan kenyamanan sekaligus perlindungan bagi perutnya yang mulai menjadi prioritas utama.

Sulfi menarik napas dalam-dalam, merapikan sedikit kerudungnya.

Meskipun jantungnya berdegup kencang membayangkan harus bertemu Bima di ruang sidang, kehadirannya sebagai saksi kunci adalah satu-satunya jalan untuk mengakhiri mimpi buruk ini.

Zaidan masuk ke dalam kamar dengan langkah tegap, sudah mengenakan seragam dinasnya yang gagah.

Ia menatap istrinya dengan pandangan penuh kekaguman.

Zaidan mengajak istrinya dan ia juga sudah menyiapkan bekal di dalam sebuah tas kecil yang ia jinjing.

"Sudah siap, Sayang?" tanya Zaidan lembut.

Ia menunjukkan tas bekal itu kepada Sulfi. "Mas sudah siapkan buah potong, biskuit gandum, dan air jahe hangat. Dokter bilang jangan sampai perutmu kosong agar tidak mual selama persidangan nanti."

Sulfi tersenyum haru, menyentuh lengan suaminya.

Perhatian kecil Zaidan adalah kekuatan terbesarnya.

"Terima kasih, Mas. Kamu benar-benar memikirkan segalanya."

"Tugas Mas adalah menjagamu dan si kecil tetap tenang," balas Zaidan sambil mengecup dahi Sulfi.

Mereka berjalan keluar rumah menuju mobil yang sudah menunggu.

Beberapa petugas pengawal sudah bersiaga di kendaraan masing-masing, membentuk barisan pengamanan yang ketat.

Di tengah perjalanan menuju Pengadilan Negeri, Zaidan terus menggenggam tangan Sulfi, memastikan istrinya merasa aman di dalam dekapan perlindungannya.

Hari ini bukan hanya tentang membalas dendam masa lalu, tapi tentang menegakkan keadilan bagi masa depan yang sedang mereka bawa di dalam rahim Sulfi.

Gedung Pengadilan Negeri tampak lebih ramai dari biasanya.

Awak media mulai berkerumun di depan gerbang, namun barisan pengawal Zaidan dengan sigap membuka jalan agar mobil bisa langsung masuk ke area parkir khusus.

Sesampainya di pengadilan, mereka disambut oleh Yuana sebagai pengacara dan Kompol Hendrawan yang sudah menunggu di anak tangga utama.

Yuana tampil sangat profesional dengan setelan blazer hitamnya, wajahnya menunjukkan kesiapan penuh untuk bertarung di meja hijau.

Sementara itu, Kompol Hendrawan memberikan anggukan hormat kepada Zaidan dan senyum kebapakan kepada Sulfi.

"Semua sudah siap di dalam. Keamanan ruang sidang sudah diperketat," lapor Kompol Hendrawan singkat namun menenangkan.

Yuana melangkah mendekati Sulfi, menggenggam lembut bahu sahabatnya itu untuk menyalurkan kekuatan.

Ia melirik sekilas ke arah Zaidan yang masih memegang tas bekal istrinya dengan protektif.

"Ayo kita masuk," ajak Yuana dengan nada bicara yang mantap.

"Hakim sudah bersiap, dan Bima sudah berada di kursi pesakitan. Ingat Sulfi, hari ini kamu adalah suara bagi kebenaran. Jangan biarkan tatapannya mengintimidasi kamu."

Sulfi menarik napas panjang, mengeratkan genggamannya pada tangan Zaidan.

Ia merasakan dukungan dari dua sisi: Zaidan sebagai pelindung pribadinya, dan Yuana sebagai senjata hukumnya.

Dengan langkah yang lebih mantap meskipun perutnya mulai terasa sedikit bergejolak, Sulfi melangkah memasuki koridor pengadilan.

Setiap langkahnya adalah dentuman bagi akhir kekuasaan Bima, dan awal dari kedamaian yang ia dambakan selama bertahun-tahun.

Pintu ruang sidang tertutup rapat, menyisakan kesunyian yang berat sebelum ketuk palu hakim bergema.

Di dalam ruangan berlantai kayu itu, udara terasa dingin dan kaku.

Begitu Sulfi melangkah masuk dan mengambil posisi di kursi saksi, atmosfer seketika berubah mencekam.

Di kursi pesakitan, sosok yang selama ini menghantui mimpi buruknya duduk dengan tangan terborgol.

Bukannya tertunduk malu, Bima tersenyum sinis melihat Sulfi.

Tatapannya tajam dan merendahkan, seolah-olah ia masih merasa memiliki kuasa penuh untuk menghancurkan hidup wanita di depannya.

Senyum itu adalah pesan tanpa kata bahwa ia tidak takut pada hukum yang sedang menjeratnya.

Sulfi sempat tersentak. Rasa mual tiba-tiba naik ke kerongkongannya, bukan karena pengaruh janinnya, melainkan karena rasa muak yang luar biasa melihat arogansi pria itu.

Jemarinya mencengkeram pinggiran kursi kayu dengan kencang hingga buku-bukunya memutih.

Namun, sebelum ketakutan itu menguasai dirinya, Sulfi merasakan tatapan lain dari sudut ruangan.

Zaidan berdiri tegak di barisan depan kursi pengunjung, matanya menatap Sulfi dengan keyakinan yang tak tergoyahkan.

Di sebelah Zaidan, Yuana sudah berdiri dengan berkas-berkas hukum yang siap menelanjangi semua kejahatan Bima.

"Persidangan dimulai," ucap Hakim Ketua sambil mengetuk palu tiga kali.

Suara itu menggema, memecah intimidasi yang coba dibangun oleh Bima.

Sulfi menarik napas dalam, membalas tatapan sinis Bima dengan pandangan yang tenang dan penuh harga diri.

Ia mengusap perutnya secara tersembunyi di bawah meja saksi, mencari kekuatan dari nyawa kecil yang sedang ia perjuangkan.

Senyum sinis Bima tidak lagi membuatnya gemetar; kini, senyum itu justru menjadi bahan bakar bagi Sulfi untuk memberikan kesaksian paling mematikan yang akan menyeret pria itu ke balik jeruji besi selamanya.

1
Hilmiya Kasinji
Luar biasa
Hilmiya Kasinji
ijin baca kak
my name is pho: iya kak, terima kasih 🥰
total 1 replies
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!