Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.
Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.
Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Lampu neon bernuansa ungu dan biru elektrik memantul pada permukaan gelas-gelas kristal di The Vault, sebuah bar eksklusif di pusat kota yang malam ini disulap menjadi arena perayaan bagi para siswa angkatan mereka.
Udara di dalam ruangan itu terasa padat, dipenuhi aroma parfum mahal, sisa-sisa adrenalin setelah ujian semester, dan dentum musik deep house yang menggetarkan lantai marmer.
Pesta ini bukan sekadar perayaan sekolah; ini adalah ajang pamer eksistensi bagi kaum elit.
Sejak sore, suasana sudah memanas. Liam Cavanaugh dan Angelina Mettond datang bersama, melangkah masuk ke dalam bar seolah-olah merekalah pemilik tempat itu. Mereka tampil begitu serasi—Liam dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, dan Angelina dengan gaun satin berwarna champagne yang membalut tubuhnya dengan sempurna.
Banyak mata menatap kagum. Mereka adalah couple terbaik yang pernah ada, meskipun secara teknis bukan sepasang kekasih.
Mereka bahkan sempat berdansa bersama di awal acara. Tangan Liam di pinggang Angelina terasa begitu protektif, gerakannya sinkron, seolah mereka sudah menari bersama selama seribu tahun. Namun, keajaiban itu hanya bertahan singkat. Begitu Clarissa datang dengan gaun merah menyala, Liam melepaskan tangan Angelina.
Kini, Angelina duduk sendirian di sudut bar yang sedikit lebih tinggi. Di hadapannya hanya tersedia jus jeruk—satu-satunya minuman non-alkohol yang disediakan bar itu khusus untuk tamu di bawah umur yang ingin tetap sadar. Ia menyesap jus itu perlahan, membiarkan rasa asam manisnya mendinginkan tenggorokannya yang mendadak kering.
Matanya tak bisa lepas dari lantai dansa. Di sana, Liam sedang mendekap Clarissa. Mereka berdansa mesra, sangat dekat hingga tidak ada ruang untuk udara di antara mereka.
Namun, ada satu hal yang mengusik ketenangan Angelina: setiap beberapa detik, kepala Liam akan sedikit menoleh, matanya yang tajam menyapu kerumunan hingga ia menemukan sosok Angelina di sudut bar.
Begitu mata mereka bertemu, Liam akan memberikan anggukan kecil atau senyum tipis seakan memastikan bahwa Angelina tidak menghilang dari pandangannya.
"Kau lihat di sana?" sebuah suara melengking memecah lamunan Angelina.
Angelina menoleh. Di sampingnya sudah berdiri Aylin, teman sebangku Clarissa. Aylin adalah tipikal gadis populer yang hidup dari gosip dan drama. Ia menatap Angelina dengan tatapan merendahkan, bibirnya yang dipulas lipstik merah tua tersenyum sinis.
"Liam dan Clarissa... mereka saling mencintai, Angel. Lihat bagaimana cara Liam memegangnya," Aylin menunjuk ke arah lantai dansa.
"Dan kau? Kau hanya orang ketiga di sini. Kau tidak malu selalu mengekori mereka ke mana-mana? Ke kantin, ke perpustakaan, bahkan ke pesta kencan pertama mereka? Kau sudah seperti parasit saja."
Deg.
Kata "parasit" itu menghujam jantung Angelina dengan telak. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja, namun wajahnya tetap berusaha tenang.
"Aku dan Liam sudah bersama sejak lahir, Aylin. Kau tidak akan mengerti," jawab Angelina lirih.
"Oh, aku mengerti sangat jelas," Aylin tertawa sinis, menarik perhatian beberapa teman di sekitarnya yang kini mulai berbisik-bisik. "Justru karena kalian bersama sejak lahir, kau seharusnya tahu diri. Kau menghambat hubungan mereka. Kau adalah beban yang harus Liam bawa karena rasa kasihan. Sebaiknya kau menjauh, Angelina. Jadilah sahabat yang tahu diri sebelum semua orang di sekolah ini benar-benar memuakkan melihat wajah polosmu yang menempel pada Liam seperti benalu."
Angelina terdiam. Kata-kata Aylin menginjak harga dirinya yang paling dalam. Sakit, karena ia tahu sebagian dari kata-kata itu adalah kenyataan yang ia takuti. Ia kembali melihat ke arah lantai dansa, dan saat itulah dunianya benar-benar runtuh.
Di tengah kerumunan, di bawah kilatan lampu strobe, Liam menarik tengkuk Clarissa. Mereka berciuman. Bukan sekadar kecupan singkat, tapi sebuah ciuman yang dalam dan penuh gairah.
Untuk pertama kalinya, Angelina melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Liam menikmati sentuhan wanita lain. Bagaimana tangan Liam meremas pinggang Clarissa, dan bagaimana Clarissa mengalungkan lengannya di leher Liam.
Jantung Angelina seakan berhenti berdetak. Oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Air matanya sedikit menetes, namun ia segera menyekanya dengan kasar. Ia menoleh ke arah Aylin dan teman-temannya, melihat bagaimana mereka saling berbisik dan tertawa kecil, seakan sedang merayakan kehancuran harga dirinya.
Waktu seolah merayap lambat hingga jam menunjukkan pukul sembilan malam. Pesta mulai mendingin. Liam dan Clarissa berjalan mendekat ke arah bar, mereka saling berpelukan erat sebagai tanda pamit karena Clarissa harus pulang lebih awal dengan jemputannya. Lagi-lagi, Angelina hanya menjadi saksi bisu di sudut ruangan, menonton bagaimana kekasih dari "sahabatnya" itu bermanja-manja sebelum pergi.
Kau benar, Aylin, ucap Angelina dalam hati, matanya menatap tajam ke arah gelas jus jeruknya yang kosong. Aku memang parasit. Dan aku adalah seorang Mettond.
Darah Adrian Mettond yang dingin dan taktis, serta ketangguhan Julie mulai mengalir deras di nadinya. Angelina menarik napas panjang, menyingkirkan semua rasa sakit itu ke sudut terjauh di otaknya. Ia menatap punggung Clarissa yang mulai menjauh menuju pintu keluar, lalu menatap Liam yang kini sedang merapikan rambutnya yang berantakan.
Sebuah senyum miring, sangat tipis dan berbahaya, muncul di bibir Angelina.
"Aku memang parasit," bisiknya sangat lirih, hampir tak terdengar oleh musik yang masih berdentum. "Dan aku akan tetap menjadi parasit yang menyaksikanmu memeluk dan mencium wanita lain di depan mataku. Tapi Clarissa... kau salah besar."
Angelina menatap Liam yang kini berjalan ke arahnya dengan langkah terburu-buru.
"Karena di tempat tidurnya, di malam-malam saat dia butuh kedamaian, hanya ada aku," lanjut Angelina dalam hati. "Clarissa-lah yang parasit. Dia yang masuk ke antara kita. Dia orang ketiga yang mencoba mencuri waktu dari belasan tahun yang sudah kita bangun."
Rasa sakit itu tidak hilang, tapi kini bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih dingin: sebuah obsesi untuk tetap menjadi yang utama.
Angelina Mettond tidak akan mundur. Jika ia harus berbagi Liam dengan dunia, maka biarlah dunia melihat permukaannya, sementara ia akan tetap memegang inti dari jiwa Liam Cavanaugh.
"Angel! Maaf membuatmu menunggu lama," Liam menghampirinya, wajahnya nampak segar dan penuh energi. Ia langsung meraih tas Angelina dan menggandeng tangannya. "Ayo pulang. Kau pasti sudah mengantuk, kan? Kau minum jus jeruk terlalu banyak, wajahmu jadi pucat."
Angelina mengubah ekspresinya dalam sekejap. Wajah dingin dan miring itu menghilang, digantikan oleh raut muka polos dan senyum manis yang selama ini menjadi tamengnya.
"Tidak apa-apa, Liam. Aku senang melihatmu bahagia tadi," ucap Angelina dengan nada suara yang sangat lembut, seolah-olah kata-kata Aylin tadi tidak pernah ada.
Liam merangkul bahu Angelina, menariknya rapat ke sisi tubuhnya saat mereka berjalan keluar bar menuju mobil yang sudah menunggu.
"Pekan depan jangan lupa, aku menginap di mansionmu. Aku sudah rindu masakan Bibi Maria dan tentu saja... rindu berdebat denganku di kamarmu sampai pagi," ucap Liam santai sambil membukakan pintu mobil untuk Angelina.
Angelina tersenyum, menatap Liam dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tentu, Liam. Aku akan menunggumu."
Saat mobil melaju meninggalkan The Vault, Angelina menyandarkan kepalanya di bahu Liam seperti biasa. Ia tahu Clarissa mungkin memiliki bibir Liam malam ini, tapi ia memiliki keberadaan Liam seumur hidupnya.
Dan bagi seorang Mettond, itu adalah kemenangan jangka panjang yang jauh lebih berharga. Aylin boleh menghinanya, dunia boleh menyebutnya benalu, tapi selama Liam masih merangkulnya seperti ini, Angelina tahu siapa pemenang yang sesungguhnya di labirin takdir ini.