NovelToon NovelToon
TEBUSAN RANJANG ( Kontrak Pernikahan 1 Tahun )

TEBUSAN RANJANG ( Kontrak Pernikahan 1 Tahun )

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Five Vee

*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*


Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.

Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.


Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.


Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Culun Yang Ditolak.

Lapangan SMA Harapan Jaya panas.

Angin Juli cuma bawa debu, bukan sejuk. Tapi 300 siswa kelas 12 tidak perduli. Hari ini gladi bersih kelulusan. Hari terakhir mereka dianggap sebagai “anak-anak”.

Ben berdiri paling belakang barisan. Kacamata tebalnya berkabut, kemeja putihnya kekecilan, terlihat ketat di bahu. Rambutnya dipotong asal oleh bapaknya menggunakan mesin cukur di rumah.

Culun.

Itu kata yang paling sering ia dengar sejak kelas 10.

“Eh, itu Ben si kutu buku.”

“Anak kantin, bapaknya jaga parkir kan?”

“Jangan dekat-dekat, nanti ketularan miskin.”

Ben mendengar semua. Tapi ia tetap bertahan. Karena ada satu alasan dia betah 3 tahun di sini.

Junee Maharani.

Salah satu bintang sekolah. Nilai rata-rata 9.8. Rambut panjang, suara pelan, senyumnya jarang.

Ben menyukai Junee sejak hari pertama MPLS.

Waktu itu, ia jatuh saat latihan baris-berbaris, buku-bukunya berceceran. Semua mentertawakan. Hanya Junee yang berjongkok, membantu memungut, sembari berkata. “Hati-hati ya, Ben. Lantainya licin.”

Tidak ada yang pernah memanggil ia “Ben” dengan nada lembut seperti itu.

Tidak merendahkan. Tidak mengejek. Hanya “Ben”.

Sejak saat itu, Ben diam-diam menjaga jarak 5 meter. Tidak berani mendekat.

Hanya melihat dari jauh saat upacara, dan Junee menjadi petugas bendera. Cukup tau kalau Junee baik ke semua orang, termasuk kepada ia yang culun.

Hari ini, Ben membawa keberanian selama 3 tahun.

Di saku seragamnya ada sebuah surat. Lipatan rapi, sedikit terkena keringat.

Isinya hanya 2 paragraf. Tulisan tangannya jelek, tapi ia tulis ulang 7 kali.

“Junee, aku suka kamu sejak kelas 10. Aku tau aku tidak keren, tidak kaya, tidak pantas.

Tapi aku janji, kalau kamu kasih aku kesempatan, aku akan membuat kamu bangga. Tunggu aku lulus. Tunggu aku jadi orang.”

Selesai gladi, semua murid bubar.

Junee duduk di bangku panjang bawah pohon mangga. Dia membuka bekal nasi uduknya. Tidak pernah jajan mahal. Ben tau, karena ia sering melihat Junee pulang naik angkutan kota, bukan dijemput mobil.

Kesempatan.

Ben tarik napas panjang. Jantungnya berdetak sangat cepat.

Ia pun melangkah pelan dan kaku.

“Ju… Junee.” Panggilnya.

Junee menoleh dan sedikit terkejut.

“Eh, Ben? Ada apa?”

Ben menundukkan kepala, sembari mengulurkan surat itu. Tangannya gemetar.

“Ini… buat kamu. Bacanya nanti aja.”

Junee menerima dengan dahi berkerut.

“Surat cinta?” tanyanya setengah bercanda.

Ben mengangguk pelan. Wajahnya merah sampai ke telinga.

“Aku… aku suka kamu, Junee. Sejak lama. Kalau lulus, aku mau mencoba mendekati kamu.”

Hening 3 detik.

Junee melihat surat itu, lalu berpindah pada Ben. Ia tau Ben orang baik. Pemuda itu juga pintar, pernah menjadi juara umum dengannya.

Tapi Junee juga sadar dengan keadaan dirinya.

Sang ayah baru keluar dari rumah sakit karena Stroke ringan. Adiknya masih SD. Ibu berjualan kue keliling. Junee tidak bisa memikirkan berpacaran. Ia harus kerja part-time jadi les anak - anak panti asuhan, untuk membantu biaya hidup.

“Ben…” suara Junee pelan. Ia tidak mau menyakiti.

“Aku senang kamu baik ke aku. Tapi aku tidak bisa pacaran sekarang. Maaf.”

Kata “maaf” itu terasa menghantam ke hati Ben.

Ia pun mengangkat kepala. Ben melihat mata Junee. Tulus. Tidak ada jijik. Tidak ada mengejek.

Tapi untuk Ben yang sudah 3 tahun ditolak secara halus oleh seluruh sekolah, kata “tidak bisa” hanya berarti satu hal “Kamu tidak cukup.”

“Gara-gara aku culun ya?” tanya Ben pelan. Suaranya pecah.

“Gara-gara aku miskin? Gara-gara bapakku hanya jaga parkir, dan ibuku jualan di kantin?”

Junee terkejut. “Bukan gitu, Ben! Dengarkan aku—”

“Tidak apa-apa.” potong Ben cepat. Ia mundur selangkah. Dia tidak mau menangis di depan Junee.

“Terima kasih sudah jujur. Aku mengerti.”

Ben memutar badan. Melangkah lebar keluar lapangan. Surat itu masih di tangan Junee.

“Ben!” Panggil Junee.

Tapi Ben sudah berlari.

Di balik ruang kelas Ben bersandar sembari menutup wajahnya.

Panas.

Bukan karena matahari. Tapi karena malu.

“Ternyata bener. Tidak ada gadis seperti Junee yang mau sama aku.

Aku culun. Aku miskin. Aku nggak pantes.”

---

10 TAHUN KEMUDIAN.

Ruang meeting lantai 45, Gedung Ben Holding, SCBD.

Meja marmer panjang diisi oleh 12 orang Direktur yang duduk dengan tegang. Di ujung meja, ada laki-laki berusia28 tahun. Wajahnya tampan, penampilan pun mahal.

Benjamin Pratama.

Salah satu CEO termuda di Asia Tenggara. Kekayaan 4.7 triliun. Julukan di media: The Ice King. Dingin, kejam, tidak pernah kalah.

Ben sedang menunjuk layar proyektor.

“Proyek Apartemen Langit Biru akan berjalan bulan depan. Lahan Yayasan Harapan Kasih sudah sah dibeli bulan lalu. Gusur minggu depan. Tidak ada negosiasi.” Ucap pria itu.

Salah satu Direktur angkat tangan. “Pak, ada desakan LSM. Katanya itu panti asuhan tertua di wilayah itu. Ada 30 anak yatim piatu di sana.”

Ben tersenyum tipis.

“Bisnis bukan panti sosial.”

Pintu ruang meeting diketuk dari luar.

Sekretarisnya—Vania masuk, berbisik pelan.

“Pak, ada tamu. Dari Yayasan Harapan Kasih. Namanya… Junee Maharani.”

Tangan Ben yang sedang memegang pulpen berhenti.

Junee Maharani.

Nama yang sudah 10 tahun dikubur. Tapi saat mendengar lagi, dadanya terasa sesak.

Ia pun menutup laptop.

“Suruh masuk. Meeting kita lanjutkan nanti.”

Vania mengangguk, kemudian pergi, diikuti oleh para Direktur.

Pintu kembali kebuka.

Perempuan 28 tahun masuk. Rambut diikat rapi. Baju kemeja putih sederhana, rok panjang. Riasan tipis. Tapi matanya masih sama. Tenang. Lelah.

Junee.

Gadis itu lebih kurus dari dulu. Tapi tatapannya lebih kuat.

Junee tertegun melihat Ben. Lalu ia menunduk sopan.

“Selamat siang, Pak Ben. Saya Junee. Saya datang untuk memohon, jangan gusur Yayasan Harapan Kasih minggu depan.”

Ben kembali duduk sembari memindai penampilan Junee.

“Junee Maharani… Guru les privat di yayasan Harapan Kasih ‘kan? Saya baca profil kamu.”

Junee kembali terkejut. Ben mengingatnya.

“Iya, Pak. Saya juga pengurus harian yayasan. Anak-anak di sana… mereka tidak punya tempat lain, Pak.”

Ben terdiam.

“10 tahun lalu, kamu menolak aku, Junee. Karena aku culun. Karena aku miskin.”

Ruangan meeting itu hening.

Junee pucat.

“Bukan gitu, Pak Ben. Dulu saya—”

“Sekarang situasinya terbalik,” potong Ben. Suaranya pelan, tapi menusuk.

“Sekarang aku yang punya kuasa. Dan kamu yang datang memohon.”

Pria itu bangkit dari tempat duduknya. Melangkah pelan ke arah Junee.

“Aku bisa bantu. Tapi ada harganya.”

Junee mengangkat kepala. “Apa pun, Pak. Asal anak-anak aman.”

Ben tersenyum tipis.

“Menikah dengan aku. Kontrak 1 tahun. Setiap malam, kamu penuhi kebutuhan ranjangku. Maka panti itu menjadi milik kamu selamanya.”

Junee seperti di tampar.

Wajahnya memerah, karena marah.

“Anda tidak waras?”

“Mungkin.” Ucap Ben. Pria itu kembali ke tempat duduknya.

“Pilih, Nona Junee. Harga diri kamu, atau 30 anak yang kamu sayang itu.”

Junee menggigit bibir. Tangannya mengepal. Terbayang wajah anak-anak panti. Dika yang besar, Sinta yang baru sembuh dari TBC, Kakek penjaga panti yang udah 70 tahun.

Junee tidak punya pilihan.

“Baik,” katanya pelan. Hampir tidak terdengar.

“Aku terima.”

Ben mengangguk pelan. Kemudian menghubungi seseorang dari ponselnya.

“Bram, siapkan kontrak pernikahan. Sekarang.”

Panas kota Jakarta seakan masuk ke dalam ruang meeting itu. Sesuatu yang beku selama 10 tahun, kini mulai retak.

Ben melihat Junee dari atas meja.

Pria itu kini telah menang.

Tapi kenapa rasanya… kosong?

1
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Hennyy exo
wow awal yg bagus thor
Naufal Affiq
gak usah dengar ocehan si arga ini ya jun,ingat jun ada ben yang selalu mencintaimu
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
jangan di ingat masa lalu yang penyakit kan,entar timbul masalah baru ben,ingat ben masa depan lebih indah dari pada masa lalu
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
semoga kedepan nya hubungan mu dengan suami mu lebih baik lagi ya junee
merry yuliana
crazy up ya kak
Author Amatir🍒: Satu bab lagi masih nyangkut kak..
total 1 replies
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor seru ceritanya
ardiana dili
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!