" Nak. Ayo kita pulang, tak baik loh melamun di waktu senja, apalagi kamu melamun nya di bawah pohon randu." Tegur wanita tua, lembut dan tersenyum hangat kepada pemuda berusia 20 tahun.
" Ehk. Nek... Ayo.." Jawab pemuda itu tak beraturan ucapannya. Lalu bangkit dari tempat duduk di bawah pohon itu.
" Kamu kenapa Nak. Akhir akhir ini Nenek perhatikan kamu suka melamun seorang diri?"
" Gak kenapa-kenapa kok Nek." Jawab nya.
" Hmmmmmmm.." Gumam Nenek tak puas dengan jawaban dari pemuda yang kini berjalan berbarengan pulang ke rumah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
EPISODE 15: CEMBURU BUTA DI PAGI HARI
PAGI YANG SEPI
Langit membuka mata dengan perlahan, rasa kantuk masih menggantung di kelopak matanya. Ia duduk perlahan dan melihat keluar jendela – sinar matahari sudah mulai menyinari halaman rumah, menyinari rerumputan yang masih basah akibat embun pagi.
"Sudah pagi ya..." gumamnya pelan, lalu mulai merapikan kasurnya.
Nenek Wati sudah berada di dapur, suara sendok dan wajan yang bersentuhan terdengar jelas.
"Langit, sarapan sudah siap ya Nak! Ayolah cepat turun sebelum nasi jadi dingin!"
"Baik Nek, saya segera turun!" jawab Langit sambil menuruni anak tangga perlahan.
Saat sampai di ruang tamu, aroma bubur ayam yang hangat langsung menyambut hidungnya. Ia duduk di kursinya yang biasa, mengambil sendok dan mulai menikmati sarapan dengan senyum kecil.
"Nenek, buburnya enak sekali Nek!" ucap Langit dengan mata yang bersinar.
"Sudah tahu kok kalau kamu suka bubur ayam. Mau ditambahin telur pindang lagi ya Nak?" tanya Nenek Wati dengan senyum hangat.
"Enggak usah Nek, cukup ini aja sudah banyak, kenyang nih," jawab Langit sambil menutup mulutnya yang masih penuh bubur, wajahnya polos sekali.
Sementara itu, di rumah Teh Intan...
Suara riang terdengar jelas dari dalam kamar. Kedua anaknya sangat bahagia ketika sang ibu berjanji akan membawanya ke kota menemani Nenek Wati ke bank.
"Ayo cepet mandi ya, nanti Buyut Wati menunggu kita lho. Mau bunda tinggal kalian hah?" Intan merajuk mengancam kedua anaknya yang sedari tadi hanya bermain petak umpet.
"Jangan bunda.......... Acu, mau mandi." Ucap kakaknya yang langsung berlari ke kamar mandi.
"Kakak..... Tunggu, acu juga mau mandi." Sang adik pun berlari menyusul kakaknya.
Intan hanya tersenyum gemas. Di balik rasa sakit hati oleh perlakuan suaminya, masih ada kebahagiaan yang terpancar dari kedua buah hatinya itu.
Saat Intan melangkah ke kamar membawa handuk, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar.
"Langit."
Pintu terbuka, muncul sosok pemuda polos tetangganya membawa dua mangkuk bubur ayam mengepul.
"Teh ini sarapan buat Teh Intan dan anak-anak, nenek suruh mengantarkannya," kata Langit langsung masuk tanpa sungkan, main nyelonong begitu saja.
"Uh bocah sableng..." Intan menggerutu pelan tapi hatinya tersentuh.
Setelah menutup pintu, Intan pergi ke kamar mandi, sementara Langit sibuk mencari si kembar.
"Adel.......! Adi........! Dimana kalian, Om bawa bubur ayam nih."
"Teh Intan, di mana mereka kok gak ada?" tanyanya bingung.
"Mereka berdua di kamar mandi Langit, sedang mandi," jawab Intan berteriak dari dalam.
Langit langsung berjalan cepat ke sana. Benar saja, kedua bocah itu sedang saling memberi kode untuk diam agar tidak ketahuan.
"Hah......... Ketemu kalian!" teriak Langit mengagetkan mereka, membuat suasana langsung pecah tawa.
"Ayo buruan mandi nya, bukankah kalian mau ikut bersama bunda dan nenek buyut ke kota.?"
"Siap om." Serentak mereka berdua lalu mulai membasahi tubuh. Langit pun tanpa sungkan membantu memandikan dan mengeringkan badan mereka.
Semua itu tidak luput dari pantauan Intan. Hatinya terharu dan bahagia.
'Seandainya suamiku Jaji bisa seperhatian dan selembut Langit ini...' batinnya berandai-andai.
PAGI YANG MENUNGGU
Setelah mengantar bubur dan memastikan mereka siap, Langit kembali ke rumahnya. Ia mulai membersihkan halaman dan menyiram tanaman di pekarangan.
Tiba-tiba, dari arah jalan kampung datang seorang wanita mengenakan baju batik muda dengan wajah yang teduh – Sri, istri Pardi. Ia berjalan pelan sambil memegang keranjang besar berisi sayuran segar baru dari pasar.
Saat melewati depan rumah Langit, kakinya tersandung batu kecil.
"Aduh...!"
Ember air di tangan Langit terkejut dan terjatuh, air memercik ke tanah dan sedikit mengenai sepatu Bu Sri.
"Bu, apa kabar? Maaf ya Bu, airnya kena ke sepatumu," kata Langit cepat menolong.
Sri terkejut lalu tersenyum ramah.
"Tidak apa-apa kok Langit. Aku juga tidak sengaja lewat situ. Baru dari pasar belanja sayuran nih, berat banget keranjangnya."
"Oh begini ya Bu, kalau begitu biar saya bantu angkut saja keranjangnya ke rumah," tawar Langit baik hati.
"Wah makasih banget ya Langit, kamu baik banget. Nanti Bu kasih buah mangga manis ya buat hadiahnya," jawab Sri senang.
Tanpa pikir panjang, Langit memangku keranjang sayur yang berat itu di pundaknya dengan mudah. Sepanjang jalan mereka berbincang akrab layaknya ibu dan anak.
"Bu Sri tinggal di kampung ini sudah lama ya?" tanya Langit memecah keheningan.
"Iya sudah belasan tahun, sejak dulu aku tinggal di sini bareng suamiku Pardi. Kamu kan cucunya Bu Wati ya? Wajahmu mirip sekali sama nenekmu waktu muda," jawab Sri sambil tersenyum menatap pemuda itu.
"Betul sekali Bu, sudah tinggal bersama Nenek sejak kecil sampai sekarang. Alhamdulillah hidup di desa tenang dan damai ya Bu," jawab Langit dengan suara tenang dan sopan.
Obrolan mereka terlihat sangat akrab, tertawa kecil sesekali, benar-benar terlihat harmonis dan manis di mata orang yang melihat dari jauh.
MATA YANG MEMANDANG DENGAN DENDAM
Saat sampai di halaman rumah Sri, mereka melihat Pardi sedang duduk di teras sambil merokok. Matanya tajam mengawasi jalanan.
Seketika saat melihat istrinya berjalan berdampingan dengan Langit, bercakap-cakap akrab bahkan tertawa bersama, wajah Pardi langsung berubah murka.
'APA-APAN INI?!' batinnya meledak.
'Dasar wanita tidak tahu malu! Baru beberapa menit aku tinggal diam, sudah main jalan-jalan mesra sama bocah ingusan itu?! Lihat tuh cara mereka ngobrol, senyum-senyum malu segala! Apa jangan-jangan selama ini mereka punya hubungan di belakangku?!'
Rasa cemburu buta dan pikiran kotor langsung memenuhi otak Pardi. Ia melihat kedekatan mereka sebagai bukti perselingkuhan, padahal itu hanya rasa sopan santun dan kebaikan hati.
Dengan kasar ia membuang rokoknya ke tanah lalu menginjaknya hingga hancur.
"Oh, kamu sudah sampai sayang?" teriak Pardi dengan nada yang terdengar dipaksakan dan sedikit tinggi. Ia lalu menatap tajam ke arah Langit.
"INI SIAPA?!"
Pardi bertanya dengan wajah sinis, seolah-olah tidak mengenali pemuda yang sedang menggendong keranjang sayur untuk istrinya itu, padahal mereka sangat tahu siapa satu sama lain.
CATATAN PEMBACA:
SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!
SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.
JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!
SALAM DARI ANAK KAMPUNG,
ARIS.
Bersambung...
Bersambung.