Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.
Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meletakkan Beban, Menjemput Fajar
Pagi itu udara kota kecil ini rasanya lebih dingin dari biasanya, seolah-olah kabut dari pegunungan sengaja turun buat nemenin Sheilla yang lagi sibuk nyiapin diri. Dia berdiri di depan cermin, merapikan setelan gamis warna biru dongker yang kalem. Di tangannya, ada seikat bunga krisan putih dan mawar pink perpaduan antara ketulusan dan awal yang baru.
"Oke, Sheil. You can do this," bisiknya ke pantulan dirinya sendiri.
Dia bukan lagi perempuan yang tujuh tahun lalu dandan gemetaran cuma buat cari perhatian Ardhito. Sekarang, dia dandan buat dirinya sendiri, buat menghargai momen yang udah dia tunggu-tunggu: momen di mana dia bener-bener berdamai sama masa lalu.
Suara klakson mobil yang sopan dua kali bunyi pendek kedengeran dari depan pagar. Itu Adrian. Sheilla narik napas panjang, nyambar tas kecilnya, dan melangkah keluar.
--
Adrian udah nunggu di samping mobilnya, pakai kemeja batik yang kelihatan rapi tapi tetap santai. Pas lihat Sheilla keluar, dia sempat diem bentar, matanya nggak bisa bohong kalau dia kagum banget.
"Cantik banget hari ini, Sheil," kata Adrian jujur, nggak pakai gombalan receh.
Sheilla senyum malu-milih. "Makasih, Yan. Udah siap?"
"Siap. Kita ke tempat Ayah kamu sekarang?"
Di perjalanan, suasananya nggak kaku. Mereka ngobrolin hal-hal ringan, mulai dari murid-murid Adrian yang makin bandel tapi pinter, sampai rencana Sheilla buat nambah jenis bunga succulent di tokonya. Tapi di balik obrolan itu, ada rasa pengertian yang dalam. Adrian nggak maksa Sheilla buat cerita soal beban mentalnya hari ini; dia cuma ada di sana, nyetir dengan tenang, sesekali muterin lagu instrumen yang bikin rileks.
Pas sampai di pemakaman umum yang asri, Sheilla ngerasa hatinya agak bergetar. Dia jarang ke sini semenjak kejadian buruk di Jakarta itu, karena sejujurnya, dia dulu ngerasa malu sama almarhum ayahnya. Dia ngerasa gagal jaga diri, gagal jadi anak yang membanggakan karena terjebak dalam pernikahan beracun.
--
Mereka sampai di depan nisan bertuliskan nama ayahnya. Sheilla jongkok, jemarinya ngelus nisan yang dingin itu. Adrian berdiri agak menjauh, kasih ruang buat Sheilla "ngobrol" privasi.
"Yah... Sheilla datang," suaranya serak.
"Maafin Sheilla baru berani datang sekarang. Kemarin-kemarin Sheilla masih hancur banget, Yah. Sheilla malu karena ngerasa udah merusak nama baik yang Ayah jaga. Tapi sekarang, Sheilla udah beda."
Dia mulai menaburkan bunga. "Sheilla udah bebas, Yah. Pernikahan itu udah selesai. Dan yang paling penting, Sheilla udah nggak benci sama diri sendiri lagi. Sheilla punya toko bunga, punya temen-temen baru, dan..." dia noleh ke arah Adrian yang lagi nunggu dengan sabar di bawah pohon kamboja.
"Sheilla ketemu orang baik, Yah. Dia nggak pernah bentak Sheilla. Dia nggak pernah bikin Sheilla ngerasa kecil. Namanya Adrian. Sheilla mau coba kasih kesempatan buat diri Sheilla sendiri, Yah. Restuin Sheilla ya?"
Angin sepoi-sepoi meniup rambut Sheilla, rasanya kayak elusan lembut di kepala. Beban yang selama ini nangkring di pundaknya kayak terbang gitu aja bareng kelopak bunga yang ketiup angin. Pas dia berdiri, Adrian nyamperin dan nawarin tisu.
"Udah lega?" tanya Adrian lembut.
Sheilla ngangguk, senyumnya bener-bener sampai ke mata. "Lega banget, Yan. Makasih ya udah nemenin."
--
Pas mereka balik ke toko siang harinya, ada sebuah mobil terparkir di depan "The Second Bloom". Bukan mobil Ardhito, tapi mobil yang Sheilla kenal. Begitu mereka turun, seorang perempuan keluar dari mobil. Itu Tante Mira, ibunya Ardhito.
Jantung Sheilla sempet mau copot. Dia takut tantenya datang buat ngebujuk dia balik sama Ardhito. Tapi pas lihat muka Tante Mira yang sembab dan penuh rasa bersalah, Sheilla tahu ini beda.
"Sheilla..." Tante Mira langsung meluk Sheilla erat banget. Dia nangis. "Maafin tante, Nak. Maafin tante nggak tahu apa-apa soal kelakuan Ardhito selama ini. Satria udah cerita semuanya."
Sheilla nuntun mantan mertuanya itu masuk ke toko. Adrian, yang tahu diri, milih buat ke belakang bantuin Maya merapihkan stok bunga supaya mereka bisa bicara empat mata.
"Tante udah tahu soal Ardhito yang sengaja biarin jebakan itu terjadi," kata Tante Mira sambil megang tangan Sheilla. "Tante bener-bener gagal didik anak. Tante nyesel banget dulu maksa kalian nikah karena mikirnya itu hal yang bener buat nutupi skandal. Ternyata tante malah dorong kamu ke neraka."
Sheilla narik napas panjang. Dia ngelihat perempuan di depannya ini dengan rasa sayang, bukan benci. Tante Mira selalu baik sama dia, cuma emang dulu terlalu kaku sama aturan keluarga.
"Tante, udah. Jangan salahin diri sendiri lagi," kata Sheilla tenang. "Semua udah lewat. Aku sekarang udah bahagia di sini. Ardhito juga udah pergi buat cari jalannya sendiri, kan? Mungkin itu yang terbaik buat kita berdua. Kita butuh jarak supaya bisa jadi manusia yang lebih bener."
Tante Mira ngelus pipi Sheilla. "Kamu baik banget, Sheil. Ardhito bener-bener kehilangan permata paling berharga karena kebodohannya. Tante cuma mau kamu tahu, meskipun kamu bukan lagi menantu tante, kamu tetep anak perempuan yang tante sayangi."
Pertemuan itu berakhir dengan damai. Nggak ada tuntutan, nggak ada paksaan buat balik. Cuma ada dua perempuan yang saling memaafkan masa lalu mereka.
--
Malamnya, setelah toko tutup dan Tante Mira udah pulang, Sheilla dan Adrian duduk di kursi depan toko sambil ngelihatin bintang. Suasana kota kecil ini emang juara kalau soal ketenangan.
"Hari yang panjang ya?" tanya Adrian sambil nyodorin martabak manis yang tadi dia beli pas lewat pasar.
"Banget. Tapi rasanya kayak dapet update sistem terbaru buat hidup aku," canda Sheilla. "Semua bug dan error masa lalu kayaknya udah dibersihin."
Adrian ketawa. "Berarti sekarang versinya udah Sheilla 2.0 ya?"
"Bukan. Sheilla yang versi asli. Sheilla yang dulu ilang karena terlalu sibuk mikirin orang lain."
Hening sebentar, cuma suara jangkrik dan kendaraan lewat sesekali. Adrian tiba-tiba meraih tangan Sheilla, tapi kali ini dia nggak cuma menangkup, dia genggam erat.
"Sheil, aku tahu kamu masih mau fokus sama yayasan dan toko. Aku dukung seribu persen. Tapi... kalau nanti kamu udah bener-bener siap, aku mau kita bener-bener bangun 'taman' kita sendiri. Bukan cuma jalan beriringan, tapi menetap."
Sheilla nggak langsung jawab. Dia ngerasain kehangatan tangan Adrian. Dia ngerasain ketulusan yang nggak pernah dia dapetin selama delapan tahun masa "penantiannya" dulu.
"Yan," kata Sheilla pelan. "Aku nggak janji perjalanannya bakal mulus terus. Mungkin aku masih bakal trauma kalau denger suara bentakan, atau mungkin aku bakal butuh waktu buat bener-bener percaya penuh. Tapi kalau kamu mau sabar nemenin aku 'nanam' dari awal lagi... aku mau."
Adrian senyum, senyum paling bahagia yang pernah Sheilla lihat. Dia nggak perlu jawaban muluk-muluk. Kesediaan Sheilla buat "mencoba" aja udah jadi kemenangan besar buat dia.
Sheilla masuk ke dalam toko, mengambil setangkai bunga matahari yang paling besar dan cerah. Dia keluar lagi, terus naruh bunga itu di kursi kosong di sampingnya.
"Buat siapa?" tanya Adrian heran.
"Buat Sheilla yang dulu," jawab Sheilla sambil natap langit. "Buat dia yang dulu kuat nunggu dalam luka, yang kuat bertahan dalam sepi. Bunga ini buat dia, supaya dia tahu kalau sekarang dia udah nggak perlu nunggu lagi. Dia udah sampai di tujuannya."
Mereka berdua duduk di sana, dalam sunyi yang nggak lagi menyakitkan. Sebuah sunyi yang penuh dengan harapan, rencana masa depan, dan aroma bunga yang mekar di tengah malam.
To Be Continue...
-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --