NovelToon NovelToon
Aku Ini Istrimu

Aku Ini Istrimu

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author:

Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.

Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.

Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.

"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."

Bab 18 Apa Ini Salahku

Setibanya di rumah sakit, mobil ambulan berherhti tepat di halapan depan ruang IGDt. Begitu pintu belakang ambulan terbuka, para paramedis dengan gerakan terlatih langsung menurunkan tandu Papa Baskoro. Suasana mendadak riuh oleh derap langkah kaki dan instruksi singkat yang keluar dari mulut perawat.

"Cepat! Pasien serangan jantung, kesadaran menurun!" teriak salah satu petugas medis sambil mendorong tandu itu masuk menembus pintu otomatis IGD.

Bara dan Nyonya Sarah berlarian di belakang, napas mereka memburu, mencoba menyamai kecepatan tandu yang membawa nyawa sang kepala keluarga. Wajah Bara pucat pasi, matanya merah menatap tubuh Papanya yang kini dipasangi berbagai kabel dan alat pemantau jantung.

"Pah... bertahan, Pah..." gumam Bara lirih, suaranya parau tertutup suara gesekan roda tandu dengan lantai rumah sakit yang licin.

Namun, langkah mereka terhenti paksa di depan pintu ruangan Resusitasi. Seorang perawat menghadang dengan tangan terentang. "Maaf, Bapak, Ibu. Tolong tunggu di luar. Kami akan melakukan tindakan penyelamatan sekarang."

"Suster, tolong selamatkan suami saya!" jerit Nyonya Sarah histeris. Beliau hampir saja menerjang masuk kalau saja Bara tidak segera menangkap bahunya.

Brak!

Pintu ruangan itu tertutup rapat. Lampu di atas pintu menyala merah, menandakan ada nyawa yang sedang diperjuangkan di dalam sana.

Nyonya Sarah langsung luruh di kursi tunggu yang dingin. Beliau menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah memenuhi lorong yang sunyi. "Kamu sih, Bar... Mama sudah bilang, jangan tebal Papa..." ratapnya di sela isak tangis.

Bara tidak menjawab. Dia hanya berdiri mematung, menyandarkan punggungnya ke dinding yang terasa sedingin es. Dia menatap kedua telapak tangannya yang tadi sempat memegang tubuh Papanya; tangannya masih terasa gemetar hebat.

Di koridor yang panjang itu, hanya ada Bara dan Mamanya. Mereka berdua tenggelam dalam ketakutan masing-masing. Belum ada tanda-tanda kedatangan Reno maupun Renata. Keheningan di ruang tunggu itu terasa jauh lebih menyiksa daripada debat panas yang barusan terjadi.

Kemudian Bara melirik jam tangannya, setiap detik jam itu terasa seperti beban berat yang menghantam dadanya. Dia tahu, di balik pintu itu, masa depan keluarga Adiwangsa sedang dipertaruhkan. Dan di dalam benaknya, ia merasa sangat bersalah dengan perbuatannya sendiri. Penyesalan itu mulai menggerogoti jiwanya, andai saja ia lebih bisa menahan diri, andai saja ia lebih jujur sejak awal, mungkin Papanya tidak akan terbaring di sana.

Sementara itu, di lobi utama rumah sakit, Renata linglung ia tidak tahu harus apa, dan napasnya tersengal-sengal karena panik yang luar biasa. Di saat yang bersamaan, Reno juga tiba, menghampiri renata.

Renata tampak sangat kacau. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini sedikit berantakan, dan wajahnya pucat pasi. "Ren... Papa, Ren... Gimana kalau Papa nggak selamat?" suaranya bergetar hebat, air mata mulai berjatuhan.

Reno yang melihat kondisi Renata langsung memegang kedua bahu wanita itu, mencoba menenangkan. "Tenang, Ren, kamu tenangin diri dengan tarik napas pelan-pelan. Kamu jangan berpikiran buruk dulu sekarang."

"Tapi tadi itu parah banget, Ren. Papa sampai megang dada gitu..." Renata sesenggukan, badannya gemetar tak terkendali.

"Iya, gue tahu. Tapi kalau lo panik begini, lo nggak bakal bisa bantu apa-apa," ujar Reno dengan suara dalam dan menenangkan.

"Coba kita ke ruangan IGD sekarang. Pasti Bara sama Tante Sarah ada di sana."

Mendengar kata "IGD", Renata seolah mendapatkan kekuatannya kembali. Tanpa menjawab lagi, dia langsung berlari melewati setiap lorong rumah sakit, mengikuti petunjuk arah berwarna merah yang menunjukan ruangan IGD. Reno menyusul tepat di belakangnya, mencoba menjaga langkah agar Renata tidak terjatuh di lantai rumah sakit yang licin.

Sesampainya di depan Ruang Resusitasi, langkah Renata mendadak melambat. Dia melihat sosok Bara yang berdiri mematung menyandar di dinding, tampak begitu rapuh dan hancur. Di sampingnya, Nyonya Sarah duduk dengan keadaan menangis tersedu-sedu di bangku.

Renata tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia berlari kecil dan langsung memeluk Bara dari belakang, membenamkan wajahnya di punggung suaminya itu.

"Mas..." bisik Renata lirih.

Bara tersentak. Dia membalikkan badan dan langsung mendekap Renata dengan sangat erat, seolah-olah hanya istrinya itulah satu-satunya pegangan yang tersisa di dunia yang sedang runtuh ini. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga di bahu Renata.

"Mas... yang kuat, Mas," bisik Renata sambil mengusap punggung Bara yang bergetar hebat.

Sedangkan Reno langsung mengambil tempat duduk di samping Tante Sarah yang pastinya butuh sandaran. Melihat kondisi tante yang sangat rapuh, Reno tidak tega. Ia merangkul bahu Tante Sarah dan mencoba menenangkannya sambil mengusap pundaknya perlahan.

"Tante... yang sabar ya," ujar Reno dengan suara dalam dan menenangkan. Tante Sarah yang hanya bisa mengangguk lemah, isak tangisnya mulai mereda meski badannya masih lemas.

Dan di dalam Ruang Resusitasi, suasana jauh lebih menegangkan. Bunyi statis dari alat medis memenuhi ruangan yang dingin itu. Dokter dan para perawat bergerak dengan gerakan yang cepat dan sigap.

"Siapkan defibrilator! Dua ratus joule!" perintah dokter dengan suara tegas.

Suster segera menempelkan alat pacu jantung itu ke dada Pri itu.

Deg!

Tubuh Pria itu tersentak hebat akibat sengatan listrik. Semua mata tertuju pada layar monitor jantung. Garisnya masih tampak datar dengan bunyi tiit panjang yang menyayat hati. Satu kali percobaan, tidak berhasil.

"Terus! Naikkan ke tiga ratus joule! Clear!" teriak dokter lagi.

Deg!

Sentakan kedua diberikan. Tubuh itu kembali melenting, namun monitor masih menunjukkan hasil yang sama. Keringat dingin mulai bercucuran di dahi para perawat. Harapan seolah mulai menipis di ruangan itu. Dua kali percobaan, masih belum ada tanda-tanda kehidupan.

Dokter menarik napas panjang, memberikan aba-aba untuk kesempatan terakhir. "Ini yang terakhir. Lakukan RJP manual dulu... Oke, sekarang! Clear!"

Deg!

Sengatan ketiga menghantam dada Papa Baskoro. Sunyi menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Sampai tiba-tiba, bunyi tiit panjang itu terputus.

Pip... pip... pip...

Garis di monitor yang tadinya datar perlahan-lahan mulai membentuk grafik naik-turun yang stabil. Detak jantung Papa Baskoro perlahan kembali normal, meski masih sangat lemah.

"Detak jantung kembali, Dok! Tekanan darah mulai naik," lapor seorang perawat dengan nada lega yang luar biasa.

Dokter mengusap pelipisnya yang basah oleh keringat, mengembuskan napas panjang yang penuh rasa syukur. "Stabilkan kondisinya. Setelah itu langsung pindahkan ke ruangan ICU, jika benar-benar sudah stabil," ucap dokter dengan nada rendah kepada timnya, sebelum ia melangkah keluar bersama salah satu perawat untuk menemui keluarga pasien yang sudah menunggu dengan cemas.

Mendengar suara pintu itu terbuka, Nyonya Sarah dan Reno mendadak berdiri dari bangku secara bersamaan. Wajah mereka tegang, menanti kalimat pertama yang akan keluar dari mulut sang dokter.

Dokter itu melepas maskernya, menatap satu per satu wajah di depannya dengan saksama. "Dengan keluarga pasien?"

Jawab mereka bersmaan. "Bener, Dok!"

"Baik, pasien berhasil kami selamatkan, detak jantungnya sudah kembali stabil. Tapi kondisinya masih sangat lemah, jadi mohon maaf, saat ini keluarga belum bisa bertemu dengan pasien sebelum dipindahkan ke ruangan ICU."

Nyonya Sarah mencengkeram lengan Reno, suaranya bergetar hebat. "Tapi... tapi suami saya baik-baik saja kan, Dok?"

Dokter itu memberikan senyum tipis yang menenangkan, mencoba meredam kecemasan di hati sang istri. "Tenang saja, Bu. Suami Ibu sudah berada di bawah penanganan tim terbaik kami. Kami akan terus memantau perkembangannya setiap detik. Untuk sekarang, biarkan pasien beristirahat lebih dulu."

Setelah penjelasan singkat itu, dokter berlalu pergi untuk menangani pasien lain. Suasana di koridor sedikit mencair, namun ketegangan belum sepenuhnya hilang. Tidak ada lagi percakapan panjang di antara mereka, hanya suara napas lega yang berat.

Di sana, hanya menyisakan perawat yang membawa map dokumen. Ia menatap ke arah Bara dan Renata yang masih berdiri berdampingan. "Maaf, Bapak atau Ibu, mohon salah satu perwakilan keluarga ikut saya ke bagian administrasi untuk pengurusan ruang ICU dan kelengkapan data pasien."

Bara melepaskan pelukannya pada Renata perlahan, matanya yang merah dan sembap menatap asisten perawat itu dengan saksama. Ia menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kekuatannya. Sebagai putra tunggal, ia tahu tanggung jawab besar kini ada di pundaknya. Ia harus memastikan segala kebutuhan medis sang Papa terjamin tanpa cela.

"Saya yang akan mengurus semuanya," ucap Bara dengan lantang.

Perawat itu mengangguk sopan. "Baik, Pak. Silakan ikut saya."

Bara melangkah mengikuti perawat itu menyusuri koridor rumah sakit yang panjang menuju area pendaftaran sentral. Setibanya di depan loket kaca yang terang benderang, perawat itu berhenti dan menunjuk ke arah petugas.

"Di sini, Pak. Silakan selesaikan berkasnya," ujar perawat itu sebelum akhirnya pamit pergi kembali ke area IGD.

Petugas administrasi di balik loket menatap Bara dengan profesional. "Baik, dengan keluarga pasien?" tanya sang admin memastikan.

"Betul," jawab Bara singkat. Pikirannya masih melayang ke ruang resusitasi tadi, membayangkan wajah pucat Papanya yang berjuang hidup.

Petugas tersebut menyodorkan beberapa lembar kertas formulir dan map data pasien. "Mohon diisi kelengkapan datanya, Pak. Termasuk pemilihan kelas ruangan ICU untuk pemindahan pasien."

Bara menerima pena itu dengan tangan yang sudah sedikit lebih tenang. Ia membaca kolom demi kolom dengan teliti. Tanpa ragu sedikit pun, Bara mencentang kolom kelas tertinggi.Yaitu ruangana ICU VIP.

Bagi Bara, uang bukan lagi masalah baginya. Karena ia ingin Papanya mendapatkan fasilitas medis terbaik, pemantauan paling ketat, dan privasi yang tidak terganggu oleh siapa pun—terutama dari tamu-tamu yang tidak diinginkan seperti kejadian di rumah tadi.

Setelah menandatangani lembar persetujuan tindakan medis dan biaya deposit, Bara mengembalikan map itu kepada petugas.

"Sudah selesai semua. Saya minta fasilitas yang paling maksimal untuk Papa saya," tegas Bara.

"Baik, Pak. Data sudah kami terima. Ruang ICU VIP sedang kami siapkan. Silakan Bapak kembali ke ruang tunggu, perawat akan segera memberi kabar jika pemindahan pasien dilakukan," jawab petugas administrasi itu dengan sopan.

Bara mengangguk pelan, lalu berbalik arah. Langkah kakinya terasa lebih mantap sekarang. Namun, di tengah jalan kembali ke ruang tunggu, ia teringat sesuatu. Ada Renata dan Mamanya yang masih menunggu dalam ketidakpastian. Dan ada satu hal yang terus menghantuinya: bagaimana cara ia menjelaskan semua ini pada Renata tanpa ada lagi rahasia-rahasia yang belum terungkap.

Berpidah ke ruang tunggu Resusitasi, ketegangan yang sedari tadi tertahan akhirnya pecah. Nyonya Sarah tiba-tiba berdiri, matanya yang sembap kini menatap Renata dengan sorot yang sulit diartikan—campuran antara duka, lelah, dan emosi yang salah sasaran.

"Senang kamu sekarang, Renata? Liat Papa sampai begini?" suara Nyonya Sarah bergetar, rendah tapi tajam.

Renata tersentak. Dia yang baru saja mau mengusap air matanya sendiri, tertegun menatap ibu mertuanya. "Maksud Mama apa? Renata nggak pernah mau Papa sakit begini, Mah."

"Kalau bukan karena kamu, Papa nggak akan emosi! Kamu tahu kan Papa itu sayang sekali sama kamu? Dia bela-belain kamu sampai jantungnyat!"

Nyonya Sarah mulai meninggikan nada bicaranya, telunjuknya gemetar menunjuk ke arah pintu. "Kenapa kamu nggak bisa mengalah sedikit saja? Kenapa harus dibahas di depan Papa?!"

"Tante, sudah... ini rumah sakit," sela Reno mencoba menengahi. Dia berdiri di antara keduanya, memegang lengan Nyonya Sarah dengan lembut.

"Ini musibah, bukan salah siapa-siapa. Tante tenang dulu, ya?"

Tapi Tante Sarah seolah menutup telinga. Emosinya yang meledak adalah bentuk pelarian dari rasa takut kehilangan suaminya. "Nggak bisa, Reno! Bara itu berubah sejak menikah. Dia jadi berani membantah Papanya demi menutupi sesuatu dari istrinya. Dan kamu, Renata... kehadiran kamu memang membawa kebahagiaan bagi Papa, tapi lihat sekarang? Papa hampir mati karena terlalu lelah memikirkan posisi kamu di rumah ini!"

Renata mengepalkan tangannya di samping tubuh. Hatinya perih. Dia yang selama ini mencoba menjadi menantu yang sempurna, kini justru dijadikan kambing hitam atas kesalahan yang sebenarnya dimulai oleh suaminya sendiri—dan kemunculan mantan suaminya itu.

"Maaf, Mah," suara Renata mendatar, mencoba menahan tangis agar tidak pecah di depan mereka.

"Renata nggak pernah minta Papa untuk bertengkar dengan Mas Bara. Tapi kalau Mama rasa semua ini salah Renata, silakan. Yang penting sekarang Papa selamat dulu."

"Kamu memang pintar berbicara, ya!" sahut Nyonya Sarah lagi, suaranya makin melengking sampai beberapa perawat melirik ke arah mereka.

"Tante, cukup!" tegas Reno dengan nada yang lebih keras. "Jangan bikin keributan di sini. Malu dilihat orang-orang, ini rumah sakit, ini tempat umum. Kalau Tante terus begini, Tante bisa darah tinggi."

Mendengar perkataan keponakannya, seketika Nyonya Sarah runtuh. Dia kembali duduk, menutupi wajahnya dan menangis tersedu-sedu. Reno menghela napas panjang, memberikan tatapan kepada Renata yang hanya bisa berdiri mematung dengan tatapan kosong ke arah lantai.

Ketegangan yang tadi meledak di antara mertua dan menantu itu kini membeku, terkunci rapat di balik topeng kepura-puraan yang rapi begitu derap langkah Bara bergema di lantai mendekat ke mereka yang berdiri kaku, mematung dengan senyum yang dipaksakan, sebuah sandiwara bisu yang dipentaskan demi pria yang baru saja kembali dari tempat administrasi.

Tak lama kemudian, kesunyian itu dipecahkan oleh suara roda brankar yang berderit nyaring. Dua orang perawat pria melangkah sigap, wajah mereka datar dan tanpa ekspresi, seolah-olah mereka bertiga yang ada di depan pintu itu hanyalah angin lalu. Dengan gerakan yang efisien, mereka membuka pintu ruangan, membiarkan udara dingin dari dalam menguar keluar.

Saat pintu itu terayun lebar, jantung mereka seakan berhenti berdetak. Di sana, di tengah remang cahaya lampu, sosok Baskoro tampak begitu rapuh. Sebuah selang oksigen melintang di bawah hidungnya, sementara berbagai kabel tampak menjalar dari balik pakaian rumah sakitnya.

Tanpa sepatah kata pun, para petugas itu mulai mendorong brankar tersebut menuju unit perawatan intensif yang telah disiapkan. Bara dan yang lainnya hanya bisa mengekor dalam kebisuan yang menyesakkan, menyaksikan sosok yang biasanya tegar itu kini pasrah dibawa menuju lorong-lorong gelap ICU yang menanti di ujung sana.

Setibanya di ruangan ICU VIP nomor 02, langkah bara terhenti tepan di depan pintu, membiarkan yang lain masuk lebih dulu ke dalam ruangan yang wanginya begitu steril. Langkahnya terhenti sebab ponsel di saku celananya bergetar hebat, memutus keraguannya untuk melangkah lebih jauh.

Sambil membuang muka dari pemandangan menyedihkan di balik kaca, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan gawai itu ke telinga. Detik berikutnya, sebuah suara yang sangat ia kenali menyapa dengan nada gemetar yang menuntut penjelasan, memaksa Bara terpaku di koridor yang sepi itu dengan napas yang tiba-tiba tertahan.

1
Nanda
salam kenal yah...
neng aja
bintang 5 buat renata hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!