Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liam?
Pagi harinya udara dingin yang berkabut kini bercampur dengan hiruk-pikuk suara orang yang berbisik-bisik. Cassie terbangun dengan mata sembab dan kepala yang berdenyut, namun keramaian di lantai bawah memaksanya untuk turun.
Di depan pintu darurat, garis polisi berwarna kuning cerah sudah melintang. Rupanya, meski singkat, panggilan telepon Cassie semalam cukup untuk membuat polisi melacak lokasi tersebut. Cassie berdiri di pinggir kerumunan, jemarinya saling meremas satu sama lain. Tubuh pria malang itu sudah tidak ada, namun bekas darah kering yang berwarna cokelat gelap di atas beton tetap menjadi saksi bisu yang mengerikan.
Tiba-tiba, sebuah tepukan pelan mendarat di bahunya.
"Kau baik-baik saja?"
Cassie tersentak hebat hingga hampir memekik. Ia berbalik dan menemukan seorang pria muda berseragam polisi berdiri di depannya. Polisi itu memiliki wajah yang ramah, senyum yang menenangkan, dan tatapan mata yang lembut. Kehadirannya seolah membawa secercah cahaya di tengah bangunan yang suram ini.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengagetkanmu," ujar polisi muda itu dengan nada lembut. "Namaku Ethan. Kami sedang memeriksa rekaman CCTV lobi, satu-satunya kamera yang masih berfungsi di sini. Dan aku melihatmu masuk tepat di jam saat kejadian itu berlangsung."
Jantung Cassie mencelos. "Aku... aku..."
"Maukah kau memberikan keterangan lebih lanjut? Mungkin ada sesuatu yang kau dengar atau lihat yang bisa membantu kami."
Cassie baru saja hendak membuka mulutnya, mencari perlindungan di balik ketenangan Ethan, saat matanya secara tidak sengaja menangkap sosok lain di kejauhan.
Di ujung lorong yang remang, bersandar pada pilar beton yang retak, pria misterius semalam berdiri di sana. Ia tidak membaur dengan kerumunan penghuni yang penasaran, ia hanya diam, dengan tangan tersembunyi di dalam saku jaket hitamnya.
Tatapan pria itu tajam dan dingin, menusuk langsung ke arah Cassie. Tidak ada ancaman fisik kali ini, namun cara dia menatap Cassie seolah berkata, "Ingat perjanjian kita, atau kau tahu konsekuensinya."
Cassie membeku. Ia berada di tengah-tengah dua pilihan, kejujuran yang ditawarkan oleh Ethan yang tampak sangat baik, atau keheningan yang dipaksakan oleh pria berbahaya yang kini terus mengawasinya dari bayang-bayang.
***
Pria misterius itu tiba-tiba melepaskan sandarannya pada pilar beton. Dengan langkah lebar dan tenang, ia berjalan membelah kerumunan langsung menuju ke arah Cassie dan Ethan. Cassie merasakan seluruh otot tubuhnya menegang, ia ingin lari, namun kakinya seolah terpaku di lantai.
Setiap langkah sepatu bot pria itu terdengar seperti lonceng kematian di telinga Cassie. Dia akan melakukannya sekarang, pikir Cassie panik. Dia akan mencelakaiku di depan polisi ini.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat napas Cassie tertahan karena bingung.
Pria itu tidak menerjangnya. Sebaliknya, ia menunjukkan senyum tipis dan dengan santai menepuk pundak Ethan.
"Ethan? Apa yang dilakukan polisi muda berbakat sepertimu di gedung rongsokan ini?" suara berat itu terdengar jauh lebih ramah, namun tetap memiliki aura dominan yang kuat.
Ethan menoleh, dan wajahnya seketika cerah. Ia membalas tepukan itu dengan jabat tangan yang erat, seperti dua teman lama yang sangat akrab.
"Liam! Sial, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini," jawab Ethan dengan nada santai dan tawa kecil. "Yah, kau tahu, pekerjaan polisi tidak pernah libur. Ada insiden pengeroyokan fatal semalam di tangga darurat."
Pria yang bernama Liam itu mengangguk pelan sambil melirik Cassie sekilas dengan tatapan yang membuat bulu kuduknya berdiri. "Insiden lagi? Distrik ini memang makin tidak aman saja."
Ethan kemudian menoleh ke arah Cassie, menyadari kebingungan di wajah gadis itu. "Ah, maafkan kami. Cassie, perkenalkan, ini Liam. Dia... bisa dibilang dia adalah orang yang paling menguasai daerah ini."
Liam mengulurkan tangannya ke arah Cassie. Matanya yang dingin kini menatap langsung ke dalam mata Cassie yang gemetar.
"Senang bertemu denganmu, Cassie. Maaf jika aku mengejutkanmu semalam... maksudku, pagi ini," ucap Liam dengan nada yang terdengar sangat normal bagi Ethan, namun terdengar seperti ancaman murni bagi Cassie. "Kau tampak sangat pucat. Apakah polisi tampan ini sedang mengintimidasimu?"
Cassie menatap tangan Liam yang terjulur, tangan yang semalam membekap mulutnya dan mematikan ponselnya. Ia merasakan disorientasi yang luar biasa. Bagaimana mungkin seorang polisi jujur seperti Ethan bisa berteman akrab dengan pria yang mengerikan ini.
"Kalian saling kenal?" tanya Cassie, suaranya nyaris berbisik.
"Sangat kenal." Liam yang menjawab, jemarinya kini menyentuh ujung tangan Cassie untuk menjabatnya secara paksa. "Aku hanya penghuni lama yang mencoba membantu ketertiban di sini. Benar kan, Ethan?"
Ethan tertawa dan mengangguk. "Begitulah. Liam banyak membantu kami memberikan informasi tentang kriminalitas di distrik ini."
Dunia Cassie terasa berputar. Ia baru saja menyadari bahwa ia terjebak dalam jaring yang jauh lebih rumit. Liam bukan sekadar preman atau orang asing, dia memiliki koneksi dengan pihak berwenang.
Cassie berdiri terpaku di antara dua pria yang seolah merepresentasikan cahaya dan kegelapan. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak membandingkan keduanya secara diam-diam.
Di satu sisi, ada Ethan. Polisi muda itu tampak begitu bersinar. Kulitnya putih bersih, kontras dengan seragam birunya yang rapi tanpa cela. Sepasang bola mata berwarna hazel miliknya memancarkan kehangatan yang tulus. Dengan tinggi badan sekitar 185 sentimeter dan senyum yang bisa meluluhkan hati siapa pun, Ethan adalah definisi nyata dari pria baik-baik, tipe pria yang akan dibanggakan oleh orang tua mana pun jika dibawa ke rumah.
Namun di sisi lain, ada Liam. Pria itu berdiri bagaikan bayangan hitam yang siap menelan cahaya di sekitarnya. Kulitnya lebih gelap, mungkin karena terlalu sering terpapar sinar matahari. Tubuhnya menjulang lebih tinggi dari Ethan, mendekati 190 sentimeter, menciptakan siluet yang mengintimidasi. Meski Liam sedang tersenyum saat ini, Cassie bisa merasakan aura yang sangat berbeda. Senyum itu tidak sampai ke matanya, sorot mata Liam tetap dingin, tajam, dan menyimpan aura predator yang seolah bisa mencabut nyawa kapan saja.
Tiba-tiba, Liam merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah benda yang membuat jantung Cassie berhenti berdetak sejenak.
"Ah, hampir lupa," ujar Liam sambil menyodorkan ponsel milik Cassie. "Aku menemukan ini di lantai dekat lift tadi malam, setelah kau terburu-buru masuk. Sepertinya terjatuh dari sakumu karena kau terlihat sangat mengantuk."
Liam memberikan alasan yang terdengar begitu masuk akal di telinga Ethan, namun bagi Cassie, itu adalah pesan tersirat. Aku memegang kendali.
Cassie menerima ponselnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia menarik napas panjang, berusaha menekan rasa takutnya sedalam mungkin sebelum menatap Ethan.
"Aku... aku benar-benar tidak melihat apa-apa, Petugas Ethan." ucap Cassie, suaranya sedikit parau namun ia berusaha terdengar yakin. "Malam itu aku sangat kelelahan setelah shift kerja yang panjang. Begitu masuk lobi, aku langsung menuju lift dan masuk ke kamar. Aku bahkan tidak sadar kalau ponselku terjatuh sampai... sampai Liam mengembalikannya sekarang."
Cassie melirik Liam sekilas, dan pria itu hanya memberikan anggukan kecil yang nyaris tidak terlihat, sebuah apresiasi karena Cassie telah mengikuti skenarionya.
Ethan menghela napas, sedikit kecewa karena tidak mendapatkan petunjuk tambahan, namun ia tetap tersenyum lembut pada Cassie. "Aku mengerti. Istirahatlah, Cassie. Pastikan pintumu selalu terkunci. Distrik ini sedang tidak ramah pada orang asing sepertimu."
"Terima kasih, Ethan." jawab Cassie pelan.
Saat Cassie berbalik untuk naik kembali ke kamarnya, ia bisa merasakan sepasang mata Liam masih tertuju pada punggungnya. Ia merasa aman untuk sesaat karena ada Ethan, tapi ia tahu betul, Ethan akan pergi dari apartemen ini setelah tugasnya selesai.
***
Cassie berdiri cukup lama di depan cermin kecil yang tergantung miring di dinding kamar 304. Cahaya pagi Verovska yang pucat menyelinap melalui celah tirai tipis, membalut ruangan dengan warna kelabu yang familiar. Ia mengusap pelan kantung mata yang masih menyisakan jejak malam tanpa tidur.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
“Kerja. Fokus kerja.” gumamnya lirih, seperti mantra sederhana untuk menambal retakan di kepalanya.
Ia mengenakan seragam kafe, kemeja putih yang sedikit kebesaran dengan apron cokelat tua yang sudah mulai pudar di bagian saku. Tangannya bergerak otomatis merapikan rambut, mengikatnya menjadi ponytail yang rapi. Gerakan yang berulang dan biasa itu terasa menenangkan, seperti mengembalikan dirinya ke ritme kehidupan yang normal, yang bisa dipahami, yang tidak berbau darah dan ancaman.
Sebelum keluar kamar, Cassie menatap bingkai foto orang tuanya di atas nakas. Senyum mereka membeku dalam waktu, hangat dan jauh dari semua kekacauan di kota ini. Ia menyentuh sudut bingkai itu sebentar, lalu meraih tas kerjanya.
“Cuma hari biasa.” bisiknya pelan, seolah mencoba meyakinkan bukan hanya dirinya, tapi juga seluruh semesta.
***
Kafe tempat Cassie bekerja menyambutnya dengan aroma kayu manis yang lembut dan suara lonceng pintu yang ceria. Hangatnya ruangan itu terasa seperti pelukan setelah berjalan menembus udara Verovska yang menusuk paru-paru.
“Cassie! Kau datang tepat waktu,” seru Marla, barista senior yang selalu memakai lipstik merah menyala.
Cassie tersenyum, senyum kecil tapi tulus.
“Seperti biasa.”
Hari itu berjalan lebih sibuk dari biasanya. Deretan pelanggan datang silih berganti, membawa mantel basah oleh hujan tipis, tawa pelan, dan percakapan dalam bahasa lokal yang mulai Cassie pahami sedikit demi sedikit.
Ia bergerak cepat di antara meja-meja kayu. Mengantarkan cappuccino, membersihkan remah croissant, mencatat pesanan, lalu kembali ke dapur kecil untuk membantu plating dessert.
Seorang pelanggan lansia memuji caranya menyajikan teh. Seorang mahasiswa memberi tip kecil sambil bercanda tentang cuaca Verovska yang seperti kulkas rusak. Cassie tertawa, tawanya terdengar ringan, tidak pecah oleh bayangan suara tulang patah.
Waktu berjalan tanpa terasa. Musik jazz lembut mengalun dari speaker tua di sudut ruangan, berpadu dengan bunyi cangkir beradu dan mesin espresso yang mendesis seperti naga kecil yang rajin bekerja.
Cassie bahkan sempat bersandar sebentar di dekat counter, menikmati secangkir cokelat panas sisa pesanan yang batal diambil pelanggan. Hangatnya merambat dari telapak tangannya, naik ke dada, perlahan menenangkan sesuatu yang semalam terasa retak.
Ia mulai percaya mungkin otaknya memang bisa mengubur kejadian itu. Menyimpannya jauh di ruang paling gelap, tempat mimpi buruk biasa dikunci.
Sore menjelang, langit Verovska berubah menjadi kanvas biru keperakan. Lampu-lampu jalan mulai menyala seperti bintang yang jatuh dan menempel di trotoar. Cassie membawa nampan berisi dua latte dan satu cheesecake menuju meja dekat jendela depan.
Saat ia menaruh pesanan itu, pandangannya tanpa sengaja meluncur keluar melalui kaca besar kafe.
Napasnya tertahan.
Di bangku besi di seberang jalan, tidak jauh dari pintu masuk kafe, seorang pria duduk santai. Mantel hitam panjangnya terbuka sedikit, memperlihatkan kemeja gelap di dalamnya. Posturnya tegap, terlalu tegap untuk seseorang yang hanya duduk menikmati sore.
Pria itu memegang cangkir kopi di satu tangan. Uap tipis mengepul ke udara dingin. Kepalanya sedikit menunduk, memperhatikan layar ponsel, seolah dunia di sekitarnya tidak memiliki arti.
Jantung Cassie langsung berdentum terlalu keras, seperti mencoba kabur dari tulang rusuknya.
Itu… mirip.
Sangat mirip.
Garis rahang yang tegas. Potongan rambut pendek yang rapi namun tidak terlalu formal. Cara duduknya yang santai tapi tetap terlihat seperti seseorang yang selalu siap berdiri dalam sepersekian detik.
Liam.
Nama itu muncul di kepalanya seperti bisikan yang menolak pergi.
Cassie buru-buru mengalihkan pandangan, hampir menjatuhkan nampan kosong yang ia pegang. Ia menelan ludah, tenggorokannya terasa kering mendadak.
“Cassie? Kau baik-baik saja?” tanya Marla dari balik counter.
“Iya,” jawab Cassie cepat, terlalu cepat. “Cuma... sedikit pusing.”
Ia berjalan kembali ke dapur kecil, menaruh nampan di wastafel. Tangannya gemetar halus. Ia menyalakan keran, membiarkan air dingin mengalir di atas jemarinya lebih lama dari yang seharusnya.
Itu kebetulan.
Harus kebetulan.
Verovska bukan desa kecil. Kota ini punya ribuan pria tinggi dengan mantel hitam. Tidak semua pria dengan wajah dingin adalah Liam. Tidak semua bayangan berarti ancaman.
Ia menatap pantulan dirinya di permukaan stainless wastafel. Matanya terlihat gelisah, tapi ia memaksa bahunya rileks.
“Dia bahkan tidak melihat ke sini,” bisiknya pada dirinya sendiri, mencoba merangkai logika seperti menyusun puzzle yang kehilangan potongan tengah. “Dia hanya minum kopi. Itu saja.”
Cassie menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Sekali. Dua kali. Ia mengulang teknik pernapasan yang dulu diajarkan ibunya saat ia panik sebelum ujian sekolah.
Ketika ia kembali mengintip keluar dari balik tirai dapur, pria itu masih duduk di sana. Posisi yang sama. Ekspresi yang sama. Tidak ada tanda bahwa ia menyadari keberadaan Cassie di dalam kafe.
Cassie memaksa dirinya untuk kembali bekerja. Ia mengelap meja, mencatat pesanan, bahkan ikut tertawa saat Marla mengeluh tentang pemasok susu yang selalu terlambat. Perlahan, ritme kafe kembali menelan pikirannya.
Namun setiap beberapa menit, matanya tanpa sadar melirik ke arah jendela, memastikan satu hal yang sama.
Pria itu belum melihatnya.
Malah memperburuk keadaan
Kasian Cassie 😭