Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Bayangan di Ambang Pintu
Matahari pagi menyinari Sekte Langit Pedang dengan cahaya keemasan yang seharusnya membawa kedamaian. Tapi pagi ini, tidak ada kedamaian di sana. Desas-desus menyebar seperti api di musim kemarau—dari mulut ke mulut, dari paviliun ke paviliun, dari dapur pelayan hingga aula utama.
"Xiao Chen masih hidup."
"Dia mengalahkan dua murid inti sendirian."
"Dia memakai jubah hitam dan membawa pedang patah. Katanya dia pewaris Ras Dewa Patah."
"Dia akan kembali ke sekte. Tidak ada yang tahu kapan."
Di Aula Pusat, suasana berbeda. Tidak ada bisik-bisik. Hanya keheningan yang berat seperti batu nisan.
Lima orang duduk di sana.
Di kursi tertinggi, Tetua Agung Shen Wuji—pemimpin tertinggi Sekte Langit Pedang, seorang kultivator Alam Inti Emas tingkat akhir. Usianya sudah melewati dua abad, tapi wajahnya masih tampak seperti lelaki empat puluhan. Jubah putihnya bersih tanpa cela, pedangnya—Langit Pedang Sejati—tersandar di samping kursinya, memancarkan aura biru yang dingin.
Di sampingnya, duduk Tetua Kedua Bai Minghe, kultivator Inti Emas tingkat menengah. Perawakannya kurus, matanya sipit seperti selalu mencurigai sesuatu. Jarinya yang panjang dan kurus mengetuk-ngetuk lengan kursi—satu-satunya suara di ruangan itu selain napas.
Tetua Ketiga Han Yue, satu-satunya wanita di antara tetua tinggi. Usianya sekitar satu abad, tapi wajahnya masih cantik dengan rambut hitam berhias untaian perak. Ia memegang kipas lipat di tangannya, tapi kipas itu tidak bergerak—pertanda pikirannya sedang tidak santai.
Lalu Tetua Keempat, yang tidak lain adalah Tetua Ma. Ia duduk dengan punggung membungkuk, menatap lantai. Tidak ada sisa keangkuhan di wajahnya. Hanya seorang lelaki tua yang baru saja melihat kematian dari dekat.
Dan terakhir, berdiri di samping pintu karena belum berhak duduk di hadapan Tetua Agung, adalah Wei Tianxing. Murid inti kebanggaan sekte, tunangan Zhao Ling'er, pemuda berjubah emas yang biasanya penuh percaya diri. Tapi pagi ini, ada kerutan di dahinya.
"Tetua Ma," suara Tetua Agung Shen Wuji memecah keheningan. Dalam dan bergema seperti lonceng kuil. "Ceritakan lagi. Semuanya. Jangan ada yang kau sembunyikan."
Tetua Ma meneguk ludah. "Tetua Agung, saya... saya sudah menceritakan semuanya. Saya membawa dua murid inti dan delapan murid luar ke Hutan Bisu. Kami menemukannya di sana. Dia... dia bukan lagi Xiao Chen yang dulu."
"Bukan lagi bagaimana?"
"Dia tidak menggunakan Qi. Tidak ada fluktuasi energi spiritual sama sekali. Tapi kekuatannya..." Tetua Ma mengepalkan tangannya di atas lutut. "Dia mengalahkan Zhou Yuan dan Fang Rui dalam hitungan detik. Saya melihatnya dengan mata kepala sendiri. Pedang patahnya hanya mengetuk pelipis Fang Rui, dan Fang Rui langsung pingsan. Lalu dia memukul dagu Zhou Yuan dengan gagang pedangnya, dan Zhou Yuan terangkat dari tanah."
Tetua Kedua Bai Minghe mendengus. "Omong kosong. Zhou Yuan dan Fang Rui adalah Fondasi Pendirian. Kau bilang bocah pelayan itu bahkan tidak punya kultivasi. Bagaimana mungkin dia mengalahkan mereka?"
"Saya tidak tahu bagaimana, Tetua Kedua. Tapi saya melihatnya. Delapan murid luar juga melihatnya. Mereka semua bisa bersaksi."
"Aku sudah memeriksa mereka," potong Tetua Ketiga Han Yue, suaranya tenang tapi tajam. "Luo Feng, Su Yan, Pang Wei, dan lima lainnya. Mereka semua menceritakan hal yang sama persis. Tidak ada tanda-tanda mereka berbohong atau berkonspirasi. Dan Zhou Yuan serta Fang Rui... mereka masih di Paviliun Penyembuhan. Zhou Yuan mengalami retak rahang. Fang Rui masih pusing dan muntah-muntah—gejala gegar otak akibat pukulan keras."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Wei Tianxing, yang sejak tadi hanya mendengarkan, akhirnya membuka mulut. "Tetua Agung, izinkan saya bicara."
Shen Wuji mengangguk.
"Saya tidak peduli apakah Xiao Chen masih hidup atau tidak. Saya tidak peduli kekuatan apa yang dia dapatkan. Tapi jika dia berani kembali ke sekte ini, saya akan menghadapinya sendiri." Suara Wei Tianxing penuh keyakinan. "Saya sudah mencapai Fondasi Pendirian tingkat menengah. Dalam dua minggu, saya mungkin bisa menembus tingkat atas. Pelayan sampah itu tidak akan berkutik di hadapan saya."
Tetua Agung Shen Wuji menatap Wei Tianxing lama. Lalu ia menggeleng pelan.
"Kau tidak mengerti, Tianxing. Tetua Ma bilang Xiao Chen mengaku sebagai pewaris Ras Dewa Patah."
"Aku mendengarnya, Tetua Agung. Tapi apa itu Ras Dewa Patah? Hanya dongeng kuno."
"Ini bukan dongeng." Suara Shen Wuji tiba-tiba menjadi berat. "Ras Dewa Patah adalah peradaban yang dimusnahkan oleh Surga seratus ribu tahun lalu. Mereka tidak menggunakan Dantian. Mereka menggunakan tulang mereka sendiri sebagai wadah energi. Semakin banyak mereka terluka, semakin kuat mereka menjadi. Catatan kuno menyebut mereka sebagai satu-satunya ras yang pernah membuat para Penguasa Surga ketakutan."
Wajah Wei Tianxing berubah. "Tapi... itu kan hanya legenda..."
"Legenda tidak membuat dua murid Fondasi Pendirian pingsan dalam hitungan detik," potong Tetua Ketiga Han Yue. "Legenda tidak membuat Tetua Ma kembali dengan wajah sepucat mayat. Apakah kau pikir kami semua bodoh, Tianxing?"
Wei Tianxing menutup mulutnya.
Tetua Agung Shen Wuji bangkit dari kursinya. Semua orang di ruangan itu menegang. Ia berjalan ke jendela, menatap ke arah Hutan Bisu di kejauhan.
"Kalau dia benar-benar pewaris Ras Dewa Patah," katanya pelan, "maka ini bukan lagi masalah pribadi antara dia dan orang-orang yang menganiayanya. Ini adalah masalah yang bisa menarik perhatian Surga. Dan jika Surga tahu ada Ras Dewa Patah yang bangkit kembali... mereka akan mengirim Bencana Surgawi. Bukan hanya untuk membunuh Xiao Chen. Tapi untuk membersihkan seluruh Benua Timur Liar."
Ruangan itu membeku.
"Sampai sejauh itu?" bisik Tetua Ma.
"Kau tidak membaca catatan kuno, Tetua Ma. Aku membacanya. Saat Ras Dewa Patah dimusnahkan, Bencana Surgawi tidak hanya menghancurkan mereka. Bencana itu juga menghancurkan seluruh daratan tempat mereka tinggal. Yang sekarang menjadi Laut Mati di sebelah barat—kau tahu tempat itu? Itu dulunya adalah pusat peradaban Ras Dewa Patah. Sekarang hanya lautan tanpa kehidupan, tanpa ikan, tanpa pulau. Hanya air hitam dan langit kelabu."
Shen Wuji berbalik, menatap semua orang di ruangan itu.
"Kita tidak bisa membiarkan Xiao Chen hidup. Bukan karena dendam. Tapi karena keberadaannya adalah ancaman bagi seluruh Benua Timur Liar."
Wei Tianxing mengepalkan tangannya. "Kalau begitu, izinkan saya memimpin tim untuk memburunya, Tetua Agung. Saya akan memastikan dia mati sebelum mencapai sekte."
"Tidak." Shen Wuji menggeleng. "Kau tidak akan pergi. Tidak ada yang akan pergi."
"Tapi—"
"Kita tunggu dia datang."
Semua orang terkejut. Bahkan Tetua Kedua Bai Minghe mengangkat alisnya.
"Tetua Agung, bukankah lebih baik kita menyerang lebih dulu?" tanyanya.
"Jika dia benar-benar pewaris Ras Dewa Patah, maka memburunya di Hutan Bisu adalah bunuh diri. Hutan itu adalah wilayahnya sekarang. Dia mengenal setiap pohon, setiap bayangan. Kau ingat apa yang terjadi pada pasukan Tetua Ma?" Shen Wuji menatap Bai Minghe. "Dia memecah belah mereka. Dia menggunakan medan. Dia bertarung seperti pemburu, bukan prajurit. Di Hutan Bisu, dia adalah predator puncak."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Kita sambut dia di sini. Di Aula Utama. Di depan semua murid." Mata Shen Wuji menyipit. "Kalau dia ingin menunjukkan sesuatu pada kita, biarkan dia datang. Biarkan semua orang melihat. Dan saat dia datang... aku sendiri yang akan menghadapinya."
Ruangan itu hening.
Di sudut, Wei Tianxing menggertakkan giginya. Ia tidak suka rencana ini. Ia ingin membuktikan dirinya. Ia ingin menunjukkan pada Zhao Ling'er bahwa dialah yang terkuat, bukan mantan tunangannya yang sampah itu.
Tapi ia tidak berani membantah Tetua Agung.
Sementara itu, di kediamannya, Zhao Ling'er berdiri di depan cermin. Ia menatap bayangannya sendiri—wajah cantik yang sama, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya. Sesuatu yang retak.
"Kalau dia kembali... apa yang harus kukatakan padanya?"
Ia tidak tahu jawabannya.
---
Di Hutan Bisu, Xiao Chen melangkah keluar dari gua. Jubah hitamnya berkibar ditiup angin pagi. Yue Que di tangan kanannya. Hui di samping kirinya.
Di hadapannya, jalan setapak yang akan membawanya keluar dari hutan ini—menuju Sekte Langit Pedang.
"Kau siap?" tanya Yue Que.
Xiao Chen menarik napas dalam. Tulang punggungnya yang retak beresonansi, mengirimkan getaran ke seluruh tubuhnya.
"Aku tidak tahu apakah aku siap. Tapi aku tahu aku tidak akan mundur."
Ia melangkah maju.
Hari ini, ia akan meninggalkan Hutan Bisu. Perjalanan menuju sekte akan memakan waktu beberapa hari dengan berjalan kaki. Tapi ia tidak terburu-buru. Setiap langkah adalah latihan. Setiap tarikan napas adalah persiapan.
Karena saat ia tiba di sana, dunia akan tahu bahwa Ras Dewa Patah telah kembali.
Dan Surga... Surga akan mendengar namanya.