Aureliana Virestha terbiasa hidup dalam bayang-bayang, diremehkan dan disalahkan oleh dunia yang tidak pernah memberinya tempat.
Namun di ambang kematian, ia menemukan sesuatu yang mengubah segalanya sebuah ruang misterius yang hanya bisa ia akses sendiri. Awalnya hanyalah tempat penyimpanan sederhana, tetapi perlahan ruang itu menunjukkan keajaiban yang melampaui logika.
Saat dunia di luar mulai kacau dan manusia saling mengkhianati, Aureliana menyadari bahwa kekuatan ini bisa menjadi kunci untuk bertahan dan bangkit. Di tengah ancaman, rahasia, dan pilihan yang berat, ia harus menentukan apakah akan terus menjadi orang yang diinjak, atau menciptakan dunianya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 - Hari Dimulainya Kekacauan
Pagi itu, Aureliana Virestha terbangun oleh suara yang tidak pernah ia dengar sebelumnya di sekitar rumah sakit, dan kesadarannya langsung terseret ke dalam situasi yang terasa asing. Bukan sekadar kegaduhan biasa yang muncul dari aktivitas pagi, melainkan teriakan yang terdengar jelas dan berulang, bercampur dengan langkah kaki yang berlari tergesa di lorong luar. Suara pintu dibuka dan ditutup dengan keras ikut menambah tekanan, seolah setiap orang sedang bergerak tanpa arah yang benar-benar pasti.
Aureliana membuka mata dengan cepat, tubuhnya menegang secara refleks saat suara-suara itu semakin jelas masuk ke dalam kamarnya. Ia tidak langsung bergerak, hanya duduk perlahan di tepi tempat tidur sambil mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Jantungnya sudah berdegup lebih cepat bahkan sebelum pikirannya sempat menyusun kemungkinan yang masuk akal.
“Ada apa…”
Suaranya pelan, hampir tertelan oleh suara lain di luar yang terus bergerak tanpa jeda.
Tangannya meraih ponsel dengan sedikit tergesa, lalu menyalakan layar yang langsung dipenuhi notifikasi. Jaringan terasa tidak stabil, tetapi pesan tetap masuk bertubi-tubi, disusul berita yang muncul tanpa henti di bagian atas layar. Ia membuka salah satu, lalu yang lain, dan setiap judul yang ia baca membuat napasnya semakin berat.
Kerusuhan di beberapa titik kota, distribusi makanan dihentikan sementara, hingga laporan tentang wilayah yang dinyatakan tidak aman muncul dalam waktu yang hampir bersamaan. Ia menggulir layar lebih cepat, menemukan video pendek yang diunggah orang-orang dari berbagai tempat. Rekaman itu tidak rapi, tidak terstruktur, tetapi cukup jelas untuk menunjukkan apa yang sedang terjadi.
Orang-orang berlari di jalan tanpa arah yang jelas, sebagian membawa barang, sebagian hanya berusaha menjauh dari sesuatu yang tidak terlihat di layar. Toko-toko terlihat berantakan, rak-rak kosong, dan kerumunan besar berkumpul di depan gudang distribusi dengan ekspresi yang sama. Tegang, panik, dan putus asa.
Aureliana menatap layar itu tanpa berkedip, seolah mencoba memastikan bahwa semua itu benar-benar nyata dan bukan potongan kejadian yang dilebih-lebihkan. Namun semakin lama ia melihat, semakin jelas bahwa ini bukan lagi gangguan kecil yang bisa diabaikan.
Ia menutup ponselnya perlahan, lalu turun dari tempat tidur dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya. Pikirannya belum sepenuhnya teratur, tetapi satu hal sudah jelas bahwa ia tidak bisa hanya duduk diam dan menunggu. Ia berjalan ke pintu kamar, membukanya sedikit, lalu mengintip ke arah lorong.
Lorong rumah sakit dipenuhi oleh orang-orang yang bergerak tanpa pola yang jelas. Perawat berjalan cepat dengan wajah tegang, beberapa pasien dipindahkan dengan kursi roda, sementara suara percakapan terdengar pendek dan terburu-buru. Tidak ada yang benar-benar berhenti untuk menjelaskan apa yang terjadi, tetapi suasana itu sudah cukup untuk memberi jawaban.
Aureliana menelan ludah pelan, mencoba menahan perasaan yang mulai naik ke permukaan. Ia tidak ingin panik, tetapi situasi ini jelas tidak normal dan tidak bisa dianggap sebagai kejadian biasa. Ia membuka pintu lebih lebar, lalu melangkah keluar dengan hati-hati.
Langkahnya mengikuti arus orang yang bergerak menuju area luar, bukan karena ia ingin ikut, tetapi karena ia perlu melihat sendiri apa yang terjadi. Semakin ia mendekat, suara dari luar semakin jelas dan semakin kacau, bercampur antara teriakan, panggilan, dan suara benda yang jatuh atau didorong.
Begitu ia sampai di halaman depan rumah sakit, langkahnya langsung terhenti tanpa sadar. Pemandangan di depannya berbeda jauh dari yang ia bayangkan, dan untuk beberapa detik, ia hanya bisa berdiri diam sambil memproses apa yang ia lihat.
Orang-orang berkumpul dalam jumlah yang tidak sedikit, sebagian berusaha masuk ke dalam rumah sakit dengan wajah panik, sementara yang lain berdiri di luar dengan ekspresi bingung. Ada yang berteriak meminta bantuan, ada yang mencoba menarik orang lain menjauh, dan ada juga yang hanya diam sambil memegang barang di tangannya dengan erat.
Di kejauhan, suara sirene terdengar samar, tetapi tidak ada tanda bahwa situasi ini benar-benar dikendalikan. Tidak ada petugas yang mampu mengatur kerumunan, tidak ada garis pembatas yang jelas, hanya kekacauan yang perlahan membesar.
Aureliana mengamati semua itu dengan hati-hati, matanya bergerak dari satu titik ke titik lain tanpa benar-benar fokus pada satu hal. Ia melihat seseorang berlari sambil membawa kantong besar yang tampak berat, sementara di sisi lain dua orang berdebat dengan suara tinggi di dekat kendaraan yang terparkir sembarangan.
Semua orang bergerak dengan tujuan yang sama, meskipun tidak diucapkan secara langsung. Mereka mencari sesuatu, mencoba mendapatkan apa yang mereka butuhkan, atau sekadar bertahan dari situasi yang tidak mereka pahami sepenuhnya.
Aureliana merasakan napasnya menjadi lebih berat, bukan karena lelah, tetapi karena tekanan yang mulai terasa nyata. Ini bukan lagi potongan berita yang ia lihat dari layar, melainkan sesuatu yang terjadi tepat di depannya.
Ia tidak ingin berlama-lama di sana. Instingnya bergerak lebih cepat dari rasa ingin tahunya, memberi satu perintah yang tidak bisa ia abaikan. Pergi sekarang sebelum semuanya menjadi lebih buruk.
Aureliana berbalik tanpa menarik perhatian, kembali masuk ke dalam bangunan dengan langkah yang tetap terkontrol. Ia langsung menuju kamarnya, mengambil beberapa barang penting yang sudah ia siapkan sebelumnya tanpa berpikir terlalu lama. Tidak banyak yang ia bawa, hanya hal-hal yang benar-benar diperlukan.
Setelah itu, ia keluar dari sisi lain bangunan, memilih jalur yang lebih sepi untuk menghindari kerumunan utama. Namun begitu ia mencapai jalan luar, ia menyadari bahwa kondisi di sana tidak jauh berbeda.
Beberapa toko sudah menutup pintunya rapat, sebagian lain masih terbuka tetapi dipenuhi orang yang bergerak tidak teratur. Suara teriakan sesekali terdengar dari kejauhan, menambah tekanan yang sudah terasa di udara.
Aureliana berjalan lebih cepat, menjaga jarak dari kelompok orang yang terlihat terlalu ramai. Ia tidak ingin terjebak di tengah situasi yang tidak bisa ia kendalikan, terutama ketika ia tahu bahwa satu kesalahan kecil bisa membawa masalah besar.
Namun saat ia berbelok di salah satu tikungan, langkahnya kembali terhenti. Di depan sebuah toko kecil, sekelompok orang berkumpul dengan cara yang membuatnya langsung mengerti apa yang sedang terjadi.
Pintu toko itu sudah terbuka paksa, dan bagian dalamnya terlihat berantakan. Barang-barang berserakan di lantai, sementara beberapa orang mengambil apa saja yang mereka bisa tanpa memperhatikan satu sama lain. Tidak ada antrean, tidak ada aturan, hanya perebutan yang berlangsung cepat dan kasar.
Aureliana mundur satu langkah, tubuhnya langsung menegang saat menyadari bahwa ia berada terlalu dekat dengan situasi itu. Ia berbalik, mencoba mencari jalan lain sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi.
Namun sebelum ia sempat menjauh, seseorang menabraknya dari samping dengan keras. Tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan, dan ia harus menahan diri agar tidak jatuh.
“Eh!”
Orang yang menabraknya tidak berhenti, ia langsung berlari menjauh tanpa melihat ke belakang. Benturan itu cukup keras untuk menarik perhatian beberapa orang di sekitar, dan dalam hitungan detik, beberapa pasang mata beralih ke arah Aureliana.
Tatapan itu tidak netral. Ada sesuatu di dalamnya yang membuat suasana berubah.
Aureliana langsung merasakan perubahan itu dengan jelas. Bahaya tidak lagi samar, melainkan nyata dan berada tepat di depannya.
Seseorang melangkah mendekat, seorang pria dengan wajah tegang dan mata yang tidak berusaha menyembunyikan niatnya. Pandangannya langsung tertuju pada tas kecil yang dibawa Aureliana.
“Apa yang kamu bawa?”
Nada suaranya datar, tetapi tidak ramah.
Aureliana mundur sedikit, mencoba menjaga jarak tanpa terlihat panik.
“Tidak ada apa-apa.”
Jawaban itu keluar dengan cepat, tetapi tidak cukup untuk menghentikan pria itu. Langkahnya semakin dekat, dan orang lain mulai memperhatikan situasi yang sedang terjadi.
Aureliana merasakan jantungnya berdegup lebih cepat, pikirannya bergerak dalam waktu yang sangat singkat. Ia melihat sekeliling, mencari celah yang bisa ia gunakan, tetapi tidak menemukan jalan yang benar-benar aman.
Pria itu mengulurkan tangan, jaraknya sudah terlalu dekat untuk diabaikan.
“Aku cuma mau lihat.”
Aureliana menggenggam tasnya lebih erat, menyadari bahwa tidak ada waktu untuk berpikir lebih lama. Jika ia ragu, situasi ini akan berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Ia menutup mata sekejap.
Dalam satu momen yang hampir tidak terlihat, tubuhnya menghilang dari tempat itu tanpa suara dan tanpa jejak.
Pria itu langsung terdiam, tangannya masih terulur di udara tanpa menyentuh apa pun. Orang-orang di sekitarnya saling menatap dengan bingung, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Namun Aureliana sudah tidak berada di sana.
Kesadarannya berpindah ke dalam ruang itu, dan begitu ia muncul, tubuhnya langsung jatuh terduduk di lantai. Napasnya terengah, lebih cepat dari sebelumnya, dan tangannya masih gemetar karena ketegangan yang belum sepenuhnya hilang.
Ia menunduk, mencoba mengatur napasnya perlahan, membiarkan keheningan ruang itu menggantikan suara kacau dari luar. Beberapa detik berlalu sebelum ia bisa benar-benar merasa kembali stabil.
Aureliana menutup wajahnya dengan kedua tangan, membiarkan dirinya tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bayangan kejadian tadi masih jelas, dari tatapan pria itu hingga momen ketika ia menghilang tanpa peringatan.
Jika ia terlambat sedikit saja, jika ia ragu dalam satu detik, hasilnya bisa sangat berbeda.
Ia menurunkan tangannya perlahan, menatap kosong ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun. Ruang ini kembali menyelamatkannya, seperti yang sudah terjadi sebelumnya, tetapi situasi di luar tidak lagi bisa dianggap ringan.
Aureliana berdiri dengan perlahan, kakinya masih terasa sedikit lemas saat ia berjalan ke tengah ruang. Tanaman-tanaman tetap tumbuh dengan tenang, air di sudut tetap jernih, dan semua terlihat damai seperti biasa.
Namun kontras itu justru terasa semakin jelas setelah apa yang ia lihat di luar.
Aureliana menatap sekeliling dengan pandangan yang lebih dalam, pikirannya mulai menyusun kesimpulan yang tidak bisa ia abaikan. Ini bukan kejadian sementara yang akan hilang begitu saja, melainkan perubahan besar yang terjadi dengan cepat.
Ia menggenggam tangannya erat, merasakan pergeseran dalam dirinya yang tidak bisa ia tolak. Perasaan yang muncul bukan lagi sekadar waspada atau cemas, melainkan kesadaran yang perlahan menjadi semakin jelas.
Dunia di luar sana sudah berubah, dan perubahan itu tidak akan berhenti dalam waktu dekat.