Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.
Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wulan dan Lindu
Mau tak mau, lamaran itu akhirnya diterima.
Meski mulut Wulan mengatakan iya, hatinya sama sekali tidak tenang. Semalaman gadis itu sulit tidur memikirkan semuanya.
Dan keesokan paginya, setelah membantu ibunya sebentar di rumah, Wulan memberanikan diri mendatangi rumah Bu Ratmini.
Rumah itu masih terlihat muram seperti hari-hari sebelumnya.
Bu Ratmini yang sedang duduk sendiri di ruang tengah tampak terkejut melihat kedatangan Wulan.
"Lho, Wulan, sini, Nduk." Ujarnya pelan.
Wulan duduk perlahan di dekat wanita itu. Wajahnya terlihat penuh rasa bersalah.
"Ada apa, Wul?" Tanya Bu Ratmini lembut.
Wulan menggigit bibir bawahnya pelan sebelum akhirnya berkata,
"Semalam, keluarga Lindu datang ke rumah."
Bu Ratmini tampak sedikit terdiam mendengarnya.
"Mereka datang untuk melamar Wulan." Lanjut gadis itu lirih sambil menunduk.
"Dan... ibu Wulan sudah menerima lamaran itu."
Suasana langsung menjadi sunyi.
Wulan buru-buru mengangkat wajahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Wulan minta maaf, Bude." Ucapnya pelan penuh rasa bersalah.
"Wulan nda pernah berniat seperti ini."
Bu Ratmini menatap Wulan beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum kecil meski matanya tampak sedih.
"Nda apa-apa, Nduk." Katanya lembut.
Wulan tampak makin tidak enak hati.
"Mungkin, itu memang sudah jadi takdir Allah." Lanjut Bu Ratmini pelan.
"Tapi Bude..."
"Yang salah bukan kamu." Potong Bu Ratmini sambil mengusap tangan Wulan lembut.
"Kamu nda perlu merasa bersalah sama Bude."
Mata Wulan mulai dipenuhi air mata.
Karena semakin Bu Ratmini bersikap baik padanya.
Semakin besar rasa bersalah yang dia rasakan terhadap Sekar.
"Maaf, Bude... maaf..." Ucapnya berkali-kali dengan suara bergetar. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi.
Gadis itu merasa begitu bersalah.
Bagaimanapun juga, Lindu adalah pria yang dulu akan menikah dengan sahabatnya sendiri.
"Sungguh Wulan nda pernah mau begini, Bude." Tangisnya lirih.
"Tapi ibu Wulan sudah menerima lamaran mereka."
Bu Ratmini yang melihat Wulan menangis justru ikut merasa iba. Wanita itu tahu Wulan bukan gadis jahat.
Perlahan, Bu Ratmini menarik tubuh Wulan ke dalam pelukannya.
"Sudah... sudah, Nduk." Ujarnya lembut sambil mengusap punggung Wulan pelan.
"Wulan nda salah."
Namun Wulan justru menangis semakin keras di pelukan wanita itu.
"Wulan takut Sekar marah sama Wulan." Lirihnya sedih.
Mendengar nama putrinya disebut, mata Bu Ratmini kembali berkaca-kaca. Meski hatinya masih hancur karena kepergian Sekar, dia tetap berusaha tegar di depan Wulan.
"Nda." Katanya pelan sambil mengelus rambut gadis itu.
"Kalau Sekar memang sahabatmu, dia nda akan marah."
Wulan menggeleng sambil terus menangis.
Bu Ratmini memeluknya lebih erat, menenangkan gadis itu seperti seorang ibu menenangkan anaknya sendiri.
"Mungkin ini memang jalan yang sudah Allah tentukan." Bisiknya lirih, meski jauh di dalam hatinya masih tersimpan luka dan kerinduan besar pada putrinya yang entah berada di mana.
Dan seminggu kemudian, pernikahan itu pun benar-benar terjadi.
Wulan dan Lindu resmi menikah.
Pernikahan mereka berlangsung meriah dan besar-besaran. Rumah keluarga Juragan Ramli kembali dipenuhi tenda, kursi, dan hiasan pernikahan yang megah. Musik dangdut terdengar ramai sejak pagi, sementara warga kampung berdatangan.
Satu kampung hadir di acara itu.
Bahkan warga dari desa tetangga juga banyak yang datang memenuhi undangan Juragan Ramli di pesta pernikahan tersebut.
Ibu-ibu sibuk membicarakan pengantin baru, anak-anak berlarian di sekitar halaman, sementara para bapak duduk bercengkerama menikmati hidangan.
"Untung akhirnya Lindu dapat pengganti."
"Iya, Wulan juga gadis baik."
"Cocok malah sebenarnya."
Bisik-bisik warga kembali terdengar di mana-mana.
Di pelaminan, Wulan duduk bersanding dengan Lindu dalam balutan pakaian pengantin yang indah. Wajahnya tampak cantik, namun sorot matanya tidak benar-benar menunjukkan kebahagiaan.
Sementara Lindu terlihat jauh lebih diam dibanding biasanya. Senyumnya tipis dan terasa dipaksakan.
Dan di tengah ramainya pesta itu, hanya satu keluarga yang tidak hadir.
Keluarga Bu Ratmini.
Mereka bahkan tidak mendapatkan undangan.
"Bu, hari ini pernikahan Mas Lindu sama Kak Wulan." Kata Dila sambil mendekati ibunya yang sedang memasak di dapur sederhana mereka.
Suara kayu bakar yang menyala terdengar pelan di tengah suasana rumah yang sunyi.
"Iya, Dila." Jawab Bu Ratmini lirih tanpa menoleh.
Tangannya tetap mengaduk sayur di atas tungku, meski pikirannya entah ke mana.
Dila duduk pelan di dekat ibunya.
"Seharusnya yang nikah sama Mas Lindu itu Kak Sekar." Ucap gadis kecil itu polos.
"Kalau saja Kak Sekar nda pergi, Mas Lindu pasti sudah jadi masnya Dila."
Ucapan polos itu membuat tangan Bu Ratmini berhenti sesaat.
Dadanya langsung terasa sesak.
Namun wanita itu tetap berusaha tersenyum kecil meski matanya mulai memanas menahan air mata.
"Sudah takdir Allah, Nduk. Nda usah disesali." Katanya pelan.
Dila menatap ibunya diam-diam.
"Biarkan saja nduk, mungkin Nak Lindu itu memang jodohnya Wulan, bukan jodoh Mbakmu." Lanjut Bu Ratmini lirih.
Padahal sejak tadi, wanita itu mati-matian menahan tangisnya sendiri.
Malam harinya, setelah salat isya, Bu Ratmini duduk sendiri di ruang tengah rumahnya yang sunyi. Dila sudah tertidur lebih dulu, sementara suara musik hajatan dari rumah Juragan Ramli masih terdengar samar dari kejauhan.
"Bu..."
Tiba-tiba terdengar suara lembut memanggilnya.
Bu Ratmini langsung menoleh cepat. Dadanya berdegup keras saat mendengar suara yang sangat dia rindukan itu.
"Sekar..." Lirihnya penuh harap.
Di kejauhan, tampak sosok gadis berdiri samar di balik kabut putih.
"Sekar..." Bu Ratmini segera bangkit dan berjalan mendekati arah suara itu.
Namun anehnya, semakin dia mendekat, kabut di depannya justru semakin tebal.
"Sekar!" Panggilnya panik.
"Sekar di sini, Bu..." Sahut suara itu lirih dari balik kabut.
Bu Ratmini mulai menangis. Dia terus berjalan sambil mengulurkan tangan, ingin memeluk putrinya.
"Sekar, pulang Nak... pulang..." Ucapnya tersedu-sedu.
Namun sosok itu tetap tidak terlihat jelas.
"Bu..." Suara Sekar terdengar lagi, kali ini semakin jauh.
"Sekar!" teriak Bu Ratmini sambil mencoba mengejar suara itu.
Dan seketika tubuhnya tersentak.
Bu Ratmini membuka mata dengan napas memburu. Air matanya sudah mengalir di pipi, sementara rumahnya masih sunyi dan gelap.
Tidak ada siapa-siapa di sana.
Hanya suara jangkrik malam dan samar-samar suara pesta pernikahan dari kejauhan.
Ternyata, dia hanya bermimpi tentang Sekar.