Sinopsis:
Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.
Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM YANG TERLALU SUNYI
Sore di desa itu berjalan lambat.
Liang Chen duduk di beranda rumah kayu milik keluarga Mei Lin, memegang cangkir teh yang sudah tidak lagi panas. Angin dari ladang membawa bau tanah basah dan jerami kering. Beberapa anak berlari di jalan tanah, tertawa tanpa beban. Seorang pria memanggul kayu bakar, berjalan santai menuju rumahnya.
Semua terlihat biasa.
Terlalu biasa.
Liang Chen sudah terlalu sering berada di tempat seperti ini—tempat yang tampak tenang dari luar, tapi menyimpan sesuatu yang belum terlihat. Pengalaman mengajarinya bahwa ketenangan yang datang terlalu cepat biasanya tidak bertahan lama.
Di dalam rumah, terdengar suara bibi Mei Lin berbicara pelan. Nada suaranya masih dipenuhi kelegaan, tapi ada lapisan kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan.
Mei Lin keluar beberapa saat kemudian. Ia membawa mangkuk kecil berisi potongan ubi rebus.
“Untukmu,” katanya.
Liang Chen menerimanya. “Terima kasih.”
Mereka duduk berdampingan tanpa bicara beberapa saat. Dari kejauhan, suara ayam dan alat pertanian terdengar samar.
“Desa ini selalu seperti ini,” kata Mei Lin pelan. “Tenang. Kadang terlalu tenang sampai membosankan.”
Liang Chen mengunyah ubi itu tanpa tergesa.
“Tempat seperti ini tidak pernah benar-benar membosankan,” katanya. “Hanya belum ada masalah besar saja.”
Mei Lin tersenyum tipis. “Kau selalu bicara seperti orang tua.”
Liang Chen tidak menanggapi. Ia menatap ke arah jalan utama desa.
“Orang-orang yang datang beberapa hari lalu,” katanya. “Apa yang mereka lakukan selain bertanya?”
“Mereka melihat-lihat rumah,” jawab Mei Lin. “Seperti sedang menghitung sesuatu.”
“Menghitung apa?”
“Jendela. Pintu. Jalan keluar.”
Liang Chen mengangguk pelan.
Itu bukan tanda yang baik.
Orang yang hanya ingin mencari seseorang biasanya tidak perlu menghitung jalan keluar.
“Apakah mereka menyakiti siapa pun?” tanya Liang Chen.
Mei Lin menggeleng. “Tidak. Tapi mereka membuat semua orang takut.”
Liang Chen menatap langit. Matahari mulai turun, mewarnai awan dengan cahaya jingga.
“Takut itu kadang lebih berguna daripada luka,” katanya.
Mei Lin tidak langsung menjawab.
“Kalau mereka datang lagi,” katanya pelan, “kau benar-benar akan pergi?”
Liang Chen tidak menjawab segera.
“Aku hanya pengembara,” katanya akhirnya. “Masalah seperti ini tidak ada habisnya. Kalau aku ikut campur terlalu dalam, aku akan terjebak di dalamnya.”
Mei Lin menunduk. “Aku mengerti.”
Namun ekspresinya berkata sebaliknya.
Malam datang perlahan. Desa mulai sepi. Lampu minyak menyala satu per satu, seperti bintang kecil di antara rumah-rumah kayu.
Bibi Mei Lin menyiapkan tempat tidur sederhana untuk Liang Chen di ruang depan. Hanya tikar dan selimut tipis. Lebih dari cukup baginya.
Namun ia tidak langsung berbaring.
Ia duduk di dekat pintu, mendengarkan.
Desa yang terlalu sunyi memiliki suara sendiri. Suara angin di atap. Suara langkah kaki yang pulang terlambat. Suara hewan di kandang.
Semua itu normal.
Tapi malam itu, ada sesuatu yang tidak normal.
Tidak ada suara anjing.
Biasanya, anjing desa akan menggonggong pada suara asing. Tapi malam ini, tidak ada satu pun gonggongan.
Liang Chen berdiri perlahan.
Ia mengambil pedangnya, lalu melangkah keluar rumah tanpa suara.
Langit malam bersih. Bulan setengah menggantung di atas ladang, memberi cahaya pucat.
Desa terlihat damai.
Namun perasaan tidak nyaman itu semakin kuat.
Ia berjalan pelan menyusuri jalan tanah, menghindari cahaya lampu. Beberapa rumah sudah gelap. Orang-orang desa terbiasa tidur lebih awal.
Di dekat lumbung padi, ia berhenti.
Ada jejak baru di tanah.
Jejak sepatu, bukan sandal jerami. Langkahnya ringan, tapi teratur.
Bukan milik orang desa.
Liang Chen menunduk, menyentuh tanah itu.
Masih hangat.
Artinya, orang itu baru lewat beberapa saat lalu.
Ia mengangkat kepala, menatap ke arah ujung desa.
Bayangan bergerak di antara rumah.
Satu. Lalu dua.
Mereka bergerak tanpa suara, seperti orang yang sudah terbiasa berjalan dalam gelap.
Liang Chen tidak mengejar.
Ia berbalik, berjalan cepat kembali ke rumah Mei Lin.
Ia membuka pintu dengan hati-hati.
“Mei Lin,” bisiknya.
Gadis itu bangun, matanya masih setengah terpejam. “Ada apa?”
“Kita tidak sendirian.”
Mata Mei Lin langsung terbuka penuh.
“Berapa orang?”
“Minimal dua. Mungkin lebih.”
Bibi Mei Lin juga bangun, wajahnya pucat. “Apa yang harus kita lakukan?”
Liang Chen berpikir cepat.
“Jangan menyalakan lampu,” katanya. “Tetap di dalam rumah. Kalau ada suara keras, lari ke arah ladang. Jangan ke jalan utama.”
Mei Lin menggenggam ujung lengan bajunya. “Kau mau ke mana?”
“Melihat siapa yang datang.”
Ia melangkah keluar lagi sebelum gadis itu sempat menahannya.
Udara malam terasa lebih dingin sekarang.
Liang Chen bergerak di antara bayangan rumah, mendekati tempat ia melihat sosok tadi.
Ia mendengar bisikan pelan.
“Tiga rumah lagi.”
Suara laki-laki. Rendah. Terkendali.
“Kita ambil gadis itu, lalu pergi,” jawab suara lain.
Tidak ada keraguan dalam nada mereka.
Mereka sudah yakin targetnya ada di sini.
Liang Chen melangkah keluar dari bayangan.
“Kalian tersesat,” katanya.
Dua pria itu langsung berbalik. Salah satunya memegang pedang pendek. Yang lain membawa pisau panjang.
Mata mereka menilai Liang Chen cepat.
“Orang luar,” kata yang memegang pedang. “Ini bukan urusanmu.”
“Sekarang jadi,” jawab Liang Chen.
Pria itu menghela napas pendek. “Kalau begitu, cepat saja.”
Ia menyerang lebih dulu.
Gerakannya cepat, tapi tidak liar. Ia tahu apa yang ia lakukan.
Liang Chen menangkis, mundur setengah langkah, lalu masuk ke jarak dekat. Ia menghantam pergelangan tangan lawan. Pedang itu terlepas.
Namun pria kedua sudah bergerak dari sisi kiri.
Pisau menyambar bahu Liang Chen. Ia memutar tubuh, menghindari tusukan dalam. Ujung pisau hanya menggores pakaian.
Liang Chen menendang lututnya. Pria itu jatuh.
Ia tidak memberi kesempatan.
Dua gerakan cepat. Dua tubuh jatuh ke tanah.
Sunyi kembali.
Namun Liang Chen tahu, ini belum selesai.
Langkah kaki lain terdengar dari arah jalan utama.
Tiga orang lagi muncul dari gelap.
Salah satunya tersenyum tipis. “Kami pikir kau akan merepotkan.”
Liang Chen menghela napas pelan.
Malam ini memang tidak akan tenang.
Ia mengencangkan genggaman pedangnya.
Desa di belakangnya masih sunyi. Orang-orang belum sadar apa yang terjadi.
Dan ia harus memastikan mereka tetap tidak tahu.
Tiga pria itu menyebar perlahan, menutup jarak.
Liang Chen melangkah maju, memilih titik yang paling dekat.
Ia tidak lagi bertarung untuk menang.
Ia bertarung untuk mengakhiri malam ini secepat mungkin.