🌶️ WARNING!!🌶️
Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.
Cantik. Elegan. Mematikan.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.
Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.
Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.
Satu kehilangan diri karena trauma.
Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.
Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Gila Tidak Diundang
Viktor menaiki anak tangga kayu yang berderit menuju lantai atas tempat apartemen kecilnya berada. Tubuhnya terasa lelah setelah pertarungan tadi, dan yang ia inginkan hanyalah merebahkan diri.
Langkahnya terhenti seketika saat matanya menangkap sesuatu yang tidak beres.
Pintu kamarnya sedikit terbuka.
Hanya celah kecil, namun cukup untuk membuat insting bertahan hidupnya berteriak waspada. Seseorang telah masuk tanpa izin.
Viktor menurunkan posisi tubuhnya, bergerak tanpa suara. Ia merogoh saku, menyiapkan tenaganya untuk serangan mematikan jika di dalam sana ada penyusup atau musuh yang mencoba membunuhnya.
Ia mendorong pintu perlahan... krieeet... lalu masuk dengan gerakan kilat, siap menerjang siapa pun yang ada di sana.
Namun, pemandangan di depannya membuat kepalan tangan Viktor membeku di udara.
Di sudut dapur yang sempit, Seravina sedang berdiri mengenakan apron mahal di atas gaun sutranya. Rambutnya disanggul asal-asalan, dan ia sedang sibuk mengaduk sesuatu di dalam panci sambil bergumam riang, menyenandungkan melodi klasik yang elegan.
"Hmm... sepertinya kurang sedikit garam," gumamnya pada diri sendiri, sama sekali tidak menyadari ada pria setinggi 190 cm yang siap membunuhnya di belakang.
Viktor menurunkan tangannya, matanya menatap sekeliling dapur yang sekarang lebih mirip zona perang. Tepung berserakan di lantai, kulit bawang berhamburan, dan ada bercak saus merah di dinding yang entah bagaimana bisa sampai ke sana. Dapur yang biasanya rapi dan kosong itu kini berantakan total karena ulah satu wanita.
"Bagaimana kau bisa masuk?" tanya Viktor, suaranya berat dan penuh penekanan.
Seravina terlonjak kaget sampai hampir menjatuhkan sendok kayunya. Ia berbalik dan meletakkan tangan di dada, mengatur napasnya yang tersengal karena terkejut. "Astaga, Viktor! Kau hampir membuat jantungku berhenti!"
"Bagaimana. Kau. Masuk?" ulang Viktor, kali ini dengan tatapan yang sangat tajam.
Seravina kembali tersenyum lebar, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia mengibaskan tangannya yang terkena sedikit tepung. "Oh, itu? Ibu pemilik sewa di bawah yang memberiku kunci. Dia sangat baik. Kami tadi minum teh sebentar, dan saat aku bilang aku ingin memberikan kejutan makan malam untuk kekasihku, dia langsung memberikan kunci cadangannya tanpa ragu."
Viktor membelalakkan matanya—sebuah ekspresi yang sangat jarang ia tunjukkan. "Kekasih?"
"Iya! Dia bilang kau pria yang terlalu pendiam, jadi dia senang akhirnya kau punya kekasih yang ceria sepertiku," Seravina tertawa renyah, seolah itu adalah lelucon terbaik di dunia. "Jadi, mandilah dulu. Aku sedang membuatkanmu bouillabaisse. Meskipun... yah, bentuknya agak aneh, tapi aromanya enak, kan?"
Viktor menatap panci yang mengeluarkan asap hitam kecil dari pinggirannya, lalu kembali menatap dapur yang sudah hancur lebur. Ia merasa lebih pusing menghadapi Seravina daripada menghadapi lawan raksasa di ring tadi.
Suasana di dapur yang berantakan itu mendadak berubah. Seravina berhenti mengaduk pancinya. Ia meletakkan sendok kayu itu di atas meja yang penuh noda saus, lalu perlahan memutar tubuhnya untuk menghadapi Viktor.
Senyum ceria yang tadi menghiasi wajahnya hilang seketika.
Seravina menatap Viktor dengan tatapan yang sangat berbeda dari sebelumnya. Matanya yang indah kini meredup, memancarkan kedinginan yang begitu pekat dan mengerikan.
"Kenapa?" tanya Seravina. Suaranya sangat tenang, nyaris seperti bisikan, namun memiliki tekanan yang sanggup membuat orang biasa gemetar ketakutan. "Kau tidak suka?"
Ia melangkah satu tindak mendekati Viktor, tidak peduli dengan bercak tepung di apronnya. Keanggunan yang mematikan kembali menyelimuti dirinya. Ruangan sempit itu seolah kekurangan oksigen saat aura kekuasaan Seravina memenuhi udara.
"Aku sudah merendahkan diriku untuk datang ke tempat kumuh ini, membohongi pemilik rumahmu, dan mengotori tanganku untuk memasak sesuatu yang layak kau makan," ucapnya lagi, masih dengan nada bicara yang datar dan dingin. "Jadi, katakan padaku, Viktor... apakah kau tidak suka aku ada di sini?"
Tatapan itu adalah peringatan. Seravina mungkin bisa bersikap gila dan genit, tapi di balik itu semua, dia tetaplah seorang majikan yang tidak terbiasa ditolak atau diabaikan.
Viktor hanya diam membeku. Ia bisa merasakan bahaya yang nyata memancar dari wanita ini.
"Ya. Aku tidak suka," ucap Viktor datar dengan nada bicara yang sangat santai, seolah sedang mengomentari cuaca buruk di Moskow, ia menjawab singkat.
Hening menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik. Seravina terpaku, matanya masih menatap tajam ke arah Viktor, seolah sedang memproses jawaban jujur yang sangat tidak sopan itu. Tiba-tiba, keheningan itu pecah oleh suara tawa yang meledak.
"Pfft—HAHAHAHA!"
Seravina tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang hebat. Ia benar-benar merasa jawaban Viktor adalah hal paling lucu yang pernah ia dengar sepanjang hidupnya di Rusia yang dingin ini.
"Kau... kau benar-benar lucu!" seru Seravina di sela tawanya. Ia melangkah maju dan mulai memukul-mukul lengan kekar Viktor dengan telapak tangannya—seperti cara wanita akrab menggoda pasangannya dengan tenaga yang cukup bersemangat.
"Hahaha! Ya Tuhan, perutku sakit!" Seravina terus tertawa sambil menyeka air mata di sudut matanya. Ia seolah tidak peduli lagi dengan harga dirinya sebagai seorang Zharvok yang baru saja ditolak mentah-mentah.
Viktor hanya bisa berdiri diam, menahan guncangan di lengannya akibat pukulan gemas Seravina. Ekspresi wajahnya tetap datar, semakin yakin bahwa wanita ini memang sudah kehilangan kewarasannya.
Sambil masih terkekeh pelan dan menggumamkan kata "lucu", Seravina memutar tubuhnya kembali menghadap kompor. Ia mengambil sendok kayunya lagi dan lanjut mengaduk masakannya yang mulai tercium bau gosong.
"Baiklah, pria jujur. Karena kau tidak suka aku di sini, maka aku akan pastikan kau akan merindukanku saat aku pergi nanti," ucapnya sambil terkikik jahat.