NovelToon NovelToon
Cinta Masa Kecil

Cinta Masa Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Duda
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: RJ Moms

“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CMK#15

“Ini ayunda, dia adik saya. Dan ini Alex, teman saya yang juga tinggal di sini. Oke, semuanya perkenalkan ini Bi Jumirah.”

“Halo, Bi Jumirah.” Ayunda mengulurkan tangan yang disambut ramah oleh pembantu baru di rumah itu.

“Selamat datang,” ujar Alex tanpa menerima uluran tangan Jumirah.

Ayunda melirik heran dan juga kesal karena Alex dianggap tidak sopan. Bagaimanapun juga, Jumirah lebih tua dari mereka.

“Sini, Bi. Saya anter bibi ke kamar.”

“Baik, Pak.”

Elang membawa Jumirah ke rumah bagian belakang. Kamar pembantu memang satu ruangan dengan dapur dan ruangan Loundry.

“Kak Alex, gak sopan tau. Meski dia cuma pembantu, tapi Bi Jumirah lebih tua dari kita.”

Alex hanya melirik, selebihnya dia tidak peduli.

“Ish, nyebelin banget sih sikapnya itu.” ayunda mendumel kesal sebelum dia kembali masuk ke kamarnya.

“Yunda ke mana, Lex?”

“Kamar.”

Elang menghampiri Alex yang sedang asik bermain PlayStation.

Benar kata orang bahwa pria itu tidak pernah dewasa. Alex dan Elang bermain sampai lupa waktu.

“Mas, gak berhenti main dari tadi?”

“Masih seru. Ada apa?”

“Mas gak mau makan?”

“Belum laper,” jawab Elang tanpa mengalihkan matanya dari layar.

“Tapi aku laper, Mas.”

Elang menoleh. Dilihatnya wajah ayunda yang terlihat kesal karena lapar, atau mungkin karena elang yang sedari tadi bermain tanpa henti.

“Iya, iya. Setelah ini mas udahan.”

Ayunda menghela nafas. Dia pergi menuju dapur. Bi Jumirah ada di sana di depan kompor.

“Bi, lagi apa?”

“Ini, neng. Bibi agak laper, jadi masak mie. Di kulkas tidak ada bahan makanan.”

Ayunda semakin kesal. Bagaimana wanita paruh baya itu harus makan mie instan karena lapar.

Gadis itu berjalan dengan hentakan kuat menuju elang dan Alex yang masih asik. Ayunda berdiri di hadapan mereka hingga kedua pria dewasa itu tidak bisa melihat layar.

“Ngapain? Awas dulu, nanti selesai ini kita makan.”

“Mas, Bi Jumirah lagi makan mie instan loh. Dia lapar, mau masak gak ada bahan makanan di kulkas.”

Elang nampak merasa bersalah.

“Ya udah, ayo kita beli makanan. Sekalian belanja buat isi kulkas.”

Ayunda mendengus kesal.

Setelah mengisi perut, mereka bertiga pergi ke swalayan untuk berbelanja.

“Perut aku gak enak, ke toilet bentar ya. Lex, temenin ayunda dulu. Jangan ditinggal.”

“Hmmm.”

Ayunda menyusuri semua koridor, memilih dan mengambil beberapa bahan makanan untuk stok kulkas. Pun dengan Alex, dia sibuk mengambil cemilan dan minuman, serta beberapa macam buah-buahan.

Langkah Ayunda terhenti, hinggap Alex yang sedang mendorong troli hampir menabrak tubuh gadis berperawakan kecil itu.

“Kenapa tiba-tiba berhenti? Lampu merah?” Tanya Alex kesal.

Gadis itu tidak menggubris. Matanya tertuju pada sosok pria yang ada beberapa meter jauhnya dari ayunda.

Bukan tentang keberadaan pria tersebut, tapi tentang bersama siapa dia datang.

Alex melihat Ayunda terdiam dengan mata lurus pada sosok pria dan wanita yang juga sedang berbelanja di sana. Tanpa dijelaskan, Alex yang sudah dewasa bisa memahami situasi apa yang sedang terjadi.

“Sepertinya belanjaan kita sudah cukup, ayo kita pulang.” Alex menggenggam jemari ayunda, dan membawanya pergi menuju kasir. Ayunda berjalan mengikuti Alwex dengan wajah tertunduk.

Ayunda menjadi gadis yang tidak banyak bicara. Dia hanya diam sampai mereka sampai di rumah.

“Bi, tolong dirapikan ya.”

“Iya, Pak.”

Alex dan Elang kembali duduk di sofa dengan beberapa minuman dan cemilan.

“Ada apa? Apa lo ngerjain adik gue tadi di swalayan?”

Alex menggelengkan kepala.

“Kenapa dia jadi murung dan sedih?”

“Sepertinya dia bertemu mantan nya.”

“Mantan?”

Alex mengangguk setelah meneguk minuman kaleng.

“Apa ini orangnya?” Tanya Elang sambil memperlihatkan layar ponselnya.

“Hmmm. Dia datang bersama wanita.”

Elang menoleh cepat saat mendengar ucapan Alex. “Wanita?”

Alex kembali mengangguk.

“Loh, bukannya dia bilang cuma ingin melanjutkan spesialisas? Apa jangan-jangan cuma temen aja?”

“Gue rasa bukan cuma sekedar temen.”

“Kalau bener sih beneran keterlaluan.”

“Mereka pacaran?”

“Ceritanya panjang. Cuma dia menitipkan ayunda sama gue. Hanya sampai dia lulus spesialis.”

“Bisa jadi cuma temen.”

Elang menyenggol tubuh Alex.

“Yang bener dong lo.”

“Mungkin hubungan tanpa status.”

“Kacau! Lo emang gak bisa dipercaya.”

“Ya gimana, dibilang temen mereka terlalu deket.”

Elang menatap Alex cukup lama. Dia memikirkan tentang Zayan. Anak laki-laki yang dulu berjanji akan kembali pada ayunda setelah dia lulus. Dan kini?

Elang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Susana malam itu sangat syahdu. Gerimis kecil yang tidak berkesudahan membuat dedaunan terlihat mengkilap saat terkena sinar lampu. Udara yang biasanya gerah, kini terasa sejuk. Sesekali gerimis itu menerpa wajah ayunda karena terpaan angin.

Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri di depan jendela kamar sambil menatap jauh ke depan. Tentu saja tatapan itu tidak sedang melihat pepohonan dan rumah-rumah yang berjejer rapi di sana.

Sesekali gadis itu menghela nafas dalam.

“Aku ikhlas, tapi ternyata sakit banget kalau melihat secara langsung.”

Perlahan air mata ayunda menuruni pipinya yang mulus. Tanpa isakan, tanpa sahara. Hanya buliran air mata yang berjatuhan.

Dekapan itu semakin kuat, seakan ingin menguatkan diri sendiri. Bahwa semuanya baik-baik saja meski hatinya teriris dan sangat perih.

...***...

“Aku pulang cepet hari ini, nanti kita jalan-jalan.”

“Iya, Mas.”

Mereka kembali melanjutkan sarapan dengan perasaan canggung karena sikap ayunda yang menjadi pendiam.

“Gue libur, biar gue aja yang ajak dia jalan.”

“Gak apa-apa? Ngerepotin gak?”

“Santai aja.”

“Oke. Makasih ya. Soalnya kerjaan gue banyak sebenernya.”

Alex mengangguk.

“Yunda, kamu jalan dulu sama kak Alex. Nanti aku menyusul.”

Ayunda mengangguk tanpa menatap Elang. Matanya tertuju pada makanan yang lebih banyak diaduk ketimbang dikunyah.

Setelah sarapan dan mandi, ayunda pergi bersama Alex. Dia bahkan tidak tahu dan tidak peduli akan pergi ke mana. Ayunda hanya duduk diam di samping Alex.

Mata ayunda melihat keluar kaca. Melihat kondisi ibu kota yang ramai dan padat saat pagi menjelang siang.

“Kita ke kantorku sebentar. Gak masalah kan?”

Ayunda mengangguk tidak peduli.

Mobil hitam itu melaju diantara hiruk pikuknya kendaraan yang memadati jalan raya.

Hingga mereka pun sampai di parkiran.

“Rumah sakit? Kakak mau jenguk orang? Siapa yang sakit? Keluarga? Temen?”

Alex tidak menjawab.

“Ayo.”

Ayunda mengikuti langkah Alex yang lebar dan cepat hingga langkah ayunda yang cepat terlihat berlari kecil demi menyeimbangkan langkah dengan Alex.

Pria itu sadar jika ayunda kewalahan mengimbangi langkahnya. Perlahan Alex memperlambat langkah kakinya hingga ayunda terlihat berjalan normal.

Mereka memasuki sebuah ruangan. Bukan ruang perawatan ataupun ruang dokter.

“Tunggu di sini.” Alex meminta ayunda duduk di sebuah sofa.

“Kakak kerja di sini?”

Alex mengangguk.

Mata ayunda terbelalak saat membaca nama di atas meja milik Alex.

DIREKTUR.

1
Sit Tiii
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!