Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Tekad di Balik Cicilan
Matahari siang menyengat kaca-kaca gedung Jacob Tower, namun suasana hati Devan jauh lebih mendidih. Dengan langkah gontai dan wajah yang ditekuk sedalam mungkin, ia melangkah menuju divisi pemasaran. Ia butuh ruang untuk bernapas, atau setidaknya butuh telinga yang mau mendengar keluh kesahnya tanpa memukul kepalanya dengan map.
Di sebuah bilik kantor yang penuh dengan tumpukan brosur, Kenzi—mantan sekretaris pribadi Devan yang kini didepak Vanya ke bagian pemasaran—sedang asyik menatap layar komputer. Begitu melihat bayangan seseorang berdiri di depan mejanya, Kenzi mendongak.
"Kenapa wajahmu murung banget? Bikin suram suasana divisi ini saja," tegur Kenzi tanpa basa-basi. Sebagai sahabat sekaligus orang yang paling lama menangani kekacauan Devan, Kenzi adalah satu-satunya orang yang tidak sungkan bicara jujur.
Devan mengempaskan tubuhnya ke kursi plastik di samping meja Kenzi. "Ah... aku ingin menyerah, Kenzi."
Kenzi kembali menatap layarnya, jarinya lincah mengetik. "Ya sudah, menyerah saja."
Devan terdiam. Ia berharap Kenzi akan memberinya kata-kata motivasi atau setidaknya melarangnya. Ia berdiri dengan perasaan dongkol. "Oke! Aku pergi! Aku benar-benar tidak tahan lagi. Aku akan mundur sekarang juga!"
Devan melangkah pergi sekitar tiga meter, namun langkahnya melambat, lalu berhenti. Ia menoleh ke belakang, berharap Kenzi mengejarnya. Namun Kenzi tetap sibuk dengan laporannya. Devan kembali menghampiri meja Kenzi dengan wajah masam.
"Kamu... kamu nggak melarang aku?"
Kenzi menarik napas dalam, melepaskan headset-nya, lalu menyandarkan punggung ke kursi. Ia menatap Devan dengan tatapan yang sangat datar. "Sudahlah, Devan. Kamu itu sama saja dari dulu."
"Maksudmu apa?"
"Mau aku bacakan daftarnya?" Kenzi melipat tangannya di dada. "Uang perbaikan mobil sport-mu yang menabrak pembatas jalan bulan lalu, gaya belanja baju desainer yang belum kamu bayar, biaya hidup mewah yang biasa kamu jalani, pinjaman pribadimu padaku yang sudah menumpuk..." Kenzi menjeda sejenak, lalu menaikkan alisnya. "Oh, jangan lupa... cicilan berlian yang kamu beli untuk Viona tapi belum lunas. Harus kulanjutkan daftarnya?"
"BERHENTI!" Devan berteriak kecil sambil menutup telinganya. Wajahnya memerah karena malu.
"Oke," jawab Kenzi enteng.
Devan terduduk kembali, kali ini dengan bahu yang benar-benar lunglai. "Bodohnya aku jika berhenti sekarang. Jatah dari Vanya cuma sepuluh juta sebulan. Setengahnya habis untuk cicilan berlian itu. Kalau aku mundur dari asisten magang, aku bisa jadi gelandangan."
Kenzi mendengus pelan. "Sulit, bukan? Menaklukkan istrimu sendiri?"
"Hem... sangat sulit," gumam Devan. "Dia seperti tembok es yang tidak bisa ditembus. Kenapa dia bisa sedingin itu padaku, sementara pada si Dokter Bara dia bisa menangis seperti anak kecil?"
Kenzi menatap sahabatnya dengan tatapan iba. "Wajar saja, Devan. Tiga tahun kamu nggak menganggap dia ada. Kamu memperlakukannya seperti pajangan, kamu selingkuh di depan matanya, kamu merendahkannya di depan keluargamu. Sekarang saat dia berkuasa dan ada pria lain yang lebih kompeten datang, kamu baru panik?"
"Aku benar-benar menyesal, Ken," ucap Devan tulus. Suaranya merendah. "Aku baru sadar betapa berharganya dia justru saat dia mulai melepaskanku."
Kenzi terdiam sejenak. "Lalu, apa lagi rencanamu? Mau menangis di pojokan lobi?"
Mendengar itu, kepercayaan diri Devan yang setinggi langit tiba-tiba muncul kembali. Ia menegakkan punggungnya, menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya, dan memberikan senyum yang ia anggap paling menawan.
"Mengejarnya dengan wajah setampan dan seksi ini? Wanita mana yang tidak tergoda, Ken? Vanya itu manusia, dia punya perasaan. Aku akan menggunakan pesonaku sampai dia tidak bisa berpaling lagi dariku," ucap Devan dengan nada sombong yang kumat lagi.
Kenzi hanya memberikan ekspresi wajah yang sulit dijelaskan—perpaduan antara ingin muntah dan ingin tertawa. Matanya menatap Devan seolah berkata, "Coba saja kalau berani, tapi jangan menangis kalau dikacangi lagi," meski mulutnya tetap bungkam.
Dengan tekad yang sudah bulat (dan ketakutan akan cicilan yang belum lunas), Devan kembali ke lantai teratas. Ia masuk ke ruangan Vanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Vanya sedang sibuk memeriksa berkas. Ia bahkan tidak mendongak saat Devan masuk.
"Vanya," panggil Devan tegas.
"Panggil aku Bu Vanya, Devan. Kamu masih dalam jam kerja," sahut Vanya dingin.
Devan menghiraukan teguran itu. Ia melangkah mendekati meja kerja Vanya, menaruh kedua tangannya di atas meja dan mencondongkan tubuhnya.
"Aku akan membuktikannya padamu. Aku akan berusaha sangat keras, belajar secepat mungkin, biar aku bisa ambil alih perusahaan ini dari tanganmu," ucap Devan dengan nada serius.
Vanya akhirnya mendongak. Matanya bertemu dengan mata Devan yang penuh ambisi. "Lalu?"
"Syaratnya satu," Devan menurunkan nada suaranya menjadi lebih lembut. "Setelah perusahaan ini kembali padaku, setelah aku membuktikan aku mampu memimpin... mari kita mulai hubungan ini dari awal lagi. Sebagai suami dan istri yang sebenarnya."
Hening sejenak. Vanya hanya diam, menatap Devan tanpa ekspresi yang terbaca. Tidak ada penolakan, tapi juga tidak ada persetujuan.
"Kalau kamu benar mampu, aku tunggu buktinya," jawab Vanya santai, lalu kembali menunduk pada berkasnya.
Devan tersenyum lebar. Bagi Devan, jawaban itu adalah lampu hijau. Tanpa peringatan, Devan memutari meja kerja Vanya. Sebelum Vanya sempat bereaksi, Devan mendekatkan wajahnya.
Muach!
Sebuah ciuman manis mendarat di pipi Vanya. Devan melakukannya dengan cepat, memberikan kecupan yang hangat dan singkat.
"Aku akan berusaha, Vanya! Tunggu saja!" seru Devan kegirangan.
Vanya mematung. Penanya terhenti di atas kertas. Pipinya yang tadi putih kini merona merah karena terkejut. Ia baru saja akan membuka mulut untuk memarahi Devan, namun pria itu sudah berlari keluar ruangan dengan tawa kemenangan yang menggema di lorong.
"Anak itu..." gumam Vanya pelan. Tangannya tanpa sadar menyentuh pipinya yang baru saja dicium.
Di luar ruangan, Devan berlari menuju mejanya dengan perasaan luar biasa senang. Ia merasa beban cicilan berlian dan rasa cemburunya pada Bara sedikit terangkat. Meski jalannya masih panjang, setidaknya hari ini ia berhasil mencuri satu momen manis dari sang istri yang bertangan besi itu. Namun, dari kejauhan, Bara yang baru saja keluar dari lift menyaksikan Devan yang berlari kegirangan, dan sang dokter hanya bisa tersenyum misterius. Perang ini baru saja memasuki babak baru.