NovelToon NovelToon
Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Melompati Maut di Sidoarjo

​. Ngeeeenggg! Jedaaakk!

​. Ban depan motor Genta menghantam tumpukan kayu yang melintang di tengah jalan. Bukannya berhenti, Genta malah menarik stang motornya ke atas dengan sekuat tenaga. Motor butut itu melayang di udara, melewati barikade kayu dengan posisi yang sangat tidak beraturan.

​. "GENTAAAAA! AKU BELUM MAU MATI!" teriak Clarissa histeris sambil memeluk pinggang Genta sangat erat sampai Genta hampir sesak napas.

​. Brak! Motor itu mendarat dengan keras di sisi lain perbatasan. Genta berhasil menyeimbangkan motornya meski hampir saja mereka terperosok ke dalam parit. Di belakang mereka, mobil hitam yang mengejar terpaksa mengerem mendadak karena tidak berani melakukan aksi gila yang sama.

​. "Hahaha! Lihat itu, Mbak Bos! Motor butut ini biar rongsok tapi punya jiwa ninja!" seru Genta sambil tertawa bangga, padahal kakinya sendiri sebenarnya gemetar hebat.

​. Clarissa perlahan membuka matanya. Napasnya tersengal-sengal. "Kamu gila, Genta! Benar-benar gila! Kalau tadi kita jatuh, kita sudah jadi perkedel!"

​. "Tenang, Mbak Bos. Selama sarung sakti ini masih melilit di pinggang, malaikat maut pun segan mau mendekat," canda Genta untuk menenangkan suasana, meski dia tahu musuh tidak akan berhenti begitu saja.

​. Benar saja, dari balik kabut tebal perbatasan Sidoarjo, muncul beberapa orang yang sudah berdiri menunggu di tengah jalan. Mereka tidak memakai mobil, melainkan berdiri diam dengan jubah hitam yang berkibar tertiup angin malam.

​. Genta langsung mengerem motornya. Suasana mendadak menjadi sangat dingin, jauh lebih dingin dari malam biasanya. "Waduh, Mbak Bos. Sepertinya yang tadi itu cuma makanan pembuka. Yang di depan ini... sepertinya bos besarnya."

​.

Salah satu orang berjubah itu melangkah maju. Tangannya memegang sebuah tongkat kayu dengan ukiran kuno. "Genta Arjuna... serahkan nona muda itu, atau nyawamu akan tertinggal di tanah Sidoarjo ini."

​. Genta turun dari motor, dia melepaskan jaketnya dan kembali membenahi sarungnya. Wajahnya yang biasa penuh canda kini berubah menjadi sangat dingin. "Maaf ya, Mbah. Saya sudah janji sama almarhum bapak saya, pantang bagi laki-laki menyerahkan wanita ke tangan orang jahat. Apalagi Mbak Bos ini belum bayar gaji saya bulan depan!"

​. "Kurang ajar! Habisi dia!" perintah orang berjubah itu dengan suara berat yang menggetarkan udara.

​. Orang berjubah hitam itu mengayunkan tongkat kayunya ke arah tanah. Tiba-tiba saja, kabut di sekitar perbatasan Sidoarjo itu bergerak seolah-olah hidup, mengepung Genta dan Clarissa hingga pandangan mereka tertutup total.

​. "Genta! Aku tidak bisa melihat apa-apa! Di mana kamu?!" teriak Clarissa panik. Tangannya meraba-raba udara, mencari pundak bodyguard-nya itu.

​. "Tenang, Mbak Bos! Tetap di samping motor, jangan bergerak satu senti pun!" balas Genta dengan nada yang sangat serius. Dia memejamkan mata, mencoba merasakan getaran di atas aspal yang mulai terasa dingin menusuk tulang.

​. Wush! Sebuah serangan angin mendadak melesat dari arah kanan. Genta dengan cekatan berguling ke tanah, menghindari hantaman tongkat kayu yang hampir saja meremukkan bahunya.

​. "Hahaha! Ternyata benar, kamu bukan bodyguard sembarangan, Genta Arjuna. Tapi bisakah sarung kotakkotakmu itu menahan ilmu hitamku?" ejek si orang berjubah dari balik kabut.

​. Genta berdiri, dia melepas sarungnya lagi, tapi kali ini dia tidak memutarnya seperti baling-baling. Dia melilitkan sarung itu di telapak tangan kanannya hingga membentuk kepalan yang besar dan keras.

​. "Ilmu hitam atau ilmu putih, kalau ketemu sarung yang belum dicuci tiga hari, pasti luntur semua warnanya, Mbah!" teriak Genta sambil menerjang maju ke arah suara.

​. Bugh! Duak!

​. Terjadi benturan keras antara kepalan tangan bersarung Genta dengan tongkat kayu musuh. Percikan api kecil terlihat di tengah kegelapan kabut. Clarissa yang hanya bisa mendengar suara hantaman itu merasa jantungnya mau copot.

​. Genta terlempar mundur beberapa langkah, napasnya mulai berat. Ternyata musuh kali ini bukan hanya sekadar preman pasar, tapi seseorang yang punya tenaga dalam yang kuat. "Waduh, tanganku rasanya seperti menghantam tembok beton. Mbak Bos, sepertinya kita butuh bantuan langit ini!"

​. Orang berjubah itu tertawa jahat, dia mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Cahaya kemerahan mulai muncul dari ujung tongkat tersebut, siap untuk dilepaskan ke arah Genta yang sudah mulai kelelahan.

​. "Matilah kamu, pengawal sombong!"

​. Cahaya merah di ujung tongkat orang berjubah itu semakin terang, seolah siap meledak dan menghanguskan apa saja di depannya. Genta yang sudah kelelahan hanya bisa memasang kuda-kuda rendah, melilitkan sarung saktinya lebih kencang di tangan.

​. "Mati kau, Genta Arjuna!" teriak orang berjubah itu sambil menghentakkan tongkatnya ke tanah. Gelombang energi merah melesat cepat ke arah Genta yang sedang melindungi Clarissa di belakangnya.

​. Duaaarrr!

​. Debu dan kabut beterbangan menutupi pandangan. Clarissa berteriak histeris, mengira Genta sudah tamat. Namun, saat debu mulai menipis, terlihat Genta masih berdiri tegak. Sarung kotak-kotaknya mengeluarkan aura putih tipis yang menahan serangan merah tadi.

​. "Waduh, Mbah... sarung saya ini warisan dari kakek yang sering dipakai itikaf di masjid. Jangan main-main sama doa yang sudah nempel di kain ini!" Genta terengah-engah, tapi matanya memancarkan keberanian yang luar biasa.

​. Tiba-tiba dari arah belakang musuh, suara sirine polisi meraung-raung memecah keheningan malam perbatasan Sidoarjo. Lampu biru dan merah berkedip dari kejauhan, membuat orang-orang berjubah itu panik.

​. "Sial! Polisi Sidoarjo cepat sekali datangnya! Mundur! Kita selesaikan ini lain kali!" perintah si pemimpin jubah hitam sambil melemparkan bom asap ke tanah.

​. Pufff! Dalam sekejap, orang-orang misterius itu menghilang di balik kepekatan asap dan kabut, meninggalkan Genta yang langsung ambruk terduduk di aspal karena saking lemasnya.

​. Clarissa langsung berlari memeluk Genta dari belakang. "Genta! Kamu bodoh! Kamu hampir mati tadi!" tangis Clarissa pecah.

​. Genta hanya bisa nyengir pucat. "Mbak Bos... kalau saya mati, siapa yang mau dorong motor butut ini? Lagian, bakso urat tadi belum saya bayar, takut ditagih di akhirat nanti."

​. Meski mereka selamat malam ini, Genta tahu bahwa ini hanyalah awal dari perang besar. Siapa sebenarnya yang menggerakkan orang-orang berilmu hitam itu? Dan kenapa Clarissa begitu diincar?

​. Suara sirine polisi terdengar semakin mendekat, lampu-lampu biru mulai menyapu aspal yang basah oleh embun. Genta mencoba berdiri, namun kakinya terasa seperti jeli. Luka di bahunya akibat hantaman tenaga dalam tadi mulai mengeluarkan darah segar yang merembes ke kain sarungnya.

​. "Genta! Bahumu... kamu terluka parah!" Clarissa menjerit tertahan saat melihat noda merah yang semakin melebar di pundak bodyguard-nya itu. Wajah Clarissa yang biasanya angkuh kini penuh dengan guratan kecemasan yang tulus.

​. Genta meringis, mencoba menahan rasa nyeri yang menusuk sampai ke tulang. "Cuma lecet sedikit, Mbak Bos. Maklum, sarung saya ini belum punya sertifikat anti-peluru atau anti-santet. Tapi tenang saja, jantung saya masih aman buat jaga Mbak Bos."

​. "Berhenti bercanda, Genta! Kita harus ke rumah sakit!" Clarissa mencoba memapah Genta menuju motor butut mereka yang tergeletak di pinggir jalan.

​. "Jangan ke rumah sakit besar, Mbak Bos. Orang-orang jubah hitam tadi pasti punya mata-mata di sana. Kalau mereka tahu kita di sana, kita malah terjepit," bisik Genta dengan napas yang mulai pendek. "Kita harus ke tempat teman lama saya di pinggiran Sidoarjo. Dia punya 'obat' yang lebih ampuh dari dokter manapun."

​. Clarissa bimbang, namun melihat tatapan mata Genta yang penuh keyakinan, dia akhirnya mengangguk. Dia yang kini memegang kendali motor, sementara Genta duduk lemas di boncengan sambil menyandarkan kepalanya di bahu Clarissa.

​. Motor butut itu perlahan bergerak menjauhi perbatasan, masuk ke jalan-jalan tikus yang gelap guna menghindari kejaran polisi maupun sisa-sisa anak buah orang berjubah tadi. Di tengah perjalanan, Clarissa bisa merasakan napas Genta yang semakin dingin di lehernya.

​. "Genta... jangan tidur. Terus bicara padaku," pinta Clarissa dengan suara bergetar. Dia takut jika pria konyol di belakangnya ini benar-benar tidak bangun lagi.

​. "Iya, Mbak Bos... saya masih bangun. Saya cuma lagi mikir... nanti kalau selamat, saya boleh minta bonus bakso urat seporsi lagi, kan?" suara Genta terdengar sangat lirih, nyaris hilang tertiup angin malam Sidoarjo.

​. Pelarian mereka malam ini belum berakhir. Di sebuah rumah tua di sudut gang sempit, seseorang telah menunggu kedatangan mereka dengan raut wajah yang penuh rahasia. Siapakah teman lama Genta ini?

​. . Terima kasih Gusti Allah, Bab 28 bagian 4 telah selesai hamba tuliskan. Semoga setiap kata di dalamnya membawa manfaat dan kebahagiaan bagi para pembaca. Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya, dijauhkan dari segala kesulitan, dan dipertemukan kembali di bab selanjutnya dalam keadaan sehat walafiat. Amin.

​. Iki lur, pungkasan Bab 28 sing nggarai mripat teles! Genta sekarat tapi tetep mikir bakso. Ojo lali Like, Komen, mbek Share terus yo rek, mugo-mugo Genta ndang ketulung nang Bab 29!

​. BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!