NovelToon NovelToon
BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: PERTAHANAN TERAKHIR SANG RATU

​Suasana kamar yang tadinya penuh gairah kini berubah menjadi medan pembantaian. Pintu kayu jati yang kokoh itu hancur berantakan. Tiga pria bertopeng dengan seragam taktis hitam merangsek masuk, moncong senjata laras pendek mereka memuntahkan api ke arah tempat tidur.

​"Tiarap, Gwen!" Elang berteriak.

​Dengan gerakan yang sangat cepat, Elang menarik tubuh Gwen ke balik lemari besi yang tertanam di dinding kamar. Elang membalas tembakan dengan pistol semi-otomatirnya. Dua tembakan presisi dari Elang membuat satu penyusup tumbang dengan lubang di dahi, sementara satu lainnya terkapar memegangi lehernya yang hancur.

​Namun, Elang bukan tanpa luka. Sebuah peluru sempat menyerempet pinggangnya, membuat kemeja putih yang ia kenakan berubah menjadi merah pekat dalam hitungan detik.

​"Elang! Kamu berdarah!" Gwen berteriak panik, tangannya bergetar hebat saat melihat darah merembes dari sela-sela jari Elang yang mencoba menekan lukanya.

​"Jangan pikirkan aku! Ambil pistol di saku jas itu!" Elang menunjuk ke arah jas yang tersampir di kursi, tak jauh dari posisi mereka. "Gwen, dengarkan aku. Mereka tidak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang ada di dadaku. Kamu harus lari!"

​Gwen menggeleng keras. Air mata bercampur debu mengotori wajah cantiknya. "Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu lagi!"

​Gwen merangkak di bawah hujan peluru, meraih jas Elang dan menarik pistol cadangan dari sana. Dia ingat latihan menembak yang pernah diajarkan ayahnya saat dia masih remaja—sesuatu yang selalu dianggapnya tidak berguna sampai detik ini.

​"Target terlindungi di balik lemari! Gunakan gas air mata!" suara dari luar kamar memberi perintah.

​"Sial," umpat Elang. Dia menarik napas panjang, menahan rasa sakit yang luar biasa di pinggangnya. "Gwen, liontin itu... pegang erat-erat. Apapun yang terjadi, jangan biarkan mereka mengambilnya."

​Tiba-tiba, sebuah tabung kecil dilemparkan ke dalam kamar. Asap putih pekat mulai memenuhi ruangan. Mata Gwen mulai terasa pedih, paru-parunya seperti terbakar.

​"LARI KE BALKON, SEKARANG!" Elang mendorong Gwen dengan sisa tenaganya.

​Gwen berlari menembus asap, melepaskan tembakan asal ke arah pintu untuk memberikan tekanan. Dia berhasil mencapai balkon, diikuti oleh Elang yang terpincang-pincang. Di bawah sana, di halaman mansion, puluhan lampu senter bergerak cepat menuju posisi mereka.

​"Kita terjebak, Elang..." gumam Gwen lemas.

​"Belum," Elang menarik sebuah kabel baja tersembunyi dari bawah pot bunga besar di balkon—sebuah jalur pelarian darurat yang telah dia siapkan sejak hari pertama bekerja di sana. "Turunlah dulu. Aku akan menahan mereka di sini."

​"Tidak! Kita turun bersama!"

​Gwen menarik tangan Elang, memaksanya untuk ikut turun. Di bawah tekanan maut, kekuatan Gwen seolah berlipat ganda. Mereka meluncur turun menggunakan kabel tersebut, mendarat di area taman belakang yang gelap.

​Namun, kejutan lain menanti. Di tengah taman, berdiri seorang wanita dengan rambut pirang yang berkibar ditiup angin malam. Dia memegang sebuah detonator di tangannya.

​Sarah.

​"Hentikan langkah kalian, atau mansion ini akan meledak bersama semua kenanganmu, Gwen," suara Sarah terdengar tenang, namun dingin.

​Elang berdiri di depan Gwen, melindunginya dengan tubuhnya yang sudah bersimbah darah. "Sarah... cukup. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau. Biarkan Gwen pergi."

​Sarah tertawa kecil, melangkah mendekat ke arah Elang. Dia menatap bekas luka di dada Elang dengan pandangan yang aneh—campuran antara rindu dan kegilaan. "Elang, kamu tahu aku tidak menginginkan hartanya. Aku menginginkanmu. Dan 'kunci' itu... itu adalah tiket kita untuk keluar dari organisasi ini."

​"Kamu bekerja untuk Global Syndicate, Sarah! Mereka tidak akan membiarkanmu hidup setelah mereka mendapatkan apa yang mereka mau!" teriak Gwen dari balik punggung Elang.

​Sarah menatap Gwen dengan tatapan merendahkan. "Diam, Nona Besar. Kamu tidak tahu apa-apa tentang dunia kami. Elang adalah milikku sejak sepuluh tahun lalu, dan selamanya akan begitu."

​Tiba-tiba, Elang ambruk berlutut. Kehilangan banyak darah membuatnya mulai kehilangan kesadaran.

​"ELANG!" Gwen menjerit, dia segera berlutut dan mendekap kepala Elang di pangkuannya.

​Sarah mendekat, menodongkan senjatanya ke arah Gwen. "Minggir dari dia, Gwen. Atau aku akan melubangi kepalamu sekarang juga."

​Gwen menatap moncong senjata itu, lalu menatap Elang yang mulai memucat. Rasa takutnya lenyap, digantikan oleh keberanian yang membara. Dia meraba liontin perak di lehernya. Liontin yang kata Elang adalah kunci enkripsi Proyek Gerhana.

​"Kamu menginginkan ini, kan?" Gwen menarik liontin itu hingga rantainya putus. Dia mengangkatnya tinggi-tinggi. "Mundur, Sarah! Mundur atau aku hancurkan liontin ini sekarang juga!"

​Sarah membeku. Matanya melebar. "Jangan bodoh! Jika kamu menghancurkannya, kamu tidak akan pernah bisa mengakses data perusahaan ayahmu lagi! Kamu akan bangkrut!"

​"Aku lebih baik menjadi gelandangan daripada membiarkanmu menyentuh Elang!" Gwen berdiri, tangan kanannya memegang pistol dan tangan kirinya menggenggam liontin itu erat-erat. "Katakan pada tim pembersihmu untuk mundur, atau kita semua akan mati di sini saat polisi tiba!"

​Sirene polisi mulai terdengar dari kejauhan. Elang yang setengah sadar meraih tangan Gwen, meremasnya pelan.

​Sarah menggertakkan gigi. Dia tahu dia kalah waktu. "Ini belum berakhir, Gwen Adiguna. Kamu mungkin menyelamatkannya malam ini, tapi Proyek Gerhana sudah dimulai. Detak jantung Elang... itu adalah jam waktu bagi kematianmu."

​Sarah melemparkan bom asap ke tanah dan menghilang di balik kegelapan hutan di belakang mansion tepat saat lampu-lampu polisi menerangi halaman.

​Gwen jatuh terduduk, memeluk tubuh Elang yang dingin. Dia menangis tersedu-sedu, mencium kening pria itu berkali-kali.

​"Jangan mati... Elang, jangan tinggalkan aku... Aku tidak peduli dengan chip itu, aku tidak peduli dengan perusahaan... Tolong, bangun..."

​Di tengah kesadarannya yang menipis, Elang membisikkan sesuatu yang membuat jantung Gwen berdegup kencang.

​"Gwen... liontin itu... jangan biarkan dokter manapun... mendekati dadaku..."

​Gwen tertegun. Dia menyadari satu hal yang mengerikan. Rahasia di jantung Elang bukan hanya kunci data, tapi itu adalah bom waktu yang sewaktu-waktu bisa membunuh pria yang dicintainya jika salah ditangani.

​Malam itu, Gwen Adiguna bersumpah. Jika dunia menginginkan jantung Elang, maka mereka harus melangkahi mayatnya terlebih dahulu.

1
Anonymous
Semakin seru dan misterius
Anonymous
Semakin komplek dan misterius
Anonymous
Paman ?Memang harta lebih agung dan sangat berharga apalagi hanya sekedar ponak'an
Anonymous
Reno "I B L I S "
Anonymous
Reno kurang bersyukur dengan kehadiran Gwen dalam hidupnya seorang istri yang csntik punya harkat martabat dan derajat
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia
Anonymous
Mulai membaca dan larut di dalamnya
Anonymous
Tegar dan percaya diri Gwen tidak mudah terbawa perasaan
Anonymous
Masih misterius semua
Anonymous
Sip.....aku suka karakter Gwenn👍
Leebit
siap!! makasih ya udah berkunjung ke karyaku😊
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!