"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Di sudut taman fakultas ekonomi, seorang pemuda duduk santai di bangku kayu dengan satu kaki terangkat ke kaki sebelah nya, ponsel di tangan, senyum setengah miring di bibirnya. Riki Cahyo Permana—pria keturunan Jepang-Indonesia yang dijuluki "Buaya Fakultas Hukum"—terlihat asyik membalas pesan-pesan yang masuk. Entah dari siapa saja, yang jelas list chat-nya lebih panjang dari daftar tugas mahasiswa semester akhir.
Dengan tinggi 180 cm, tubuh atletis, kulit putih bersih, dan mata sipit yang melengkung manis saat tersenyum, Riki adalah tipikal cowok yang bisa bikin hati para mahasiswi jungkir balik hanya dengan satu anggukan kepala.
Hari ini, misinya sederhana mendekati kating cantik dari jurusan manajemen.
Tak butuh waktu lama, sosok yang ia tunggu akhirnya muncul. Seorang gadis dengan rambut hitam panjang yang tergerai lembut, wajahnya manis dengan senyum yang nyaris membuat para junior bertekuk lutut.
"Hai, Ki!" sapanya ceria.
Riki langsung memasang senyum mautnya. "Hai, kak. Duduk, dong." Ia menepuk bangku di sebelahnya, penuh percaya diri.
Rina duduk dengan anggun, lalu menatapnya penuh tanya. "Jadi, ada urusan apa nih nyariin gue?"
Riki mengeluarkan sebuah pena dari saku bajunya dan menyerahkannya pada Rina dengan gaya sok cool. "Ini, kak. Gue mau balikin pena yang kemarin."
Rina menatap pena di tangannya, lalu mendongak dengan ekspresi bingung. "Oh… harusnya gak usah dikembaliin juga gak apa-apa, Ki."
Riki menyandarkan punggungnya ke bangku, memasang ekspresi serius. "Gimana sih, kak? Gue itu cowok bertanggung jawab. Minjam barang orang, harus dikembaliin dengan penuh kehormatan."
Rina terkekeh, matanya berbinar geli. "Dasar drama."
Yang Rina gak tahu, sebenarnya pena itu cuma alasan. Alasan klasik ala Riki Cahyo Permana untuk mulai pendekatan.
Di bawah rindangnya pohon trembesi di taman fakultas ekonomi, Riki dan Rina masih asyik mengobrol. Pembahasan mereka ringan, seputar tugas kuliah, dosen killer, hingga topik yang sebenarnya sudah bisa diduga—pertanyaan khas Riki setiap kali mendekati gebetan baru.
"Kakak cantik banget, ga mungkin dong gak punya pacar? Iya, kan?" ucap Riki dengan nada santai, matanya berbinar penuh trik.
Rina terkekeh kecil, menyilangkan tangannya di depan dada. "Ya mungkin aja. Kenapa gak mungkin, coba?" balasnya sambil tersenyum, ekspresi santai tapi jelas menikmati permainan ini.
Riki menatapnya penuh keyakinan. "Soalnya… cowok mana yang ga mau sama kakak dan mau nyia-nyiain kakak? Kalau ada, kasih tahu gue. Gue bakal kasih tahu dia soal keindahan ciptaan Tuhan yang gak boleh disia-siakan ini."
Rina menahan tawa, matanya melirik ke arah lain, tapi rona merah samar muncul di pipinya. "Dasar buaya."
Obrolan mereka terus mengalir, dan Riki semakin percaya diri. Skornya sejauh ini? Rina tersenyum, tertawa, dan gak menolak untuk lanjut ngobrol. Itu sudah tanda-tanda kemenangan.
Tapi di saat suasana mulai nyaman, tiba-tiba suara melengking memecah keheningan taman.
"RIKIIII!!"
Refleks, Riki dan Rina menoleh ke sumber suara.
Di sana, berdiri seorang gadis cantik dengan wajah penuh amarah. Rambut panjangnya sedikit berkibar tertiup angin, sementara kedua tangannya bertolak pinggang.
"MAMPUS GUE."
Detik itu juga, semua keberanian Riki ambruk. Jantungnya mendadak berdebar bukan karena jatuh cinta, tapi karena takut mati.
Gadis itu berjalan mendekat dengan langkah penuh keyakinan, tatapan matanya tajam seperti ingin menembus pertahanan Riki yang mulai rapuh.
"Kamu dari mana aja sih, sayang? Aku cariin tahu dari tadi! Kamu ngapain di sini? Terus ini siapa?" ucapnya bertubi-tubi, tatapan penuh selidik tertuju pada Rina.
Riki hanya bisa menelan ludah, sementara Rina menatapnya dengan ekspresi yang mulai paham situasi.
Gadis itu adalah Tasya, mahasiswi fakultas ekonomi jurusan akuntansi.
Dan ia adalah pacar baru Riki.Yang baru resmi kemarin sore. Seluruh rencana Riki hancur dalam hitungan detik karena ia lupa bahwa ini adalah fakultas Tasya.
Riki merasa seluruh dunia mendadak mengecil. Di depannya, Tasya berdiri dengan tangan bertolak pinggang, mata menatap tajam penuh kemarahan, sementara Rina menyilangkan tangan, ekspresinya berubah dingin.
"Sayang, dengerin aku dulu! Ini nggak seperti yang kamu lihat!" Riki buru-buru mencoba meredam situasi.
Tasya mendengus, matanya berkilat-kilat. "Oh? Nggak seperti yang aku lihat? Jadi maksud kamu, aku halu? Gue mimpi lagi tidur terus kebangun di taman fakultas ini buat nangkep lo, gitu?"
Riki membuka mulut, tapi Tasya tak memberi kesempatan.
"KAMU BILANG KEMARIN UDAH BERUBAH, RIKI! KAMU BILANG KAMU UDAH MAU SETIA! BELUM SEHARI, SEHARI, RIKI! TERUS SEKARANG APA? UJUG-UJUG ADA CEWEK LAIN?"
Rina, yang dari tadi diam, akhirnya ikut bersuara. "Jadi… lo udah punya pacar?" tanyanya dengan nada datar, tapi jelas ada kekecewaan tersirat di sana.
"Nggak gitu, Kak! Aku tuh… yaaa… gimana ya…" Riki mulai kehilangan kata-kata. Otaknya bekerja keras mencari alasan, tapi sekeras apa pun dia berpikir, dia tahu nggak ada jalan keluar dari situasi ini, padahal sebenarnya ia sudah sering di posisi seperti ini, namun tetap saja kebingungan.
Tasya menyilangkan tangan di depan dada, ekspresinya semakin tajam. "Oh, sekarang lo kehilangan kata-kata? Biasanya lancar banget tuh ngomong gombal! Ayo dong, kasih aku satu quotes buatan lo, Ki! Gimana tadi? 'Cowok mana yang mau nyia-nyiain kak Rina?' Eh, ternyata cowoknya udah punya pacar!"
Sekelompok mahasiswa yang duduk di bangku taman mulai melirik ke arah mereka. Beberapa bahkan sudah mengeluarkan ponsel, mungkin untuk merekam kejadian langka Buaya Fakultas Hukum Kena Batunya.
Riki makin panik. "Sayang, sumpah deh ini bukan yang kamu pikir—"
PLAKK!
Tamparan itu datang begitu cepat, begitu pedas. Kepala Riki sampai sedikit menoleh ke samping. Suara tamparan itu bergema di antara suasana taman yang mendadak hening.
"Selingkuh itu pilihan, Ki. Dan lo milih buat jadi bajingan." Tasya berbisik dingin, sebelum berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi.
Rina menatap Riki dengan ekspresi yang sulit ditebak, lalu menghela napas dan ikut pergi tanpa sepatah kata.
Riki mengusap pipinya yang masih panas, menatap ke arah dua gadis itu.
"BUSET APES BANGET GUE HARI INI."
Tanpa berkata apa-apa lagi, dia melangkah pergi menuju kantin fakultas hukum, berharap dua sahabatnya ada di sana untuk setidaknya menertawakannya sampai dia lupa rasa sakit tamparan tadi.