NovelToon NovelToon
Om Benny, I Love You

Om Benny, I Love You

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan rahasia / CEO / Romantis / Cinta Terlarang / Nikah Kontrak
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: chiisan kasih

Pernikahan rahasia. Ciuman terlarang. CEO dingin yang jatuh pada gadis tomboy.
Benny, seorang CEO yang anti wanita dan memilih hidup sendiri, terpaksa menikah dengan Cessa—putri sahabatnya yang berusia delapan belas tahun. Pernikahan mereka dimulai sebagai kontrak penuh aturan: tanpa cinta, tanpa sentuhan, tanpa perasaan.
Namun satu ciuman menghancurkan segalanya.
Tinggal serumah membuat batasan runtuh, kecemburuan tumbuh, dan hasrat berubah menjadi dosa. Saat Cessa mencintai tanpa ragu, Benny justru berperang dengan prinsip, moral, dan ketakutan terbesarnya: jatuh cinta pada wanita yang seharusnya tak boleh ia miliki.
Ini bukan kisah cinta yang aman.
Ini kisah tentang memilih perasaan… atau menghancurkan hidup sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiisan kasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

“Jika Aku Kembali”

Hujan turun pelan sore itu.

Cessa berdiri di depan jendela kamar nenek, menatap halaman yang basah. Daun-daun bergoyang tertiup angin, seolah ikut berbisik tentang sesuatu yang belum selesai. Di meja kecil di samping ranjang, map tipis itu masih tergeletak—belum ia simpan, belum ia buang.

Surat dari Benny.

Ia sudah membacanya lebih dari lima kali.

Bukan karena ragu dengan isi kalimatnya, tapi karena ia mencoba memahami maknanya. Untuk pertama kalinya, Benny tidak meminta. Tidak memaksa. Tidak bersembunyi di balik kata tunggu yang setengah-setengah.

Ia memilih.

Dan pilihan itu… menenangkan.

Nenek mengetuk pelan pintu. “Cessa, ada tamu.”

Cessa menoleh. “Siapa, Nek?”

“Bukan Benny,” jawab nenek sambil tersenyum kecil. “Tenang saja.”

Cessa menghela napas—lega sekaligus aneh. “Aku turun.”

Di ruang tamu, Brain duduk dengan jaket tipis. Wajahnya terlihat lebih tenang dari terakhir kali mereka bertemu. Begitu melihat Cessa, ia tersenyum dan membuka tangan.

Cessa memeluk ayahnya erat.

“Kamu kurusan,” komentar Brain.

Cessa terkekeh kecil. “Ayah juga.”

Mereka duduk berhadapan. Nenek sengaja meninggalkan mereka berdua.

“Ayah nggak datang buat marah,” kata Brain lebih dulu. “Atau maksa.”

Cessa mengangguk. “Aku tahu.”

“Ayah datang buat tanya,” lanjut Brain pelan. “Kamu bahagia?”

Pertanyaan itu sederhana. Jawabannya tidak.

Cessa menunduk sejenak. “Aku… lebih tenang.”

Brain tersenyum tipis. “Itu beda dengan bahagia.”

“Iya.”

“Terus kenapa kamu masih mikirin dia?” tanya Brain lembut, tidak menghakimi.

Cessa tersenyum pahit. “Karena dia berubah.”

“Berubah atau berusaha?” koreksi Brain.

Cessa terdiam.

“Itu dua hal yang beda,” lanjut Brain. “Berusaha bisa berhenti. Berubah… menetap.”

Cessa menatap ayahnya. “Ayah percaya sama dia?”

Brain menghela napas panjang. “Ayah percaya sama niatnya. Tapi ayah lebih percaya sama kamu.”

Kalimat itu membuat mata Cessa berkaca-kaca.

“Keputusan ini bukan tentang Benny,” lanjut Brain. “Ini tentang hidupmu. Kalau kamu kembali karena kasihan, jangan. Kalau kamu kembali karena takut sendirian, jangan.”

“Kalau karena cinta?” tanya Cessa lirih.

Brain tersenyum hangat. “Kalau karena cinta… pastikan kamu tidak menghilang di dalamnya.”

Brain berdiri. “Ayah pulang. Apa pun keputusanmu, ayah ada.”

Setelah Brain pergi, Cessa kembali ke kamar. Ia duduk di ranjang, menatap ponsel di tangannya. Sudah seminggu ia tidak membalas pesan Benny—dan Benny tidak pernah menuntut.

Pesan terakhirnya sederhana.

Ben:

Aku harap hari kamu baik.

Tidak ada tanda tanya. Tidak ada desakan.

Cessa mengetik… lalu menghapus. Mengetik lagi.

Cessa:

Hari ini hujan.

Ia ragu sejenak. Lalu menekan kirim.

Balasan datang tidak sampai satu menit.

Ben:

Iya. Aku ingat kamu suka hujan.

Cessa tersenyum kecil.

Di rumahnya, Benny membaca pesan itu berulang kali. Kalimat sederhana itu terasa seperti jembatan kecil yang akhirnya terbangun. Ia tidak berlari. Tidak menelepon. Ia membalas dengan hati-hati—seperti memegang sesuatu yang rapuh.

Ben:

Kamu baik-baik saja?

Cessa menatap layar. Mengambil napas.

Cessa:

Aku sedang belajar baik-baik saja.

Benny tersenyum. Belajar. Kata itu terasa adil.

Hari-hari berikutnya, percakapan kecil itu berlanjut. Tentang hujan. Tentang kopi yang terlalu pahit. Tentang buku yang dibaca Cessa. Tentang pekerjaan Benny yang kini lebih teratur. Tidak ada janji. Tidak ada pembahasan besar.

Dan justru karena itulah… semuanya terasa lebih nyata.

Suatu sore, Cessa menerima pesan yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

Ben:

Besok aku ke rumah nenek.

Bukan buat ketemu kamu—buat minta izin.

Cessa menatap layar lama.

Cessa:

Izin apa?

Beberapa menit berlalu sebelum balasan datang.

Ben:

Izin untuk menunggu dengan benar.

Cessa memejamkan mata.

Keesokan harinya, Benny benar-benar datang ke rumah nenek. Ia berdiri di ruang tamu dengan sikap tenang, berbicara dengan nenek seperti seorang pria dewasa yang tahu apa yang ia mau.

“Saya tidak minta Cessa pulang,” ucap Benny. “Saya minta waktu. Dan kesempatan membuktikan—tanpa menekan.”

Nenek menatapnya lama. “Kamu tahu, menunggu itu bukan sikap pasif.”

“Iya,” jawab Benny. “Itu komitmen.”

Nenek mengangguk pelan. “Kalau begitu, lakukan.”

Cessa mendengar percakapan itu dari balik pintu. Dadanya berdebar. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa ditarik. Ia merasa… diundang.

Benny tidak mengetuk pintunya. Tidak memanggil namanya. Ia pamit setelah berbicara dengan nenek, seperti janjinya.

Namun saat ia berjalan ke pintu, Cessa membuka pintu kamar.

Mereka saling menatap.

Tidak ada pelukan. Tidak ada air mata. Hanya keheningan yang penuh makna.

“Aku belum siap pulang,” kata Cessa lebih dulu.

Benny mengangguk. “Aku tahu.”

“Tapi aku juga belum siap menutup pintu,” lanjut Cessa.

Benny menelan ludah. “Aku juga.”

Mereka tersenyum kecil. Tidak ada janji. Tapi ada arah yang sama.

Malam itu, Cessa duduk di kamar, menulis di buku catatannya:

Jika aku kembali, itu bukan karena aku ditunggu.

Tapi karena aku memilih.

Ia menutup buku itu dan menatap ponselnya. Pesan masuk.

Ben:

Terima kasih sudah tidak pergi sepenuhnya.

Cessa membalas pelan.

Cessa:

Terima kasih sudah belajar menunggu.

Di kejauhan, di sebuah kafe, Diana menatap layar ponselnya dengan ekspresi datar. Berita kecil muncul—tidak viral, tidak sensasional.

CEO Benny Dirgantara Batalkan Proyek Luar Negeri Demi Keluarga.

Diana tersenyum tipis. “Jadi itu pilihanmu.”

Ia menutup ponsel. Bangkit dari kursi. “Kalau begitu… permainan berubah.”

Cessa belum kembali.

Namun hatinya mulai membuka pintu—

tepat saat ancaman terakhir bersiap mengujinya.

1
Dwi Winarni Wina
yakin tak pernah normal dekat sm cessa benny😀
Dwi Winarni Wina
pergi yg jauh cessa biar beni kehilanganmu..
Dwi Winarni Wina
aku aja benny suka sama cessa tp gengsinya tinggi mau mengakuimya😀
Dwi Winarni Wina
Si Benny sebenarnya ada perasaan tapi ge ngsinya terlalu tinggi😀
Dwi Winarni Wina
biarkan aja perasaanmu tumbuh Benny...
Dwi Winarni Wina
casse keras kepala banget kekeh pada pilihannya...
Dwi Winarni Wina
cessa nekat ingin tetep menikah sm Benny sahabat baik ayahnya...
Dwi Winarni Wina
berarti pria normal ben, terima aja lamaran cessa😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!