Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.
Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.
Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bubur
Rafandra berdiri di depan kompor dengan kemeja kantornya yang sudah rapi, mengaduk sesuatu di panci kecil yang kelihatan seperti seseorang yang tak sering melakukannya tapi sedang mencoba dengan sungguh-sungguh.
Zahra berdiri di ambang dapur. "Om belum berangkat?"
"Sebentar lagi." Rafandra tidak menoleh. "Kamu tidak sarapan kemarin sebelum berangkat."
"Gue kesiangan—"
"Duduk."
Zahra menutup mulutnya. Duduk di island counter. Rafandra meletakkan semangkuk bubur ayam di depannya bukan dari warung, tapi bikinan sendiri yang teksturnya sedikit terlalu kental dan toppingnya berantakan, tak secantik yang biasa Zahra makan di luar.
"Om masak ini?" tanya Zahra.
"Mbak Reni belum datang."
"Om bisa masak bubur?"
"Aku bisa kalau lihat resep." Rafandra mengambil jasnya dari sandaran kursi. "Makanlah sebelum berangkat."
Dia keluar sebelum Zahra sempat bilang apa-apa, Zahra menatap mangkuk bubur itu. Teksturnya memang agak aneh, toppingnya tak seimbang terlalu banyak bawang goreng di satu sisi, kurang di sisi lain. Suwiran ayamnya terlalu besar untuk disebut suwiran.
Tapi Zahra memakannya sampai habis dan tidak membiarkan mangkuk itu disentuh Mbak Reni sebelum dia cuci sendiri.
.
.
.
Zahra pulang lebih malam dari biasanya Bu Ira minta dia bantu presentasi data ke tim senior, yang berakhir dengan diskusi panjang yang baru selesai jam delapan.
MRT penuh. Zahra berdiri dari Sudirman sampai stasiun terdekat dari rumah, lelah tapi dengan kepala yang penuh ide yang belum sempat ia tulis.
Sampai di rumah jam delapan lewat empat puluh. Rumah sepi, Mbak Reni sudah pulang dan lampu ruang makan menyala.
Di meja makan ada makanan yang masih hangat ditutup tudung saji, rapi, dengan satu post-it kuning tertempel di sisinya. Tulisan tangan Rafandra yang rapi dan tegas:
"Makan dulu sebelum kerja lagi"
Zahra menatap post-it itu, lalu melihat sekelilingnya ruang makan yang sepi, studio yang pintunya tertutup, rumah yang sunyi. Ia mengambil post-it itu. Melipat kecil. Memasukkan ke saku celana.
Duduk dan makan sendirian di meja yang panjang itu dengan makanan yang masih hangat karena seseorang yang tak bilang apa-apa sudah menyiapkan itu.
.
.
.
Jam empat, di tengah rapat, HPnya bergetar, ia melirik bawah meja.
Rafa: Ada di mana sekarang?
Zahra mengetik cepat dengan satu tangan: Zahra: Rapat. Sampai jam 6an.
Balasan datang dalam dua menit:
Rafa: Oke. Hati-hati di jalan pulang.
Bukan "supir bisa jemput" atau "pakai mobil saja". Hanya "hati-hati di jalan kalau pulang" yang artinya Rafandra sudah belajar. Sudah tahu bahwa Zahra tidak mau dijemput atau diantar, bahwa kemandirian itu bukan tentang Rafandra tapi tentang Zahra, dan dia menghormati itu.
Zahra memasukkan HPnya kembali ke bawah meja dengan sudut bibir yang bergerak sedikit. Bu Ira yang duduk di kepala meja menatapnya dengan alis yang terangkat tipis.
"Zahra?"
"Maaf, Bu." Zahra meluruskan duduknya. "Lanjut."
.
.
.
Zahra duduk di ruang baca dengan laptopnya mengerjakan proposal penelitian pertamanya yang mau dia submit ke Bu Ira Senin depan. Sudah jam sembilan. Tangannya sudah mulai kaku di keyboard.
Langkah kaki terdengar di luar.
Pintu ruang baca terbuka. Rafandra masuk bukan dengan kopi kali ini, tapi dengan dua lembar dokumen yang dia letakkan di meja Zahra di sebelah laptopnya.
"Apa ini?" tanya Zahra.
"Data terbaru dari divisi riset kantor." Rafandra menatap layar laptop Zahra sebentar cukup untuk membaca judul proposal yang sedang dia kerjakan. "Mungkin relevan."
Zahra menarik dokumen itu. Membaca sekilas. Sangat relevan "Om Rafa baca judul proposal gue."
"Om," kata Zahra.
"Hm."
"Ini bukan pertama kalinya Om kasih gue data tanpa diminta."
"Keberatan? Kamu tidak pernah keberatan sebelumnya."
"Gue nggak keberatan." Zahra menatapnya. "Gue cuma penasaran... Om memperhatikan pekerjaan gue sampai segininya?"
Rafandra duduk di kursi baca di sudut kursi yang sudah berkali-kali jadi tempatnya duduk di ruangan ini. Menatap Zahra dengan ekspresi yang di bawah lampu meja yang hangat ini tidak seluruhnya tersembunyi.
"Aku tertarik dengan cara kamu berpikir," katanya akhirnya. Pelan. "Sudah dari sebelum proposal ini."
"Dari kapan?"
"Dari malam kamu debat soal interpretasi data di studio." Rafandra menatap tangannya sebentar. "Kamu menemukan sudut yang orang-orang di tim risikonya sering terlewat."
Zahra diam.
Dari malam itu? Berapa bulan lalu itu waktu mereka pertama kali duduk berdua di studio dan Zahra bertanya soal analisis Pak Irwan dan Rafandra yang menjelaskan, lalu Zahra yang memotong dan bilang "tapi ini bisa dibaca dua arah, Om," dan Rafandra yang diam sebentar sebelum bilang "jelaskan."
Rafandra sudah memperhatikan dari malam itu.
"Om harusnya bilang ke gue," kata Zahra.
"Aku baru yakin waktu kamu submit proposal ke lembaga itu tanpa nama siapapun di belakangmu." Rafandra mendongak. "Itu yang akhirnya membuat aku yakin bahwa caramu berpikir bukan sebuah kebetulan."
Zahra menatapnya lama, ada banyak hal yang ingin dia katakan tapi seperti biasa dengan Rafandra, kata-kata yang paling jujur sering kali yang paling susah keluar.
"Makasih, Om." katanya akhirnya. Tapi dengan bobot yang Rafandra yang sudah cukup belajar bahasa Zahra juga tahu artinya lebih dari sekadar terima kasih.
Rafandra mengangguk. Berdiri.
"Jangan terlalu larut. Tidur," katanya di pintu.
"Om juga."
Menoleh sedikit. "Aku tidak sedang mengerjakan apapun malam ini."
Zahra mengernyit. "Berarti Om ngapain tadi?"
"Menunggu kamu selesai," kata Rafandra. Lalu melangkah keluar sebelum Zahra sempat merespons.
Pintu menutup pelan, Zahra menatap pintu itu, lalu menatap dua lembar dokumen di mejanya, lalu menatap pintu itu lagi.
"Menunggu kamu selesai."
Bukan menunggu di depan TV atau di studionya dengan pekerjaan sendiri. Tapi betul-betul menunggu dengan sengaja, dengan sadar, cara yang ia pilih untuk tidak di jelaskan lebih dari tiga kata.
Zahra menarik napas panjang. Kembali ke laptopnya. Tapi proposalnya tidak jadi dilanjutkan malam itu karena pikirannya ada di tiga kata yang masih menggantung di udara ruang baca itu seperti asap yang tidak mau pergi.
.
.
.
Rafandra menatap balik Zahra dengan ekspresi yang sudah Zahra pelajari artinya. Ekspresi yang artinya ada jawaban tapi dia sedang menimbang apakah akan dikeluarkan atau tidak.
"Karena kamu ada di rumah," katanya akhirnya.
Satu kalimat. Langsung. Tanpa basa-basi.bZahra membeku di depan kulkas yang sudah dia tutup.
Rafandra kembali ke kopinya seolah tidak baru saja mengatakan sesuatu yang membuat Zahra tiba-tiba tidak tahu harus naruh tangannya di mana.
"Oh," kata Zahra. Satu suku kata yang jelas bukan respons terbaiknya.
"Ada telur di kulkas," kata Rafandra. "Kalau mau sarapan."
Zahra membuka kulkas lagi, mengambil telur. Berdiri di dapur itu dengan dua telur di tangan dan kepala yang sedang memproses satu kalimat yang baru saja mengubah cara Sabtu pagi ini terasa beda.
"Karena kamu ada di rumah." Kalimat Rafandra terus terngiang-ngiang di kepalanya.
.
.
.
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼